;
Kategori

Teknologi

( 1206 )

Rencana Hentikan Cek Fakta Meta Picu Kekhawatiran Banyak Pihak

14 Jan 2025
Sejumlah pihak mengkhawatirkan rencana Meta, perusahaan induk berbagai platform media sosial, untuk menghentikan program cek fakta. Rencana ini berpotensi memperluas penyebaran misinformasi di ruang digital. Meta yang membawahkan Facebook, Instagram, Whatsapp, dan Threads berencana mengganti cek fakta dengan sistem catatan komunitas, seperti yang diterapkan di media sosial X. Meta menyebut pihaknya ingin kembali ke komitmen dasar dalam mendukung kebebasan berekspresi. Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) menyebut, penghentian program cek fakta tersebut dapat mengancam kebenaran. Platform yang tidak mengutamakan kebenaran dikhawatirkan memperluas penyebaran misinformasi dan ujaran kebencian. Hal ini berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap media sosial dan media berita sebagai sumber informasi. IFJ juga menyinggung Piagam Etika Global untuk Jurnalis yang menyebutkan ”Menghormati fakta dan hak publik atas kebenaran adalah tugas pertama jurnalis. 

Sekretaris Jenderal IFJ Anthony Bellanger mengatakan, kebenaran merupakan landasan jurnalisme. ”Pengumuman (rencana Meta menghentikan cek fakta)ini merupakan pukulan telak bagi ekosistem informasi global. Betapa pun tidak sempurnanya pengecekan fakta, hal itu didasarkan pada prinsip bahwa ada fakta yang dapat diperiksa,” ujarnya, dilansir dari laman IFJ, Senin (13/1/2025). Rencana menghentikan program cek fakta juga akan semakin menyulitkan upaya melawan penyebaran informasi secara daring yang menyesatkan. Selama ini, artikel dan unggahan yang dianggap salah oleh pemeriksa fakta akan ditandai dengan peringatan. Tanda tersebut dapat menjadi catatan bagi pengguna media sosial untuk mewaspadai konten yang tidak sesuai dengan fakta. Namun, jika cek fakta dihapuskan, pengguna media sosial dikhawatirkan akan semakin mudah terpapar informasi yang menyesatkan. Psikolog sosial di Cambridge University, Inggris, Sander van der Linden, mengatakan, pemeriksaan fakta di media sosial telah membantu meyakinkan orang tentang informasi yang benar dan dapat dipercaya. (Yoga)

Pada Tahun 2025 Menjadi Ajang Perlombaan Meta, Apple, Google, dan OpenAI

28 Dec 2024

Pada 2024, perusahaan teknologi global terus berlomba merilis pembaruan kecerdasan buatan dan perangkat keras terbaru. Namun, sejumlah inovasi berbasis kecerdasan buatan yang lebih personal masih belum diungkapkan. Lantas, apa saja rencana mereka untuk tahun 2025? The Financial Times, Senin (23/12/2024), melaporkan, Meta akan menambahkan layar dalam produk kacamata pintarnya, Ray-Ban, pada semester II-2025. Layar itu dapat menampilkan pemberitahuan dan respons dari robot percakapan atau chat bot Meta. Kepala Teknologi Meta Andrew Bosworth mengatakan, pengguna akan menikmati asisten kecerdasan buatan yang dipersonalisasi pada 2025. Asisten ini tidak hanya menanggapi perintah, tetapi juga membantu pengguna sepanjang hari. ”Salah satu hal yang paling saya nantikan tahun 2025 adalah evolusi asisten kecerdasan buatan,” katanya. Perusahaan raksasa teknologi lainnya, yakni Apple, bakal meluncurkan asisten kecerdasan buatan Siri yang juga lebih personal. Waktu peluncuran belum jelas, apakah tahun 2025 atau 2026.

