;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Tantangan Hilirisasi Nikel Masih Banyak

22 Apr 2025
Keputusan LG Energy Solution (LGES) untuk mundur dari proyek hilirisasi nikel terintegrasi Titan menjadi sinyal peringatan serius bagi Indonesia, yang tengah berupaya memperkuat perannya dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Ketua Badan Kejuruan Teknik Pertambangan Rizal Kasli menyebut keputusan ini akan mempersulit pencarian investor pengganti dan menambah persaingan antarnegara. Senada, Direktur Eksekutif IMA Hendra Sinadia menilai ketidakpastian regulasi menjadi penyebab utama hengkangnya LGES, sehingga Indonesia kehilangan momentum investasi penting.

Namun, Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno menanggapi dengan tegas, menyebut LGES memang tidak serius sejak awal karena tidak menunjukkan komitmen konkret, seperti groundbreaking proyek. Sementara itu, Faisal Alkadrie, Corporate Secretary PT Aneka Tambang (ANTM), memastikan bahwa proyek hilirisasi tetap berjalan dan Indonesia masih menarik bagi investor lain berkat cadangan nikel yang besar serta dukungan kebijakan pemerintah.

Meskipun hengkangnya LGES menjadi tantangan, pemerintah dan BUMN tetap optimistis terhadap kelanjutan proyek hilirisasi nikel nasional.

Sektor Perikanan Siap Hadapi Dampak Tarif Trump

22 Apr 2025
Penerapan kebijakan tarif tinggi oleh Pemerintah AS di bawah Donald Trump melalui strategi "America First Trade Policy" memberikan pukulan langsung terhadap sektor ekspor unggulan Indonesia, khususnya perikanan. Meski implementasinya ditunda 90 hari untuk negosiasi, sinyal proteksionisme AS sangat jelas, termasuk tarif 32% untuk komoditas ekspor Indonesia seperti udang dan tuna.

Indonesia sebagai pemasok utama perikanan ke AS menghadapi tantangan struktural seperti ketergantungan pasar tunggal, daya saing logistik yang rendah, dan regulasi ekspor yang rumit. Namun, situasi ini sekaligus menjadi momentum untuk reformasi menyeluruh di sektor perikanan nasional.

Strategi yang diusulkan meliputi diversifikasi pasar ekspor ke Timur Tengah dan Eropa Timur, peningkatan efisiensi dan daya saing domestik, penguatan penghiliran produk perikanan, serta penyusunan kebijakan berbasis data. Tokoh-tokoh seperti ekonom, pembuat kebijakan, dan pelaku usaha didorong untuk berperan aktif dalam mentransformasi tantangan ini menjadi peluang penguatan struktur ekspor dan kemandirian industri perikanan Indonesia di kancah global.

BI Siapkan Kolaborasi QRIS-AS

22 Apr 2025
Tanggapan Amerika Serikat terhadap penerapan QRIS dan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) di Indonesia disikapi secara terbuka oleh Bank Indonesia. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa Indonesia tidak membeda-bedakan negara mana pun untuk kerja sama sistem pembayaran, termasuk jika AS ingin bergabung dalam penggunaan QRIS atau BI-Fast. Ia juga menepis anggapan diskriminasi dengan menyebut bahwa Visa dan MasterCard—dua jaringan asal AS—masih mendominasi sistem pembayaran di Indonesia.

Meski USTR dalam laporannya menyatakan kekhawatiran atas potensi pembatasan sistem pembayaran AS, BI tetap melanjutkan perluasan kerja sama QRIS dengan berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara ASEAN.

Di sisi lain, ekonom dalam negeri seperti Piter Abdullah Redjalam dan Achmad Nur Hidayat mendukung kuat keberlanjutan QRIS dan GPN demi menjaga kedaulatan dan memperkuat ekonomi digital Indonesia. Mereka menilai kritik dari AS sebagai hal yang wajar dalam konteks global, namun tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan agenda strategis nasional dalam penguatan sistem pembayaran.

