Ekonomi
( 40789 )BERJIBAKU SEHATKAN ASURANSI
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkejaran dengan waktu untuk menuntaskan persoalan yang mendera industri asuransi. Apalagi, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar awal bulan ini berjanji di hadapan Presiden Joko Widodo bahwa masalah yang bersarang di industri asuransi jiwa akan selesai dalam waktu dekat.OJK memang sedang berjibaku merampungkan persoalan asuransi gagal bayar yang sedang berjalan, seperti Jiwasraya, Wanaartha Life, AJB Bumiputera, dan Kresna Life. Kendati demikian, penyelesaian kasus-kasus tersebut bukannya tanpa hambatan. Dalam perkembangan terbaru, Kresna Life meminta tambahan waktu untuk menyempurnakan rencana penyehatan keuangan (RPK) karena belum selesai hingga tenggat, Senin (13/2).
Jika belajar dari pengalaman penanganan Wanaartha Life, OJK dapat mencabut izin usaha Kresna Life jika gagal memenuhi RPK sesuai tenggat yang ditentukan OJK. Apalagi sejatinya OJK telah memberikan kesempatan bagi Kresna Life untuk memperbaiki RPK sebelumnya.Komisaris Independen Kresna Life Nurseto mengatakan masih ada 10 pemegang polis atau 0,8% dari total pemegang polis yang belum menyetujui konversi kewajiban perusahaan menjadi pinjaman subordinasi yang ditawarkan sebagai bagian dari RPK.
Kepala Departemen Pengawasan Dana Pensiun & Pengawasan Khusus Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Moch. Muchlasin menyatakan otoritas telah mengundang direksi, komisaris, dan pemegang saham Kresna Life untuk meminta konfi rmasi perihal persetujuan pemegang polis atas konversi polis menjadi pinjaman subordinasi.
INSTRUMEN SURAT UTANG : DANA JUMBO SIAP MASUK PASAR
Penggalangan dana jumbo melalui instrumen surat utang korporasi senilai Rp41,5 triliun yang berasal dari 37 perusahaan, siap masuk ke pasar. Berdasarkan mandat penerbitan surat utang korporasi yang dikantongi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) hingga 31 Januari 2023, sejumlah perusahaan telah merencanakan aksi penggalangan dana. Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pefindo Niken Indriarsih mengatakan mandat penerbitan surat utang korporasi kali ini mulai menunjukkan perbedaan dengan masuknya sektor seperti pengelolan jalan tol dan bandara. Meskipun, dari sisi nilainya, rencana penerbitan surat utang korporasi terbesar berasal dari sektor bank dan pembiayaan. Adapun, realisasi penerbitan surat utang per Januari 2023 mencapai Rp4,23 triliun dengan Rp3,99 triliun di antaranya berasal dari perusahaan swasta. Sementara itu, berdasarkan sektornya industri bubur kertas dan tisu menggalang dana Rp1,74 triliun dan disusul oleh sektor multifinance dengan Rp1,1 triliun serta energi dengan Rp600 miliar. Kedua sektor yang memimpin penerbitan surat utang korporasi pada Januari 2023 mencerminkan kinerja pada 2022. Dari total penerbitan obligasi korporasi senilai Rp163,63 triliun pada 2022, sektor multifinance berkontribusi sebesar Rp27,08 triliun dan industri bubur kertas dan tisu dengan Rp26,25 triliun. Dalam kesempatan yang sama, Ekonom Pefindo Suhindarto mengatakan kondisi tahun ini bakal lebih positif dibandingkan tahun lalu sehingga mendukung bagi aksi penerbitan surat utang. Dia mengemukakan suku bunga pada 2023 tetap tinggi seiring dengan berlanjutnya kebijakan moneter ketat sejumlah bank sentral dunia. Meski demikian, laju peningkatan tidak akan sesignifikan 2022. Dihubungi terpisah, Vice President Credit Analyst Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Teddy Hariyanto mengatakan obligor atau penerbit surat utang akan memanfaatkan peluang pemulihan ekonomi domestik yang berlanjut. Di sisi lain, imbal hasil surat utang pemerintah dan risiko premium turut menurun.
