Berita Utama
Kepercayaan Pebisnis rusak akibat Ketidakpastian Ekonomi
Kendati perang tarif AS dan China sedikit mereda, perekonomian global masih penuh ketidakpastian. Kondisi itu merusak kepercayaan pebisnis di kawasan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC). Hal itu menyebabkan banyak perusahaan menunda investasi dan peluncuran produk baru. Aktivitas perdagangan di 21 negara anggota APEC juga telah melambat signifikan. ”Saat ini kita tengah menyaksikan perdagangan global berada di lingkungan yang tidak kondusif. Kenaikan tarif dan tindakan balasan, penangguhan prosedur fasilitasi perdagangan, dan menjamurnya hambatan nontarif tengah terjadi,” kata Direktur Unit Dukungan Kebijakan (PSU) APEC Carlos Kuriyama di Jeju, Korea Selatan, Kamis (15/5). Kuriyama menyampaikan hal itu kala meluncurkan laporan Analisis Tren Kawasan APEC edisi Mei 2025.
Laporan tersebut mengawali Pertemuan Para Menteri yang Mengampu Sektor Perdagangan (MRT) APEC yang digelar di Jeju pada 15-16 Mei 2025. Dalam laporan itu, PSU APEC memperkirakan volume ekspor dan impor di kawasan APEC pada 2025 hanya tumbuh 0,4 % dan 0,1 %, turun tajam dibanding pertumbuhan volume ekspor dan impor pada 2024, di 5,7 % dan 4,3 %. Ekonomi kawasan APEC juga diproyeksikan tumbuh 2,6 % pada 2025 dan 2,7 % pada 2026, turun tajam dari pertumbuhan ekonomi pada 2024, di 3,6 %. Pasar keuangan global juga telah bereaksi terhadap ketidakpastian ekonomi tersebut. Indeks Volatilitas Global pada April 2025 melonjak menjadi 52 atau lebih dari tiga kali lipat rerata indeks pada 2023-2024. ”Sementara harga emas dunia melonjak hingga 3.200 per troy ons pada awal Mei 2025 karena investor beralih ke aset investasi safe haven,” katanya. (Yoga)
Kualitas Data Ekspor-Impor ditingkatkan oleh BPS
BPS mengubah jadwal rilis data perkembangan ekspor dan impor April 2025 yang semula dijadwalkan pada Kamis (15/5) seiring perubahan kebijakan penyajian data yang akan dirilis dalam bentuk angka final pada awal bulan berikutnya. Dalam keterangan resminya, Biro Humas dan Hukum BPS menyampaikan bahwa perubahan jadwal rilis ini dilakukan demi peningkatan kualitas data. Jadwal publikasi rutin angka sementara perkembangan ekspor-impor yang sebelumnya dirilis setiap pertengahan bulan kini digeser ke awal bulan berikutnya pada saat data telah menunjukkan angka tetap. ”Dalam rangka meningkatkan kualitas data, BPS akan merilis angka tetap perkembangan ekspor-impor di setiap awal bulan. Data ekspor-impor kini akan diumumkan bersamaan dengan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi,” demikian pernyataan resmi yang diterbitkan pada Kamis pagi.
Kebijakan ini menuai sorotan sejumlah pihak, terutama pelaku pasar dan pengamat ekonomi, yang menilai langkah itu berisiko memperburuk citra Indonesia dalam hal transparansi data perdagangan. Dalam laporan Trade Barrier Index 2025, Indonesia tercatat sebagai negara dengan hambatan perdagangan tertinggi di dunia, menempati peringkat terakhir dari 122 negara. Indikator yang menjadi sorotan adalah keterlambatan serta minimnya akses publik terhadap data perdagangan. Ekonom dari Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai, ”Ketika data disembunyikan atau ditunda tanpa alasan teknis yang meyakinkan, keraguan pasar akan berubah menjadi keyakinan bahwa ada yang sedang disembunyikan. Itu lebih merugikan daripada angka defisit,” ujarnya. (Yoga)
Prospek dan Tantangan Ekonomi Global 2024
Rilis Economic Outlook terbaru dari Organisasi untuk Kerja
Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 29 November 2023 menyatakan, proyeksi
ekonomi global 2024 diprediksi bakal melambat ke level pertumbuhan 2,7 %,
setelah pada 2023 diprognosis mencapai 2,9 %. OECD memperkirakan pertumbuhan
ekonomi global akan melandai pada 2024, juga risiko terjadinya hard landing
perekonomian global mereda meski tingkat utang masih tinggi dan ketidakpastian
suku bunga masih bertahan tinggi. Setelah melandai di 2024, pada 2025 ekonomi
dunia diprediksi tumbuh 3,0 %. Pertumbuhan di 38 negara anggota OECD
diperkirakan mengalami soft landing. AS diperkirakan bertahan lebih baik dengan
prediksi pertumbuhan melambat dari 2,4 % tahun ini menjadi 1,5 % di 2024. Proyeksi
ini naik dari 2,2 % pada 2023 dan 1,3 % pada 2024 dalam outlook edisi September
2023.
OECD memandang risiko resesi tidak hilang begitu saja,
karena lemahnya pasar perumahan, harga minyak yang tinggi, dan lesunya
penyaluran pinjaman. China, perekonomian terbesar di Asia, diperkirakan
melambat karena terus bergulat dengan gelembung real estat yang pecah dan
rendahnya pengeluaran konsumen menghadapi meningkatnya ketidakpastian prospek
ekonomi. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi China turun dari 5,2 % (2023)
menjadi 4,7 % (2024) meski naik tipis dari proyeksi September 2023 sebesar 5,1 %
dan 4,2 %. Dizona euro, pertumbuhan ekonomi diproyeksi meningkat dari 0,6 % (2023)
menjadi 0,9 % (2024) dan 1,1 % (2025) karena Jerman sebagai ekonomi terbesar di
Eropa mampu keluar dari resesi tahun ini. OECD memperingatkan, dampak dari
kenaikan suku bunga acuan masih belum pasti karena tingginya tingkat pembiayaan
bank di zona euro. Hal ini dapat membebani pertumbuhan yang eksesif dari yang
diekspektasikan
Perkiraan OECD lebih kompromis ketimbang perkiraan Bank Dunia
yang memproyeksikan pertumbuhan global melambat secara signifikan dari 3,1 %
pada 2022 menjadi 2,1 % tahun ini, sebelum mengalami pemulihan moderat pada
2024 menjadi 2,4 %. Perlambatan ini dipicu oleh kebijakan moneter yang terus
diperketat guna mengendalikan inflasi tinggi. Dana Moneter Internasional (IMF) juga
memberikan proyeksi pertumbuhan global lebih rendah, menurun dari 3,5 % (2022)
menjadi 3 % (2023) dan 2,9 % (2024), di bawah rata-rata historis 3,8 %
(2000-2019). Secara umum, meskipun prospek pertumbuhan negara-negara berbeda damembentuk
fragmentasi atau divergensi, hampir seluruhnya memiliki tekanan fiskal yang
sama dengan beban utang negara-negara maju (termasuk G7) dan negara-negara
berkembang diproyeksikan akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang. Inilah
yang menjadi concern IMF yang menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang
kredibel, berkelanjutan dan inklusif, disertai kolaborasi antarnegara dalam
memulihkan ekonomi dunia yang divergen. (Yoga)
Semua Berita
Koperasi Desa Siap Terlibat dalam Program Gentengisasi Nasional
Pemerintah Indonesia kini
mendorong implementasi program gentengisasi dengan memanfaatkan koperasi
desa sebagai pelaku utama produksi genteng. Program ini diluncurkan Presiden
Prabowo Subianto sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat,
Resik, Indah) dan difokuskan pada penggantian atap seng dengan genteng tanah
liat di seluruh wilayah Indonesia.
