;

Keterbatasan Spektrum Frekuensi untuk Mengembangkan Teknologi Jaringan 5G

Teknologi Yuniati Turjandini 07 Apr 2025 Investor Daily
Keterbatasan Spektrum Frekuensi untuk Mengembangkan Teknologi Jaringan 5G
Keterbatasan spektrum frekuensi untuk mengembangkan teknologi jaringan generasi ke-5  (5G) menjadi tantanagn serius bagi Indonesia. Dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara (Asean), Indonesia masih jauh tertinggal di bidang 5G. Laporan 2025 5G Success Index oleh Kearney mengungkapkan, penetrasi 5G di Indonesia hanya 2% sejak 5G diluncurkan pada 2021. Hal ini disebabkan oleh jumlah stasiun pemancar dan jaringan fiber optic (Fo) yang tidak memadai serta ketersediaan frekuensi yang terbatas. Sedangkan, Malaysia, dengan jaringan grosir tunggalnya, telah mencapai lebih dari 80% cakupan populasi hanya dalam waktu tiga tahun. Bahkan, Malaysia tengah mengupayakan jaringan kedua untuk memicu persaingan dan mempercepat adopsi 5G. Malaysia juga baru saja mengumumkan tingkat penetrasi yang mendekati 55%. Sementara, operator telekomunikasi utama di Thailand telah melncurkan tiga kelas spektrum dan terus berinovasi, dengan sebagian besar emperkenalkan API jaringan, termasuk konektivitas tingkat lanjut, yang menjadikannya segi negara yang berkembang dalam segi inovasi. "Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal infrastruktur. Keterbatasan ketersediaan spektrum semakin menghambat kemampuan Indonesia untuk memperluas layanan 5G dan menccapai adopsi yang luas," kata Partner di Keraney Singapuras dan Head Kearney Technology Center of Excellence Carlods Oliver Mosquera. (Yetede)