PASOKAN PUPUK : Kebutuhan DomestikJadi Pertimbangan
Badan usaha milik negara holding Pupuk, PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan bakal mengutamakan pasokan di dalam negeri sebelum mengekspor pupuk Nitrogen, Fosfor, dan Kalium atau NPK yang diproduksi oleh PT Pupuk Iskandar Muda ke sejumlah negara di Asia Selatan.Wijaya Laksana, Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, mengatakan bahwa ekspor pupuk NPK baru akan dilaksanakan setelah pihaknya memastikan kebutuhan domestik tercukupi.“[Ekspor pupuk NPK] sifatnya adalah potensi. Pupuk Indonesia tetap akan memprioritaskan kebutuhan pupuk domestik. Artinya, bila memang kebutuhan [pupuk] subsidi sudah tercukupi, baru kami akan melakukan ekspor,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (13/2).
Untuk diketahui, Juru Bicara Pupuk Iskandar Muda Dedi Ikhsan sebelumnya menyebut, pihaknya akan mengalokasikan pupuk NPK hasil produksi pabrik barunya yang berkapasitas 500.000 juta ton per tahun untuk ekspor ke Asia Selatan, selain untuk memenuhi kebutuhan di area Sumatra Bagian Utara (Sumbagut).
Sementara itu, saat meresmikan pabrik baru PIM, Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa saat ini hampir seluruh negara di dunia mengalami krisis pangan yang salah satunya disebabkan oleh masalah pupuk.Presiden menjelaskan, tingginya harga pupuk disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah konflik Rusia dengan Ukraina.
Generasi Muda : Siapakah Mereka?
Generasi muda seringkali mencuri banyak perhatian dari berbagai kalangan. Perilakunya yang acap kali berbeda dengan generasi-generasi pendahulunya menjadi fenomena tersendiri. YOLO (you only live once) dan FOMO (fear of missing out) seolah menjadi dua mantra utama yang menggambarkan generasi muda. Mereka seringkali terjebak dalam pola konsumsi yang boros dan takut ketinggalan tren. Kebutuhan untuk menikmati pengalaman melalui traveling, kuliner, hangout, menonton konser, perawatan kecantikan hingga membeli barang yang sedang tren merupakan kebutuhan yang dikedepankan oleh generasi muda. Selain itu, menjadi fashionable dan memiliki gaya yang menarik juga menjadi bagian dari lifestyle mereka. Munculnya selebgram maupun influencer lainnya seakan menjadi kiblat dalam pemenuhan lifestyle generasi muda. Tak hanya itu, bahkan generasi muda juga sangat ingin menjadi selebgram, influencer, tiktokers, dan youtuber.
Karakter generasi muda yang digital savvy dan menyukai hasil instan membuat mereka lebih berani dalam mengambil risiko berinvestasi pada instrument high risk hgh return. Misalnya, memutar uang di aplikasi peer to peer lending atau investasi saham melalui gadget. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sampai dengan Oktober 2022 menunjukan sebanyak 81,29% jumlah investor didominasi oleh generasi muda. Meskipun secara total aset terbesar tetap dimiliki oleh generasi baby boomers. Generasi muda memang lebih memiliki literasi keuangan yang jauh lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya, selain itu juga lebih mengharap kekayaan yang instan. Mereka juga mengedepankan work life balance dalam memilih jenis pekerjaan.
Tentu saja perilaku generasi ini merupakan tantangan tersendiri bagi demografi Indonesia, karena saat ini piramida penduduk Indonesia didominasi oleh generasi muda. Terlebih lagi kedepannya generasi muda ini akan menjadi penggerak utama dalam perekonomian.
