;
Kategori

Teknologi

( 1193 )

Bisnis Data Center, Persaingan Harga Pusat Data Bakal Ketat

23 Sep 2021

Indonesia Digital Empowering Community memproyeksikan perang harga di industri pusat data pada masa mendatang seiring dengan pesatnya pembangunan pusat data di Indonesia. Ketua Indonesia Digital Empowering Community (Idiec) M Tesar Sandikaputra mengatakan munculnya pusat data-data baru di Tanah Air akan mendorong persaingan dari sisi harga. Menurutnya, pemain pusat data menawarkan harga murah untuk merebut pasar yang terbatas. "Makin banyak pemain tentu harga makin murah, terlebih tidak semua sektor menggunakan layanan pusat data," katanya, Selasa (21/9)

Kesenjangan antara suplai pusat data dan kebutuhan yang tidak terlalu besar kemudian beresiko membuat para penyedia pusat data saling bersaing menawarkan layanannya dengan harga murah. Berdasarkan pengalaman Tesar pusat data diatas 10 juta atau satu rak. Makin banyak yang tersimpan, imbuhnya, makin besar rak yang di sewa. "Itu hanya sewa rak dan bandwith saja. Belum termasuk operasi atau isi," kata Tesar. Saat ini beberapa perusahaan mengebut pembangunan pusat data seperti PT Telkom Indonesia Tbk, Biznet, DCI Indonesia dalam jalur pembangunan pusat data skala hiper.

"Bisnis pusat data saingannnya adalah para pemain pusat data besar-besar untuk teknologi komputasi awan, misalnya AWS," kata Tesar. Ditengah pembangunan pesat pusat data di Tanah Air, para pemain pusat data mengalami pertumbuhan yang signifikan di bisnis pusat data. Pada kuartal II/2021, PT Telkom Indonesia Tbk, mencatat pendapatan senilai Rp713 miliar dari bisnis pusat data  dan komputasi awan. Jumlah pendapatan tersebut meningkat 11,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. (yetede)

Strategi Digitalisasi Percepat Pemulihan Ekonomi Nasional

16 Sep 2021

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) membeberkan sejumlah langkah strategis digitalisasi yang perlu dilakukan oleh perusahaan di Tanah Air untuk menopang percepatan pemulihan ekonomi nasional. Hal ini perlu dilakukan karena Indonesia masih di landa pandemi Covid-19. Dirjen Aptika Kemkominfo Samuel A Pangerapan mengatakan,  karena situasi pandemi yang masih terjadi, pemerintah berharap perusahaan mau mempersiapkan tiga strategi terkait digitalisasi agar bisa mendukung pertumbuhan ekonomi tahun 2022. "Di era digital, terlebih saat pandemi, platform digital telah menjadi salah satu strategi bagi pelaku bisnis besar maupun UMKM untuk bertahan, meningkatkan, dan proses pengembangan bisnis," ujar Semmy, panggilan akrab Samuel, dalam acara virtual Lintasarta Cloudeka Conference, ICT7Business Outlook 2022, Rabu (15/9).

Di sisi lain, Semmy juga menyampaikan, pemerintah sekarang sudah mendorong pemanfaatan komputasi awan (cloud) di lingkungan internalnya. Pasalnya, spending pemerintah untuk membangun server dan pusat data guna penyimpanan data juga dinilai sudah terlalu besar. "Itu dihitung, kalau kita bisa menggunakan cloud, penghematan bisa Rp20 triliun setahun. Ini tentu pemerintah mendorong, karena surat edaran juga memastikan semua pemerintah tidak lagi membeli server, tetapi menggunakan cloud. Artinya, ada suatu peluangan bisnis yang besar," ungkapnya.

