Teknologi
( 1193 )Lemahnya Daya Beli Jadi Ancaman untuk ISAT
Sektor Teknologi Digital Terdampak Kebijakan Tarif Trump
12 Orang Meninggal Akibat Bentrokan di Puncak Jaya
Keterbatasan Spektrum Frekuensi untuk Mengembangkan Teknologi Jaringan 5G
Agentic AI Diprediksi Mengalami Perkembangan Signifikan
Mensos: Masyarakat Sebaiknya Jangan Bergantung pada Bansos
Pengaduan Properti Bermasalah
Dari tahun ke tahun, jumlah aduan
dan laporan masyarakat di sektor properti meningkat. Pengembang kerap kali
belum menuntaskan urusan perizinan. Sementara masyarakat masih mudah tergiur
janji palsu dan promosi yang ditawarkan. Berdasarkan data Badan Perlindungan
Konsumen Nasional (BPKN), jumlah pengaduan terkait perumahan mencapai 404
laporan pada 2024, naik 28,6 % dari 314 laporan pada 2023. Data tersebut belum
termasuk aduan yang diterima lembaga lain sepanjang 2024. Dirjen Perumahan Kementerian
PUPR, menerima 61 surat aduan, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menerima
49 aduan, diikuti 35 aduan lain ke Kementerian PAN RB).
”Dari sisi isu, masalah perumahan
di YLKI sering diadukan masyarakat. Jadi, masyarakat butuh kanal pengaduan.
Sejauh ini, kehadiran dari regulator belum terakselerasi,” ujar Ketua YLKI
Tulus Abadi dalam acara peresmian kanal pengaduan konsumen perumahan terpadu di
Jakarta, Rabu (26/3) sore. Banyak masyarakat menjadi korban karena tergiur
metode pemasaran pengembang. YLKI kerap mengingatkan agar publik lebih
berhati-hati dan mengecek ulang, apalagi terhadap penjualan bangunan yang belum
terbangun atau pre-project selling. ”Pre-project selling, regulasinya ada,
tetapi ketika pengembang menjual gambar tanpa prasyarat tertentu, risikonya
besar sekali bagi konsumen. Ironisnya, banyak konsumen yang tertarik dan
membayar secara cash keras. Ini dua hal yang jadi titik lemah,” tutur Tulus.
Ketua BPKN Muhammad Mufti Mubarok
mengatakan, di sektor properti khususnya perumahan, ditemukan banyak penipuan,
mulai dari gambar hingga iklan yang bermasalah. ”Soal legalitas juga. Sering kali
sertifikat (properti) ini, kan, tumpang tindih. Banyak yang sudah menempati,
sudah (mendapat) sertifikat, malah digugat seperti di Bekasi. Itu harus clear,”
kata Mufti. Dalam konteks umum, pengaduan konsumen pada sektor perumahan
didominasi sedikitnya lima hal. Pertama, permasalahan wanprestasi sertifikat
yang belum jadi atau bangunan belum selesai, padahal pembayaran sudah lunas.
Kedua, bangunan tidak sesuai yang dijanjikan. Ketiga, legalitas bangunan dan
tanah masih belum jelas. Keempat, pengembalian dana (refund) rumit dan
berbelit-belit. Kelima, adanya kerusakan fisik bangunan. (Yoga)
Mengatasi Keterbatasan Sumber Daya Pendidikan dengan Pembelajaran Digital
Pendidikan digital, termasuk
perkembangan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI), harus menjadi alat untuk
inklusi di tengah keterbatasan sumber daya pendidikan di banyak tempat. Karena
itu, kebijakan pendidikan semestinya memprioritaskan akses yang adil,
berinvestasi dalam pelatihan guru, dan mendukung inovasi yang didorong secara
lokal. Kepala Bagian Teknologi dan Akal Imitasi dalam Pendidikan UNESCO Shafika
Isaacs, Rabu (2/4) mengatakan, melalui kolaborasi dan investasi yang
berkelanjutan, pembelajaran digital dapat menjadi kekuatan untuk perubahan positif,
terutama memastikan setiap pelajar, terlepas dari latar belakangnya, memiliki
kesempatan untuk berkembang di era digital. ”Kita hanya dapat maju dengan
bekerja sama, merangkul beragam cara untuk mengetahui, dan berdiri teguh dalam
komitmen kita untuk mengurangi ketimpangan pendidikan,” kata Isaacs.
