Ekonomi
( 40789 )Mei 2023, Ekspor Jatim Naik Signifikan
Nilai ekspor Jawa Timur pada Mei 2023 mencapai 1,89 miliar dollar AS atau naik 40,90 persen daripada bulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat, kontribusi komoditas nonmigas mencapai 94 persen. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Kamis (15/6/2023), menyatakan, terus mendorong peningkatan kinerja ekspor. Salah satunya dengan memperbanyak jenis komoditas unggulan, terutama kategori nonmigas. (Yoga)
Permintaan Pulih, Surplus Makin Keci
Era booming atau lonjakan harga sejumlah komoditas unggulan Indonesia mulai berakhir. Kontribusi minyak kelapa sawit (CPO), batubara, dan besi baja terhadap total ekspor tidak dominan lagi. Surplus neraca perdagangan Indonesia semakin mengecil. BPS, Kamis (15/6) merilis, ekspor migas dan nonmigas pada Mei 2023 mencapai 21,72 miliar USD, naik 12,61 % secara bulanan. Impor migas dan nonmigas juga meningkat 38,65 % secara bulanan menjadi 21,28 miliar USD. Sehingga, neraca perdagangan Indonesia Mei 2023 surplus 436,5 juta USD, yang membuat Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan selama 37 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud mengatakan, surplus neraca perdagangan Mei 2023, terendah dalam 37 bulan terakhir, akibat penurunan harga sejumlah komoditas ekspor unggulan Indonesia, terutama batubara, CPO, dan besi baja. ”Kinerja ekspor menjadi ti dak optimal karena tertahan penurunan harga komoditas,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. BPS mencatat, pada Mei 2023, harga batubara turun 17,4 % secara bulanan menjadi 160,5 USD per ton dan harga besi baja turun 10,43 % secara bulanan menjadi 105,2 USD per ton. Hal itu menyebabkan nilai ekspor batubara turun 6,25 % menjadi 3 miliar USD dan besi baja turun 9,09 % menjadi 2 miliar USD. Harga CPO turun 7,08 % secara bulanan menjadi 934,1 USD per ton. (Yoga)
Potensi Besar Ditengah Resiko Tinggi
JAKARTA,ID-Akuisisi 35% hak partisipasi Blok Masela dari tangan Shell membutuhkan dana yang besar. Harga yang diminta US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,89 triliun. PT Pertamina (Persero) tengah melakukan finalisasi pengambilalihan ini. Namun, pemerintah dianggap perlu terlibat dalam pendanaan. Pemerintah berharap konsorsium BUMN PT Pertamina (Persero) bersama Petronas dari Malaysia bisa menyelesaikan pengambilalihan 35% participating interest (PI) milik Shell Upstream Overseas Servicesa Ltd di Blok Masela akhir Juni 2023. Sedangkan porsi 65% lainnya dikuasai Inpex Masela Ltd dari Jepang sebagai operator. "Total cadangan terbukti mencapai 18,54 tscf. Sedangkan investasi yang dibutuhkan mencapai US$ 19,8 miliar," papar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDA) Arifin Tasrif, baru-baru ini. Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati beberapa waktu lalu mengatakan saat ini pihaknya tengah melakukan finalisasi. Namun dirinya tidak bisa membeberkan detail karena memilik non-disclosure agreement (NDA). Nickle menjelaskan, akan ada kejutan dalam proses pengambilalihan ini. (Yetede)
12 Emiten Multifinance Bukukan Laba Bersih Rp 1,4 Triliun
JAKARTA,ID- Sebanyak 12 emiten dari total 14 emiten multifinance membukukan laba bersih sebesar Rp 1,4 triliun atau tumbuh 35,14% year on year (yoy) pada kuartal 1-2023. Sementara dua emiten lainnya tercatat merugi. Dua emiten yang mengalami penurunan laba hingga tercatat merugi dalam tiga bulan pertama tahun ini adalah PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) dan PT Pool Advista Finance Tbk (POOL). Sisanya masih mampu membukukan laba, meski dua entitas diantaranya tercatat mengalami penurunan laba yakni PT Mandala Multifinance Tbk (MFIN) dan PT Mizuho Leasing Indonesia Tbk (VRNA). Sementara itu, emiten yang mencatatkan pertumbuhan laba diantaranya PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), PT Buana Finance Tbk (BBLD), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Woori Finance Indonesia Tbk (CFIN), Lalu ada PT Radana Bhaskara Finance Tbk (HDFA), PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS), PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA), PT Trust Finance Tbk (TRUS), dan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF). Rata-rata pertumbuhan bersih sejumlah emiten yakni sebesar 31,14% pada kuatal 1-2023, ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata peningkatan laba keseluruhan industri. Industri multifinance mencatat laba bersih Rp5,23 triliun atau tumbuh 32,20%. (Yetede)
Global Lesu, Ekspor Kendaraan dan Mesin Justru Menanjak
