Ekonomi
( 40430 )Korporasi Beri Sinyal Positif Terhadap Pasar Modal
Tantangan Tiga Maskapai Penerbangan Haji 2025
Lembaga Riset IDC Mencatat, Pengiriman Ponsel Tumbuh 1,5% Yoy
Persaingan Ketat Rebut Dana di Pasar Utang
Di tengah gejolak berkepanjangan di pasar saham global, korporasi Indonesia justru menunjukkan optimisme dengan mengalihkan strategi pendanaan mereka ke pasar surat utang. Lonjakan emisi surat utang korporasi yang mencapai Rp46,75 triliun pada kuartal I/2025, menurut laporan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), mencerminkan keyakinan korporasi untuk tetap berekspansi meskipun situasi ekonomi global penuh ketidakpastian.
Suhindarto, ekonom dari Pefindo, menjelaskan bahwa kebutuhan refinancing yang tinggi, prospek ekonomi domestik yang solid, dan potensi pelonggaran moneter menjadi katalis positif yang mendorong pertumbuhan pasar obligasi korporasi. Dukungan terhadap konsumsi dan investasi domestik dianggap cukup kuat untuk menjaga stabilitas.
CEO Pinnacle Investama, Guntur Putra, juga menyoroti bahwa likuiditas di pasar tetap cukup berkat dukungan institusi domestik, walaupun ia mengingatkan bahwa kompetisi ketat dengan Surat Utang Negara (SUN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bisa meningkatkan biaya pendanaan bagi korporasi.
Head of Business Development Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi, menekankan pentingnya sinergi antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pendanaan negara dan sektor riil, guna mencegah efek crowding out.
Sementara itu, dari sisi korporasi, perusahaan BUMN karya seperti PT Wijaya Karya (WIKA) melalui Sekretaris Perusahaan Mahendra Vijaya dan PT Adhi Karya (ADHI) melalui Rozi Sparta tetap optimistis melakukan refinancing dan ekspansi dengan memanfaatkan peluang pasar surat utang, meskipun dihadapkan pada tantangan volatilitas ekonomi dan persaingan likuiditas.
Fenomena ini juga tercermin dari perilaku investor ritel seperti Matthew (18 tahun) yang memilih berinvestasi di emas fisik untuk menjaga nilai asetnya di tengah ketidakpastian global, menambah bukti bahwa aset-aset berbasis yield dan safe haven kini lebih menarik perhatian.
Keseluruhan dinamika ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan global membayangi, korporasi Indonesia masih memandang prospek jangka panjang secara positif, dengan strategi pendanaan yang lebih hati-hati dan adaptif terhadap perubahan lanskap keuangan global.
Obligasi Korporasi Jadi Pilihan Rasional
Dalam kondisi ekonomi global yang penuh tekanan dan minim katalis positif, pasar modal Indonesia menunjukkan anomali menarik dengan melonjaknya penerbitan surat utang korporasi sebesar 77,4% pada kuartal I/2025, mencapai Rp46,75 triliun. Fenomena ini mencerminkan lemahnya minat terhadap pasar saham serta tingginya ketertarikan terhadap aset berbasis yield di tengah volatilitas global. Emiten-emiten lokal, terutama di sektor multifinance dan energi dengan peringkat kredit tinggi, memanfaatkan momentum ini dengan cermat.
Namun, dinamika ini tidak terlepas dari kebijakan fiskal dan moneter nasional. Pemerintah berencana menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dalam jumlah besar, sedangkan Bank Indonesia (BI) aktif menggelontorkan SRBI untuk mengelola arus modal dan stabilitas rupiah. Hal ini menciptakan persaingan ketat atas likuiditas di pasar, yang berpotensi mendorong naiknya biaya dana bagi sektor swasta.
Dalam situasi ini, peran tokoh-tokoh regulator menjadi sangat penting: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan menjaga transparansi dan efisiensi pasar, sementara Bank Indonesia perlu menyinkronkan kebijakan SRBI agar tidak mengganggu pembiayaan sektor riil. Selain itu, lembaga pemeringkat seperti Pefindo juga berperan besar dengan proyeksi konservatifnya, memperkirakan total emisi obligasi korporasi tahun 2025 sebesar Rp143,91 triliun. Proyeksi ini menunjukkan adanya kehati-hatian pasar terhadap risiko yang meningkat akibat ketegangan geopolitik global, seperti aksi sell-off China yang memicu lonjakan yield US Treasury.
