Teknologi
( 1200 )BTS Internet 4G Telah Jangkau 95% Desa di Seluruh Indonesia
Akses internet melalui jaringan menara penguat sinyal seluler (base transciever station/BTS) 4G/LTE telah menjangkau 79,426 (95,44%) desa/kelurahan di seluruh wilayah Indonesia dari total 83.218 yang ditargetkan. Itu artinya, Indonesia masih menyisakan 3.792 (4,55%) desa di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang harus dibangun BTS 4G untuk dilanjutkan oleh Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabumung Raka pada periode 2024-2029. Pencapaian itu dengan asumsi, hingga akhir 2023 akses jaringan dan layanan internet BTS 4G telah dibangun dan menjangkau 70.093 (95,04%) desa/kelurahan di Tanah Air.
Sementara itu, tahun 2024 hingga Jumat (18/10/2024) pekan lalu, ada tambahan 333 desa/kelurahan dibangun BTS 4G. Karena, terdapat total 79.426 (95,44%) desa/kelurahan sudah dibangun BTS 4G hingga Jumat pekan lalu. Direktur Utama Badan Aksebilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Fadhilah Mathar pun memberikan apresiasi atas rekomendasi dan dukungan Satuan Tugas (Satgas) Bakti Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemekomdigi) yang dibentuk pada 12 Oktober 2023. Satgas terebut berperan besar dalam mengawal penyelesaian proyek teknologi informasi dan komunikasi di wilayah 3T, terutama BTS 4G. (Yetede)
Analisis Mahadata Tanpa Etika
Pada tahun 2012, seorang ayah marah dan mengirim surat pengaduan kepada Target, suatu jaringan department store di AS, karena putrinya yang masih remaja mulai menerima kupon dan brosur yang berisi produk kehamilan, seperti pakaian hamil dan tempat tidur bayi. Ayah tersebut mengira Target mendorong putrinya untuk hamil. Namun, beberapa hari kemudian, ayah tersebut menghubungi Target dengan nada berbeda. Ternyata, setelah berbicara dengan putrinya, putrinya memang sedang hamil, yang sebelumnya tak diketahuinya. Target bisa tahu lebih dahulu daripada seorang ayah menggunakan analisis big data (mahadata) untuk memprediksi kebutuhan konsumen. Melalui analisis pola pembelian, Target dapat mengetahui perubahan kebiasaan belanja yang menandakan kehamilan, bahkan pada tahap awal.
Produk seperti suplemen vitamin, losion bebas pewangi, dan barang tertentu lainnya menjadi indikator bagi algoritma bahwa konsumen sedang hamil. Dengan teknik ini, Target dapat memprediksi kehamilan, bahkan memperkirakan waktu kelahiran, sehingga memungkinkan mereka mengirimkan iklan produk yang relevan, tanpa konfirmasi pelanggan. Meski efektif dalam meningkatkan penjualan, kasus ini mengungkapkan sisi gelap dari kemampuan teknologi dalam memprediksi informasi yang sangat pribadi. Dalam sektor keuangan, analisis mahadata sudah banyak digunakan untuk melakukan analisis kredit dengan algoritma tertentu untuk mendapatkan hasil yang optimal, yaitu keuntungan yang sebesar mungkin dengan risiko yang seminimal mungkin. Pengaturan etis terkait analisis data oleh regulator terkait seyogianya berfokus menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan privasi serta hak individu.
Prinsip utamanya adalah persetujuan eksplisit pengguna sebelum data mereka dikumpulkan dan digunakan. UU Pelindungan Data Pribadi yang kita miliki mengharuskan perusahaan transparan bagaimana data dikumpulkan, untuk tujuan apa, dan siapa yang memiliki akses. Regulator juga perlu menekankan pentingnya minimization of data di mana perusahaan hanya boleh mengumpulkan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu. Etika algoritma dalam analisis data sangat penting untuk mencegah bias diskriminatif dan ketidakadilan. Regulator harus memastikan keterbukaan dan akuntabilitas perusahaan dalam menggunakan algoritma secara etis. Perusahaan yang mengelola data jutaan orang wajib bertanggung jawab agar data tidak merugikan konsumen atau memperburuk ketidakadilan. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, data dapat menimbulkan risiko privasi, bias, dan eksploitasi. (Yoga)
Kebebasan Internet Global Terus Menurun dalam 14 tahun Terakhir
Tantangan Pengembangan Industri Kecerdasan Buatan
Indonesia Bergabung dalam Tim Teknis Siber ASEAN
Indonesia berperan aktif dalam pembentukan ASEAN Regional Computer Emergency Response Team (CERT) untuk mengatasi meningkatnya serangan siber dan mendukung pengembangan ekonomi digital di Asia Tenggara. Wakil Ketua Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), A Rachmad Wibowo, menekankan pentingnya kerja sama antarnegara ASEAN dalam berbagi informasi, meningkatkan kapasitas digital, dan mitigasi insiden siber. Dengan adanya CERT, negara-negara anggota diharapkan dapat merespons serangan siber dengan lebih cepat dan efektif.
Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura, Josephine Teo, juga menegaskan bahwa CERT akan memfasilitasi lokakarya dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas kolektif menghadapi ancaman siber. Keseluruhan inisiatif ini diatur oleh gugus tugas yang dipimpin secara bergilir oleh negara-negara anggota, sehingga menciptakan kerangka kerja yang terkoordinasi dalam menangani tantangan siber di kawasan.
Industri Kecerdasan Buatan untuk Memenuhi Kebutuhan Manusia
Laporan UEA: Potensi Pertumbuhan Pesat di Sektor AI
mengungkap proyeksi pertumbuhan pasar kecerdasan buatan (AI) global yang akan meningkat secara signifikan dari US$621 miliar pada 2024 menjadi US$2,7 triliun pada 2032, menurut laporan Fortune Business Insights. Dengan kemajuan pesat dalam teknologi AI, sektor-sektor seperti kesehatan, keuangan, pendidikan, dan manufaktur diharapkan akan terdampak secara besar-besaran. Momentum ini menjadi sorotan utama dalam GITEX Global 2024, sebuah acara teknologi dan startup terbesar di dunia yang berlangsung di Dubai World Trade Centre (DWTC) pada 14-18 Oktober 2024.
Trixie Loh Mirmand, Wakil Presiden Eksekutif DWTC, menekankan bahwa ambisi besar global untuk ekonomi AI akan terlihat melalui kolaborasi intensif selama GITEX, yang mencatat kenaikan 40% dalam partisipasi internasional dibandingkan tahun sebelumnya. GITEX juga berbarengan dengan acara Expand North Star, yang berfokus pada startup dan investasi dengan partisipasi lebih dari 6.500 perusahaan dan 1.800 startup dari 180 negara. Kedua acara ini diharapkan menjadi landasan penting dalam mendorong perkembangan ekonomi AI global dan memperkuat posisi Dubai sebagai pusat teknologi dan AI dunia.
AI, Peluang atau Ancaman bagi Media
Pemerintah Didesak untuk Mengatur Starlink
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tengah mengatur penggunaan satelit orbit rendah Starlink di Indonesia untuk mencegah praktik penyediaan jasa internet rumahan secara ilegal (RT/RW Net). Henry Wijayanto, Head of External Communications XL Axiata, mengharapkan pemerintah melibatkan seluruh pemangku kepentingan telekomunikasi dalam tata kelola satelit orbit rendah ini. Menurut Henry, layanan Starlink yang digunakan di area residensial dapat mempengaruhi bisnis layanan fixed broadband (FBB) yang disediakan ISP lokal, termasuk XL Home.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkap bahwa Starlink digunakan untuk beberapa rumah melalui skema Fair Usage Policy (FUP). Sekretaris Umum APJII, Zulfadly Syam, menyebut bahwa satu perangkat Starlink dapat melayani beberapa rumah menggunakan alat khusus, sehingga bisa menjadi opsi lebih ekonomis untuk masyarakat. Meski demikian, penggunaan yang tidak sesuai dengan ketentuan dapat memicu tindakan blokir.
Hambatan Investasi Teknologi Tinggi di Pusat Data Google
Indonesia gagal menarik investasi pusat data dari Google, yang memilih Malaysia sebagai lokasi pembangunan data center di Asia Tenggara. Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, menjelaskan bahwa keputusan Google dipengaruhi oleh beberapa faktor: tarif listrik industri di Malaysia lebih murah, insentif bebas bea masuk untuk barang modal, dan kepastian hukum yang lebih baik. Tarif listrik di Malaysia, yang hanya 8 sen dolar AS per kilowatt-jam, lebih menarik dibandingkan tarif di Indonesia. Selain itu, Budi menyoroti pentingnya pembenahan kepastian hukum di Indonesia untuk meningkatkan daya saing dalam menarik investor asing.
Google telah mengumumkan investasi sebesar US$2 miliar di Malaysia dan US$1 miliar di Thailand, untuk membangun pusat data dan infrastruktur cloud. Meski pemerintah Indonesia tengah mengupayakan negosiasi dengan Google agar pusat data untuk pengguna di Indonesia dapat ditempatkan di dalam negeri, keputusan investasi sejauh ini mengarah ke negara tetangga.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









