Ekonomi
( 40430 )Perbankan Gaet Dana Murah dalam menghadapi Kondisi yang Kian Menantang
Industri perbankan berupaya menarik dana murah dari masyarakat, melalui promo dan digitalisasi. Kualitas aset turut dijaga sebagai antisipasi menghadapi tantangan pelemahan daya beli masyarakat dan ketidakpastian global akibat kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump. Direktur Consumer Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Corina Leyla Karnalie mengatakan, dana pihak ketiga (DPK) BNI utamanya didominasi dana murah (current account saving account/CASA) yang mampu menurunkan biaya dana (cost of fund) perseroan.
Per Desember 2024, dana murah BNI tercatat Rp 563,3 triliun atau 69,9 % dari total DPK, ditopang pertumbuhan dana rekening tabungan (saving account) nasabah sebesar 11 % secara tahunan. ”Tahun ini (2025), target kita itu cukup challenging. Tabungan ditargetkan tumbuh 16,7 % secara tahunan. Kami optimis, karena itu, kami menyiapkan banyak program,” katanya di Jakarta, Rabu (16/4). Untuk mencapai target tersebut, beberapa promosi dan kampanye pun dilakukan, salah satunya dengan mengadakan program Undian Rejeki wondr BNI yang berlangsung selama April 2025-31 Januari 2026.
Program ini adalah strategi perseroan untuk akuisisi, penetrasi, serta peningkatan transaksi dengan mengandalkan aplikasi wondr. Kehadiran wondr by BNI dapat menjadi inovasi signifikan bagi perbankan. Selain memudahkan akses perbankan, aplikasi tersebut juga bisa mendorong peningkatan jumlah pengguna, volume transaksi, serta pertumbuhan DPK dari produk tabungan. Per Februari 2025, DPK BNI tercatat Rp 775 triliun atau tumbuh 1 % dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah tersebut, dana murah yang dihimpun mencapai Rp 550 triliun atau 70,9 % dari total DPK. (Yoga)
Optimisme di Expo Osaka untuk Indonesia
”Thriving in Harmony, Nature, Culture, Future”, adalah tema Paviliun Indonesia, turunan dari tema World Expo 2025 Osaka, yakni ”Designing Future Society for Our Lives”, yang mengusung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). ”Modal Indonesia dalam menyongsong masa depan adalah kekayaan alam kita, dan keragaman kultur. Kita optimistis dengan masa depan. Kita tidak mengutamakan teknologi saja, tetapi juga kearifan nilai-nilai dan kekayaan alam kita,” kata Tantowi Yahya, Jubir dan Kurator Paviliun Indonesia, kepada pengunjung yang hadir, Selasa (15/4). Kekuatan budaya atau tradisi disajikan dalam bentuk pameran foto wajah-wajah masyarakat Indonesia dari beragam suku dan budaya. Demikian juga perkakas ataupun kain tenun dan batik dari banyak daerah Nusantara.
Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ) Rachmat Gobel mengharapkan Indonesia optimal memanfaatkan World Expo di Osaka untuk berpromosi di tengah persaingan dagang dunia yang sangat ketat. ”Ini kesempatan mempromosikan filosofi dan budaya Indonesia serta menunjukkan keunggulan dari tiap daerah. Apalagi, ini pemerintahan baru, ini kesempatan terbaik,” kata Gobel. Sebagai anggota DPR RI, Gobel melihat masih banyak PR yang harus diselesaikan Indonesia untuk berkompetisi dengan negara-negara lain di tengah persaingan yang sangat ketat saat ini. Namun, dia mengingatkan, Indonesia memiliki pasar yang besar. Indonesia juga memiliki alam yang kaya, rakyat yang bersatu, dan budayanya yang unggul. (Yoga)
Ikhtiar Malang Meretas Mimpi Swasembada Garam dengan Teknologi ”Tunnel”
Menambang garam melalui lorong-lorong plastik dengan bahan baku air dari Samudra Indonesia dapat juga menghasilkan garam dengan kualitas bagus. Di sisi timur Pantai Modangan, Kabupaten Malang, Jatim, bangunan berbentuk setengah silinder memanjang berwarna putih, berderet di sisi barat perbukitan. Bangunan-bangunan dari bahan plastik dengan rangka paralon itu merupakan tempat pembuatan garam dengan metode greenhouse salt tunnel (GST) atau lorong/terowongan. Air dari pantai berombak tinggi itu disedot melalui pipa ke tandon sebelum akhirnya dialirkan ke terowongan-terowongan yang ada. Total ada 30 terowongan dengan dua ukuran berbeda di tempat itu. Masing-masing berukuran 15 x 4 meter sebanyak 20 buah dan 21 x 4 meter sebanyak 10 buah. Sebagian terowongan telah terisi kristal garam setengah jadi hingga siap panen.