Pemerintah Dorong Koperasi
Desa Bangun Pabrik Genteng
Presiden Prabowo menyampaikan
bahwa koperasi desa, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) akan
didorong untuk membangun pabrik genteng di tingkat desa. Menurut pernyataan
tersebut, peralatan produksi genteng relatif sederhana dan bahan bakunya mudah
diperoleh dari tanah lokal, sehingga koperasi dapat menjadi ujung tombak
pelaksanaan program ini.
Program ini bertujuan tidak hanya
mengubah tampilan fisik atap rumah tetapi juga menggerakkan ekonomi desa dan
membuka peluang usaha baru sehingga koperasi desa tidak hanya menjadi lembaga
simpan pinjam, tetapi juga unit produksi genteng lokal.
Menteri Koperasi: Koperasi
Desa Bisa Produksi Genteng
Menteri Koperasi, Ferry
Juliantono, menegaskan bahwa produktion genteng bisa dijalankan oleh Koperasi
Desa Merah Putih dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di setiap
daerah, termasuk kemungkinan penggunaan limbah batu bara sebagai campuran untuk
meningkatkan kualitas genteng. Ferry menyatakan bahwa koperasi desa siap
memproduksi genteng sebagai bagian dari dukungan terhadap program gentengisasi.
Ia juga menambahkan bahwa
koperasi tidak harus memproduksi dari nol. Alternatif kolaborasi dengan perajin
genteng setempat yang telah memiliki pengalaman produksi juga dapat dilakukan
sebagai strategi awal produksi genteng di desa.
Gentengisasi Dipandang Sebagai
Motor Penggerak Ekonomi Desa
Berbagai pihak menganggap gentengisasi
bukan semata perubahan material atap rumah, tetapi juga motor penggerak ekonomi
di tingkat desa. Dengan memberikan peran produksi genteng kepada koperasi desa,
pemerintah berharap program ini dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat
lembaga ekonomi desa, dan memperluas kegiatan ekonomi lokal.
Untuk mencapai hal ini,
pemerintah sedang menyusun skema pendanaan kolaboratif yang melibatkan koperasi
desa, swasta, dan pemerintah pusat serta daerah agar program ini tidak
sepenuhnya bergantung pada anggaran negara.
Kelas Menengah dan Perekonomian Kita: Menyelaraskan Daya Beli dan Kepatuhan Fiskal
Kelas menengah memiliki peran sentral sebagai penggerak utama perekonomian nasional. Secara empiris, kelompok kelas menengah beserta kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class) merupakan penopang utama konsumsi masyarakat, menyumbang hingga 81,49% dari total pengeluaran nasional. Mengingat konsumsi rumah tangga sendiri berkontribusi dominan—mencapai 53,14% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Kuartal III—peran strategis kelompok ini sangat terukur. Meskipun demikian, rentetan data statistik terbaru menunjukkan adanya pergeseran demografi ekonomi yang mengindikasikan penurunan proporsi kelompok ini secara bertahap.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) merekam dinamika tersebut dengan jelas. Pada tahun 2019, jumlah kelas menengah di Indonesia tercatat sebanyak 57,33 juta orang. Angka ini mengalami tren penurunan menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Sebagian besar dari kelompok ini mengalami pergeseran ke desil pengeluaran yang lebih rendah, yakni kelompok menuju kelas menengah, yang jumlahnya meningkat dari 128,85 juta jiwa (2019) menjadi sekitar 142 juta jiwa. Pergeseran ini merupakan hasil dari dinamika makroekonomi global, proses pemulihan ekonomi jangka panjang, serta perubahan struktural pasar tenaga kerja di dalam negeri.
Posisi Struktural dan Kontribusi Terhadap Penerimaan Negara
Berdasarkan klasifikasi BPS yang merujuk pada standar Bank Dunia, kelas menengah di Indonesia didefinisikan sebagai kelompok dengan tingkat pengeluaran antara Rp2,04 juta hingga Rp9,9 juta per kapita per bulan. Secara struktural, kelompok ini berada pada posisi ekonomi yang spesifik.
Di satu sisi, rata-rata pendapatan mereka berada di atas ambang batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Hal ini menjadikan kelas menengah sebagai kontributor utama penerimaan negara, baik melalui instrumen Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 maupun Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang bersumber dari aktivitas konsumsi harian mereka. Di sisi lain, tingkat pengeluaran ini menempatkan mereka di luar kriteria penerima program perlindungan sosial atau bantuan pemerintah. Ketika terjadi fluktuasi ekonomi, seperti penyesuaian harga komoditas global, kelas menengah mengelola dampak finansial tersebut secara mandiri.
Tekanan Ganda pada Ketahanan Finansial
Penurunan proporsi kelas menengah saat ini dipengaruhi oleh tekanan ganda pada struktur keuangan rumah tangga. Pertama, dari sisi pengeluaran, terjadi eskalasi biaya hidup pada sektor-sektor esensial seperti perumahan, pendidikan, dan kesehatan. Kenaikan harga pada sektor jasa esensial ini sering kali mencatat persentase yang lebih tinggi dibandingkan angka inflasi umum (headline inflation) maupun rata-rata penyesuaian upah tahunan pekerja.