Mewaspadai Ancaman PHK di 2023
Di Indonesia, pemutusan hubungan kerja (PHK) mengintai
industri manufaktur (khususnya padat karya), akibat penurunan permintaan ekspor, sebagai dampak perlambatan ekonomi global. Ledakan PHK perusahaan teknologi di seluruh
dunia juga dialami perusahaan rintisan (startup) di Indonesia.
Beberapa terpaksa melakukan PHK, bahkan ada yang tutup.
Pemerintah mencatat angka pengangguran sebenarnya
turun dua tahun terakhir, sejalan dengan mulai pulihnya
ekonomi. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Agustus 2022
tercatat 5,86 persen, turun dibandingkan 6,49 persen Agustus
2021. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) juga membaik
ke 68,63 persen per Agustus 2022, tertinggi sejak 1986.
Namun, resesi global dikhawatirkan membalikkan progres
ini dan memukul industri berorientasi ekspor. PHK di industri
tekstil dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki, diprediksi
Apindo, masih berlanjut hingga triwulan I-2023, dengan
turunnya permintaan ekspor hingga 30-50 persen. Sejauh ini,
sudah terjadi PHK 87.236 pekerja di 163 perusahaan. Untuk
start up, PHK bahkan diperkirakan berlanjut sampai 2024,
meski sektor ini tetap menarik investor. (Yoga)
Hilirisasi dan Paradoks Daya Saing
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 sebesar 5,31
persen lebih baik dari perkiraan banyak pihak.
Kegiatan ekspor yang meningkat 16,28 persen sepanjang tahun lalu menjadi penyokong utama kinerja
ekonomi. Sementara kegiatan konsumsi masyarakat hanya
tumbuh 4,93 persen dan investasi tumbuh 3,87 persen.
Meski mengagumkan, pertumbuhan ekonomi cenderung berfluktuasi seiring naik turunnya harga serta
permintaan komoditas ekspor di pasar global. Ekspor kita
masih didominasi dua komoditas utama, yaitu batubara
dan minyak sawit. Harga serta permintaan kedua komoditas ini sangat fluktuatif (supercycle commodities).
Pada 2023, permintaan dan harga komoditas ekspor
diperkirakan tak akan sebaik tahun lalu sehingga pertumbuhan ekonomi berpotensi turun. Diperlukan mitigasi agar perlambatan ekspor terkompensasi dengan
pertumbuhan bidang lain. Potensinya adalah mendorong
investasi, selain menjaga konsumsi domestik. Pengeluaran pemerintah sudah waktunya kembali konservatif
dengan defisit anggaran di bawah 3 persen.
Kebijakan larangan ekspor beberapa mineral mentah
dan penerbitan Peraturan Pemerintah. (Yoga)
Hilirisasi Perlu Melibatkan Nelayan
JJAKARTA, KOMPAS — Upaya Indonesia mendorong hilirisasi
perikanan diharapkan memperkuat nilai tambah dan daya
saing sektor kelautan dan perikanan. Selama ini, nilai ekspor perikanan Indonesia cenderung meningkat karena pengaruh harga komoditas, bukan karena peningkatan nilai
tambah produk perikanan.
Ketua Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional
Indonesia (KNTI) Riza Damanik menilai, dorongan pemerintah untuk hilirisasi perikanan merupakan solusi tepat untuk meningkatkan nilai
tambah. Perikanan merupakan sektor unggulan nasional.
Sektor ini memiliki volume
produksi beberapa komoditas
yang lebih unggul dibandingkan dengan komoditas serupa
dari negara lain.
Akan tetapi, kenaikan nilai
ekspor perikanan Indonesia
lebih ditopang oleh kenaikan
harga komoditas. ”Titik berat
pengembangan sektor perikanan masih sebatas produksi dan belum peningkatan nilai tambah,” kata Riza dalam
”Outlook KNTI 2023: Akselerasi Pertumbuhan dan Peningkatan Kesejahteraan Nelayan Kecil dan Tradisional di
Indonesia”, di Jakarta, Senin
(13/2/2023). (Yoga)
Vokasi Perlu Lebih Terarah
Mesir bergabung dengan BRICS dalam langkah strategis dalam upaya De-dollarisasi pasar global
Mesir telah menjadi anggota terbaru BRICS yang didirikan oleh Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan pada tahun 2014. Langkah ini dapat diperhitungan sebagai poin penting dalam kampanye "de-dollarisasi" yang bertujuan untuk mengurangi dominasi dolar AS di pasar global dan mempromosikan penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan internasional.