Hanya saja, Business Insider baru-baru ini menuliskan bahwa Apple akan mengumumkan model bahasa besar (large language model/LLM) Siri pada 2025. Hal itu sejalan dengan pemberitaan Bloomberg pada November 2024 yang menuliskan, Apple mengumumkan peluncuran perangkat rumah pintar pada Maret 2025. Perangkat itu diperkirakan menyerupai sabak yang dipasang di dinding dan dapat mengontrol peralatan, mengelola panggilan video, dan menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk mengakses aplikasi. Selain itu, Apple dikabarkan bakal mengumumkan model Iphone Air yang ramping serta versi baru iPhone SE dengan harga lebih terjangkau dan mendukung Apple Intelligence. Dari sisi Google, Business Insider menuliskan, Google telah bermitra dengan Samsung dan Qualcomm. Kemitraan ini untuk mengembangkan proyek teknologi realitas campuran (mixed reality) yang akan dirilis pada platform komputasi spasial Android XR. Proyek yang bakal dirilis pada 2025 itu menawarkan pengalaman pemakaian teknologi mixed reality dan asisten kecerdasan buatan milik Google, yaitu Gemini, secara terintegrasi. (Yoga)

Ketatnya Persaingan Jadi Ujian Baru

18 Dec 2024
PT Telkom Indonesia (TLKM) berencana menaikkan harga seluler secara bertahap untuk meningkatkan pendapatan dan average revenue per user (ARPU) yang mengalami penurunan. Aditya Prayoga, Analis Phitraco Sekuritas, menyebut langkah ini dapat memperbaiki margin keuntungan dan rasio profitabilitas TLKM, serta mengurangi risiko perang harga antar-operator. Namun, potensi penurunan jumlah pelanggan tetap menjadi risiko, terutama bagi pelanggan dengan pendapatan rendah yang sensitif terhadap kenaikan harga.

Sukarno Alatas, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai kebijakan kenaikan harga ini strategis untuk mengurangi tekanan persaingan harga dan memperbaiki struktur biaya. Meski pangsa pasar mungkin menyusut, pelanggan yang mengutamakan kualitas layanan bisa tetap setia, sehingga kebijakan ini berpotensi meningkatkan kinerja TLKM jika diterapkan secara tepat.

Di sisi lain, Kevin Jonathan Panjaitan, Analis Bahana Sekuritas, menurunkan rating TLKM dari "buy" menjadi "hold" dengan target harga Rp 3.100 per saham, akibat penurunan harga saham TLKM sebesar 34,34% sejak awal tahun. Penurunan ini dipengaruhi oleh kinerja keuangan yang stagnan dan keluarnya investor asing, yang memegang 77% saham TLKM yang diperdagangkan secara publik.

Hingga September 2024, pendapatan TLKM hanya tumbuh 0,9% YoY, dengan penurunan pendapatan SMS, telepon tetap, dan seluler sebesar 27% YoY. ARPU turun dari Rp 47.800 menjadi Rp 44.500, dan laba bersih anjlok 9,4% YoY akibat peningkatan biaya, termasuk program pensiun dini.

Meski demikian, Aditya menargetkan harga TLKM mencapai Rp 3.440 per saham, sementara Sukarno memproyeksikan Rp 3.200 per saham. Hal ini menunjukkan potensi perbaikan jika kebijakan kenaikan harga berhasil diimplementasikan tanpa kehilangan terlalu banyak pelanggan.

Persaingan di Bisnis Telekomunikasi Memang Ketat

16 Dec 2024
PEMAIN jaringan seluler di dalam negeri bakal makin berkurang tahun depan. PT XL Axiata Tbk serta PT Smartfren Telecom Tbk dan PT Smart Telecom memutuskan bergabung menjadi satu perusahaan pada 11 Desember 2024. Jika tak ada aral melintang, perusahaan gabungan mereka yang diberi nama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk itu bakal beroperasi pada paruh pertama 2025. Langkah itu menyebabkan industri layanan seluler di Indonesia hanya akan dikuasai tiga perusahaan, yaitu PT Telekomunikasi Selular, PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk, dan PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. Makin berkurangnya perusahaan yang menguasai pasar bisnis seluler ini menimbulkan kekhawatiran munculnya praktik oligopoli.

Persaingan di bisnis telekomunikasi memang ketat. Data pelanggan hingga kuartal III 2024 menunjukkan Telkomsel masih memimpin di sektor ini. Anak usaha Telkom Indonesia tersebut memiliki 158 juta pelanggan. Di posisi kedua ada Indosat dengan 98,7 juta pelanggan. Kondisi itu timpang dengan XL yang memiliki 58,6 juta pengguna dan Smartfren hanya 34,5 juta pengguna. Namun, setelah merger, jumlah pelanggan dua perusahaan itu bisa mendekati Indosat. 