RI Gaet UN Tourism Majukan Pariwisata
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengajak negara-negara anggota UN Tourism untuk memperkuat kolaborasi di sektor pariwisata yang dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan, terutama di tengah ketidakpastian global akibat kebijakan tarif perdagangan, seperti yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Airlangga menyatakan bahwa Indonesia memandang pariwisata sebagai sektor unggulan dan telah menyambut lebih dari 13 juta wisatawan mancanegara pada 2024, menghasilkan devisa sebesar US$16,7 miliar. Ia menekankan pentingnya pariwisata berkelanjutan dan berbasis masyarakat lokal, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang melihat pariwisata sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi.
Dalam forum CAP-CSA UN Tourism Joint Commission Meeting 2025 di Jakarta, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengumumkan bahwa Indonesia bersama UN Tourism akan meluncurkan Pedoman Pariwisata Indonesia sebagai acuan investasi hijau di sektor ini. Widiyanti juga menekankan peran pariwisata sebagai ekspor jasa yang tidak terdampak kebijakan tarif, dan mendorong pelaku usaha untuk mengembangkan wisata berkualitas yang mampu menarik pengeluaran wisatawan lebih besar.
Sementara itu, Sekjen UN Tourism, Zurab Pololikashvili, menyatakan dukungan terhadap Indonesia melalui rencana peluncuran pedoman investasi pariwisata dan pembukaan sekolah pariwisata, menegaskan bahwa investasi di sektor ini akan menciptakan banyak lapangan kerja baru. Hal serupa ditegaskan oleh Ketua CAP UN Tourism, Esperanza Christina Garcia Frasco, yang mengajak negara-negara Asia Pasifik bekerja sama dalam pendidikan, investasi, dan pengembangan ekonomi sirkular di sektor pariwisata.
Konsumen Kian Pesimis di Tengah Inflasi
Kondisi konsumsi rumah tangga di Indonesia menunjukkan pelemahan yang signifikan, tercermin dari turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) selama tiga bulan berturut-turut hingga mencapai level 121,1 pada Maret 2025. Penurunan ini menunjukkan meningkatnya pesimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan, termasuk dari kelompok berpenghasilan tinggi. Survei Bank Indonesia (BI) dan Mandiri Institute menunjukkan penurunan belanja masyarakat, bahkan saat momentum Idulfitri, yang biasanya menjadi puncak konsumsi tahunan.
Fithra Faisal Hastiadi, Ekonom Senior dari Samuel Sekuritas Indonesia, menyebut penurunan IKK mencerminkan tekanan daya beli masyarakat yang meningkat, diperburuk oleh PHK lebih dari 90.000 orang sejak 2024. Ia mengingatkan bahwa jika tren ini terus berlanjut, konsumsi rumah tangga—yang menjadi penopang utama pertumbuhan PDB—dapat melemah, bahkan memicu penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 5% pada 2025.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga memperingatkan bahwa lesunya optimisme konsumen bisa berdampak pada penundaan investasi oleh pelaku usaha, sehingga diperlukan intervensi pemerintah dalam bentuk pengeluaran yang efektif dan tepat sasaran untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hanya memberikan respons singkat mengenai kondisi ini, dengan mengatakan bahwa pemerintah akan berupaya meningkatkan optimisme konsumen, tanpa menjabarkan langkah konkret yang akan diambil.
Mayoritas SBN Akan Diterbitkan di Semester Pertama
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan (Kemkeu) akan meningkatkan pembiayaan utang pada paruh pertama 2025, terutama lewat penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Target penerbitan SBN kuartal II-2025 sebesar Rp 190 triliun, yang jika tercapai akan membuat total penerbitan semester I menjadi Rp 472,6 triliun, atau 73,54% dari pagu tahunan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa strategi ini merupakan bagian dari kebijakan frontloading, untuk mengantisipasi potensi disrupsi ekonomi global akibat kebijakan tarif dari Presiden AS Donald Trump. Ia menekankan bahwa strategi ini bukan karena kekurangan dana, tetapi untuk menangkap momentum dan menghindari ketidakpastian keuangan.
Myrdal Gunarto, ekonom pasar global dari Maybank Indonesia, menilai langkah agresif pemerintah ini bertujuan untuk mempercepat realisasi program-program Presiden Prabowo, seperti makan bergizi gratis (MBG), pengembangan SDM, hilirisasi industri, dan percepatan investasi melalui BPI Danantara. Ia juga menyebut bahwa pemerintah memanfaatkan momentum penundaan 90 hari kebijakan tarif Trump, serta situasi pasar obligasi yang saat ini kondusif.
