Lingkungan Hidup
( 5820 )Ketahanan Pangan Masih Hadapi Tantangan
Sensus pertanian 2023 yang sedang berlangsung diharapkan menghasilkan basis data akurat untuk mendorong kebijakan ketahanan pangan. Ketahanan pangan di Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan, seperti alih fungsi lahan pertanian dan pertumbuhan sektor pertanian yang masih belum stabil. Direktur Neraca Produksi BPS Puji Agus Kurniawan mengemukakan, sektor pertanian menyerap tenaga kerja terbesar, yakni 29,4 persen, disusul perdagangan dan industri pengolahan. Peran sektor pertanian berkontribusi 12 persen terhadap PDB. Meski demikian, pertumbuhan nilaitambah pertanian cenderung fluktuatif.
Menurut Agus, sensus pertanian 2023 diharapkan mampu menjawab tantangan pertanian global dan nasional, yakni ketahanan pangan, kualitas dan keamanan pangan, serta keberlanjutan. Hasil riset Nagara Institute 2023, beberapa tantangan menuju ketahanan pangan, antara lain kelembagaan petani, SDM, penguatan produksi, dan kesejahteraan petani. ”Tantangan (pertanian) ini perlu dijawab pemerintah,” katanya dalam diskusi ”Akurasi Data Menuju Kedaulatan Pangan dan Keberlanjutan Pertanian”, yang digelar secara daring, Senin (19/6). (Yoga)
Tata Niaga Perlu Dibenahi
Tata niaga elpiji 3 kg atau elpiji subsidi belum tuntas dibenahi dan masih ada celah ketidaktepatan sasaran karena distribusinya terbuka. Kini, pengguna tengah didata agar penyalurannya tepat sasaran. Berdasarkan regulasi yang berlaku, harga jual eceran elpiji 3 kg di titik serah atau agen/penyalur Rp 4.250 per kg atau Rp 12.750 per tabung (sejak 2008). Tahap selanjutnya, di pangkalan/subpenyalur, harga eceran tertinggi (HET) ditentukan setiap pemda. Sedang, ditingkat pengecer tidak ada pengaturan harga. Mengacu Pergub DKI Jakarta No 4 Tahun 2015, HET elpiji 3 kg di Kota Administrasi Jakpus, Utara, Barat, Selatan, dan Timur ialah Rp 16.000 per tabung. Sementara khusus di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan HET ditetapkan Rp 18.000 per tabung dan Kepulauan Seribu Utara ditetapkanRp 19.500 per tabung.
Namun, dari pantauan di sejumlah lokasi di Jaktim, Senin (19/6) sejumlah pangkalan menjual di harga Rp 17.000 per tabung. Apabila membeli 10 tabung, harganya menjadi Rp 16.500 per tabung. Kendati demikian, ada juga pangkalan yang mengaku tetap menjual Rp 16.000 per tabung. Sudah jarangnya elpiji 3 kg seharga Rp 16.000 per tabung dirasakan Tia (42), warga Kecamatan Cakung, Jaktim, yang juga pengecer. ”Saya beli Rp 17.000, kadang Rp 18.000. Itu ambil sendiri, bukan diantar. Rp 16.000 sudah enggak dapat. Masih ada barangnya juga sudah syukur, sih, karena sering kosong. Di sini (warung) saya jual Rp 20.000,” katanya. Salah satu pangkalan di Kecamatan Tambun Selatan, Bekasi, Jabar, menjual elpiji 3 kg seharga Rp 18.750 per tabung. Terpampang papan informasi HET Rp 18.750, sesuai SK kepala daerah. (Yoga)
Jalan Panjang Swasembada Daging Sapi
Sejak awal dicanangkan tahun 2000, swasembada daging sapi belum kunjung terealisasi. Melalui Program Kecukupan Daging Sapi, pemerintah saat itu menargetkan pada 2005 Indonesia mampu memenuhi kebutuhan daging sapi secara mandiri. Namun, kurangnya anggaran hingga maraknya pemotongan sapi betina membuat harapan tersebut tidak dapat terpenuhi. Program pun dilanjutkan dalam skema Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi dengan target capaian pada tahun 2010. Untuk merealisasikannya, pemerintah menyusun langkah operasional, di antaranya optimalisasi kelahiran, penyediaan bibit bermutu dan pengembangan SDM melalui kelembagaan. Namun, beragam strategi tersebut belum juga membuahkan hasil berupa swasembada daging sapi. Pemenuhan kebutuhan daging sapi dalam negeri masih disokong impor sekitar 30 %. Padahal, suatu negara dikatakan berhasil swasembada jika mampu memenuhi pasokan domestik minimal 90 %.