Kedua, dari sisi kewajiban finansial, tren suku bunga acuan yang relatif tinggi berdampak langsung pada biaya pinjaman. Kelas menengah, yang umumnya memanfaatkan fasilitas kredit perbankan seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau kredit kendaraan bermotor, menghadapi peningkatan beban tagihan bulanan. Kondisi ini secara akumulatif menggerus porsi pendapatan siap belanjakan (disposable income) mereka, yang tercermin dari tren penurunan rasio tabungan terhadap pendapatan (saving to income ratio) secara nasional.
Evaluasi Kebijakan Fiskal dan Kepatuhan Pajak
Pergeseran demografi kelas menengah ini memerlukan perhatian khusus dari perspektif kebijakan fiskal. Penurunan daya beli dan penyusutan jumlah kelas menengah memiliki korelasi langsung dengan potensi perlambatan penerimaan pajak, khususnya PPN dari sektor ritel dan PPh 21 seiring dinamika pasar tenaga kerja.
Oleh karena itu, menjaga ketahanan finansial kelas menengah merupakan langkah strategis untuk memastikan stabilitas penerimaan negara. Strategi ini dapat didukung melalui perumusan kebijakan fiskal yang berimbang, seperti evaluasi parameter PTKP secara berkala untuk menjaga rasio disposable income masyarakat, serta harmonisasi insentif pajak pada sektor perumahan. Kebijakan yang berfokus pada penguatan daya beli ini pada akhirnya akan mempertahankan tingkat kepatuhan pajak secara sukarela (voluntary compliance) dan menjaga kesinambungan struktur ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Realisasi Pajak Awal 2026 Tumbuh, Keberlanjutan Momentum Ekonomi Tetap Diuji
Jakarta – Dinamika perekonomian Indonesia pada awal tahun 2026 menunjukkan pergerakan pada beberapa indikator makroekonomi dan fiskal. Kinerja penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan, mencatatkan pertumbuhan pada periode ini. Data awal tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi sektor riil di tengah fluktuasi ekonomi global yang masih berlangsung.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan pada awal Februari 2026, realisasi penerimaan pajak mencatatkan pertumbuhan sebesar 30,8% secara tahunan (year-on-year). Kenaikan ini utamanya ditopang oleh peningkatan penerimaan bruto sebesar 7%, serta penurunan angka pengajuan restitusi pajak sebesar 23%.
Secara historis, penurunan pengajuan restitusi dapat diinterpretasikan sebagai salah satu indikator awal stabilnya arus kas dan profitabilitas di sektor usaha. Meski demikian, tren ini masih perlu diobservasi lebih lanjut pada kuartal-kuartal berikutnya untuk memastikan pemulihan kapasitas dunia usaha secara menyeluruh.
Pencapaian penerimaan di awal tahun ini memberikan basis data bagi pemerintah dalam mengelola postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Apabila realisasi penerimaan ini dapat dijaga konsistensinya, terdapat potensi tercapainya target penerimaan tahunan. Hal ini berpotensi memberikan ruang fiskal bagi pembiayaan program pembangunan dan perlindungan sosial, tanpa harus memperlebar defisit secara signifikan.
Kinerja penerimaan tersebut sejalan dengan target makroekonomi yang dicanangkan pemerintah. Saat ini, pemerintah memproyeksikan perekonomian Indonesia berpeluang mempertahankan fase ekspansi hingga tahun 2033, dengan asumsi pertumbuhan dapat didorong mendekati level 6% yang ditopang oleh konsumsi domestik. Tentu saja, pencapaian proyeksi ini sangat bergantung pada kemampuan mitigasi risiko terhadap ketidakpastian pasar global.
Pada sektor riil, likuiditas pasar dan penyaluran kredit perbankan diproyeksikan tumbuh di kisaran 8-10 persen tahun ini. Terkendalinya tingkat inflasi domestik juga tetap menjadi fokus utama otoritas fiskal dan moneter guna menjaga daya beli masyarakat, yang merupakan komponen krusial dalam mendorong aktivitas ekspansi dunia usaha.
Secara keseluruhan, rilis data ekonomi pada awal tahun ini memberikan sinyal awal mengenai daya tahan (resilience) perekonomian nasional. Realisasi kinerja fiskal dan makroekonomi pada bulan-bulan ke depan akan menjadi penentu utama dalam mengonfirmasi keberlanjutan momentum pertumbuhan tersebut.
Ambisi Indonesia Mengubah Bumbu Dapur Menjadi Bahan Baku Industri Dunia
JAKARTA –
Indonesia, negeri yang dikenal sebagai "Mother of Spices", tengah
bersiap melakukan lompatan besar dalam peta ekonomi global. Memiliki 275 dari
sekitar 500 spesies rempah dunia, Indonesia kini tidak lagi hanya ingin dikenal
sebagai pengekspor bahan mentah, melainkan sebagai pusat industri pengolahan
rempah yang bernilai tambah tinggi.
Pemerintah pada akhir 2025 telah menetapkan Peta Jalan
Hilirisasi Rempah 2025-2045. Langkah strategis ini bertujuan mengamankan nilai
tambah ekonomi di dalam negeri, dengan fokus pada enam komoditas utama: pala,
lada, cengkeh, kayu manis, vanili, dan temulawak. Transformasi ini dipicu oleh
tren gaya hidup sehat global yang menempatkan rempah bukan lagi sekadar bumbu
dapur, melainkan bahan baku esensial untuk industri farmasi, kosmetik, hingga
pangan fungsional.
Potensi Raksasa yang Terfragmentasi
Meski menduduki posisi puncak sebagai produsen
dunia—peringkat kedua untuk pala dan peringkat ketiga untuk lada dan
vanili—pangsa pasar ekspor rempah Indonesia di pasar global baru menyentuh
angka 2,7 persen. Rendahnya angka ini disinyalir akibat struktur industri yang
masih didominasi oleh petani skala kecil dan pelaku UMKM ( sebanyak 45 persen)
yang memiliki keterbatasan teknologi.
Selain itu, rantai pasok yang panjang dan ketergantungan
pada tengkulak membuat margin keuntungan petani seringkali tertekan. Hal ini
menjadi tantangan besar dalam upaya modernisasi industri dari hulu ke hilir.
Namun, titik terang mulai terlihat di sejumlah daerah sentra. Lampung kini
memasok 90 persen lada nasional, sementara Sumatera Barat menguasai 90 persen
pasar dunia dan menjadi pusat ekspor kayu manis.
