”BEAR MARKET” ASET KRIPTO LUMRAH DAN HANYA SEMENTARA
Pasar aset kripto saat ini memang sedang dalam bear market, kondisi pasar yang mengalami penurunan nilai terus-menerus. Penyebutan bear market mengambil analogi gerakan beruang (bear) yang digunakan pelaku pasar keuangan seluruh dunia untuk menggambarkan kondisi pasar yang sedang mengalami penurunan seperti halnya gerakan serangan beruang dari atas ke bawah. Sejak mencapai puncak tertinggi 2022 dengan nilai tukar 3.500 USD (Rp 50,6 juta) pada awal April, kini jaringan blockchain Ethereum yang menjadi basis NFT paling populer telah kehilangan nilai tukarnya hingga 70 % dalam waktu kurang dari tiga bulan. Kamis (30/6), nilai tukar 1 ETH setara 1.053 USD (Rp 15,7 juta).
Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) Teguh Kurniawan Harmanda menjelaskan, kondisi bear market tidak menjadi akhir dari pemanfaatan blockchain. Bear market, lanjutnya, adalah siklus yang sudah umum dan pernah terjadi sebelumnya. Teguh menjelaskan, bear market yang tengah melanda pasar aset kripto ini justru baik dan sehat untuk industri. ”Kondisi ini bisa menjadi seperti seleksi alam, mana proyek kripto yang baik dan tidak, sehingga bisa menciptakan peluang yang lebih besar di masa mendatang,” ujar Teguh. Ia menambahkan, prospek industri kripto, blockchain, ataupun Web3 ke depan masih menjanjikan dan akan terus tumbuh, bersamaan dengan adopsi yang semakin luas. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023