"Teknologi itu malah yang paling cepat. Kenapa, bahkan ketika awal pandemi  justru sektor informasi dan telekomunikasi itu justru yang trennya naik," ujar Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance Aviliani. Dia menjelaskan, berdasarkan study McKinsey, ditengah pandemi saat ini, hampir semua sektor, seperti pendidikan, travel, belanja, hingga pekerjaan, mulai beralih dengan memanfaatkan teknologi. "Hampir di semua sektor, tidak hanya keuangan, tapi juga kesehatan, tourism, itu juga akan menggunakan teknologi, dan sekarang sudah dimulai. Industri sekarang sudah memakai robot dengan menggunakan teknologi," imbuhnya. (YTD)

Astra Perkuat Digitalisasi, termasuk Dompet Elektronik

15 Sep 2021

PT Astra International Tbk (ASII) terus memperkuat digitalisasi untuk meningkatkan kemajuan perusahaan. Astra juga melakukan inovasi terkait digitalisasi dengan melibatkan seluruh anak usaha melalui Moxa Financial dan Astrapay. Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro menjelaskan, dalam dua tahun terakhir, Astra fokus dalam memperkuat digitalisasi. Pasalnya, perusahaan menyadari digitalisasi ini yang mendukung kesuksesan perusahaan di masa mendatang. “Dalam memperkuat digitalisasi ini, kami melibatkan semua unit bisnis Astra karena perusahaan ini berbentuk konglomerasi dan harus menyesuaikan dengan karakteristik unit bisnis,” jelas dia dalam konferensi pers Public Expose Live 2021, Kamis (9/9). Dalam penguatan digitalisasi ini, Astra menggunakan tiga pendekatan. Pendekatan pertama adalah dengan melakukan modernisasi keseluruhan proses bisnis dan cara bekerja. Kemudian, Astra menekankan kolaborasi di dalam ekosistem. Djony menyebutkan, selama berpuluh tahun, Astra sudah membangun ekosistem offline melalui unit usahanya dan mitra usahanya. Ekosistem ini yang kemudian disatukan dalam satu platform di bawah Astrapay yang merupakan produk dompet digital dari Astra. Direktur Astra International Suparno Djasmin menambahkan, Astra memang memiliki ekosistem yang besar. Oleh karena itu, Astra akan memanfaatkan ekosistem itu untuk melakukan transformasi digital.

Dugaan Peretasan : Audit dan Perkuat Keamanan Siber

15 Sep 2021

Dugaan peretasan dikabarkan "The Record". Peretasan dikaitkan dengan Mustang Panda, sekelompok peretas dari China. Mereka membuat private ransomware yang sangat berbahaya, dinamakan Thanos. Semua kementerian/lembaga diharapkan mengaudit sistem keamanan siber masing-masing menyusul dugaan peretasan jaringan internal 10 kementerian/lembaga, termasuk Badan Intelijen Negara. Penguatan sistem pun diperlukan, mulai dari sumber daya manusia hingga keamanan sistem. Dugaan peretasan tersebut dikabarkan media internasional The Record pada Jumat (10/9/2021). Peretasan ditemukan oleh Insikt Group, divisi riset ancaman siber dari Recorded Future. Recorded Future merupakan perusahaan keamanan siber di Amerika Serikat. Peretasan dikaitkan dengan Mustang Panda, sekelompok peretas dari China yang dikenal dengan berbagai aksi spionase dan menargetkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, peneliti Insikt Group menemukan peretasan itu terjadi pada April 2021 ketika mereka mendeteksi server command and control (C&C) PlugX malware, yang dioperasikan Mustang Panda, berkomunikasi dengan host di dalam jaringan Pemerintah RI.

Menurut Direktur Eksekutif Communication & Information System Security Research Center Pratama Persadha, kebenaran dari peretasan belum bisa dipastikan. Detail 10 instansi yang diretas pun tidak jelas. Untuk itu, semua pihak perlu menunggu bukti sebelum menilai peretasan ada atau tidak. “Kalau mereka sudah share bukti peretasannya seperti data dan biasanya upaya deface, baru kita bisa simpulkan memang benar terjadi peretasan. Namun, bila ini spionase antarnegara, memang bukti akan lebih sulit untuk didapatkan, karena motifnya bukan ekonomi maupun popularitas,” ujar Pratama. ”Ransomware ini dapat mengakses data dan credential login pada device PC (personal computer) yang kemudian mengirimkannya ke C&C, bahkan hacker bisa mengontrol sistem operasi target. Thanos memiliki 43 konfigurasi yang berbeda untuk mengelabui firewall dan antivirus sehingga sangat berbahaya,” tutur Pratama. Sekalipun kabar peretasan tersebut belum dapat dipastikan, ia meminta semua kementerian/lembaga mengaudit sistem keamanan siber masing-masing. Salah satunya, perlu dilakukan deep vulnerable assessment terhadap sistem yang dimiliki instansi pemerintahan. ”Perlu juga penetration test secara berkala untuk mengecek kerentanan sistem informasi dan jaringan,” ujar Pratama.