Perpres PCO Digugat, Istana Angkat Bicara

22 Apr 2025
Istana Kepresidenan merespons adanya gugatan terhadap Peraturan Presiden (Perpres) pembentukan Kantor Komunikasi Presiden atau Presidential Communication Office (PCO) yang dinilai berpotensi tumpang tindih dengan tugas Kantor Staf Kepresidenan (KSP).

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan belum menerima salinan resmi dari gugatan uji materiil yang dilayangkan ke Mahkamah Agung (MA) tersebut. 

Namun, dia menegaskan bahwa desain kelembagaan antara PCO dan KSP telah dirancang sejak awal agar tidak saling bertabrakan kewenangannya. 

“Saya belum terima kopian gugatan tersebut, tapi apapun nanti coba kita pelajari, tapi rasa-rasanya semangatnya sih bukan itu ya,” ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan, Senin (21/4).

Negosiasi Dagang Harus Tetap Jaga Kedaulatan Ekonomi

22 Apr 2025
Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyampaikan sejumlah keluhan terkait hambatan perdagangan dengan Indonesia, antara lain menyangkut bea cukai, kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), hak kekayaan intelektual, serta sistem pembayaran domestik seperti GPN dan QRIS. Laporan ini menjadi dasar potensi penetapan tarif atau tekanan dagang dari AS.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa Indonesia terbuka terhadap kerja sama dengan pihak asing, termasuk AS, dalam sistem pembayaran. Namun, ekonom Achmad Nur Hidayat memperingatkan bahwa pembukaan sistem seperti QRIS ke perusahaan asing berisiko besar terhadap keamanan data, kedaulatan ekonomi, dan kelangsungan fintech lokal. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini bukan hanya persoalan teknis, tetapi menyangkut isu strategis nasional.

Soal TKDN, Fithra Faisal Hastiadi dari Samuel Sekuritas berpendapat bahwa tingkat TKDN yang terlalu tinggi bisa menghambat efisiensi industri dan menyulitkan integrasi Indonesia dalam rantai pasok global. Sementara itu, Muhammad Rizal Taufikurrahman dari Indef menekankan bahwa hambatan non-tarif justru berperan penting dalam melindungi kapasitas domestik, dan jika dihapus sesuai keinginan AS, Indonesia berisiko menghadapi dominasi asing dan deindustrialisasi.

Piter Abdullah dari Segara Institute menambahkan bahwa Indonesia sebaiknya tidak tergesa-gesa bernegosiasi dengan negara besar seperti AS atau China, melainkan mengutamakan kerja sama regional untuk memperkuat posisi tawar dan kemandirian ekonomi.

AS Soroti Prosedur Bea Cukai RI

22 Apr 2025
Laporan USTR (United States Trade Representative) menyoroti berbagai praktik kepabeanan Indonesia yang dianggap sebagai hambatan non-tarif, seperti penggunaan harga referensi alih-alih nilai transaksi aktual dalam penilaian barang impor, serta ketidakkonsistenan antar pelabuhan. Kebijakan verifikasi pra-pengapalan dan regulasi barang tidak berwujud juga menjadi perhatian karena dinilai menambah beban administratif dan mengurangi transparansi.

Selain itu, struktur tarif cukai minuman beralkohol impor yang lebih tinggi dibanding produk lokal dinilai diskriminatif, sebagaimana diatur dalam PMK Nomor 160 Tahun 2023. Sistem penghargaan petugas bea cukai hingga 50% dari nilai sitaan juga dikritik karena berisiko mendorong penyalahgunaan wewenang.

Bhima Yudhistira, Direktur Utama Celios, menegaskan bahwa temuan USTR harus menjadi alarm untuk reformasi kepabeanan, karena keluhan serupa juga datang dari pelaku usaha domestik. Ia mengusulkan pembentukan satuan tugas independen guna mengawasi kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Senada, Rizal Taufiqurrahman dari Indef menyebut persoalan ini mencerminkan masalah struktural dalam sistem perdagangan Indonesia, seperti kurangnya transparansi, resistensi terhadap liberalisasi, dan ketidakpastian administrasi. Ia menekankan bahwa Indonesia harus merespons secara strategis dan objektif, tanpa bersikap defensif, serta tetap menjaga perlindungan terhadap pelaku usaha nasional bila memang dibutuhkan.

