Teknologi
( 1193 )Smartfren Balikkan Rugi Rp397 M Jadi Laba Rp 25 Miliar
PT Smartfern Telecom Tbk (Fren) mencetak lonjakan laba bersih 106% dengan membalikkan posisi rugi bersih Rp 397 miliar menjadi laba bersih Rp25 miliar pada kuartalI-2022 secara tahunan year on year (yoy). Pencapaian ini diraih setelah selama 14 tahun perseroan membangun bisnis investasi US$4,5-5 miliar. "Kalau kita bicara rugi laba, kita lihat kok smartfren rugi terus. Nah, pada kuartal I kemarin, untuk pertama kali selama kami menjalankan usaha ini memang masa pertumbuhan kami, bahwa kami bertumbuh. Berkat gizi yang baik, kami tumbuh," kata Presiden Direktur PT Smartfren Telecom Tbk, Merza Fachys. Dia berharap tahun 2022 menjadi awal pertumbuhan dan performa positif Smartfren masih terus mencetak laba, sekaligus memberikan pelayanan yang maksimal kepada para pengguna produk perseroan. Merza mengungkapkan, sejak 2018 hingga 2021, Smartfern masih merugi. Pada 2018, perseroan mencatatkan kerugian sebesar Rp3,53 triliun, kemudian menjadi rugi Rp2,19 triliun pada 2019, lalu menjadi rugi Rp1,50 triliun pada 2020. Pada 2021, kerugian bersih perseroan menjadi Rp 410 miliar. (Yetede)
Memprediksi Dampak ”Metaverse”
Para pemain besar
berlomba-lomba masuk ke metaverse. Facebook akan berinvestasi 10 miliar USD dan
mengubah nama menjadi Meta untuk menunjukkan keseriusannya. Microsoft membeli
Activision Blizzard, pembuat gim online, senilai 70 miliar USD sebagai salah satu
pintu masuk ke metaverse. Alibaba menyuntik 60 juta USD ke Nreal, perusahaan
pembuat kacamata AR, untuk menyusul Tencent yang memimpin industri gaming di
China. Metaverse akan mengakibatkan beberapa pergeseran signifikan terhadap
kehidupan kita secara sosial ataupun ekonomi. Microsoft mulai membangun Mesh
dan Facebook mengembangkan Horizon Workrooms sebagai platform meeting metaverse
yang memungkinkan kolaborasi dengan interaksi fisik dan sosial secara imersif. Penggunaan
metaverse di dunia kerja juga akan mendorong penggunaannya untuk keperluan
pribadi. Metaverse akan mengubah e-dagang menjadi virtual commerce.
Nike dan Zara, menyadari bahwa mereka harus hadir di metaverse karena di situlah konsumen akan berkumpul. Dengan metaverse, konsumen dapat mencoba produk dan melakukan personalisasi tanpa harus datang ke outlet fisik mereka. Hal ini menghasilkan skalabilitas bisnis yang tinggi dan meningkatkan loyalitas konsumen. Dalam dunia metaverse, aset-aset seperti tanah, rumah, mobil, dan benda-benda lain, termasuk mata uang, akan berbentuk digital. Awalnya terjadi spekulasi sebelum akhirnya bergeser ke utilitas aset digital yang lebih fungsional. Misalnya, non-fungible token (NFT) akan bergeser ke utilitas yang lebih jelas di dunia virtual ataupun dunia nyata. Mata uang kripto bergeser dari spekulasi ke arah pendapatan pasif melalui proses staking. Pemilik tanah virtual bakal menyewakan tanah menggunakan smart contract. Didukung teknologi blockchain, metaverse akan mendorong decentralized finance (DeFi), yakni konsumen dapat bertransaksi tanpa intermediasi dari institusi keuangan tradisional. DeFi akan menghasilkan sistem ekonomi berbiaya rendah dan keuntungan yang lebih tinggi bagi semua pihak.