Laju Positif Produk Olahan
Data menunjukkan fluktuasi tajam pada kinerja ekspor
rempah mentah. Menurut data UN Comtrade, nilai ekspor sempat melonjak ke angka
US$2 miliar pada 2024 setelah sempat turun pada tahun-tahun sebelumnya. Di
tengah fluktuasi harga komoditas global, ekspor bumbu dan rempah olahan justru
menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 17,29 persen pada periode
Januari-Mei 2024, mencapai nilai USD 422,7 juta.
Langkah hilirisasi terbukti memberikan margin yang jauh
lebih menguntungkan. Sebagai contoh, mengekspor pala dalam bentuk minyak atsiri
atau ekstrak murni jauh lebih bernilai dibanding menjual biji mentah. Hal ini
memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen bahan baku industri kelas dunia
yang mulai mengadopsi standar internasional.
Proyeksi Pasar 2029
Tunggak Pajak di Atas Rp100 Juta Kini Bisa Dibatasi atau Diblokir Akses Bisnis dan Ekspor-Impornya
Tunggak Pajak di Atas
Rp100 Juta Kini Bisa Dibatasi atau Diblokir
Akses Bisnis dan Ekspor-Impornya
JAKARTA – Pemerintah semakin memperketat
ruang gerak bagi para penunggak pajak di Indonesia. Melalui regulasi terbaru
yaitu Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-27/PJ/2025, otoritas fiskal
kini memiliki kewenangan penuh untuk mengajukan pembatasan atau pemblokiran
berbagai layanan publik strategis bagi wajib pajak yang membandel. Tidak
main-main, sanksi ini menyasar jantung operasional bisnis wajib pajak, mulai
dari legalitas badan hukum hingga jalur perdagangan internasional.
Langkah
ini diambil sebagai bentuk penguatan instrumen penagihan pajak aktif. Fokus
utamanya adalah memberikan tekanan kepada para Penanggung Pajak agar segera
melunasi kewajibannya, terutama bagi mereka yang selama ini memanfaatkan celah
prosedur untuk menunda pembayaran utang pajak.
Sasar
Akses Hukum dan Kepabeanan
Berdasarkan aturan baru itu, setidaknya ada
tiga area layanan publik utama yang bisa dibatasi atau diblokir total jika
seseorang memiliki tunggakan pajak:
1.
Sistem Administrasi
Badan Hukum (SABH): Penunggak pajak akan kehilangan
akses untuk mengurus legalitas perusahaan di kementerian terkait. Hal ini otomatis
membekukan berbagai keperluan administrasi korporasi.
2.
Akses Kepabeanan: Bagi perusahaan yang bergerak di bidang
perdagangan internasional, otoritas dapat menutup akses layanan ekspor maupun
impor. Tindakan ini diprediksi akan memberikan efek jera yang signifikan karena
berdampak langsung pada rantai pasok perusahaan.
3.
Layanan Administratif Lainnya: Pemerintah membuka
peluang perluasan pemblokiran pada jasa publik lain sesuai dengan kebutuhan
penagihan pajak di lapangan.
Kriteria Ketat: Utang Minimal Rp100 Juta
Pemerintah menegaskan
bahwa tindakan pembatasan atau pemblokiran iini tidak dilakukan secara sepihak.
Ada kriteria kumulatif yang harus dipenuhi sebelum sanksi dijatuhkan. Pertama,
wajib pajak harus memiliki utang pajak yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht)
dengan nilai minimal Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
Kedua, prosedur penagihan standar melalui Surat Paksa
harus sudah dilakukan sebelumnya. Artinya, pemblokiran adalah langkah lanjutan
jika teguran resmi tidak kunjung diindahkan. Namun, batas minimal Rp100 juta
ini bisa dikecualikan jika langkah tersebut diperlukan untuk mendukung eksekusi
sita aset berupa tanah atau bangunan.
Mekanisme Normalisasi Layanan
Bagi wajib pajak yang
terkena pemblokiran, akses layanan publik tidak hilang secara permanen. Layanan
dapat dibuka kembali atau dilakukan "normalisasi" melalui beberapa
jalur, di antaranya:
·
melunasi seluruh utang
pajak beserta biaya penagihan
·
adanya putusan
pengadilan yang menghapuskan utang pajak terkait
·
menyerahkan aset untuk
disita dengan nilai yang setara dengan utang
·
mendapatkan persetujuan
resmi untuk mengangsur pembayaran pajak.
Pedang
Bermata Dua bagi Dunia Usaha
Aturan pembatasan atau
pemblokiran terkait penagihan pajak ini dapat menjadi instrumen "daya
paksa" yang sangat kuat karena menyasar aspek operasional dan legalitas. Di satu sisi, langkah
ini efektif meningkatkan kepatuhan dan memastikan keadilan bagi wajib pajak
yang taat. Namun di sisi lain, akurasi data dari Direktorat Jenderal Pajak
menjadi hal yang krusial. Pemerintah dituntut untuk sangat teliti dalam
memverifikasi data utang pajak agar tidak terjadi salah blokir yang dapat
merugikan iklim usaha. Dengan penggunaan sistem elektronik antar instansi,
proses blokir maupun pembukaan akses kini diharapkan berjalan lebih cepat dan
transparan serta meminimalkan sengketa hukum di masa depan. (murs)
Perangi Kebocoran Pajak, Penerapan 'Split Payment' PPN Global Bisa Jadi Solusi
Perangi
Kebocoran Pajak, Penerapan 'Split Payment' PPN Global Bisa Jadi Solusi
JAKARTA –
Praktik pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang tidak disetorkan ke kas
negara oleh oknum pengusaha masih menjadi "penyakit" kronis dalam
sistem perpajakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Modus nakal ini
sering kali dipicu oleh celah waktu antara saat konsumen membayar pajak hingga
batas waktu penyetoran ke negara. Celah inilah yang dimanfaatkan oknum untuk
menggunakan uang pajak sebagai modal pribadi atau "uang panas", yang
pada akhirnya merugikan penerimaan negara secara signifikan.
Sebagai langkah
konkret untuk memitigasi risiko tersebut, kini muncul alternatif di beberapa
negara berupa penerapan mekanisme Split Payment. Metode ini diyakini
sebagai salah satu instrumen paling ampuh untuk memastikan bahwa setiap rupiah
pajak yang dibayar konsumen benar-benar sampai ke tangan negara, tanpa sempat
"mampir" ke kantong pribadi penjual.
Apa Itu Mekanisme Split Payment?
Konsep
dasar split payment adalah pemisahan otomatis dasar pengenaan dengan
pajaknya. Jika dalam transaksi biasa pembeli mengirim seluruh uang ke penjual,
dalam sistem ini pembayaran langsung dipecah menjadi dua jalur:
·
Nilai Dasar Barang:
Langsung masuk ke rekening operasional penjual.
