Berita Utama
Kepercayaan Pebisnis rusak akibat Ketidakpastian Ekonomi
Kendati perang tarif AS dan China sedikit mereda, perekonomian global masih penuh ketidakpastian. Kondisi itu merusak kepercayaan pebisnis di kawasan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC). Hal itu menyebabkan banyak perusahaan menunda investasi dan peluncuran produk baru. Aktivitas perdagangan di 21 negara anggota APEC juga telah melambat signifikan. ”Saat ini kita tengah menyaksikan perdagangan global berada di lingkungan yang tidak kondusif. Kenaikan tarif dan tindakan balasan, penangguhan prosedur fasilitasi perdagangan, dan menjamurnya hambatan nontarif tengah terjadi,” kata Direktur Unit Dukungan Kebijakan (PSU) APEC Carlos Kuriyama di Jeju, Korea Selatan, Kamis (15/5). Kuriyama menyampaikan hal itu kala meluncurkan laporan Analisis Tren Kawasan APEC edisi Mei 2025.
Laporan tersebut mengawali Pertemuan Para Menteri yang Mengampu Sektor Perdagangan (MRT) APEC yang digelar di Jeju pada 15-16 Mei 2025. Dalam laporan itu, PSU APEC memperkirakan volume ekspor dan impor di kawasan APEC pada 2025 hanya tumbuh 0,4 % dan 0,1 %, turun tajam dibanding pertumbuhan volume ekspor dan impor pada 2024, di 5,7 % dan 4,3 %. Ekonomi kawasan APEC juga diproyeksikan tumbuh 2,6 % pada 2025 dan 2,7 % pada 2026, turun tajam dari pertumbuhan ekonomi pada 2024, di 3,6 %. Pasar keuangan global juga telah bereaksi terhadap ketidakpastian ekonomi tersebut. Indeks Volatilitas Global pada April 2025 melonjak menjadi 52 atau lebih dari tiga kali lipat rerata indeks pada 2023-2024. ”Sementara harga emas dunia melonjak hingga 3.200 per troy ons pada awal Mei 2025 karena investor beralih ke aset investasi safe haven,” katanya. (Yoga)
Kualitas Data Ekspor-Impor ditingkatkan oleh BPS
BPS mengubah jadwal rilis data perkembangan ekspor dan impor April 2025 yang semula dijadwalkan pada Kamis (15/5) seiring perubahan kebijakan penyajian data yang akan dirilis dalam bentuk angka final pada awal bulan berikutnya. Dalam keterangan resminya, Biro Humas dan Hukum BPS menyampaikan bahwa perubahan jadwal rilis ini dilakukan demi peningkatan kualitas data. Jadwal publikasi rutin angka sementara perkembangan ekspor-impor yang sebelumnya dirilis setiap pertengahan bulan kini digeser ke awal bulan berikutnya pada saat data telah menunjukkan angka tetap. ”Dalam rangka meningkatkan kualitas data, BPS akan merilis angka tetap perkembangan ekspor-impor di setiap awal bulan. Data ekspor-impor kini akan diumumkan bersamaan dengan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi,” demikian pernyataan resmi yang diterbitkan pada Kamis pagi.
Kebijakan ini menuai sorotan sejumlah pihak, terutama pelaku pasar dan pengamat ekonomi, yang menilai langkah itu berisiko memperburuk citra Indonesia dalam hal transparansi data perdagangan. Dalam laporan Trade Barrier Index 2025, Indonesia tercatat sebagai negara dengan hambatan perdagangan tertinggi di dunia, menempati peringkat terakhir dari 122 negara. Indikator yang menjadi sorotan adalah keterlambatan serta minimnya akses publik terhadap data perdagangan. Ekonom dari Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai, ”Ketika data disembunyikan atau ditunda tanpa alasan teknis yang meyakinkan, keraguan pasar akan berubah menjadi keyakinan bahwa ada yang sedang disembunyikan. Itu lebih merugikan daripada angka defisit,” ujarnya. (Yoga)
Prospek dan Tantangan Ekonomi Global 2024
Rilis Economic Outlook terbaru dari Organisasi untuk Kerja
Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 29 November 2023 menyatakan, proyeksi
ekonomi global 2024 diprediksi bakal melambat ke level pertumbuhan 2,7 %,
setelah pada 2023 diprognosis mencapai 2,9 %. OECD memperkirakan pertumbuhan
ekonomi global akan melandai pada 2024, juga risiko terjadinya hard landing
perekonomian global mereda meski tingkat utang masih tinggi dan ketidakpastian
suku bunga masih bertahan tinggi. Setelah melandai di 2024, pada 2025 ekonomi
dunia diprediksi tumbuh 3,0 %. Pertumbuhan di 38 negara anggota OECD
diperkirakan mengalami soft landing. AS diperkirakan bertahan lebih baik dengan
prediksi pertumbuhan melambat dari 2,4 % tahun ini menjadi 1,5 % di 2024. Proyeksi
ini naik dari 2,2 % pada 2023 dan 1,3 % pada 2024 dalam outlook edisi September
2023.