Model bisnis metaverse yang masih mencari bentuk memang membuat ketidakpastian tinggi bagi para investor awal. Namun, jika terlambat berinvestasi juga berbahaya. Oleh karena itu, untuk memitigasi risiko, perusahaan yang berinvestasi di metaverse harus mencari keseimbangan seberapa besar dan kapan investasi harus dilakukan dengan kesempatan dan kompetisi yang ada. Kurangnya regulasi formal di dunia metaverse, bisnis model yang terdesentralisasi, serta utilitas baru yang bermunculan di metaverse akan menantang regulator untuk memahami dan mengantisipasi dampak sosial dan ekonominya. Pemerintah dan bank sentral akan kesulitan mengatur ekonomi di dunia metaverse karena kewenangan formal dunia nyata perlu ditransfer ke dalam dunia metaverse yang secara natural memiliki otonomi mandiri. Metaverse niscaya akan hadir dan berdampak terhadap dunia nyata. Tantangannya adalah bagaimana kita memastikan kedua dunia ini dapat hadir bersama demi kemaslahatan semua pihak (Yoga)
Flexing NFT Bukan Sekedar Pamer
Ajang "flexing" atau unjuk koleksi kerap dilakukan kolektor non-fungible token (NFT) di media sosial. Ini ternyata bukan sekadar pamer, melainkan bentuk dukungan komunitas NFT pada proyek menarik di jaringan blockchain.
Kini, flexing NFT menjadi fenomena yang marak di medsos beberapa tahun terakhir. Popularitas itu tumbuh bersamaan dengan makin dikenalnya blockchain dan aset kripto.
Randy Nugraha (40) yang dikenal dengan akun @pixelizen di Twitter, misalnya, menunjukkan koleksi terkini dari "Indonesia dalam 57 Peristiwa" yang diterbitkan Kompas. Dalam unggahannya, Selasa (28/6/2022) lalu, dia memamerkan edisi "Operasi Seroja ke Timor Timur", arsip Kompas tahun 1975, seraya bilang "secara resmi telah memiliki kapsul waktu sejarah," dalam bahasa Inggris. Layaknya membeli karya seni, NFT para kolektor ini dipajang di akun medsos. Mereka menunjukkan ke khalayak bahwa mereka telah mendapatkan suatu benda digital yang langka dan unik. Bagi Randy, flexing di medsos adalah bentuk dukungan kolektor terhadap sebuah proyek NFT. Aktivitas ini pun sekaligus menjadi cara dirinya memperkenalkan proyek menarik di blockchain, terutama saat pasar NFT tampak lesu karena penurunan nilai aset kripto.
”Flexing ” NFT Bukan Sekadar Pamer
Istilah flexing dimaknai dengan showing off atau pamer di media sosial (medsos). Kini, flexing NFT menjadi fenomena yang marak di medsos beberapa tahun terakhir. Popularitas itu tumbuh bersamaan dengan makin dikenalnya blockchain dan aset kripto. Randy Nugraha (40) yang dikenal dengan akun @pixelizen di Twitter, misalnya, menunjukkan koleksi terkini dari ”Indonesia dalam 57 Peristiwa” yang diterbitkan Kompas. Dalam unggahannya, Selasa (28/6) dia memamerkan edisi ”Operasi Seroja ke Timor Timur”, arsip Kompas tahun 1975, seraya bilang ”secara resmi telah memiliki kapsul waktu sejarah”, dalam bahasa Inggris.
Hendra Maulana, pengurus akun @NFTIndonesia_, yang aktif mendorong kemunculan kreator selama setahun terakhir, memandang fenomena flexing kian lumrah di berbagai komunitas NFT lokal. Maknanya bisa beragam, mulai dari dukungan komunitas. Ada pula yang murni sebagai promosi pemasaran proyek. Meski begitu, ajakan mengoleksi NFT tetap harus diimbangi riset mandiri dari pengguna. Para pengguna perlu memastikan kejelasan proyek NFT, mulai dari tujuan, utilitas, hingga siapa orang-orang yang bekerja di balik proyek tersebut.
Euforia flexing di komunitas ini belakangan difasilitasi berbagai platform medsos. Twitter pun tampaknya memahami hal ini. Twitter memungkinkan pengguna layanan premiumnya, yakni Twitter Blue, untuk menggunakan NFT berbentuk gambar statis sebagai foto profil pada Januari 2022 lalu. Akun Twitter yang menggunakan foto profil NFT akan memiliki tanda khusus. Foto profil pengguna akan berbingkai segi enam, berbeda dengan bingkai lingkaran yang digunakan pada umumnya. Jika foto profil ber-NFT itu diklik, akan muncul informasi yang menandakan kepemilikan aset dari sebuah koleksi NFT, bukan sekadar gambar JPG kartun yang diunduh dari Google Search.