Meskipun demikian, rencana meraih swasembada daging sapi tetap terus diupayakan. Pemerintah kembali menargetkan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri pada tahun 2022. Namun, lagi-lagi skenario itu belum mampu diwujudkan hingga sekarang. Alih-alih terus meningkat, proporsi produksi daging lokal sebagai syarat swasembada justru kian menyusut. Berdasarkan data Outlook Daging Sapi 2022 Kementan, produksi daging sapi lokal tahun 2017 mencapai 76,6 %, tetapi pada 2022 justru susut menjadi 61 %. Pada periode itu, volume produksi daging sapi berkurang dari 486.300 ton menjadi 440.700 ton. Ironisnya pada saat bersamaan, porsi impor daging kian meningkat dari 25,7 % menjadi 34,4 %. Artinya, kondisinya masih belum berubah dibandingkan satu decade silam. Bahkan, relatif terjadi kemunduran. (Yoga)
Menggugat Rantai Impor Daging Sapi
Mitra dagang yang konsisten memasok daging sapi ke Indonesia ialah Australia, India, AS, dan Selandia Baru. Australia masih menjadi pemasok terbesar. Data BPS tahun 2021 menunjukkan, 45 % daging sapi impor Indonesia didatangkan dari ”Negeri Kanguru” tersebut. Dari total impor 273.532 ton, Australia menyuplai 122.863 ton. Tingginya kebergantungan Indonesia pada Australia tergambar dari banyaknya impor sapi hidup. Merujuk data Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia, setiap tahun lebih dari separuh dari total ekspor sapi hidup Australia dikirim ke Indonesia. Dari seluruh total sapi ekspor Australia sebanyak 600.024 ekor, 338.454 ekor dikirim ke Indonesia pada tahun lalu. Meski masih mendominasi, impor sapi terus menurun sejak 2019 karena pembatasan ekspor sapi oleh Australia. Pada tahun 2022, sapi yang diekspor Australia susut menjadi 600.024 ekor dari sebelumnya 1,3 juta ekor, karena Pemerintah Australia sedang melakukan program restrukturisasi peternakan yang porak poranda akibat gangguan cuaca dan kendala tenaga kerja.
Untuk memenuhi kebutuhan domestik, India kini cukup mendominasi dengan suplai daging sapi dan kerbau bekunya, dari 28 % pada 2017 menjadi 31 % tahun 2021. Ketika pemerintah sudah menemukan alternatif negara impor daging sapi yang lebih murah dari segi harga, justru timbul persoalan pada mata rantai distribusi yang panjang dan berbiaya mahal. Artinya, bola panas kini bergulir ke perusahaan importir (BUMN dan swasta), perusahaan pemasok, dan Kemendag yang saling mengikat perjanjian di atas meja. Analisis di atas perlu dilihat sebagai upaya melihat alternative opsi lain negara asal impor daging sapi, bukan semata-mata untuk merekomendasikan Brasil sebagai negara asal impor. Sembari berupaya terwujudnya swasembada daging sapi secara nasional, perbaikan dan pengawasan di tata niaga impor juga perlu terus diusahakan. Jangan sampai harga daging sapi di pasar yang terus naik tiap tahun semata hanya karena permainan harga di mata rantai distribusi (Yoga)
Pengembangan Blok Rokan Disetujui
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyetujui pengembangan Blok Rokan, Riau, oleh PT Pertamina Hulu Rokan. Dengan persetujuan itu, diperkirakan akan ada tambahan cadangan minyak sebanyak 26 juta barel. ”Kami berkomitmen mendukung optimalisasi produksi Blok Rokan yang menjadi salah satu tulang punggung produksi migas nasional,” ujar Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, Sabtu (17/6/2023). (Yoga)
Menjerat Korporasi Perkara Minyak Goreng
Fanatisme Penggemar Kecap
Teguh Husodo (53), dosen Departemen Biologi Fakultas Matematika dan IPA Universitas Padjadjaran, adalah penikmat setia kecap Cap Borobudur asal Bandung selama puluhan tahun. Sudah telanjur cinta, lidah Teguh sulit berpindah ke lain kecap. ”Ibu saya yang mengenalkan kecap Cap Borobudur sejak saya kecil. Sampai sekarang selalu ada di rumah. Pernah coba merek lain, tapi tidak cocok. Saya suka kecap yang manisnya sedang seperti Kecap Borobudur,” kata Teguh yang dijumpai di area Pameran Koleksi Kecap Nusantara ”Rasa Lestari” di Teater Pengetahuan Rektorat Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, Jabar Selasa (13/6). Teguh Siang itu, karena tergoda ”promosi” Kecap Cap Lombok Gandaria asal Solo yang juga memiliki varian dengan manis sedang, Teguh tertarik. ”Tapi belum tahu cocok atau tidak. Coba dulu,” ujarnya dengan nada tidak yakin.