·
Nilai
PPN: Otomatis dialihkan ke
rekening khusus PPN yang diawasi oleh otoritas pajak.
Dengan cara ini, penjual tidak lagi memiliki akses bebas
untuk menyalahgunakan dana pajak karena uang tersebut "dikunci" di
rekening khusus yang hanya bisa digunakan untuk membayar pajak kembali ke
negara atau ke pemasok lain.
Belajar dari Keberhasilan Polandia
Penerapan split payment di Polandia menjadi salah
satu bukti nyata kesuksesan model ini. Setelah mewajibkan split payment
pada sektor-sektor rawan seperti konstruksi, elektronik, dan bahan bakar,
mereka berhasil meningkatkan penerimaan PPN hingga 9% pada tahun pertama
implementasi. Keberhasilan ini membuat Polandia memperpanjang mandat sistem ini
hingga tahun 2028. Tidak hanya Polandia, negara lain seperti Italia, India,
hingga China juga telah menerapkan variasi sistem serupa untuk memerangi VAT Gap
atau selisih PPN yang hilang.
Manfaat bagi Pengusaha: Disiplin dan Keamanan
Meski terkesan ketat, mekanisme ini sebenarnya membawa
dampak positif bagi manajemen internal perusahaan. Para pelaku usaha dipaksa
untuk lebih disiplin dalam mengelola arus kas (cash flow) mereka. Pajak
tidak lagi bercampur dengan uang operasional, sehingga risiko kegagalan bayar
pajak di akhir masa dapat dihindari. Selain itu, bagi pembeli, sistem ini
memberikan jaminan keamanan bahwa mereka telah bertransaksi dengan benar sesuai
hukum, sehingga mengurangi risiko pemeriksaan pajak di kemudian hari.
Menakar
Tantangan di Indonesia
Indonesia
sebenarnya memiliki modal teknologi yang cukup siap untuk implementasi split
payment. Sistem e-Faktur yang sudah lama berjalan dan implementasi sistem
inti perpajakan (Core Tax) yang memungkinkan untuk diintegrasikan dengan
sistem perbankan nasional menjadi modal yang berharga. Namun, tantangan tetap
ada. Sektor UMKM dan daerah dengan konektivitas terbatas memerlukan perhatian
khusus agar tidak terhambat secara administratif. Berkaca dari penerapan di
negara lain, Indonesia dapat memulai dengan proyek percontohan (pilot
project) pada sektor-sektor besar yang rawan penyalahgunaan, seperti
perdagangan komoditas tambang (batu bara, CPO) dan proyek konstruksi
pemerintah.
Menuju
Transparansi Total
Ekspor Otomotif 2025 Tembus 518.000 Unit, Tantangan Struktural Membayangi
Pemerintah baru saja mengumumkan sejumlah kebijakan insentif pajak terkait sektor otomotif. Seperti penghentian keringanan pajak penjualan barang mewah, pajak pertambahan nilai dan bea masuk mobil listrik impor utuh. Perubahan kebijakan ini sejalan dengan mimpi untuk menjadikan Indonesia basis produksi otomotif, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor. Data menunjukkan, pada 2025 terdapat penurunan penjualan mobil di pasar domestik, sebaliknya terdapat peningkatan ekspor mobil.
Volume ekspor mobil utuh atau Completely Built Up (CBU) dari Indonesia mencatatkan rekor tertinggi baru sepanjang tahun 2025 dengan total pengapalan mencapai 518.000 unit. Capaian yang tumbuh hampir 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya ini mempertegas posisi Indonesia sebagai basis manufaktur strategis bagi pasar internasional.
Kendati demikian, di balik angka pertumbuhan yang impresif, industri otomotif nasional masih menghadapi pekerjaan rumah besar terkait aspek struktural, mulai dari tingginya biaya logistik, minimnya pendalaman teknologi, hingga tantangan regulasi hijau di negara tujuan ekspor.
Dominasi merek-merek besar, seperti Toyota, dalam arus ekspor membuktikan kepercayaan prinsipal global terhadap kapabilitas perakitan di Indonesia. Daya saing ini tidak lepas dari dukungan fiskal pemerintah, utamanya melalui fasilitas perpajakan untuk Kawasan Berikat dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Instrumen ini dinilai efektif menjaga efisiensi biaya produksi sehingga harga jual kendaraan rakitan Indonesia tetap kompetitif di pasar global.
Namun, efisiensi dari insentif fiskal tersebut kerap tergerus oleh tantangan operasional. Tingginya biaya logistik nasional dan kebutuhan investasi besar untuk adopsi teknologi baru masih menjadi hambatan. Selain itu, dukungan industri komponen lokal juga dinilai perlu dioptimalkan agar rantai pasok tidak terlalu bergantung pada impor bahan baku.
Jebakan Basis Perakitan
Selain aspek biaya, tantangan paling krusial terletak pada struktur industri yang masih didominasi aktivitas perakitan. Peningkatan volume ekspor belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan nilai tambah dan kemandirian teknologi.
Hingga kini, desain dan pengembangan teknologi inti umumnya masih dikendalikan penuh oleh prinsipal global. Kondisi ini memicu urgensi perlunya optimalisasi insentif pajak yang lebih spesifik seperti potongan pajak untuk kegiatan riset lokal. Hal ini diperlukan guna mendorong transisi industri dari sekadar basis produksi menjadi pusat inovasi.
Ironisnya, fasilitas super deduction tax untuk riset dan pengembangan (litbang) yang telah tersedia sejak 2021 belum dimanfaatkan secara optimal. Data Kementerian Keuangan menunjukkan partisipasi pelaku industri dalam skema insentif ini masih minim, mengindikasikan adanya kesenjangan antara kebijakan dan kesiapan industri dalam melakukan riset mandiri dengan memanfaatkan super deduction tax.
Riset dan pengembangan tidak hanya semata merupakan domain para principal pemegang merek, namun juga perlu dilakukan untuk mendorong kemandirian teknologi bagi industri komponen pendukung otomotif. Pelaku usaha nasional yang bergerak dibidang usaha komponen kendaraan perlu didorong untuk memanfaatkan super deduction tax. Sehingga mendukung ekosistem rantai pasok dalam negeri. Untuk itu, diperlukan langkah nyata dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Kementerian Investasi, Asosiasi Industri komponen otomotif serta pihak terkait lainnya, untuk memfasilitasi pelaku usaha memanfaatkan super deduction tax. Hambatan Non-Tarif dan Isu Lingkungan Di sisi eksternal, penetrasi pasar mancanegara kini diadang tantangan baru berupa regulasi lingkungan yang kian ketat serta hambatan perdagangan nontarif (non-tariff barriers). Negara negara tujuan ekspor mulai menerapkan standar emisi yang tinggi, yang menuntut produk otomotif Indonesia untuk segera beradaptasi.