Dengan demikian, laporan USTR menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem kepabeanan guna memperbaiki iklim investasi, daya saing ekspor-impor, dan integrasi dalam rantai pasok global.

Emiten Ini Menarik Meski Belum Untung

22 Apr 2025
Kinerja PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengalami tekanan pada tahun 2024, dengan mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 56 juta, meningkat dari kerugian tahun sebelumnya. Meskipun demikian, prospek jangka panjang MDKA dinilai masih positif oleh para analis, berkat fundamental operasional yang tetap solid, terutama dari pertumbuhan pendapatan sebesar 31,2% yoy menjadi US$ 2,23 miliar, yang didorong oleh peningkatan penjualan nikel dan bijih limonit.

Analis Andhika Audrey dari Panin Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan kinerja terutama berasal dari lonjakan beban keuangan akibat tingginya suku bunga global. Namun ia tetap merekomendasikan buy untuk saham MDKA, meski dengan penurunan target harga menjadi Rp 1.200 karena tekanan pada harga nikel dan potensi keterlambatan proyek.

Sementara itu, analis Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo melihat prospek positif MDKA didukung oleh potensi kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian global. Ia memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 3.400–US$ 3.500 per ons troi, yang akan meningkatkan pendapatan dan margin MDKA. Indy merekomendasikan buy dengan target harga Rp 2.160.

Dari sisi operasional, Benny Kurniawan dari JP Morgan mencatat bahwa produksi Tambang Emas Tujuh Bukit sesuai ekspektasi dan akan meningkat pada kuartal I 2025. Ia menekankan pentingnya efisiensi pada sektor nikel dan menyebut proyek Tambang Emas Pani sebagai pilar utama pertumbuhan ke depan. Benny mempertahankan rekomendasi overweight dengan target harga Rp 1.950.

Secara keseluruhan, meski masih menghadapi risiko seperti kenaikan belanja modal dan volatilitas harga komoditas, MDKA dinilai berada di jalur pemulihan, dengan strategi fokus pada ekspansi emas dan efisiensi operasional di sektor nikel yang berpotensi memperbaiki kinerja keuangan di masa depan.

Pertumbuhan Dana Valas Semakin Agresif

22 Apr 2025
Di tengah tekanan nilai tukar rupiah, industri perbankan mencatat kenaikan signifikan Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam bentuk valuta asing (valas). Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), simpanan valas perbankan tumbuh 10,5% secara tahunan per Maret 2025, meningkat tajam dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Bank CIMB Niaga, melalui Presiden Direktur Lani Darmawan, mencatat pertumbuhan DPK valas sebesar 12% secara tahunan, yang menurutnya disesuaikan dengan kebutuhan kredit valas agar likuiditas tetap terjaga.

Sementara itu, Bank Mandiri menunjukkan performa yang lebih kuat dengan peningkatan DPK valas sebesar 22% yang bersumber dari Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Direktur Utama Darmawan Junaidi menekankan pentingnya layanan terintegrasi kepada eksportir dan mencatat bahwa trade finance dan treasury adalah penyumbang terbesar transaksi valas di Bank Mandiri. Ia juga menyoroti penguatan layanan digital melalui superapp Kopra untuk mendukung nasabah korporasi.

Untuk menjaga likuiditas valas, Sekretaris Perusahaan Ashidiq Iswara menyebut Bank Mandiri telah melakukan diversifikasi sumber pendanaan, termasuk melalui penerbitan surat utang senilai US$ 800 juta.

Menurut analis dari LPPI, Trioksa Siahaan, kenaikan DPK valas ini merupakan dampak kebijakan wajib penempatan 100% DHE SDA ke sistem keuangan domestik sejak Maret 2025 serta intervensi Bank Indonesia. Ia juga mengingatkan agar bank berhati-hati dalam penyaluran kredit valas demi menjaga stabilitas dan likuiditas menghadapi ketidakpastian rupiah.

Secara keseluruhan, pertumbuhan DPK valas mencerminkan kepercayaan terhadap sistem perbankan nasional dan keberhasilan kebijakan pemerintah dalam mengamankan likuiditas valas, namun tetap menuntut kehati-hatian dalam pengelolaan kredit dan risiko mata uang.