Sang pembeli yang bisa jadi telah merogoh uang hingga miliaran rupiah untuk sebuah NFT (misalnya rata-rata harga NFT Bored Ape dapat mencapai 115.000 dollar AS atau Rp 1,7 miliar) tentu ingin memamerkan bahwa ia sungguh membeli NFT bergambar kera kartun itu. Perusahaan media sosial terbesar, Meta, yang memiliki Facebook dan Instagram, juga ikut ambil bagian dalam mewadahi komunitas NFT untuk flexing. ”Kami melihat ada peluang memberi jalan miliaran pengguna kami bisa mengoleksi barang digital. Termasuk jutaan kreator yang juga bisa menjualnya via platform kami,” kata Stephane Kasriel, Head of Commerce and Financial Meta. (Yoga)
Telkom Siapkan Strategi Tingkatkan Laba
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan laba dan mengatrol harga saham. BUMN ini memanfaatkan terjadinya konsolidasi industri untuk meningkatkan pendapatan dengan melakukan diferensiasi layanan, serta mengoptimalisasi fixed broadband dan unlock pusat data (data center). Vice President (VP) Investor Relations Telkom Andi Setiawan menyampaikan bahwa secara fundamental, Telkom saat ini berada dalam kondisi yang baik. Namun begitu, perseroan terus berupaya meningkatkan laba. "Telkom memiliki dua bisnis yang besar. Pertama, di seluler, kami memilki anak usaha yang bergerak di bisnis mobile yaitu Telkomsel. Kedua, di segmen fixed broadbrand, Telkom punya Indihome," ujar Andi dalam interview dengan Majalah Investor, pekan lalu. Beruntung, kini sudah terjadi konsolidasi industri dan menyadari bahwa perang harga membuat semua semua operator sulit bertahan.(Yetede)
NFT: Seni, Simulakra, dan Kelangkaan Aset
Fenomena crypto crash, sebagaimana diuraikan oleh Hizkia Subiyantoro (Kompas, 26 Juni 2022), membuat banyak pihak ”kena mental”, istilah generasi sekarang. Jatuhnya nilai tukar mata uang kripto ”Mother of Alt.coin’ (bitcoin) sebagaimana terpantau di sejumlah exchange (pasar jual beli koin kripto) sontak membuat kreator, kolektor, pengembang (developer) proyek non fungible token (NFT) mengalami tekanan dan adaptasi baru. Walau demikian, rantai blok (blockchain) internet tetaplah sebagai sistem pencatatan riwayat data canggih dan terkini yang kehadirannya telah nyata memengaruhi budaya produksi, distribusi, dan konsumsi saat ini.
Teknologi rantai blok akhirnya masuk ke ranah seni yang ditandai dengan munculnya lokapasar seni berbasis rantai blok yang melahirkan inovasi NFT. Teknologi kriptografi (proses enkripsi data) dalam rantai blok memungkinkan suatu aset memiliki aspek kelangkaan, keunikan dan keotentikan. Pada titik ini karya dan peristiwa seni yang dinyatakan dalam serial number oleh rantai blok menemukan momentum otentisitas dan ekonomisnya sebagai sebuah aset NFT. Sejumlah lokapasar NFT telah hadir, dari yang bersifat pasar raya semisal Opensea, hingga yang memiliki kurasi ketat, seperti Superrare hingga Foundation. Lokapasar tersebut dan wahana berkurasi ketat sejenisnya telah menjadi titik temu antara kreator dan kolektor secara langsung (peer to peer).