Sinkronisasi kebijakan insentif masa depan, seperti kredit investasi hijau, dengan kesiapan manufaktur dalam mengadopsi teknologi rendah emisi menjadi mutlak diperlukan. Tanpa percepatan transisi ke teknologi ramah lingkungan, produk Indonesia berisiko kehilangan daya saing di pasar global yang semakin selektif.
Pada akhirnya pencapaian ekspor tahun 2025 seyogianya menjadi momentum, bukan sekadar angka statistik. Ke depan, konsistensi pertumbuhan volume ekspor harus dibarengi dengan pembenahan infrastruktur logistik dan penguatan rantai pasok. Sinergi antara kemudahan fiskal dari pemerintah dan efisiensi teknologi dari pelaku industri akan menjadi penentu apakah industri otomotif nasional mampu bertahan sebagai penggerak ekonomi utama di tengah dinamika global.
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Investasi di sektor kendaraan listrik melonjak tajam hingga 155 persen sepanjang tahun 2025. Di tengah gelontoran insentif fiskal yang masif, pemerintah perlu mulai memetakan potensi penerimaan negara dari ekosistem ini demi menjaga keseimbangan fiskal jangka panjang tanpa mematikan gairah industri.
Laju transisi energi di sektor transportasi Indonesia menunjukkan grafik yang menggembirakan. Berdasarkan data realisasi investasi tahun 2025, sektor kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) mencatatkan pertumbuhan investasi sebesar 155 persen dengan tingkat realisasi mencapai hampir 90 persen dari target nasional. Di sisi konsumsi, populasi kendaraan listrik yang kini menyentuh angka 330 ribu unit menjadi sinyal kuat bahwa pasar domestik mulai merespons pergeseran teknologi ini secara nyata.
Pencapaian ini patut mendapatkan apresiasi sebagai buah dari konsistensi kebijakan hilirisasi nikel dan intervensi stimulus fiskal yang agresif. Berbagai kemudahan, mulai dari PPN Ditanggung Pemerintah hingga pembebasan pajak barang mewah, dan pembebasa bea masuk, telah menjadi mesin utama penarik minat investor dan konsumen. Namun, kebijakan ini membawa konsekuensi pada hilangnya potensi penerimaan negara (tax expenditure) dalam jumlah yang signifikan. Saat ekosistem mulai terbentuk, tantangan berikutnya bagi otoritas fiskal adalah mulai memetakan potensi pajak dari rantai nilai yang muncul tanpa menghambat pertumbuhannya.
Optimalisasi pajak tidak harus berarti menekan penjualan unit kendaraan yang saat ini sedang dipacu. Contohnya, Pemerintah dapat mengoptimalkan potensi dari Pajak Pertambahan Nilai atas layanan pengisian daya dan pertukaran baterai yang akan tumbuh seiring peningkatan populasi kendaraan.
Di sisi hulu, pemerintah dapat mengoptimalkan penerimaan melalui mekanisme pajak karbon bagi proses produksi yang belum sepenuhnya menggunakan energi hijau. Selain itu, dalam jangka Panjang, sinkronisasi data konsumsi energi melalui sistem digital pada infrastruktur pengisian daya dapat menjadi basis penghitungan pajak jalan yang lebih adil di masa depan, menggantikan skema konvensional pajak bahan bakar minyak yang perlahan akan menyusut.
Untuk menjaga momentum ini, diperlukan strategi peralihan yang presisi dari era subsidi menuju kemandirian industri. Peta jalan insentif harus dirancang secara transparan dengan menentukan batas waktu yang jelas, sehingga pelaku usaha dapat melakukan perencanaan investasi jangka panjang dengan pasti. Pola insentif juga perlu digeser menjadi berbasis kinerja, di mana keringanan pajak diberikan berdasarkan realisasi investasi hulu atau pencapaian tingkat komponen dalam negeri yang lebih tinggi.
Keberhasilan elektrifikasi tahun 2025 adalah fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan industri otomotif dalam negeri. Namun, transisi ini bukan sekadar soal mengejar angka penjualan, melainkan membangun ekosistem yang sehat secara ekonomi dan berkelanjutan secara fiskal. Dengan memetakan potensi penerimaan baru sejak dini, pemerintah dapat memastikan bahwa revolusi hijau ini tidak hanya membersihkan udara, tetapi juga tetap mampu menopang pembiayaan pembangunan nasional secara mandiri dan kompetitif di kancah global.
Lubang di Balik Angka Manis Surplus Perdagangan
Indonesia mencatatkan surplus perdagangan yang gemuk sepanjang 2025. Namun, ketergantungan pada Tiongkok, Australia, dan Brasil menunjukkan rapuhnya struktur industri kita. Di tengah upaya pemerintah mengejar kedaulatan pangan dan hilirisasi, angka defisit ini menjadi rapor merah yang menuntut terobosan kebijakan, bukan sekadar janji.
Di atas kertas, neraca perdagangan Indonesia 2025 adalah sebuah pesta. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menyuguhkan angka yang sanggup membuat pengambil kebijakan bernapas lega, surplus USD 41,05 miliar. Namun data menunjukkan sebuah ironi. Di balik total angka hijau tersebut, kantong perdagangan kita justru bocor di tiga titik utama. Kita kalah bertarung dengan Tiongkok, Australia, dan Brasil. Defisit dengan ketiga negara ini bukan sekadar urusan kalah angka, melainkan cermin dari ketergantungan menahun yang belum sepenuhnya tuntas meski berbagai program penguatan domestik telah digulirkan.
Tiongkok tetap menjadi raksasa yang tak terelakkan. Dari negeri itu, mesin-mesin pabrik dan bahan baku penolong mengalir deras. Ini adalah paradoks industri kita, semakin kencang pabrik di Karawang atau Morowali berputar untuk mengekspor barang, semakin besar pula kita harus merogoh kocek untuk membeli "otak" dan komponen dari Beijing. Pemerintah sebenarnya telah mencoba membendung ini dengan kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Namun nyatanya, rantai pasok lokal kita masih tertatih mengejar spesifikasi teknologi Negeri Panda.
