Teknologi
( 1200 )Tiktok Melarang Penggalangan Dana Kampanye lewat Aplikasi
Platform media sosial
Tiktok menekankan, iklan politik, termasuk iklan berbayar ataupun kreator, yang
dibayar untuk membuat konten dengan elemen merek politik dilarang di platform
tersebut. Penggalangan dana kampanye dalam platform juga dianggap sama seperti
iklan politik sehingga dilarang. Semua kebijakan tersebut dilakukan karena
Tiktok ingin menegakkan tujuan awal platform didirikan. Perusahaan menyatakan,
tujuan menciptakan platform Tiktok sebagai tempat menyatukan semua orang. Selain
kebijakan iklan politik, Tiktok juga akan menonaktifkan akses ke fitur iklan
politik yang teridentifikasi sebagai akun milik pemerintah, politikus, atau
partai politik
Public Policy and
Government Relations TikTok Indonesia, Faris Mufid, dalam acara temu media di
kantor TikTok di Singapura, Kamis (2/11) menyebutkan, setidaknya ada 13
kategori yang dianggap sebagai akun pemerintah, politikus, dan partai politik
(GPPPA) itu. Misalnya, kategori juru bicara resmi, anggota staf senior, atau
pimpinan eksekutif di sebuah partai politik. Lalu, kategori calon pejabat dan
pejabat terpilih di tingkat negara bagian/provinsi dan lokal sebagaimana
ditentukan kebijakan publik regional. Selanjutnya, kategori mantan pemimpin
negara bagian/ketua pemerintahan. Ada pula kategori entitas yang dikelola
pemerintah nasional/federal, seperti badan/kementerian/kantor.
”Kami juga melarang
mereka melakukan promosi mandiri. Akun GPPPA juga tertutup untuk fitur gift,”
ujar Faris. Terkait iklan kementerian, Faris menjelaskan bahwa Tiktok masih
membolehkan ada di platform sepanjang itu bersifat layanan publik. Pada waktu pandemi
Covid-19, Tiktok mendedikasikan informasi berhubungan dengan layanan public terkait
penanganan pandemi. Apabila pemengaruh dan pendengung tertentu ingin pasang
iklan politik, Tiktok juga akan melarangnya. Akan tetapi, jika pemengaruh dan
pendengung tertentu membuat konten dengan tema politik, itu masih diperbolehkan
sepanjang tidak melanggar Panduan Komunitas Tiktok. (Yoga)
2030, Teknologi AI Berpotensi Sumbang US$ 366 Miliar
Pendapatan Indosat Rp 37,4 Triliun
Saham GOTO Rontok, Telkom Pertahankan Investasi
Komitmen Bakti Tuntaskan Proyek Digital di Wilayah 3T
Optimisme di Bisnis Fiber Optik
BUMN Berambisi Jadi Pemain Pusat Data di Asia Tenggara
Indonesia melalui PT Telkom Data Ekosistem berambisi menjadi
pemain utama penyedia pusat data di Asia Tenggara pada 2030. Pertumbuhan
ekonomi digital dalam negeri yang dibarengi permintaan yang tinggi dinilai
menjadi modal utama untuk mengembangkan pasar itu. ”Kami dari BUMN akan
mendorong penuh dari regulasi yang mendukung supaya kita menjadi salah satu pemain
global, terutama di ASEAN dalam bidang data center,” ujar Wakil Menteri BUMN,
Rosan Perkasa Roeslani di kantor Hyperscale Data Center (HDC),Cikarang, Jabar,
Senin (16/10).
PT Telkom Data Ekosistem, akan berkompetisi dengan pihak
swasta ataupun asing. Namun, anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk
itu terbuka untuk bekerja sama guna menarik klien-klien asing. Pertumbuhan
ekonomi digital Indonesia menambah optimisme pemerintah untuk mendorong
pengembangan pusat data. Perekonomian digital di Tanah Air diproyeksikan tumbuh
delapan kali lipat, dari Rp 632 triliun pada 2020 menjadi Rp 4.531 triliun pada
2030. Kenaikan itu linier dengan kontribusinya terhadap PDB, dari 4 % menjadi
18 %. (Yoga)
Putar Otak Setelah Tiktok Shop Tutup
Topik yang sedang ramai saat ini adalah penutupan Tiktok
Shop, fitur belanja yang diperuntukkan bagi pengguna Tiktok untuk berbelanja
langsung di aplikasi media sosial tersebut. Fitur ini menjadi populer di
kalangan masyarakat lantaran banyak penjual yang menjajakan barang dengan harga
murah. Karena Tiktok tidak memiliki izin berdagang sebagai platform e-dagang sesuai
regulasi di Indonesia, Tiktok Shop tutup sejak 4 Oktober 2023. Berat bagi Aldo
Permana Dewantara (20) untuk menerima kenyataan tersebut. Mahasiswa Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, asal Batu
Ampar, Kepri, ini sudah nyaman menggunakan fitur Tiktok Shop. ”Kita berada di
zaman teknologi. Pedagang-pedagang seharusnya lebih kreatif memanfaatkan teknnologi.
Dengan penutupan ini sebenarnya saya tidak setuju,” kata Aldo dari Yogyakarta,
Kamis (12/10).