Melihat komposisi tersebut, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Fanshurullah Asa mengatakan pasar telekomunikasi akan dikendalikan tiga perusahaan saja. Dengan kata lain, kondisi itu bisa menciptakan struktur industri oligopoli. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, oligopoli bisa terjadi jika dua atau tiga pelaku usaha menguasai lebih dari 75 persen pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu. "Keberadaan struktur tentu saja tidak salah karena yang diawasi adalah perilaku," kata Ifan—sapaan Fanshurullah—kepada Tempo, Ahad, 15 Desember 2024. (Yetede)

Kepercayaaan Masyarakat ke Bank Tradisional Menurun

16 Dec 2024
 Perusahaan perangkat lunak blockchain dan web3 di balik MetaMask, Consensys, telah mengumumkan hasil survei terbarunya soal kepercayaan terhadap bank tradisional, keamanan, dan mata uang kripto di Indonesia. Sigi yang dikerjakan bersama YouGov itu menemukan adanya kepercayaan masyarakat yang menurun terhadap institusi keuangan seperti bank, layanan pinjaman, dan investasi, serta layanan internet di Indonesia. Kepercayaan terhadap institusi keuangan ini turun 14 persen dari 80 persen. 

Artinya, ada 66 persen masyarakat yang saat ini masih percaya dan menganggap institusi keuangan ini penting. “Temuan ini menunjukkan adanya indikasi pergeseran kepercayaan masyarakat dari sistem tersentralisasi, membuka peluang bagi alternatif desentralisasi untuk mendapatkan perhatian pasar jika mereka mampu mengatasi kekhawatiran tentang keamanan,” kata Co-Founder Ethereum dan Founder sekaligus CEO Consensys Joseph Lubin dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu, 14 Desember 20.

Selain itu, survei ini juga menyoroti keamanan terkait mata uang kripto di Indonesia. Meskipun terdapat penurunan sebesar 3 persen dibandingkan tahun lalu, Indonesia tetap menjadi negara paling sadar akan keamanan di Asia. Hasil sigi ini menemukan ada 89 persen responden sangat memperhatikan keamanan transaksi dan investasi mata uang kripto. “Fokus ini menegaskan pentingnya upaya berkelanjutan untuk mengatasi kekhawatiran ini dan membangun kepercayaan terhadap sistem desentralisasi,” kata Lubin. 

Ini Peran Menkomdigi dalam Merger XL-Smartfren

16 Dec 2024
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, pihaknya belum menerima permohonan resmi ihwal merger operator seluler antara XL Axiata dan Smartfren. “Jadi, kami belum tahu karena belum melapor secara resmi keduanya. Jadi kami sifatnya menunggu sebagai penghulu untuk mempersatukan. Kurang lebih seperti itu peran Kemkomdigi,” ujar Meutya di Yogyakarta pada Rabu, 11 Desember 2024 seperti dilansir dari Antara. Meski begitu, dirinya mengatakan bahwa Komdigi tetap mendukung apabila kedua perusahaan ingin melakukan merger untuk menjaga iklim kompetisi industri telekomunikasi sehat. “Tapi saat ini belum ada secara resmi menyampaikan bahwa akan ada pernikahan di antara keduanya secara resmi,” ungkapnya.

Sebelumnya, terkait merger XL Axiata dan Smartfren diumumkan bahwa PT XL Axiata Tbk (XL Axiata), PT Smartfren Telecom Tbk (Smartfren), dan PT Smart Telcom (SmartTel) telah mencapai kesepakatan definitif untuk melakukan merger dengan nilai gabungan pra-sinergi mencapai lebih dari Rp104 triliun atau 6,5 miliar dolar AS. Dalam keterangan resmi pernyataan bersama, Rabu, merger tersebut menggabungkan dua entitas yang akan saling melengkapi dalam melayani pangsa pasar telekomunikasi Indonesia. XLSmart akan memiliki skala, kekuatan finansial, dan keahlian yang mampu mendorong investasi infrastruktur digital, memperluas jangkauan layanan, dan mendorong inovasi bagi pelanggan, sekaligus menciptakan pasar yang lebih sehat dan kompetitif.

