Siasat Petani Karo di Antara Harga Pupuk dan Sayur
Pembelian pupuk menjadi belanja terbesar petani hortikultura. Hampir semua tanaman hortikultura tidak mendapat pupuk bersubsidi, kecuali cabai, bawang merah, dan bawang putih. Para petani harus pandai bersiasat di tengah harga pupuk nonsubsidi yang mahal dan fluktuasi harga panen. Tamson Ginting (50) lega ketika mengetahui harga kentang di Pasar Sayur-Mayur Roga, Kabupaten Karo, Sumut, Selasa (14/1), masih Rp 9.000 per kg. Petani dari Desa Sada Perarih, itu masih mendapat untung dari penjualan 700 kg kentang yang baru dia panen. ”Kalau harga sayur petani masih bagus, kami enggak terlalu pikirkan harga pupuk yang mahal. Tapi, kalau harga panen anjlok, kami pusing bagaimana harus membeli pupuk yang semakin lama semakin mahal,” kata Tamson.
Sehari sebelumnya, Tamson sudah menjual 2,5 ton kentang dengan harga Rp 11.000 per kg. ”Untung saja kemarin sebagian besar kentang sudah saya jual. Seandainya saya jual dengan harga hari ini, keuntungan saya berkurang Rp 5 juta. Itu sangat lumayan untuk menambah pembelian pupuk,” kata Tamson. Petani hortikultura memang harus bersiasat di tengah tingginya harga pupuk. Tamson biasanya menanam 12.000 pokok kentang di lahan seluas 5.000 meter persegi atau setengah hektar. Untuk pupuk, dia harus menyiapkan uang Rp 15 juta, pestisida Rp 15.000, dan biaya tenaga kerja Rp 20 juta. Dia harus menyiapkan dana segar Rp 50 juta setiap musim tanam kentang yang berlangsung selama tiga bulan. Pembelian pupuk harus disiasati agar biaya tak membengkak karena kentang tidak mendapat pupuk bersubsidi pemerintah.
Tamson harus menyediakan beberapa jenis pupuk, antara lain pupuk ZA (amonium sulfat), NPK (nitrogen, fosfor, dan kalium), kalium butir, NPS (nitrogen, fosfat, sulfur), dan TSP (pupuk fosfor tinggi). Berdasarkan perhitungan Tamson, harga pupuk setelah dicampur sesuai perbandingan berkisar Rp 15.000 per kg. Harga itu jauh lebih mahal daripada pupuk bersubsidi, seperti NPK yang harga eceran tertingginya Rp 2.300 per kg. ”Penerima pupuk bersubsidi sangat beruntung. Setiap membeli 1 zak (50 kg) pupuk, mereka mendapat bantuan Rp 600.000. Saya biasa beli 20 zak pupuk setiap musim tanam. Seandainya itu pupuk bersubsidi, saya dapat Rp 12 juta setiap musim tanam,” kata Tamson. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023