Cerita dari Australia dan Brasil memiliki kerumitan berbeda. Dari Australia, keluarnya devisa kita bukan karena kegagalan cetak sawah, melainkan karena ketergantungan abadi pada gandum, komoditas yang tak punya basis produksi di tanah air namun menjadi nyawa bagi industri mi instan dan roti kita. Di sini, program ketahanan pangan menghadapi tembok alam, kita mengonsumsi apa yang tidak bisa kita tanam. Sementara dari Brasil, aliran pakan ternak dan produk agrikultur lainnya terus mengalir, menunjukkan bahwa efisiensi produksi di seberang samudera masih jauh melampaui kemampuan industri hulu kita.
Agar surplus dapat berkelanjutan, pemerintah perlu berani mengambil langkah ekstrem. Pertama, kebijakan hilirisasi harus bergeser dari sekadar mengolah bahan mentah menjadi penguasaan teknologi komponen. Insentif pajak tidak boleh lagi diberikan secara borongan, melainkan dikunci khusus bagi investor yang mau membangun pabrik mesin hulu di Indonesia, guna memutus ketergantungan pada Tiongkok.
Kedua, menghadapi defisit gandum dari Australia, strateginya bukan lagi memaksakan tanam, melainkan diversifikasi pangan secara radikal. Pemerintah harus serius mendorong industri pengolahan tepung berbasis singkong atau sagu agar bisa mensubstitusi sebagian kebutuhan gandum. Tanpa insentif bagi industri yang mau beralih ke bahan baku lokal, kita akan terus menjadi "nasabah tetap" bagi petani Australia.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Menutup celah defisit ini bukan soal membarikade impor dengan birokrasi, melainkan memastikan program kedaulatan pangan dan industri benar-benar mematikan mesin impor di titik pangkalnya. Surplus memang layak dirayakan, tapi lubang-lubang dagang ini adalah sinyal bahwa kemandirian ekonomi kita masih harus diperjuangkan di setiap jengkal lantai pabrik dan piring makan rakyat.
Ironi Nikel: Kita Kasih Karpet Merah Pajak, Tapi Bahannya Impor dari Filipina?
Indonesia
merupakan salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Meskipun
demikian, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya peningkatan
volume impor bijih nikel (nickel ore) yang cukup signifikan dari Filipina dalam
beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan
catatan statistik, volume impor dari Filipina pada tahun 2023 berada di angka
374 ribu ton. Namun, angka tersebut mengalami peningkatan menjadi 10,18 juta
ton pada tahun 2024, dan diproyeksikan dapat mencapai 15 juta ton pada akhir
tahun 2025. Nilai transaksi impor ini diperkirakan mencapai US$ 600 juta atau
setara dengan Rp9,4 triliun. Fenomena ini bukan sekadar masalah logistik,
melainkan sinyal adanya lubang besar dalam strategi hilirisasi kita.
Apakah Pembangunan Smelter
terlalu banyak?
Pusat persoalannya ada di kawasan pengolahan
nikel yang berada di Morowali dan Weda Bay. Pertumbuhan smelter di kawasan ini
sangat agresif, namun tidak sebanding dengan ketersediaan bahan baku yang bisa
keluar dari mulut tambang. Berdasarkan data Asosiasi Penambang Nikel Indonesia
(APNI), saat ini terdapat 73 smelter nikel yang telah beroperasi di Indonesia.
Selain itu, sebanyak 73 smelter masih dalam tahap konstruksi, dan 17 smelter
lainnya berada dalam tahap perencanaan dengan estimasi total kebutuhan bijih
735,2 juta ton. Sementara itu, rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) nikel
yang disetujui untuk 2025 mencapai 364 juta ton, naik dari tahun 2024 sebanyak
319 juta ton.
Pemerintah belakangan mulai memperketat atau
membatasi kuota dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan
tambang demi menjaga umur cadangan nikel nasional. Akibatnya, terjadi supply
gap. Smelter raksasa yang mesinnya harus terus menyala 24 jam tidak punya
pilihan selain mengimpor dari Filipina. Kita membangun smelter yang terlalu
banyak, namun lupa memastikan apakah stok bahan baku di lokasi tambang bisa
diambil dengan cepat.
Efektifitas Insentif Pajak.
Di sinilah letak ketimpangannya. Industri
smelter nikel selama ini menikmati status Industri Pionir dengan fasilitas
perpajakan yang cukup banyak diantaranya:
a. Tax Holiday: Pembebasan
Pajak Penghasilan (PPh) Badan hingga 100% untuk jangka waktu 5 hingga 20 tahun.
b. Tax Allowance:
Pengurangan penghasilan neto sebesar 30% dari nilai investasi.
c. Pembebasan Bea Masuk:
untuk mesin dan barang untuk produksi khususnya di industri pionir.
Pertanyaannya: Apakah insentif ini masih
relevan? Fasilitas pajak tersebut awalnya diberikan untuk menarik investasi di
sektor yang dianggap berisiko tinggi. Namun, saat ini smelter nikel sudah
menjadi industri yang sangat mapan . Ketika negara merelakan potensi penerimaan
pajak yang seharunya dapat digunakan untuk kepentingan rakyat, namun smelter
tersebut malah mengimpor bahan baku dari luar negeri, maka nilai tambah ekonomi
yang diharapkan bagi publik menjadi tergerus. Uang negara melalui subsidi pajak
seolah-olah justru membiayai efisiensi perusahaan yang mendatangkan bahan baku
dari luar negeri ketimbang mengoptimalkan rantai pasok dalam negeri.
Kenaikan impor ini adalah alarm bagi kebijakan
hilirisasi kita. Pemerintah perlu melakukan audit ulang. Jika jumlah smelter
sudah melebihi kapasitas daya dukung cadangan nikel yang diizinkan dalam RKAB,
maka pemberian izin smelter baru serta pemberian tax holiday harus
dipertimbangkan untuk dilakukan evaluasi yang komprehensif.
Kita tidak boleh membiarkan hilirisasi hanya
menjadi sekadar angka investasi di atas kertas, sementara di lapangan kita
kehilangan kedaulatan bahan baku dan kehilangan potensi pajak secara bersamaan.
Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pengolah bijih nikel milik negara
tetangga dengan fasilitas gratis dari pajak rakyat kita sendiri. (Zain).
Investasi Triliunan Tapi Minim Laporan: Menakar Transparansi Raksasa Smelter di Indonesia
Kebijakan
hilirisasi nikel di Indonesia merupakan salah satu pilar strategis dalam upaya
peningkatan nilai tambah komoditas mentah menjadi produk industri. Untuk
mendukung kebijakan ini, pemerintah telah menyediakan berbagai fasilitas
penanaman modal, termasuk insentif fiskal seperti tax holiday. Namun,
efektivitas pengawasan terhadap realisasi investasi tersebut kini menjadi
sorotan menyusul temuan ketidakpatuhan administratif oleh sejumlah pelaku usaha
besar.