OECD memandang risiko resesi tidak hilang begitu saja,
karena lemahnya pasar perumahan, harga minyak yang tinggi, dan lesunya
penyaluran pinjaman. China, perekonomian terbesar di Asia, diperkirakan
melambat karena terus bergulat dengan gelembung real estat yang pecah dan
rendahnya pengeluaran konsumen menghadapi meningkatnya ketidakpastian prospek
ekonomi. OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi China turun dari 5,2 % (2023)
menjadi 4,7 % (2024) meski naik tipis dari proyeksi September 2023 sebesar 5,1 %
dan 4,2 %. Dizona euro, pertumbuhan ekonomi diproyeksi meningkat dari 0,6 % (2023)
menjadi 0,9 % (2024) dan 1,1 % (2025) karena Jerman sebagai ekonomi terbesar di
Eropa mampu keluar dari resesi tahun ini. OECD memperingatkan, dampak dari
kenaikan suku bunga acuan masih belum pasti karena tingginya tingkat pembiayaan
bank di zona euro. Hal ini dapat membebani pertumbuhan yang eksesif dari yang
diekspektasikan
Perkiraan OECD lebih kompromis ketimbang perkiraan Bank Dunia
yang memproyeksikan pertumbuhan global melambat secara signifikan dari 3,1 %
pada 2022 menjadi 2,1 % tahun ini, sebelum mengalami pemulihan moderat pada
2024 menjadi 2,4 %. Perlambatan ini dipicu oleh kebijakan moneter yang terus
diperketat guna mengendalikan inflasi tinggi. Dana Moneter Internasional (IMF) juga
memberikan proyeksi pertumbuhan global lebih rendah, menurun dari 3,5 % (2022)
menjadi 3 % (2023) dan 2,9 % (2024), di bawah rata-rata historis 3,8 %
(2000-2019). Secara umum, meskipun prospek pertumbuhan negara-negara berbeda damembentuk
fragmentasi atau divergensi, hampir seluruhnya memiliki tekanan fiskal yang
sama dengan beban utang negara-negara maju (termasuk G7) dan negara-negara
berkembang diproyeksikan akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang. Inilah
yang menjadi concern IMF yang menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang
kredibel, berkelanjutan dan inklusif, disertai kolaborasi antarnegara dalam
memulihkan ekonomi dunia yang divergen. (Yoga)
Semua Berita
SEFAS Group Ambil Alih 100% Bisnis SPBU Shell di Indonesia
Jakarta – Bisnis Stasiun Pengisian Bahan Bakar
Umum (SPBU) Shell di Indonesia memasuki babak baru. SEFAS Group menyepakati
rencana akuisisi 100% kepemilikan bisnis SPBU Shell di Indonesia, setelah
sebelumnya proses pengalihan bisnis tersebut direncanakan melibatkan perusahaan
patungan antara SEFAS Group dan Citadel Pacific Limited.
Berdasarkan
perkembangan terbaru pada Rabu, 19 Agustus 2026, SEFAS akan melanjutkan proses
pengambilalihan kepemilikan penuh atas bisnis SPBU tersebut. Penyelesaian
transaksi ditargetkan berlangsung pada tahun ini, dengan tetap bergantung pada
persetujuan regulator serta pemenuhan persyaratan transaksi lainnya.