XL Axiata akan menjadi entitas yang bertahan, sedangkan Smartfren dan SmartTel akan menggabungkan diri menjadi bagian dari XLSmart. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyebut langkah merger operator seluler XL Axiata dan Smartfren Telecom sebagai suatu keniscayaan. "Kita tahu kan industri telko ini makin saturated istilahnya, makin jenuh, ruang pertumbuhannya juga makin kecil, jadi saya kira tindakan merger itu sudah satu keniscayaan," kata Nezar di Yogyakarta pada Selasa 10 Desember 2024. Nezar mengemukakan bahwa langkah merger kedua operator seluler tersebut berpotensi mendatangkan iklim kompetisi yang lebih sehat dalam industri telekomunikasi. Kementerian Komunikasi dan Digital, dia mengatakan, akan memastikan semua operator seluler melakukan kegiatan operasional sesuai ketentuan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi. (Yetede)

Ketatnya Persaingan Membayangi Kinerja Perusahaan

13 Dec 2024
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom diperkirakan akan mengubah lanskap industri telekomunikasi dan bisnis menara. Grup Sinarmas berinvestasi besar dalam merger ini dengan dana sebesar US$ 475 juta (Rp 7,52 triliun). Namun, konsolidasi ini juga menjadi tantangan bagi emiten menara seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), yang menghadapi potensi pengurangan tenant karena tumpang tindih (overlapping) penyewa.

Menurut analis Mirae Asset Sekuritas, Daniel Widjaja, bisnis utama menara TBIG hanya tumbuh tipis, dengan pendapatan kumulatif dari layanan telko mencapai Rp 4,71 triliun hingga September 2024, meningkat 0,1% secara tahunan. Namun, segmen fiber TBIG justru menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan pendapatan melonjak 70,6% yoy menjadi Rp 411 miliar, didorong oleh perluasan layanan fiber to the tower (FTTT) dan fiber to the home (FTTH).

Analis Samuel Sekuritas, Jason Sebastian, menilai TBIG masih memiliki peluang untuk bertumbuh melalui persaingan operator telekomunikasi yang berupaya memperluas jaringan ke wilayah-wilayah terpencil. Ia menekankan bahwa kebijakan pemerintah untuk memperluas jaringan di Indonesia bagian Timur dapat mendukung pertumbuhan TBIG.

Di sisi lain, Analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi, menyebut relokasi pasca merger Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) membuka peluang bagi TBIG untuk mempercepat kinerja. Jovent merekomendasikan pembelian saham TBIG dengan target harga Rp 2.300, sedangkan Daniel dan Jason lebih konservatif dengan rekomendasi "hold" pada harga Rp 1.900–Rp 1.920 per saham.

Meski demikian, TBIG menghadapi tantangan, termasuk perlambatan pertumbuhan operator telekomunikasi, risiko regulasi, dan tekanan harga, yang dapat memengaruhi kinerja jangka panjangnya.

Sinarmas Alokasikan Dana Investasi Besar

13 Dec 2024
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom memerlukan kontribusi besar dari Grup Sinarmas. Grup ini akan menginvestasikan US$ 475 juta (sekitar Rp 7,52 triliun) untuk membeli 13,1% saham Axiata di PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk, demi menyamakan porsi kepemilikan dengan Axiata sebesar 34,8%. Pembayaran akan dilakukan dalam dua tahap: US$ 400 juta saat penyelesaian penyertaan dan US$ 75 juta pada peringatan satu tahun XLSmart berdiri.

Menurut Indra Sentanu, dari Chairman’s Office Corporate Finance Sinarmas Telecommunication and Technology, pendanaan untuk akuisisi saham XLSmart akan berasal dari sumber internal Grup Sinarmas.

Paulus Jimmy, Deputy Head of Research Sucor Sekuritas, menilai akuisisi saham tambahan ini dilakukan dengan harga premium, yakni Rp 3.150 per saham EXCL, 39,38% lebih tinggi dari harga pasar saat ini (Rp 2.260). Jimmy optimis bahwa merger ini akan meningkatkan kinerja dan profitabilitas EXCL dalam jangka panjang, dengan rekomendasi beli saham EXCL dan target harga Rp 3.500 per saham.