Dalam lingkungan yang menantang,
teknologi digital diyakini dapat mendukung pendidikan berkualitas dan memberdayakan
pelajar. Namun, tantangannya kini, untuk membuat pembelajaran digital dapat
diakses oleh semua orang. Tantangan lainnya adalah memberikan panduan yang
jelas bagi pemerintah dan pendidik yang berupaya mengintegrasikan teknologi
secara efektif dan inklusif dalam sistem pendidikan. Dirjen UNESCO, Audrey
Azoulay saat peringatan Hari Internasional untuk Pembelajaran Digital pada 19
Maret mengatakan, teknologi digital semakin lazim di semua bidang kehidupan.
Teknologi digital tidak hanya mengubah cara hidup, tetapi juga cara belajar.
”Teknologi ini sangat menjanjikan, mulai dari kemajuan dalam konektivitas,
portabilitas, sumber daya pendidikan terbuka, hingga kecerdasan buatan menciptakan
lebih banyak kemungkinan untuk menjangkau pelajar yang terpinggirkan,” ucapnya.
Saat ini, 2,6 miliar orang atau 32
% populasi global masih kekurangan akses internet. Sebanyak 1,8 miliar orang di
antaranya tinggal di daerah perdesaan. Di bidang pendidikan, 60 % dari SD, 50 %
dari SMP dan 30 % dari SMA di seluruh dunia saat ini tidak terhubung dengan
internet. Di Indonesia, minimnya akses pelatihan bagi guru didobrak lewat
pelantar (platform) Merdeka Mengajar yang kemudian diubah menjadi Rumah
Pendidikan pada tahun 2025. ”Transformasi digital merupakan keniscayaan, karena
masyarakat sekarang hidup di era digital. Tidak mungkin kita hindari, tetapi
juga era untuk kita sanggup adaptasi dan menggunakannya untuk kepentingan yang
bermanfaat,” kata Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, beberapa waktu lalu. (Yoga)
Untung Rugi Investasi Besar untuk AI
Sejumlah korporasi global berinvestasi
besar-besaran mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial
intelligence (AI). Tak sedikit investor skeptis apakah besarnya investasi
pengembangan AI sepadan dengan manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh pada
saatnya nanti. Melansir The Economist, raksasa-raksasa global berinvestasi
besar-besaran dalam pengembangan AI. Mereka adalah Alphabet, Amazon, Apple,
Meta, dan Microsoft. Pada 2024, kombinasi nilai investasi kelima korporasi itu
mencapai 400 miliar USD untuk belanja modal. Mayoritas dialokasikan untuk pengadaan
perangkat keras berkaitan dengan AI. Sisanya untuk penelitian dan pengembangan
(R&D). AI selalu disebut-sebut sebagai teknologi yang dapat mengubah
ekonomi global. Guna mengadopsinya agar meningkatkan efisiensi dan produktivitas,
perusahaan perlu membeli teknologi baru tersebut dan membentuknya sesuai
kebutuhan.
Namun, konsekuensi yang ditimbulkan
oleh investasi pada AI bagi perusahaan dalam jangka pendek, merujuk data
Reuters, adalah penyusutan saham. ”(Minat) semua orang sangat rendah untuk
berinvestasi ke (perusahaan) penggerak AI,” kata Head of European Equity
Strategy di UBS Gerry Fowler, 26 Maret 2025. Apalagi, AI ternyata dapat
diproduksi dengan biaya lebih rendah, seperti DeepSeek buatan China. Pada akhirnya,
pasar kini mencari perusahaan yang dapat meraup untung dari AI. Para investor
telah menyuntik lebih dari 2 triliun USD ke lima perusahaan tersebut selama
setahun terakhir. Namun, hasil yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan teknologi
itu masih jauh dari harapan. Microsoft, misalnya, para analis menilai, hanya
mencetak 10 miliar USD dari penjualan kecerdasan buatan yang menciptakan produk
baru atau generative (Gen) AI. Ini
menunjukkan, AI belum memberikan efek besar.