Menurut filsuf posmodern, Jean Baudrillard, tentang simulakra, bahwa NFT dan metaverse adalah realitas baru yang ditentukan oleh ”mesin simulasi”. Apa yang telah, tengah, dan akan diubah oleh rantai blok ini seolah mengonfirmasi kekuatan simulakra dalam memengaruhi roda ekonomi dan menentukan jenis kesadaran di atasnya. Dengan keunggulan dan kerentanannya, rantai blok memberi solusi baru dalam ”mengeksklusifkan” data yang semula hampir tak bernilai oleh spirit keterbukaan (openness) pada babak awal revolusi digital. (Yoga)
”BEAR MARKET” ASET KRIPTO LUMRAH DAN HANYA SEMENTARA
Pasar aset kripto saat ini memang sedang dalam bear market, kondisi pasar yang mengalami penurunan nilai terus-menerus. Penyebutan bear market mengambil analogi gerakan beruang (bear) yang digunakan pelaku pasar keuangan seluruh dunia untuk menggambarkan kondisi pasar yang sedang mengalami penurunan seperti halnya gerakan serangan beruang dari atas ke bawah. Sejak mencapai puncak tertinggi 2022 dengan nilai tukar 3.500 USD (Rp 50,6 juta) pada awal April, kini jaringan blockchain Ethereum yang menjadi basis NFT paling populer telah kehilangan nilai tukarnya hingga 70 % dalam waktu kurang dari tiga bulan. Kamis (30/6), nilai tukar 1 ETH setara 1.053 USD (Rp 15,7 juta).
Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) Teguh Kurniawan Harmanda menjelaskan, kondisi bear market tidak menjadi akhir dari pemanfaatan blockchain. Bear market, lanjutnya, adalah siklus yang sudah umum dan pernah terjadi sebelumnya. Teguh menjelaskan, bear market yang tengah melanda pasar aset kripto ini justru baik dan sehat untuk industri. ”Kondisi ini bisa menjadi seperti seleksi alam, mana proyek kripto yang baik dan tidak, sehingga bisa menciptakan peluang yang lebih besar di masa mendatang,” ujar Teguh. Ia menambahkan, prospek industri kripto, blockchain, ataupun Web3 ke depan masih menjanjikan dan akan terus tumbuh, bersamaan dengan adopsi yang semakin luas. (Yoga)
NFT KOMPAS, Keping Sejarah di dalam ”Blockchain”
Koleksi ”non-fungible token” atau NFT bertajuk ”Indonesia dalam 57 Peristiwa” dari harian ”Kompas” memantik beragam kisah bagi para kolektor. Mereka yang mengoleksi aset itu memetik cerita baru dari masa lalu. Ada pula yang meruwat cerita lama agar tak lekas hilang dari ingatan. NFT Kompas turut meramaikan OpenSea, salah satu lokapasar di jaringan rantai blok (blockchain) Ethereum sejak perilisan perdana pada Selasa (28/6). Meski begitu, euforia terhadap koleksi ini sudah hadir sejak sehari sebelumnya. Pada Rabu (29/6) malam, 41 dari 57 koleksi NFT Kompas telah dimiliki sejumlah pengguna. Dari puluhan pengguna, ada Peter Cung (29) yang mengoleksi edisi ”Jatuhnya Orde Baru”, arsip Kompas tahun 1998. Dia begitu terobsesi dengan edisi berjudul ”Pak Harto: Saya Ini Kapok Jadi Presiden” pada halaman utama itu.
Banyak kolektor NFT Kompas lain juga turut berbagi kisah di sejumlah media sosial. Hadi Ismanto (33) turut berbangga mengoleksi tiga NFT sekaligus dari Kompas, antara lain edisi ”Emas Pertama RI di Olimpiade” tahun 1992, ”Pemberedelan Media Massa” tahun 1994, dan ”Pemilu” tahun 2014. Awalnya, Hadi mengoleksi edisi ”Pemberedelan Media Massa” lantaran kedekatan pada industri media. Hadi merasa peristiwa itu penting. Edisi itu juga membuatnya teringat peran media massa yang begitu signifikan pada masa itu saat kebebasan berpendapat sangat dibatasi pemerintah.