CEO
SEFAS Group Ricky Roesli mengatakan langkah tersebut menjadi kelanjutan
pengembangan bisnis perusahaan yang selama ini telah lama bermitra dengan
Shell, khususnya sebagai distributor pelumas Shell di Indonesia.
“Sebagai
distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia, SEFAS bangga dapat mengambil
langkah bisnis berikutnya,” kata Ricky dalam keterangan perusahaan, Rabu
(19/8/2026).
Menurut
Ricky, kepemilikan lokal diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan bisnis
ritel energi SEFAS ke depan. Perusahaan menargetkan pembangunan bisnis ritel
energi yang tepercaya dan berkelanjutan sekaligus mendukung kebutuhan energi
dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selama proses pengalihan, SEFAS juga
memprioritaskan kelancaran transisi serta keberlangsungan kegiatan operasional
secara aman dan andal.
Presiden
Direktur Shell Indonesia Andri Pratiwa menilai SEFAS bukan merupakan mitra baru
bagi Shell. Hubungan bisnis kedua perusahaan telah berlangsung lama, sementara
SEFAS dinilai memiliki pemahaman terhadap pasar Indonesia, kebutuhan konsumen,
serta jaringan lokal yang dapat mendukung pengembangan bisnis selanjutnya.
Berubah
dari Rencana Awal Bersama Citadel Pacific
Akuisisi
penuh oleh SEFAS menjadi perkembangan baru dari rencana pengalihan bisnis SPBU
Shell yang pertama kali diumumkan pada 23 Mei 2025.
Ketika
itu, Shell Indonesia menyatakan calon pembeli bisnis SPBU adalah perusahaan
patungan baru yang dibentuk oleh Citadel Pacific Limited dan SEFAS Group.
Rencana tersebut mencakup jaringan SPBU Shell beserta kegiatan pasokan dan
distribusi BBM, sedangkan bisnis pelumas Shell tidak termasuk dalam transaksi.
Bahkan
hingga Februari 2026, Shell masih menyatakan proses pengalihan kepemilikan
kepada Citadel Pacific dan SEFAS sedang dalam penyelesaian. Shell ketika itu
menyebut seluruh pihak tetap berkomitmen terhadap transaksi dan menargetkan
prosesnya selesai pada 2026, dengan tetap menunggu berbagai persetujuan sesuai
ketentuan di Indonesia.
Namun,
perkembangan terbaru pada Agustus 2026 menunjukkan struktur transaksi berubah
menjadi akuisisi 100% oleh SEFAS Group. Sampai saat ini belum terdapat
penjelasan publik yang terperinci mengenai perubahan posisi Citadel Pacific
Limited dari struktur transaksi yang sebelumnya diumumkan.
Sekitar
200 SPBU dan Terminal BBM
Bisnis
yang dialihkan Shell bukan merupakan jaringan yang kecil. Berdasarkan
keterangan resmi Shell ketika mengumumkan transaksi pada 2025, bisnis SPBU
perusahaan di Indonesia mencakup sekitar 200 lokasi, dengan lebih dari 160
SPBU dimiliki langsung oleh perusahaan. Shell juga memiliki terminal BBM di
Gresik, Jawa Timur.
Citadel
Pacific sebelumnya dipilih sebagai salah satu mitra transaksi karena telah
memiliki pengalaman mengelola bisnis dengan lisensi merek Shell di sejumlah
wilayah Asia Pasifik, termasuk Guam, Saipan, Palau, Makau, dan Hong Kong.
Sementara SEFAS memiliki hubungan panjang dengan Shell dari sisi distribusi
pelumas di Indonesia.
SEFAS
sendiri berawal dari PT Sefas Pelindotama yang berdiri pada 1997 sebagai
distributor resmi pelumas Shell Indonesia. Bisnisnya kemudian berkembang dari
Balikpapan ke sejumlah kawasan industri dan pertambangan di Kalimantan serta
wilayah lain di Indonesia. Grup tersebut kini memiliki sejumlah entitas yang
bergerak dalam distribusi pelumas, produk kelautan, coolant, hingga penyediaan
solar untuk industri.
Merek
Shell Tidak Hilang dari Indonesia
Pengalihan
kepemilikan SPBU tidak berarti merek Shell akan menghilang dari Indonesia.