JAKARTA,ID-Di tengah melemahnya ekonomi global, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor kendaraan dan bagiannya pada Mei 2023 meningkat signifikan hingga 60,20% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia hingga Mei 2023 surplus selama 37 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Meski demikian, surplus perdagangan Mei 2023 surplus ini lebih rendah dibanding dengan bulan sebelumnya dan Mei 2022. Nilai ekspor non migas kendaraan dan bagiannya tersebut mencapai US$ 323,2 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bahan bakar mineral US$ 175,8 juta (4,39%), BPS mencatat komoditas lain yang juga meningkat nilai ekspornya adalah mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya US$ 201,6 juta (53,77%); mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya US$ 197,5 juta (19,11%); lemak dan minyak hewan/nabati US$ 158,5 juta (25,66%). Sementara komoditas yang menurun selain bahan bakar yang menurun selain bahan bakar mineral adalah bijih logam, terak, dan abu US$ 156,1 juta (19,41%); besi dan baja US$ 137,0 juta (6,33%); bahan kimia anargonik US$ 60,7 juta (37,66%); serta tembaga dan barang dari padanya US$ 24,1 juta (13,65%). BPS mencatat, nilai ekspor Indonesia pada Mei 2023 mencapai US$ 21,72 miliar atau naik 12,61% dibanding ekspor April 2023. (Yetede)
Link net dan Hypernet Perkuat Ekosistem Digital
JAKARTA,ID- PT Link Net Tbk berkolaborasi dengan Hypernet Technologies untuk menghadirkan solusi inovatif guna memperkuat ekosistem digital pelanggan korporasi (enterprise) diberbagai sektor Tanah Air. Kerja Link Net dilakukan melalui brand Link Net Enterprise. Sedangkan Hypernet merupakan anak usaha PT XL Axiata Tbk. Kali ini, sinergi Link Net dan Hypernet menghadirkan produk kolaborasi Link Net Hypernet Future technologies (LYFT) dengan tagline Faster, Safer, Reliable. Kerja sama dituangkan dalam bentuk sosial ini untuk kemudahan serta keamanan pengelolaan jaringan secara fleksibel, dengan memanfaatkan software dan fungsi kontrol terpusat. Dengan begitu, para pelanggan entreprise pun akan mampu mengelola jaringan antarcabang yang dimiliki secara terpusat dan memonitor semua trafik secara mudah dan tetap aman. "Karena itu penting bagi kami menjalin kemitraan strategis dengan partner yang memiliki semangat dan komitmen yang selaras dalam mendukung akselerasi eskosistem digital nasional, khususnya para pelanggan enterprise di Indonesia," ujar Chief Enterprise Business Officer net Link Agung Satya Wiguna. (Yetede)
Maaf, Saham Suspensi Dilarang Didagangkan
Investor yang dananya nyangkut di sejumlah saham yang disuspensi Bursa Efek Indonesia (BEI) harus bersabar. Pasalnya, meski saham yang disuspensi masuk ke papan pemantauan khusus, tidak berarti saham itu bisa diperdagangkan. Dari catatan KONTAN, ada sekitar 43 saham yang dibekukan perdagangannya oleh BEI. Di antaranya, saham emiten Benny Tjokro, yakni MYRX, HOME, NUSA dan SIMA. Otoritas menggembok perdagangan saham-saham itu sejak awal tahun 2020.
BEI pada Senin lalu (12/6), telah memberlakukan papan pemantauan khusus. Sebanyak 171 saham yang masuk ke papan ini.
Ada 11 kriteria yang ditetapkan BI untuk memasukkan saham ke papan pemantauan khusus. Di antaranya, likuiditas dan kinerja fundamental saham emiten masih jeblok. Nah, sejumlah saham yang disuspensi BEI, juga masuk papan pemantauan khusus.
Sebagai perbandingan, saham pada umumnya ditransaksikan dengan skema
continuous call.
Dengan skema ini, saham bisa dibeli kapan pun sepanjang perdagangan bursa berjalan.
Pada papan pemantauan khusus juga diberlakukan ketentuan
auto rejection
atau
auto reject
saham. Adapun, batas
auto rejection
saham di papan ini ditetapkan sebesar 10% untuk saham yang harganya di atas Rp 10.
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, suspensi dan papan pencatatan memiliki mekanisme berbeda, karena semua saham bisa dikenakan suspensi. "Tidak ada kaitan langsung antara papan pencatatan dengan suspensi," katanya, Kamis (15/6).
Saham Basis Syariah Belum Raih Berkah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat di akhir perdagangan Kamis (15/6). Kenaikan IHSG ditopang positifnya mayoritas indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tak terkecuali indeks saham berbasis syariah.
Dari lima indeks saham berbasis syariah yang ada di BEI, seluruhnya mencatatkan kenaikan tipis dibandingkan hari sebelumnya. Meski begitu, jika diakumulasi sejak awal tahun berjalan ini, indeks saham syariah masih terbenam di zona merah (lihat tabel).
Kepala Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia, Irwan Abdalloh, mengatakan, pergerakan indeks syariah memang bagian dari IHSG yang saat ini masih mengalami tekanan. Menurut dia, kondisi pasar saham ini tengah mengalami gejolak, baik di pasar domestik maupun global.