Aldo sering memanfaatkan Tiktok Shop untuk memenuhi kebutuhan
harian karena harganya pasti, ulasan dari pembeli ada, dan lokasi penjual
tertera jelas. Terlebih lagi, pelanggan di Tiktok Shop mudah berinteraksi
dengan penjual terkait produk dengan potongan harga menarik. Namun tak semua
keberatan. Nathania Aline Inditha (20) tak masalah jika Tiktok Shop tutup. ”Menurut
aku, Tiktok itu untuk media sosial hiburan, bukan jualan. Aku lihat penuh
dengan orang bikin konten sekalian jualan, banyak iklan produk dalam konten
yang mengganggu,” kata mahasiswa asal Jakarta di Fakultas Ilmu Budaya di
Universitas Udayana ini. Aline sebetulnya biasa berbelanja di Tiktok Shop. Dia
kerap membeli produk skincare dan bahan baku usaha yang ia rintis bersama
teman-teman kontrakannya. Mereka menjual roti selai secara luring. Alasan Aline
berbelanja daring sederhana. Dia malas keluar. (Yoga)
Iming-iming, Racunnya Judi
Judi bukan fenomena baru. Mahabharata mengisahkan Yudhistira
dan adik-adik Pandawanya dipancing berjudi oleh Kurawa sedemikian rupa sehingga
setelah kehilangan harta pun bukannya tersadar, malah menjadikan permaisuri Drupadi
sebagai taruhan. Mereka yakin di ronde berikutnya akan menang. Saat Pandawa
kalah dan harus menyerahkan Drupadi, untung Dewa Kresna membuat lilitan kain
Drupadi tak habis-habis diurai. Pesan moral tentang bahaya judi ada di cerita
rakyat sedunia. Dosa judi dirumuskan di kitab-kitab suci. Tapi judi berevolusi
seiring peradaban. Apabila dulu digelar di rumah-rumah judi yang bisa digerebek
polisi atau dilabrak istri, sekarang berjalan amat privat karena teknologi.
Beberapa bulan lalu Indonesia digegerkan wanita muda wakil rakyat yang
tertangkap berjudi melalui iPad saat sidang parlemen. Sang wakil rakyat
diberhentikan partainya, tapi kasus judi online makin menggelora. Video viral terbaru
menunjukkan tukang parkir yang berjongkok terbius alur slot di ponselnya tak sadar
direkam dari belakang.
Sebuah penelitian yang bisa diakses di National Library of Medicine,
situs resmi milik Pemerintah AS, mempublikasikan argument Patrick Anselme dan
Mike Robinson (2013) bahwa pelepasan dopamin, hormon yang menggenjot motivasi,
lebih kuat terhubung dengan ketidakpastian hasil judi ketimbang hasil judinya
itu sendiri. Dalam bahasa awam, reaksi kimiawi di kepala akan iming-iming
menang lebih memabukkan ketimbang saat benar menang. Tragisnya, probabilitas
kemenangan judi jauh lebih kecil karena bandar mengendalikan fasilitas dan
memastikan menjadi pemenang terbesar pada akhirnya. Genting, Makau, Monako,
Atlantic City, Las Vegas, dan pusat judi lain bisa bertahan karena pemasukan tak
henti dari penjudi yang kalah. Restoran, spa, butik, dan pertunjukan cuma
tambahan. Kasino bertahan apabila secara agregat neto menang dan berhasil menyedot
uang dari penjudi yang datang. Iming-iming, Racunnya Judi tapi itu bak sebutir
mutiara di antara jutaan pasir penjudi yang ditelan arus laut kasino setiap
hari. Apalagi dengan judi online, yang tanpa kerepotan operasional kasino bisa
bergantung pada teknologi untuk memastikan pemain tak pernah benar-benar
mengalahkan bandar. (Yoga)
Pelaku Usaha Harus Adaptif pada Teknologi
Wapres Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa disrupsi dan kemajuan
teknologi digital perlu segera disikapi dunia usaha. Pelaku UMKM serta ekonomi
keuangan syariah harus mengikuti perkembangan dan menyesuaikan diri. Dalam
pembukaan Ijtima Sanawi (Pertemuan Tahunan) Dewan Pengawas Syariah XIX 2023, di
Jakarta, Jumat (13/10) Wapres Amin mengingatkan, pasar konvensional seperti Pasar
Tanah Abang akhirnya tergerus oleh pasar digital. Padahal, hampir semua pelaku
di pasar konvensional di Indonesia adalah pelaku UMKM.
”Oleh karenanya, mesti segera dilakukan langkah penyadaran
kepada para pelaku usaha, khususnya UMKM, untuk menyiapkan diri dan terus
adaptif dengan dinamika zaman, termasuk menghadapi tantangan disrupsi,” ujar
Wapres. Dalam kesempatan itu, Wapres mengatakan, pelaku ekonomi dan keuangan
syariah juga harus memitigasi tantangan disrupsi ini. Apalagi, perkembangan ini
menuntut tersedianya ragam produk keuangan syariah sesuai kebutuhan masyarakat yang
semakin familiar dengan dunia digital. Oleh karena itu, Wapres Amin meminta
para regulator, pelaku industri, Dewan Syariah Nasional(DSN), MUI, dan Dewan
Pengawas Syariah (DPS) untuk merespons perubahan ini. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