Warung Batagor H Isan di Bandung juga fanatik pada kecap Cap Raos. Pelanggan setia warung itu ikut fanatik pada kecap Cap Raos. ”Kalau mau bawa pulang (makanan), mereka sekalian beli kecapnya pakai jeriken,” ujar salah satu karyawan. Fanatisme pada merek kecap tertentu seperti pada Teguh dan Warung Batagor H Isan adalah penjelasan mengapa setiap kecap selalu menjadi nomor satu di hati penikmat setianya. Produsen kecap akan berupaya sekuat tenaga agar penggemar setia mereka tidak berpaling ke kecap lain. Ini membuat munculnya kompetisi antar produsen kecap. Apalagi, setiap daerah memiliki kecap lokalnya sendiri dengan penggemar fanatiknya sendiri. ”Kalau sudah minded, sudah biasa pakai kecap merek tertentu, diubah agak susah,” ujar Kepala Bagian Customer Relationship Officer & Export PT Lombok Gandaria Tabita Setyawati. Cara paling manjur untuk merawat pelanggan kecap Cap Lombok Gandaria, lanjut Tabita, adalah dengan menjaga mutu kecap dengan menggunakan bahan baku lokal, tidak memakai bahan kimia, dan mempertahankan proses fermentasi basah. (Yoga)
Pertamina Perpanjang Kontrak di Aljazair
Anak usaha PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Algeria EP, berhasil memperpanjang kontrak pengelolaan lapangan minyak di Menzel Ledjmat Nord (MLN), Blok 405, Aljazair, yang dikelola sejak 2012. Menurut Dirut Pertamina Nicke Widyawati, Jumat (16/6/) investasi untuk pengeboran sumur pengembangan di Blok 405 sekitar 800 juta dollar AS atau Rp 12 triliun. Perkiraan migas yang bisa diproduksi sebanyak 150 juta barel setara minyak. ”Komitmen kami untuk jangka panjang akan menegaskan kembali jejak Pertamina di kancah global,” ucapnya. (Yoga)
Permintaan Pulih, Surplus Makin Keci
Era booming atau lonjakan harga sejumlah komoditas unggulan Indonesia mulai berakhir. Kontribusi minyak kelapa sawit (CPO), batubara, dan besi baja terhadap total ekspor tidak dominan lagi. Surplus neraca perdagangan Indonesia semakin mengecil. BPS, Kamis (15/6) merilis, ekspor migas dan nonmigas pada Mei 2023 mencapai 21,72 miliar USD, naik 12,61 % secara bulanan. Impor migas dan nonmigas juga meningkat 38,65 % secara bulanan menjadi 21,28 miliar USD. Sehingga, neraca perdagangan Indonesia Mei 2023 surplus 436,5 juta USD, yang membuat Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan selama 37 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud mengatakan, surplus neraca perdagangan Mei 2023, terendah dalam 37 bulan terakhir, akibat penurunan harga sejumlah komoditas ekspor unggulan Indonesia, terutama batubara, CPO, dan besi baja. ”Kinerja ekspor menjadi ti dak optimal karena tertahan penurunan harga komoditas,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. BPS mencatat, pada Mei 2023, harga batubara turun 17,4 % secara bulanan menjadi 160,5 USD per ton dan harga besi baja turun 10,43 % secara bulanan menjadi 105,2 USD per ton. Hal itu menyebabkan nilai ekspor batubara turun 6,25 % menjadi 3 miliar USD dan besi baja turun 9,09 % menjadi 2 miliar USD. Harga CPO turun 7,08 % secara bulanan menjadi 934,1 USD per ton. (Yoga)
MINYAK SAWIT, Pencarian Alternatif PasarButuh Upaya Berkelanjutan
Pencarian alternatif pasar baru dan penguatan pasar domestik untuk menggeser ekspor minyak sawit mentah dan produk turunannya dari Uni Eropa (UE) butuh upaya panjang dan berkelanjutan. UU UE tentang Deforestasi (EUDR) dinilai menjadi hambatan dagang bagi Indonesia ke kawasan itu. Aturan ini menyasar minyak sawit dan produk turunannya, arang, kopi, kedelai, kakao, daging sapi, dan kayu. Eksportir harus menyerahkan dokumen uji tuntas dan verifikasi yang menjamin produk-produknya tidak berasal dari kawasan hasil penggundulan hutan mulai 1 Januari 2021 dan seterusnya. Merujuk data BPS, volume ekspor CPO dan produk turunannya naik dari 34,5 juta ton pada 2021 menjadi 35,52 juta ton pada 2022.
Nilai ekspor CPO dan produk turunannya juga naik dari 37,22 miliar USD atau Rp 554,69 triliun pada 2021 menjadi 41,32 miliar USD atau Rp 615,79 triliun pada 2022. Namun, Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan menyebutkan, volume ekspor CPO dan produk turunannya, secara spesifik ke Uni Eropa, turun dari 5,5 juta ton pada 2021 jadi 3,75 juta ton pada 2022. ”Ini dipengaruhi hambatan dagang yang diterapkan UE,” ujarnya pada diskusi, Rabu (14/6) di Jakarta. Hambatan dagang itu memaksa Indonesia untuk mencari pangsa pasar baru, antara lain negara-negara di kawasan Mediterania, Timur Tengah, Asia Selatan, dan Uni Ekonomi Eurasia. Ekspor CPO dan produk turunannya ke negara-negara tersebut dapat ditingkatkan lebih signifikan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