Sementara itu, per 31 Maret 2023, nilai transaksi investor syariah mencapai Rp 1,3 triliun, dengan volume transaksi 4,9 miliar. Hingga akhir tahun ini, BEI menargetkan, investor pasar modal syariah bisa tumbuh 10% dibanding 2022.
Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Raditya Pradana mencermati, tekanan pada indeks syariah di sepanjang tahun ini sejalan dengan penelaahan yang terjadi di pasar saham.
KELIP WASPADA KINERJA NIAGA
Perihal kinerja dagang, Indonesia boleh sedikit lega. Walaupun terus diterjang berbagai tantangan ekonomi global dan domestik, neraca perdagangan nasional pada Mei 2023 masih sanggup mencetak surplus. Kendati demikian, amat keliru jika lekas jemawa dengan pencapaian tersebut. Terlebih, surplus neraca perdagangan kali ini jauh lebih rendah ketimbang April 2023, maupun pada Mei 2022. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir neraca perdagangan pada Mei 2023 surplus US$440 juta, melanjutkan pencapaian positif pada 36 bulan sebelumnya. Namun, angka itu masih lebih rendah ketimbang pencapaian pada April 2023 yang surplus US$3,94 miliar, naik dari bulan sebelumnya yang tercatat US$2,91 miliar. Demikian pula jika dibandingkan dengan Mei 2022, yang tercatat surplus sebesar US$2,9 miliar. Tak pelak, ramalan sejumlah kalangan bahwa surplus neraca perdagangan pada tahun ini bakal menyusut pun kian menuju nyata. Perlambatan ekonomi di negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia dituding menjadi salah satu biang keladi. Tengok saja data dagang dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa, dua destinasi ekspor terbesar bagi Indonesia setelah China. BPS mencatat ekspor ke Paman Sam sepanjang Januari—Mei 2023 anjlok 23,16% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$9,4 miliar, sedangkan ekspor ke Uni Eropa pada periode yang sama juga turun 13,64% YoY menjadi US$7,4 miliar. Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan Muhri menyatakan pasar tradisional terutama AS dan Uni Eropa memang tengah mengalami pelemahan. Faktor lain yang juga perlu dicermati adalah tren penurunan harga komoditas di perdagangan global. Beruntungnya, gejolak harga komoditas utama seperti batu bara dan CPO yang belakangan terjadi, tak menyeret kinerja dagang Indonesia pada Mei 2023 lantaran ada sektor lain yang moncer yaitu kendaraan dan bagiannya (kode HS 87) yang naik 60,20% menjadi US$373 juta. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani memprediksi impor barang modal, bahan baku/penolong, dan bahan konsumsi terus meningkat seperti ke kondisi prapandemi Covid-19.
PROSPEK SURAT UTANG : PELUANG DI BAWAH PENGARUH FED
Langkah Federal Reserve—bank sentral Amerika Serikat menahan suku bunga acuan membawa peluang bagi investor di Tanah Air meskipun masih membawa kekhawatiran terhadap resesi ekonomi di Negeri Paman Sam.
Dikutip dari Bloomberg, Kamis (15/6), 56% responden dalam survei Bloomberg memproyeksi pemangkasan suku bunga oleh Fed pada paruh kedua 2024 dan 35% berekspektasi penurunan suku bunga pada kuartal I/2024. Lalu, 10% menilai pemangkasan pada kuartal terakhir tahun ini. Sebagai imbas pandangan itu, 61% responden juga melihat resesi ekonomi akibat langkah agresif Federal Reserve. Terkait dengan kebijakan teranyar Federal Reserve, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mencatat kinerja pasar keuangan yang positif terlihat pada arus modal di pasar surat berharga negara (SBN) sepanjang Juni 2023. Arus modal asing tercatat naik sekitar US$496,8 juta ketika performa indeks dolar Amerika Serikat melemah sekitar 1,3% sepanjang Juni 2023. Di sisi lain, pasar saham memperlihatkan aksi jual bersih US$113,3 juta.Suku bunga The Fed yang tetap di level 5,25% juga berdampak pada yield Surat Utang Negara (SUN). Josua mengatakan real policy rate dari Bank Indonesia saat ini di sekitar 1,75%, angka ini cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan real policy rate dari Fed.
Josua memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan bergerak di rentang Rp14.850—Rp15.000, sementara yield SUN 10 tahun bakal berkisar di 6,2% hingga 6,4% dalam jangka pendek.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengemukakan peluang investasi akan sangat tergantung pada jangka waktu dan profil risiko setiap investor.
Di sisi lain, instrumen aman seperti emas merespons langkah The Fed dengan koreksi. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spothingga pukul 11.14 WIB turun 0,44% ke level US$1.934 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex untuk kontrak Agustus 2023 terkoreksi 1,18% US$1.945,60 per troy ounce.
Analis Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong memperkirakan perkembangan kebijakan The Fed terbaru bakal mengantarkan harga emas ke zona koreksi di kisaran US$1.850—US$1.860 per troy ounce. Meski demikian, peluang kenaikan jangka panjang tetap terbuka karena permintaan bank sentral.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