Ancaman Siber Kian Besar

15 Sep 2021

Selama pandemi Covid-19, serangan siber semakin tinggi. Sepanjang Januari-Agustus 2021, ditemukan lebih dari 888,7 juta serangan siber, termasuk peretasan pada lembaga pemerintah. Ancaman keamanan siber di Tanah Air semakin besar seiring dengan kian tingginya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi digital. Maraknya peretasan belakangan ini semestinya dijadikan peringatan untuk mempersiapkan diri terhadap segala potensi serangan siber. Selain menyiapkan manajemen krisis, strategi keamanan siber juga perlu segera dibangun.Data yang dihimpun Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan, sepanjang Januari-Agustus 2021 ditemukan lebih dari 888,7 juta serangan siber. Sebagian besar serangan berbentuk malware, denial of service atau mengganggu ketersediaan layanan, serta aktivitas trojan.Ransomware atau malware yang meminta tebusan dan kebocoran data menjadi tren serangan siber belakangan ini. Kebocoran data akibat malware pencuri informasi paling banyak ditemukan di sektor pemerintah, yakni 45,5 persen, diikuti sektor keuangan 21,8 persen, telekomunikasi 10,4 persen, penegakan hukum 10,1 persen, transportasi 10,1 persen, dan BUMN lain 2,1 persen.

AS-UE Berupaya Selaraskan Peraturan Big Tech

12 Sep 2021

Para pejabat tinggi Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS) pada bulan ini akan mencoba menyelaraskan strategi dalam mengelola peraturan untuk Big Tech dan mempertahankan nilai-nilai demokrasi di internet. Demikian menurut pernyataan yang disampaikan, Kamis (9/9). Pembentukan dewan teknologi UE-AS itu pun telah disepakati pada pertemuan puncak Juni, dan pekerjaannya dimulai ketika kedua belah pihak menyusun undang-undang yang dapat mengubah cara berbisnis yang dilakukan oleh raksasa-raksasa perusahaan, seperti Google, Facebook, atau Apple. Otoritas AS sendiri hampir dipastikan menekan Eropa untuk membantu mengekang ambisi negara adidaya Tiongkok yang baru muncul. Ada pun pertemuan Dewan Perdagangan dan Teknologi trans-atlantik pertama dijadwalkan berlangsung di Pittsburgh, pusat kegiatan teknologi AS, pada 29 September.

Pertemuan dewan tersebut akan dipimpin oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony Blinken, Perwakilan Dagang AS Katherine Tai, dan Menteri Perdagangan Gina Raimondo. Sedangkan dari pihak Eropa bakal dipimpin oleh Wakil Presiden Eksekutif UE untuk (Kompetisi) Era Digital, Margrethe Vestager dan Wakil Presiden Eksekutif Komisi UE untuk Ekonomi, Valdis Dombrovskis. Sebagai informasi, dewan itu dibentuk atas permintaan Eropa yang berusaha mencari tanda-tanda konkret dari kerja sama trans-atlantik yang telah mereda pasca ketegangan bertahun-tahun yang dipicu mantan presiden Donald Trump, terutama mengenai masalah perdagangan.


Tencent Segera Bangun Pusat Data II di Indonesia

10 Sep 2021

Tencent Cloud, penyedia solusi pusat data (data center) asal Tiongkok, mengumumkan untuk segera membangun pusat data keduanya (II) di Indonesia pada 2021. Jika terealisasi, langkah ini akan menjadi yang pertama kali bagi Tencent mendirikan dua IDC di pasar yang sama dalam satu tahun. Tencent mengklaim, setelah peluncuran Internet Data Center (IDC) pertama di Indonesia, belum lama ini, banyak perusahaan di Tanah Air dari berbagai industri yang tertarik untuk memanfaatkan layanan cloud mutakhir Tencent Cloud. Senior Vice President Tencent Cloud Internasional Poshu Yeung mengatakan, IDC Tencent Cloud di Indonesia telah mulai mendorong langkah Indonesia menuju digitalisasi yang lebih maju. Hal ini terlihat dari makin banyaknya klien, perusahaan, dan organisasi yang sukses menggunakan layanan Tencent Cloud.