”Perhatian khusus pada keamanan
data, bias algoritma dan halusinasi memperlambat implementasi,” demikian tulis
The Economist. Restoran makanan cepat saji, McDonald’s telah mencoba
menggunakan AI untuk melayani pelanggan tanpa turun dari kendaraan (drive-through),
tetapi mengalami kesalahan (error). Sistem itu justru menambah 222 USD untuk
menu camilan ayam pada tagihan seorang konsumen. Dalam survei yang disebarkan
pada lebih dari 100 analis Fidelity, 72 % responden memperkirakan AI belum akan
berdampak pada keuntungan perusahaan pada 2025. Banyak dari mereka melihat dampaknya
baru akan terasa lebih dari 5 tahun. ”Pasar akan kehilangan kesabaran dengan
investasi tidak terbatas pada AI, kecuali teknologi itu mulai menunjukkan
return pada investasi yang dikeluarkan,” ujar Lead Portfolio Manager di Lazard
Asset Management, Steve Wreford. (Yoga)
Maraknya Lowongan Palsu Daring ditengah Badai PHK Massal
Di saat situasi ekonomi sedang melemah dan banyak fenomena PHK
massal, modus penipuan pekerjaan secara daring juga marak. Masyarakat diimbau agar
selalu waspada terhadap modus ini. Pada periode Februari-Maret 2025, sejumlah
699 orang menjadi korban modus penipuan itu dan harus dipulangkan dari Myanmar
ke Tanah Air. GC (33) ibu rumah tangga yang berdomisili di Tangerang, Banten,
tiba-tiba mendapat pesan dari akun Linkedin dari profil pengguna yang terkesan profesional
dan meyakinkan, menunjukkan dia sebagai headhunter (pemberi kerja) dari
perusahaan di Singapura yang bergerak di bidang gim daring (i-gaming). Pesan
itu menawarkan pekerjaan customer support dengan keterangan tambahan bersedia
ditempatkan di Kamboja.
”Bulan Februari, pemilik akun tersebut masih mengirimi saya
pesan lagi yang menawarkan pekerjaan customer support. Dengan keterangan, jika
diterima pada lowongan itu, akan ditempatkan di Kamboja. Saya dan suami
langsung curiga apakah ini terkait bisnis judi daring,” katanya, Kamis (27/3). Walaupun
sudah memiliki pekerjaan paruh waktu, ibu satu anak ini tergiur dengan lowongan
kerja yang ditawarkan itu. Gaji yang ditawarkan berkisar Rp 10 juta-Rp 16 juta
per bulan. Jika bersedia direlokasi ke Kamboja, biaya penerbangan dan akomodasi
pun akan ditanggung pemberi kerja. Namun, karena lowongan itu terasa
mencurigakan, GC tidak menindaklanjutinya. Ia dihubungi lagi untuk kedua
kalinya oleh akun pemberi kerja, tetapi kemudian ia memilih untuk mengabaikan.
Beberapa waktu terakhir iklan lowongan kerja banyak dijumpai
di media sosial. Banyak lowongan kerja yang nyata dan legal, tetapi juga tidak sedikit
yang merupakan kedok penipuan. Direktur Tindak Pidana Perdagangan Perempuan dan
Anak dan Pidana Perdagangan Orang (PPA-PPO) Brigjen (Pol) Nurul Azizah, di
Bareskrim Polri, Jumat (21/3), menuturkan, modus tindak pidana perdagangan
orang (TPPO) melalui lowongan daring yang kemudian ditempatkan di perusahaan
gim daring atau scam kian marak di masa PHK massal ini. Pada 2023 terdapat 1.061
laporan dan pada 2024 terdapat 843 laporan. Pada Februari-Maret ini, ada 699
warga Indonesia yang menjadi korban TPPO dan telah dipulangkan dari Myanmar melalui
Thailand. Para pekerja migran itu dipekerjakan sebagai operator scammer atau
perusahaan penipuan daring di Myanmar. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