Bagi sejumlah kolektor, edisi ”Indonesia dalam 57 Peristiwa” menjadi semacam cara untuk merawat kepingan sejarah. Randy Nugraha (40), misalnya, turut mengoleksi edisi ”Operasi Seroja ke Timor Timur” yang terbit di Kompas tahun 1975 karena menganggapnya sebagai tonggak sejarah yang berdampak besar terhadap Indonesia dan dunia internasional. Kejadian ini berkaitan dengan rencana deklarasi kemerdekaan Republik Demokratik Timor Timur pada saat itu. Pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali, menuturkan, sejarah ditulis para pemenang, sementara masa depan ditulis mereka yang mau berjuang. Inisiatif peluncuran arsip berita dalam bentuk NFT yang dilakukan Kompas, merupakan bentuk perjuangan untuk merawat ingatan bangsa agar tetap hidup di memori generasi muda. (Yoga)
Paradoks Bisnis Teknologi Digital
Setengah tahun pertama 2022, kita merasa di tengah keyakinan bahwa teknologi digital kian tak terbendung, tetapi bercampur keraguan akan prospek bisnisnya. Perang Rusia-Ukraina, inflasi, dan ancaman resesi berdampak terhadap industri teknologi digital. Perang Rusia-Ukraina berdampak banyak, termasuk terhadap pengembangan pasar dan investasi perusahaan teknologi, termasuk rintisan bidang teknologi (start up). Dari data Crunchbase, dalam tujuh tahun terakhir, investor strategis dan ventura di Rusia berpartisipasi dalam lebih dari 300 putaran pendanaan perusahaan rintisan berbasis di AS. Saat Bank Sentral AS, The Fed, menaikkan suku bunga, investor bakal rasional. Likuiditas jadi ketat. Akhir April 2022, mengutip The New York Times, enam perusahaan raksasa teknologi, Apple, Microsoft, Google, Amazon, Facebook, dan Netflix, secara kolektif kehilangan nilai pasar 2,2 triliun USD.
Managing Partner Strategy and Transactions Ernst & Young Indonesia David Rimbo, mengatakan, harga saham teknologi, baik di tingkat global maupun di Indonesia, anjlok. Sejumlah start up yang melantai di pasar saham 2022 harga sahamnya sempat lebih rendah dari penawaran awal. Kabar PHK menyeruak. Di AS, sejumlah perusahaan teknologi merumahkan sebagian karyawan, seperti Uber dan RobinHood. Entitas lokapasar asal Singapura, Shopee, cabut dari Spanyol pada 17 Juni setelah cabut dari Perancis dan India, Maret 2022, lima bulan setelah membuka bisnis di kedua negara itu. Di Indonesia beredar kabar senada. Mekanisme mengelola bisnis berkelanjutan akan menjadi satu-satunya cara bertahan dari gempuran persaingan atau kondisi makro ekonomi. (Yoga)
Masa Depan Internet Terang, tetapi Literasinya Masih Kurang
Beberapa tahun ke depan, konsumsi masyarakat mengakses media daring diprediksi akan menggeser kebiasaan mengakses media mainstream, yang ditandai tingginya pola akses media digital oleh anak muda. Kelompok usia muda berdasarkan survei Litbang Kompas lebih sering membuka gawai untuk mengakses media sosial dibandingkan dengan kelompok usia menengah dan usia tua. Responden kelompok muda menyatakan mengakses media sosial setiap hari. Platform aplikasi daring, seperti Instagram, Facebook, dan Whatsapp, paling sering diakses, baik sebagai sarana percakapan maupun sebagai konten informasi.
Namun, dalam pola kebiasaan konsumsi media ini, bisa dikatakan audiens bersifat pasif. Bagi operator penyedia jasa jaringan internet, tingginya penetrasi internet di Indonesia menjadi peluang bisnis. Bagi masyarakat, kemudahan akses internet semestinya menjadi tantangan agar lebih produktif dan memperkaya khazanah pengetahuan. Di sektor ekonomi, penggunaan internet oleh UMKM cukup tinggi. Data APJII menyebutkan, 87,4 % UMKM telah menggunakan internet untuk mendukung kelangsungan usahanya.
Hasil survei Litbang Kompas ini menunjukkan audiens di semua kelompok usia mayoritas sudah menyatakan puas dengan informasi yang disajikan oleh media sosial, yakni 91,4 %. Sikap puas tersebut menegaskan bahwa sebagian besar masyarakat masih berada pada level konsumen informasi dari internet, tetapi kurang kritis terhadap konten yang disajikan oleh internet karena sudah merasa puas dengan informasi yang tersaji. Gambaran ini menunjukkan belum kuatnya literasi digital di kalangan masyarakat. Akan tetapi fenomena pertumbuhan pengguna internet merupakan hal positif. Data APJII periode Juni 2022 menunjukkan masyarakat terkoneksi ke internet melalui beragam cara. Mayoritas menggunakan data seluler (77,64 %) dan koneksi Wi-Fi di rumah (20,61 %). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