Namun, bagi pemegang saham FREN, merger ini membawa dampak signifikan karena saham FREN akan delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Antony Susilo, Direktur Keuangan Smartfren Telecom, menjelaskan bahwa pemegang saham FREN memiliki dua opsi:

1. Mengonversi saham FREN ke saham EXCL dengan rasio 94 saham FREN untuk 1 saham EXCL.
2. Menjual saham FREN kepada entitas merger dengan harga Rp 25 per saham.

Bagi pemegang saham EXCL yang tidak setuju dengan merger, saham mereka akan dibeli di harga Rp 2.350 per saham. Proses konversi dan pembelian saham akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan pemegang saham.

UMKM Perlu Manfaatkan Teknologi AI agar naik kelas

13 Dec 2024

Transformasi digital dibutuhkan untuk mempercepat UMKM naik kelas, dengan memanfaatkan platform digital, mulai dari lokapasar hingga teknologi kecerdasan buatan atau AI. Wakil Menteri UMKM, Helvi Yuni Moriza mengatakan, sektor UMKM memiliki peran yang krusial sekaligus memegang kunci dalam visi Indonesia Emas 2045. Untuk itu, pengembangan UMKM tidak hanya berhenti pada program-program pelatihan, kemitraan, akses pasar, dan akses permodalan. ”Yang harus kita lakukan saat ini, yaitu transformasi digital. Suka atau tidak suka, kita harus memasuki itu karena UMKM adalah fundamental ekonomi Indonesia,” katanya dalam forum diskusi bertajuk ”Menatap Masa Depan: Transformasi dan Peluang UMKM Indonesia”, di Jakarta, Kamis (12/12).

Saat ini, baru 25 juta pelaku UMKM yang telah terhubung dengan ekosistem digital atau 39,81 % dari total UMKM. Padahal, sektor UMKM menjadi salah satu fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dengan jumlah 64,2 juta pelaku UMKM telah berkontribusiterhadap 61 % PDB dan menyerap 97 % tenaga kerja. Menurut Helvi, transformasi UMKM merupakan hal yang penting untuk mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Terdapat empat nilai yang perlu dimiliki agar UMKM dapat bertransformasi, yakni loyalitas, integritas, disiplin, dan inovatif. ”Pelaku usaha dituntut untuk terus berinovasi terhadap produk atau diversifikasi produk. Inovasi akan membuat UMKM dapat merespons perubahan dan persaingan pasar sehingga menjadi bisnis yang tangguh. Tidak bisa lagi menggunakan cara konvensional dalam menentukan perencanaan, proses bisnis, dan antisipasi pasar,” tuturnya. (Yoga)


Episode Baru XLSmart Telecom Mencapai Kesepakatan Menuju Merger

12 Dec 2024
PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telcom (SmartTel) mencapai kesepakatan difinitif untuk melakukan merger menjadi entitas baru bernama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart) dengan nilai gabungan pra-sinergi mencapai lebih dari Rp104 triliun. Perusahaan yang dikendalikan Axiata Group Berhad dan Sinar Mas ini, akan menjadi kekuatan baru di sektor telekomunikasi di Tanah Air, dengan potensi pendapatan  hingga Rp 45 triliun. "Merger ini adalah upaya penting yang kami lakukan untuk memberikan nilai tambah besar kepada seluruh pemangku kepentingan melalui layanan yang prima, konektivitas digital, dan inovasi, termasuk untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mendorong  transformasi digital," kata Chairman Sinar Mas Telecommunication and Technology Franky Oesman Widjaja. Penggabungan menjadi entitas baru ini ditargetkan rampung pada semester I-2024. Di mana XLSmart akan menjadi perusahaan telekomunikasi papan atas dengan jumlah pelanggan seluler mencapai 94,51 juta pengguna, dan memiliki pangsa pasar 27%1. XLSmart akan menghasilkan pendapatan proforma sebesar Rp45,4 triliun (US$ 2,8 miliar) dan EBITDA senilai lebih dari Rp22,4 triliun (US$ 1,4 miliar).