Data
Kepatuhan LKPM di Sektor ESDM
Dalam
Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Kementerian Investasi/Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM) dengan Komisi XII DPR RI, terungkap adanya kendala dalam
pelaporan data investasi. Berdasarkan data yang dipaparkan, tercatat sebanyak 9
dari 19 perusahaan di sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum
menyerahkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM).
Salah
satu entitas yang disebutkan dalam pembahasan tersebut adalah PT Indonesia
Tsingshan Stainless Steel (ITSS), yang beroperasi di Kawasan Industri Morowali
(IMIP). Ketidakhadiran laporan berkala ini menjadi perhatian serius mengingat
LKPM merupakan instrumen utama pemerintah dalam memantau perkembangan investasi
di lapangan.
Signifikansi LKPM dalam Pengawasan Nasional
Secara regulasi, LKPM berfungsi sebagai basis
data bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap beberapa parameter
kunci:
a. Realisasi Investasi
memastikan jumlah modal yang ditanamkan sesuai dengan komitmen awal.
b. Penyerapan Tenaga Kerja
Memantau distribusi lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal.
c. Kemitraan Daerah:
Mengukur sejauh mana keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok
industri.
d. Kepatuhan Standar
Operasional: termasuk di dalamnya aspek keselamatan kerja dan dampak
lingkungan.
Kekosongan
data akibat absennya pelaporan berisiko menghambat pemerintah dalam menyusun
kebijakan berbasis data (evidence-based policy) serta melemahkan fungsi
pengawasan terhadap industri strategis.
Evaluasi
Fasilitas Fiskal dan Akuntabilitas
Pemberian
insentif pajak dan kemudahan bea masuk didasarkan pada asumsi bahwa investasi
tersebut akan memberikan dampak pengganda (multiplier effect) terhadap
ekonomi nasional. Oleh karena itu, kepatuhan administratif menjadi syarat
mutlak bagi penerima fasilitas.
Apabila
perusahaan tidak memenuhi kewajiban pelaporannya, validasi atas kelayakan
pemberian insentif triliunan rupiah tersebut menjadi sulit dilakukan. Hal ini
memicu diskusi mengenai perlunya mekanisme evaluasi yang lebih ketat terhadap
perusahaan yang telah mendapatkan fasilitas negara namun belum memenuhi standar
transparansi yang ditetapkan.
Strategi Penguatan Tata Kelola
Untuk
meningkatkan kepatuhan investor dan memastikan kedaulatan data ekonomi, terdapat
beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan oleh otoritas terkait
seperti : sinkronisasi sistem perizinan, audit kepatuhan insentif, penerapan
sanksi secara bertahap dan tegas serta optimalisasi pengawasan lapangan.
Keberhasilan
program hilirisasi tidak hanya diukur dari besarnya angka investasi yang masuk,
tetapi juga dari aspek kepatuhan dan kontribusi nyata terhadap negara.
Transparansi pelaporan melalui LKPM merupakan instrumen krusial untuk
memastikan bahwa investasi yang masuk berjalan selaras dengan kepentingan
ekonomi nasional dan aturan hukum yang berlaku di Indonesia. (Zain)
Gentengisasi: Misi Ganda Mempercantik Wajah Indonesia dan Menggerakkan Roda Ekonomi Nasional
JAKARTA – Program "Gentengisasi" yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar proyek perbaikan estetika hunian semata. Di balik rencana penggantian atap seng menjadi genteng tanah liat secara massal ini, tersimpan strategi ekonomi makro yang dirancang untuk menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi industri daerah hingga potensi peningkatan pendapatan negara dari sektor perpajakan.
Langkah ini diambil pemerintah sebagai respons atas kondisi permukiman di berbagai wilayah yang masih didominasi atap seng. Presiden Prabowo menilai penggunaan material tersebut sudah tidak relevan dengan visi Indonesia modern karena selain membuat suhu ruangan panas, atap seng yang mudah berkarat memberikan kesan kumuh. Melalui program ini, pemerintah ingin memastikan rakyat mendapatkan hunian yang lebih sejuk dan layak, sekaligus mengubah wajah kota-kota di Indonesia menjadi lebih asri.
Stimulus Ekonomi dan Potensi Pajak
Dari kacamata ekonomi, proyek gentengisasi diproyeksikan menjadi angin segar bagi geliat ekonomi kerakyatan. Legislator Jawa Timur dan kalangan industri optimistis program ini akan mendongkrak ekonomi desa, khususnya di sentra-sentra produksi genteng seperti Jatiwangi dan wilayah lainnya.
Mekanismenya bekerja melalui lonjakan permintaan bahan baku. Ketika proyek ini berjalan, industri genteng rakyat dan pabrikan keramik nasional akan dipacu untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meyakini hal ini membuka peluang besar bagi industri dalam negeri untuk melakukan ekspansi.
Selain itu, pelibatan Koperasi Merah Putih dalam rantai pasok produksi dan distribusi genteng diharapkan dapat memformalkan ekonomi desa yang selama ini tak tersentuh pajak, mengubahnya menjadi aktivitas ekonomi produktif yang berkontribusi pada pendapatan daerah maupun negara.
Efisiensi Anggaran untuk Dampak Maksimal
Terkait pendanaan, pemerintah memastikan tidak akan membebani APBN secara berlebihan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa alokasi dana untuk program ini diperkirakan tidak sampai menembus angka Rp 1 triliun.
Pemerintah berencana menggunakan pos anggaran cadangan atau melakukan realokasi dari pos lain yang memungkinkan efisiensi, salah satunya dari pos Makan Bergizi Gratis (MBG). Skema pembiayaan ini dinilai realistis mengingat program ini tidak menyasar seluruh rumah, melainkan difokuskan pada hunian yang masih menggunakan atap seng di kantong-kantong permukiman padat.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menambahkan bahwa gentengisasi akan diintegrasikan dengan program penataan kawasan agar dampaknya lebih holistik. Dengan demikian, program ini menawarkan solusi lengkap: rakyat mendapatkan rumah yang nyaman, industri lokal tumbuh subur, dan negara mendapatkan manfaat fiskal dari perputaran ekonomi yang tercipta.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023
Kategori
- Sosial, Budaya, dan Demografi 10113
- Ekonomi 40478
- Hukum 152
- Lingkungan Hidup 5784
- Politik dan Birokrasi 6600
- Teknologi 1194