Menurut Myrdal, tawaran yield SBN masih menarik, apalagi jika ke depan ada pelonggaran suku bunga dari bank sentral AS dan Bank Indonesia. Dengan demikian, kebijakan ini diharapkan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%.
KLBF Redam Risiko Kurs Lewat Strategi Efisiensi
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memasang target pertumbuhan yang lebih konservatif di tahun 2025, yakni 8%-10% untuk pendapatan dan laba. Strategi baru difokuskan pada ekspansi produk, komersialisasi alat kesehatan, serta diversifikasi transaksi pembelian bahan baku menggunakan mata uang yuan sebagai langkah mitigasi risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Analis Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai langkah penggunaan yuan sebagai strategi diversifikasi risiko yang cerdas di tengah ketidakpastian ekonomi. Meski ada tantangan berupa pelemahan daya beli masyarakat, Azis masih menilai target KLBF dapat dicapai dengan strategi yang telah disiapkan, dan memberikan rekomendasi speculative buy dengan target harga Rp 1.240–Rp 1.245 per saham.
Sementara itu, menurut Sarkia Adelia dari Panin Sekuritas, pertumbuhan KLBF di kuartal IV-2024 sangat didorong oleh segmen distribusi-logistik dan consumer health, terutama dari produk preventif dan dialyzer. Dia juga mencermati bahwa strategi pengembangan alat kesehatan serta kemitraan dengan pihak ketiga akan menjadi penopang pertumbuhan ke depan. Sarkia memberi rekomendasi buy, meski menurunkan target harga dari Rp 1.700 ke Rp 1.350.
Dari sudut pandang Willy Goutama (Maybank Sekuritas), peningkatan margin kotor dan laba bersih KLBF yang didorong penurunan biaya produksi menunjukkan efisiensi operasional yang kuat. Ia memproyeksikan laba bersih KLBF mencapai Rp 3,5 triliun di 2025, dan terus naik hingga Rp 4,5 triliun di 2027, dengan rata-rata pertumbuhan EPS 12% per tahun. Namun, ia juga menyesuaikan target harga menjadi Rp 1.450 per saham dengan rekomendasi buy.
Meskipun menghadapi tekanan daya beli dan tantangan ekonomi global, KLBF tetap menunjukkan prospek positif melalui strategi efisiensi, ekspansi produk, dan diversifikasi risiko mata uang, seperti disampaikan oleh ketiga tokoh analis tersebut.
Saham Bank Digital Belum Menggoda Meski Untung Besar
Awal tahun 2025, sejumlah bank digital mencatatkan pertumbuhan laba yang impresif, seperti Bank Jago (ARTO) yang membukukan kenaikan laba sebesar 214,7% menjadi Rp 39,8 miliar, dan Bank Neo Commerce (BBYB) yang lonjakannya bahkan mencapai 902,8% menjadi Rp 110,9 miliar. Namun, pencapaian kinerja positif ini tidak tercermin dalam pergerakan harga saham, yang justru mengalami tren penurunan signifikan sejak awal tahun.
Tjit Siat Fun, Direktur Kepatuhan Bank Jago, menekankan bahwa fundamental Bank Jago tetap sehat, namun pergerakan saham dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk sentimen global. Hal ini diamini oleh David Wirawan, SVP Finance Bank Amar Indonesia, yang menyebutkan pentingnya transparansi dan inovasi untuk menjaga kepercayaan investor.
Menurut Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas, tekanan pasar global, seperti kenaikan tarif impor AS, depresiasi rupiah, dan kebijakan pemerintah, ikut membebani saham bank digital. Persaingan pun kian ketat, sebab bank-bank konvensional mulai masuk ke ranah digital dengan valuasi yang lebih menarik.
Muhammad Nafan Aji Gusta Utama dari Mirae Asset Sekuritas juga mencatat bahwa tekanan dari arah kebijakan The Fed dan risiko likuiditas membuat bank digital harus mempertimbangkan penguatan struktur keuangan, bahkan membuka opsi merger. Audi menambahkan, investor kini lebih rasional dan menuntut profitabilitas serta efisiensi, bukan sekadar pertumbuhan pengguna.
Meski menghadapi tekanan, prospek bank digital tetap terbuka, khususnya bagi yang terintegrasi dengan ekosistem grup. Audi masih merekomendasikan speculative buy untuk saham AGRO dan ARTO, mengindikasikan adanya peluang jangka pendek di tengah tekanan jangka menengah.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