Pembentukan BPI Danantara Beri Harapan Baru, Tapi Jadi Tantangan bagi Penerimaan Pajak

22 Apr 2025

Pemerintah resmi meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) pada 24 Februari 2025 sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia. Badan ini bertujuan mengonsolidasikan dan mengelola aset negara melalui investasi strategis untuk mempercepat pembangunan nasional. Sebanyak tujuh BUMN besar seperti Pertamina, PLN, Bank Mandiri, BRI, BNI, Telkom, dan MIND ID akan digabungkan bersama Indonesia Investment Authority (INA) dalam struktur BPI Danantara, dengan total aset mencapai Rp10.000 triliun.

Pembentukan BPI Danantara dinilai membuka peluang bagi peningkatan penerimaan pajak melalui aktivitas investasi di sektor strategis seperti energi terbarukan, manufaktur, hilirisasi SDA, dan ketahanan pangan. Selain itu, investasi yang dilakukan dapat menciptakan lapangan kerja, mendorong kepatuhan pajak, dan meningkatkan basis pajak dari perusahaan serta individu. Jika dikelola dengan transparan dan akuntabel, BPI Danantara juga diyakini dapat memperkuat stabilitas ekonomi jangka panjang.

Namun di sisi lain, sejumlah kerawanan terhadap penerimaan perpajakan mencuat. Pemerintah belum mengatur secara spesifik aspek perpajakan BPI Danantara. Jika mengikuti praktik SWF negara lain, badan ini bisa mendapatkan insentif atau pembebasan pajak, yang berpotensi mengurangi penerimaan pajak negara, khususnya dari BUMN yang bergabung. Tahun 2023 saja, enam BUMN utama penyumbang BPI Danantara menyetor pajak Rp373 triliun.

Risiko lain termasuk penghindaran pajak, ketimpangan beban pajak antara BUMN dan sektor swasta, serta potensi hilangnya penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari dividen BUMN. Jika terjadi gagal investasi, dampaknya bisa berujung pada peningkatan utang dan tekanan terhadap APBN. Pengawasan ketat dan regulasi perpajakan yang jelas dinilai krusial agar BPI Danantara tidak menjadi jebakan fiskal di masa depan.


Rumah Bersubsidi untuk Wartawan

21 Apr 2025

Rencana pemerintah menyalurkan 1.000 rumah bersubsidi bagi wartawan menuai pro dan kontra. Program ini bisa saja dibaca sebagai kepedulian pemerintah kepada wartawan yang belum memiliki rumah. Namun, jika wartawan diberikan jalur khusus, bagaimana nasib jutaan warga lain yang juga belum punya rumah. Program yang digagas Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) ini, menurut rencana, akan diluncurkan pada 6 Mei 2025. Kementerian PKP telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan BPS serta Kemenkomdigi, Selasa (8/4). Untuk tahap awal, 100 kunci rumah akan diberikan kepada wartawan terpilih saat peluncuran program tersebut. Dewan Pers menghargai perhatian pemerintah memberikan bantuan subsidi rumah kepada wartawan. Namun, semua prosesnya hendaknya memakai skema standar sebagaimana masyarakat yang membutuhkan rumah umumnya.

”Rencana tersebut seyogianya ditempuh melalui mekanisme normal pengadaan perumahan, dengan memberi diskon terbaik dan kredit terjangkau terhadap warga, termasuk wartawan,” ujar Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu dalam siaran persnya, Rabu (16/4). Dewan Pers tidak akan ikut menyerahkan data 100 nama wartawan pertama yang akan menerima kunci rumah bersubsidi itu. Ninik menyebutkan, lebih tepat jika Kementerian PKP mengadakan kerja sama subsidi rumah untuk wartawan dan berhubungan langsung dengan media-media yang ada. Menteri Komdigi, Meutya Hafid menyatakan, program subsidi rumah untuk wartawan merupakan bentuk komitmen negara dalam menjawab kebutuhan dasar insan pers dalam mendukung profesi wartawan sebagai salah satu pilar demokrasi di Indonesia. (Yoga)