SEFAS
menyatakan merek Shell tetap akan digunakan pada jaringan SPBU setelah
pengalihan karena perusahaan memperoleh hak penggunaan merek melalui mekanisme
lisensi. Dengan demikian, perubahan terutama terjadi pada kepemilikan dan
pengelolaan bisnis ritel, sementara identitas Shell tetap dipertahankan pada
jaringan SPBU.
Skema
tersebut sejak awal telah menjadi bagian dari rencana divestasi Shell. Dalam
pengumuman pada 2025, Shell menyatakan mereknya akan tetap berada di Indonesia
melalui perjanjian lisensi, sementara produk BBM tetap disediakan melalui
Shell.
Adapun
bisnis pelumas tidak masuk dalam pengalihan bisnis SPBU. Shell sebelumnya
menegaskan Indonesia masih menjadi salah satu pasar pertumbuhan utama untuk
bisnis pelumas. Perusahaan memiliki fasilitas produksi pelumas berkapasitas
hingga 300 juta liter per tahun dan telah mengembangkan fasilitas manufaktur
gemuk di Marunda.
Dengan
demikian, transaksi tersebut lebih tepat dipandang sebagai perubahan model
kehadiran Shell di bisnis ritel BBM Indonesia, bukan keluarnya merek Shell
secara keseluruhan dari pasar Indonesia. Di satu sisi, kepemilikan dan
pengelolaan jaringan SPBU beralih kepada perusahaan lokal, SEFAS Group. Di sisi
lain, merek Shell tetap dipertahankan melalui skema lisensi.
Nilai
transaksi pengambilalihan bisnis SPBU tersebut sejauh ini belum diumumkan
kepada publik.
Industri Tekstil Mulai Pulih, Ekspor Tembus US$4,85 Miliar dan Investasi Naik
Jakarta – Industri tekstil
dan produk tekstil (TPT) nasional menunjukkan tanda-tanda pemulihan sepanjang
2026. Selain mencatat pertumbuhan produksi yang lebih tinggi dibandingkan
perekonomian nasional, investasi di sektor ini meningkat dan kinerja ekspor
tetap membukukan surplus. Namun, derasnya pertumbuhan impor masih menjadi
tantangan bagi industri tekstil dalam negeri.
Menteri Perindustrian Agus
Gumiwang Kartasasmita menilai industri tekstil dan pakaian jadi masih memiliki
ruang pertumbuhan yang besar. Sektor padat karya tersebut saat ini menyerap
lebih dari 3,8 juta tenaga kerja dan tetap menjadi salah satu industri penting
bagi perekonomian nasional.
“Meski beberapa perusahaan
menghadapi tekanan, tetapi pada saat yang sama juga ada investasi baru dan
ekspansi usaha,” kata Agus dalam keterangannya, Selasa, 18 Agustus 2026.
Kementerian Perindustrian dalam
keterangan terbarunya menyebut nilai ekspor industri tekstil dan pakaian jadi
mencapai sekitar US$4,85 miliar pada Semester I 2026. Namun, data
perdagangan yang dipaparkan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) secara lebih
rinci mencatat angka US$4,85 miliar tersebut sebagai realisasi Januari–Mei
2026, meningkat 1,57 persen dibandingkan US$4,77 miliar pada periode yang
sama tahun lalu.
Di tengah pertumbuhan ekspor
tersebut, impor TPT justru meningkat lebih cepat. Nilainya naik dari US$3,41
miliar pada Januari–Mei 2025 menjadi US$3,58 miliar pada periode yang sama
tahun ini. Akibatnya, surplus perdagangan industri tekstil dan pakaian jadi
menyusut dari sekitar US$1,37 miliar menjadi US$1,27 miliar.
Kondisi tersebut menjadi
perhatian pelaku industri. API menilai pertumbuhan impor yang lebih tinggi
dibandingkan ekspor berpotensi menggerus daya saing produsen domestik apabila
tidak disertai penguatan pasar dalam negeri serta pengawasan terhadap impor ilegal
dan praktik perdagangan tidak sehat.
Pertumbuhan TPT Lampaui
Ekonomi Nasional
Pemulihan industri tekstil juga
terlihat dari pertumbuhan produksinya. Pada kuartal II 2026, industri tekstil
dan pakaian jadi tercatat tumbuh 6,36 persen secara tahunan, lebih
tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen dan
industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32 persen.