Fenomena de-dollarisasi ini muncul sehubungan dengan keinginan untuk melindungi bank sentral dari risiko geopolitik negara anggota BRICS dan untuk menantang kemampuan AS untuk menggunakan dolar sebagai senjata untuk menjatuhkan sanksi. Saat ini, 60% cadangan devisa bank sentral dan 70% perdagangan global dilakukan dengan menggunakan dolar AS.
BRICS memperkenalkan Russia-China payment system yang tidak melalui SWIFT dan merupakan gabungan antara the Russian System for Transfer of Financial Messages dengan the Chinese Cross-Border Interbank Payment System. Pada tahun 2021, Rusia mengurangi share of dollar-denominated assets menjadi 16% dan mengurangi ketergantungan perdagangannya pada dolar AS menjadi kurang dari 10% dalam bentuk ekspor ke negara-negara BRICS. India juga telah menjajaki rencana untuk mengurangi ketergantungannya pada dolar, termasuk penggunaan Rupee India dalam perdagangan bilateral dengan negara-negara pengekspor minyak.
Kampanye de-dollarisasi ini mendapatkan momentum dengan semakin banyaknya negara-negara seperti Argentina, Aljazair, Iran, Indonesia, Turki, dan Arab Saudi yang menunjukkan ketertarikan mereka untuk bergabung dengan BRICS. Dengan Mesir sebagai anggota terbaru yang bergabung ke dalam BRICS, mengindikasikan bahwa Afrika juga mulai mendukung inisiatif ini.
Dengan masuknya Mesir ke dalam BRICS merupakan langkah signifikan untuk mengurangi dominasi dolar AS di pasar global. Kampanye de-dollarisasi didorong oleh keinginan untuk mengisolasi bank sentral dari risiko geopolitik dan menantang hegemoni dolar AS. Pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina telah meningkatkan pentingnya kemandirian dan dukungan negara-negara lain untuk inisiatif ini.Peringkat Ekspansi Industri Turun
JAKARTA, KOMPAS — Meskipun
kinerja industri dalam negeri
tengah bertumbuh di awal
2023, tingkat ekspansi manufaktur Indonesia tak lagi berada dalam jajaran tiga besar di
kawasan Asia Tenggara seperti
tahun lalu. Kini Indonesia berada di posisi keempat setelah
Thailand, Filipina, dan Singapura.
Tingkat indeks itu ditunjukkan lewat Indeks Manajer
Pembelian (Purchasing Mana-
ger’s Index/PMI) yang dirilis
S&P Global Market Intelligence pada awal Februari 2023.
Rilis itu menyebutkan, PMI
kawasan Asia Tenggara pada
Januari 2023 berada di posisi
51, meningkat 1,39 persen dari
angka bulan sebelumnya, yakni 50,3. Nilai PMI itu diperoleh
dari survei terhadap 2.100 pelaku manufaktur di Indonesia,
Malaysia, Singapura, Thailand,
Vietnam, Myanmar, dan Filipina pada 12-25 Januari
2023.
Apabila angka PMI berada
di atas 50, industri pengolahan
berada di zona ekspansif.
Sebaliknya, jika nilainya berada di bawah 50, industri
tengah terkontraksi. Pada Januari 2023, ada empat negara
yang industri pengolahannya
sedang berekspansi, yakni
Thailand dengan PMI 54,5, Filipina (53,5), Singapura (51,9),
dan Indonesia (51,3). Tiga negara lainnya berada di zona
kontraktif, yakni Myanmar dengan PMI 49,6, Vietnam (47,4),
dan Malaysia (46,5). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









