Trump & Gejolak Ekonomi Global Masih Membayangi
Presiden Donald Trump menunda penerapan tarif impor ekstra tinggi terhadap sebagian besar negara, kecuali China, yang berdampak pada menurunnya persepsi risiko resesi global. Bank investasi Goldman Sachs bahkan menurunkan proyeksi kemungkinan resesi ekonomi AS dari 65% menjadi 45%. Kebijakan tarif tinggi ini merupakan bagian dari strategi ekonomi “Trumponomics” yang menekankan pemotongan pajak, deregulasi, dan proteksi industri dalam negeri melalui tarif balasan (reciprocal tariff).
Trump berharap kebijakan tersebut dapat meningkatkan pendapatan negara, menciptakan lapangan kerja, dan memulihkan sektor manufaktur AS. Namun, ekonom seperti Thomas Sampson dari London School of Economics mengkritik pendekatan Trump karena menggunakan formula tarif yang dianggap tidak berdasar secara teori ekonomi.
Bagi Indonesia, kebijakan ini berdampak signifikan karena AS merupakan tujuan ekspor terbesar kedua. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dampaknya melalui empat langkah utama: meningkatkan konsumsi domestik dan efisiensi industri (inward-looking), mereformasi sistem ekspor-impor, melakukan negosiasi bilateral langsung dengan AS, dan mencari pasar ekspor baru ke wilayah lain seperti Uni Eropa dan Timur Tengah.
Pemerintah Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan masa tenggang 90 hari untuk berdiplomasi dengan pemerintahan Trump guna melindungi kepentingan ekspor nasional.
Tags :
#USAPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023