BSSN : Terjadi 1,3 Juta Serangan Siber Setiap Hari

10 Sep 2021

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengungkapkan, tren serangan siber di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Pada 2020, terjadi 495 juta serangan siber, atau sekitar 1,3 juta setiap hari. Jumlahnya terus meningkat dari tahun 2018 masih sekitar 232 juta serangan dan 290 juta serangan pada 2019. Juru Bicara BSSN Anton Setiawan mengatakan, jenis serangan siber di Indonesia bermacam-macam, mulai dari phising, hacking, cryptojacking, ransomware dan malware, serta masih banyak lagi. “Itu yang ketahuan. Karena sebetulnya sensor kita gak mencakup 100% trafik. Seingat saya, sensor kita baru mencapai 16-20% dari trafik yang ada. Jadi, sesuatu yang luar biasa dan menjadi tantangan bagi kita di Indonesia,” kata Anton, dalam acara ‘Indosat Webinar Connex’, Rabu (8/9). “Kata utama yang paling penting dalam keamanan siber adalah kolaborasi. Tetapi, di lapangan menunjukkan bahwa kolaborasi sangat sulit. Jadi, ini harus kita kembangkan, bagaimana kita mengolaborasikan. Negara punya kewenangan, punya tanggung jawab, tetapi sumber daya tersebar di industri, di komunitas. Ini yang harus kita jaga,” imbuhnya

Grup Telkom dan Djarum Di Puncak Bisnis Menara

09 Sep 2021

Jakarta - Prospek bisnis menara telekomunikasi semakin menjulang. Setidaknya ada dua transaksi besar yang dilakukan operator menara dalam waktu berdekatan. Pertama, anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yakni PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), akan menuntaskan akuisisi 90% saham PT Solusi Tuntas Pratama Tbk (SUPR), yang memiliki 6.433 menara telekomunikasi dengan nilai aset Rp 12 triliun. Kedua, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) mengambil alih 4.000 menara milik PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). 

Praktis, dua transaksi jumbo tersebut semakin mengukuhkan para jawara menara telekomunikasi di Indonesia. Kini, Grup Telkom merajai bisnis menara telekomunikasi dengan menguasai lebih dari 30.000 menara, melalui kepemilikan Mitratel dan Telkomsel. Prospek bisnis menara masih terbuka lebar untuk pengembangan pasar oleh perusahaan telekomunikasi lainnya. Saham-saham sektor telekomunikasi sangat menarik untuk dikoleksi jangka panjang. Pasalnya, saham di sektor ini memiliki prospek fundamental menjanjikan. 

Lagi, Mitratel Ambil Alih 4.000 Menara Telekomunikasi dari Telkomsel

03 Sep 2021

PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) kembali mengambil alih sebanyak 4.000 menara telekomunikasi dari PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel). Aksi korporasi ini semakin mengukuhkan posisi Mitratel sebagai pengusaha menara telekomunikasi terbesar di Indonesia. Kesepakatan antar dua anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk terkait penandatanganan perjanjian jual beli (sale and purchase agreement/SPA) terjadi pada 31 Agustus 2021. Hal ini melengkapi aksi korporasi yang dilakukan oleh kedua perusahaan atas 6.050 menara telekomunikasi pada tahun lalu. 

Direktur Utama Telkomsel Hendri Mulya Syam menjelaskan, pihaknya konsisten dalam melakukan transformasi portofolio di bisnis digital melalui sejumlah langkah strategis. "Kelanjutan aksi korporasi dengan melakukan pengalihan kepemilikan menera telekomunikasi kepada Mitratel semakin menunjukkan keseriusan Telkomsel untuk lebih fokus dalam memperkuat eksistensi dan penetrasi dalam menggelar layanan digital," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (2/9)

Direktur Strategi Portfolio Telkom Budi Setyawan Wijaya menambahkan, aksi korporasi ini merupakan langkah Telkom dalam menata portfolio demi value cretion yang optimal. Telkom Group turut serta memantapkan langkah Mitratel sebagai pemain tower terbesar  di Indonesia. "Mitratel bersiap untuk mengoptimalkan value creation selanjutnya melalui aksi korporasi yang lebih besar lagi, tuturnya.