Mengatasi Keterbatasan Sumber Daya Pendidikan dengan Pembelajaran Digital
Pendidikan digital, termasuk
perkembangan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI), harus menjadi alat untuk
inklusi di tengah keterbatasan sumber daya pendidikan di banyak tempat. Karena
itu, kebijakan pendidikan semestinya memprioritaskan akses yang adil,
berinvestasi dalam pelatihan guru, dan mendukung inovasi yang didorong secara
lokal. Kepala Bagian Teknologi dan Akal Imitasi dalam Pendidikan UNESCO Shafika
Isaacs, Rabu (2/4) mengatakan, melalui kolaborasi dan investasi yang
berkelanjutan, pembelajaran digital dapat menjadi kekuatan untuk perubahan positif,
terutama memastikan setiap pelajar, terlepas dari latar belakangnya, memiliki
kesempatan untuk berkembang di era digital. ”Kita hanya dapat maju dengan
bekerja sama, merangkul beragam cara untuk mengetahui, dan berdiri teguh dalam
komitmen kita untuk mengurangi ketimpangan pendidikan,” kata Isaacs.
Dalam lingkungan yang menantang,
teknologi digital diyakini dapat mendukung pendidikan berkualitas dan memberdayakan
pelajar. Namun, tantangannya kini, untuk membuat pembelajaran digital dapat
diakses oleh semua orang. Tantangan lainnya adalah memberikan panduan yang
jelas bagi pemerintah dan pendidik yang berupaya mengintegrasikan teknologi
secara efektif dan inklusif dalam sistem pendidikan. Dirjen UNESCO, Audrey
Azoulay saat peringatan Hari Internasional untuk Pembelajaran Digital pada 19
Maret mengatakan, teknologi digital semakin lazim di semua bidang kehidupan.
Teknologi digital tidak hanya mengubah cara hidup, tetapi juga cara belajar.
”Teknologi ini sangat menjanjikan, mulai dari kemajuan dalam konektivitas,
portabilitas, sumber daya pendidikan terbuka, hingga kecerdasan buatan menciptakan
lebih banyak kemungkinan untuk menjangkau pelajar yang terpinggirkan,” ucapnya.
Saat ini, 2,6 miliar orang atau 32
% populasi global masih kekurangan akses internet. Sebanyak 1,8 miliar orang di
antaranya tinggal di daerah perdesaan. Di bidang pendidikan, 60 % dari SD, 50 %
dari SMP dan 30 % dari SMA di seluruh dunia saat ini tidak terhubung dengan
internet. Di Indonesia, minimnya akses pelatihan bagi guru didobrak lewat
pelantar (platform) Merdeka Mengajar yang kemudian diubah menjadi Rumah
Pendidikan pada tahun 2025. ”Transformasi digital merupakan keniscayaan, karena
masyarakat sekarang hidup di era digital. Tidak mungkin kita hindari, tetapi
juga era untuk kita sanggup adaptasi dan menggunakannya untuk kepentingan yang
bermanfaat,” kata Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, beberapa waktu lalu. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023