Berbeda dengan pembuatan garam umumnya, di sini tak mengenal musim. Saat puncak musim hujan pun, aktivitas kristalisasi garam tetap berlangsung. ”Ombak di sini besar. Air laut dari bawah tebing (sisi timur Pantai Modangan) sejauh 500 meter dialirkan menggunakan pompa. Airnya bersih, tidak bercampur pasir,” ujar Ketua Kelompok Usaha Garam Sumberoto Makmur Sejahtera, Edi Santoso (51), Selasa (15/4). Bersama nelayan lain, setengah tahun terakhir ini Edi mengelola GST itu. Tak ada perbedaan kandungan garam di Samudra Indonesia antara musim kemarau dan musim hujan. Rata-rata kadar salinitasnya 3-4 %. Produksi garam di tempat itu ditargetkan di atas 60 ton setahun. Di Kabupaten Malang, pembuatan garam dengan sistem terowongan tak hanya ada di Modangan. Ada pula di Pantai Bajulmati, Desa Gajahrejo, dan Pantai Nganteb, Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, serta pantai perawan di Desa Sidoasri.
Lokasi pembuatan garam di Bajulmati menjadi pionir metode ini di Malang. Ada 12 terowongan yang dibangun di tempat itu pada 2021 dengan ukuran masing-masing 21 x 4 m. Pada 2022 jumlah produksi garam dari Bajulmati mencapai 2,8 ton dan naik menjadi 10 ton pada 2023. Pada 2024, produksinya turun lantaran terkendala jarak antara lokasi terowongan dan air laut cukup jauh. Sayangnya, produksi garam yang dihasilkan di Malang masih menyasar pasar lokal. Pemkab Malang berharap ada perlindungan dari pemerintah bagi pelaku usaha garam pemula yang memproduksi barang dengan kualitas baik, misalnya dengan mencarikan pasar khusus. Selama ini regulasi yang mengatur hal itu belum ada. ”Pernah laku Rp 5.000 per kg, pernah dibeli Rp 2.500 per kg juga yang hasil dari Bajulmati karena pangsa pasarnya bukan pangsa pasar mencari garam yang berkualitas,” kata Kadis Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring. (Yoga)
Saatnya Indonesia Lebih Serius Berbenah
Meninggalkan Kurikulum Merdeka dan Kembali ke Sistem Penjurusan
Bank Bersaing Tekan Biaya Dana Murah
Daya Beli Masyarakat Belum Pulih Merata
Harga Emas Cetak Rekor Baru
Geliat Kebangkitan Bisnis Internet MyRepublic
Perusahaan Penjamin Bukan Lagi Pelengkap, Kini jadi Jembatan UMKM
Ketua Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) Ivan Soeparno menerangkan, industri penjaminan kini tidak lagi menjadi pelengkap, melainkan aktor utama dalam ekosistem pembiayaan UMKM. Perusahaan penjaminan memiliki peran penting dalam menjembatani kesenjangan antara pelaku UMKM dan lembaga keuangan. "Melalui skema penjaminan, kami membantu menurunkan risiko lembaga keuangan sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap UMKM sebagai pelaku usaha yang layak dan potensial," ujar dia. Melalui Asippindo, terang Ivan, perusahaan-perusahaan penjaminan di Indonesia berkomitmen memperluas akses pembiayaan bagi UMKM melalui skema penjaminan yang terus disempurnakan agar lebih inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan pelaku usaha.
Ivan menyoroti peran strategis lembaga penjamin dalam mendukung misi besar pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita, terutama tiga poin yang sejalan dengan peran penjaminan yaitu peningkatan kesejahteraan rakyat melalui ekonomi berkeadilan, pembangunan Indonesia yang adil dan makmur, serta penjagaan kebutuhan negara dan integritas bangsa. "Selain itu, perusahaan penjamin juga aktif memberikan pendampingan dan pembinaan termasuk mendorong inovasi, termasuk mendorong inovasi, digitalisasi, dan transformasi model bisnis UMKM agar mampu bersaing di pasar domestik maupun global. Seluruh upaya ini dijalankan melalui kolaborasi erat dengan pemerintah, industri jasa keuangan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya demi membangun eksosistem usaha yang sehatm produktif, dan berkelanjutan. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