Laju tersebut juga lebih tinggi
dibandingkan pertumbuhan industri TPT sebesar 4,35 persen pada kuartal II 2025.
Dari kuartal sebelumnya, tren pertumbuhan juga menguat setelah sektor TPT
tumbuh sekitar 4,86 persen pada tiga bulan pertama 2026.
Wakil Ketua Umum API Ian Syarif
menilai pencapaian tersebut menunjukkan industri TPT masih memiliki daya tahan
dan kesempatan untuk berekspansi setelah mengalami tekanan dalam beberapa tahun
terakhir.
Optimisme pemerintah juga
ditopang oleh Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 yang berada pada
level 53,10. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas industri secara umum
masih berada pada fase ekspansi.
Investasi Capai Rp11,4 Triliun
Selain pertumbuhan produksi, arus
investasi ke industri TPT ikut meningkat. Sepanjang Semester I 2026, nilai
investasi industri tekstil dan pakaian jadi mencapai Rp11,40 triliun,
naik 11,85 persen dibandingkan Rp10,19 triliun pada periode yang sama tahun
sebelumnya.
Investasi pada subsektor tekstil
meningkat dari Rp6,05 triliun menjadi Rp6,78 triliun. Sementara investasi pada
industri pakaian jadi naik dari Rp4,14 triliun menjadi Rp4,62 triliun.
Investasi tersebut dinilai penting untuk menambah kapasitas produksi, melakukan
modernisasi mesin, meningkatkan efisiensi energi, dan menyesuaikan proses
produksi dengan standar keberlanjutan pasar global.
Masuknya modal baru juga mulai
berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Asosiasi Garment dan Textile
Indonesia (AGTI) mencatat enam perusahaan yang merealisasikan investasi pada
sejumlah proyek tekstil dan pakaian jadi di Jawa Tengah dan Jawa Barat sepanjang
2025 hingga Agustus 2026 memiliki nilai investasi yang diumumkan sekitar Rp2,7
triliun.
Proyek-proyek tersebut berpotensi
menciptakan sekitar 9.000 hingga 9.800 lapangan kerja baru. Di antaranya
pembangunan pabrik PT Xinhai Knitting Indonesia di Brebes yang diproyeksikan
menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja serta pengembangan kawasan manufaktur
tekstil terintegrasi di Subang yang diperkirakan menciptakan 3.000–3.800
pekerjaan.
Selain itu, beroperasinya kembali
fasilitas PT Wong Hang Bersaudara dan PT Akarsa Garment di Pemalang disebut
telah memulihkan sekitar 1.500 kesempatan kerja yang sebelumnya terdampak
penghentian operasional.
Pemerintah Dorong Modernisasi
dan Ekspor
Untuk menjaga momentum pemulihan,
pemerintah menjalankan sejumlah kebijakan mulai dari insentif investasi,
program restrukturisasi, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), pembiayaan ekspor
melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), hingga penguatan kebijakan
pengamanan perdagangan.
Pemerintah juga mendorong
percepatan implementasi Making Indonesia 4.0, modernisasi mesin dan teknologi,
peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penerapan Standar Industri
Hijau. Menurut Kemenperin, aspek keberlanjutan kini semakin menentukan kemampuan
produk tekstil Indonesia bersaing di pasar internasional karena pembeli global
tidak hanya menilai produk akhir, tetapi juga proses produksinya.
Peluang ekspor juga diharapkan
semakin terbuka melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional. Salah
satunya Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement
(IEU-CEPA), yang kesepakatan substansialnya telah diumumkan Indonesia dan Uni
Eropa pada September 2025. Kesepakatan tersebut membuka peluang penghapusan
atau penurunan tarif terhadap sebagian besar perdagangan barang kedua pihak dan
dipandang dapat memperluas akses produk Indonesia ke pasar Eropa.
API menilai akses pasar ke Uni
Eropa, Amerika Serikat, dan negara mitra lainnya perlu dimanfaatkan untuk
meningkatkan pesanan ekspor industri TPT. Namun, perluasan pasar ekspor tetap
perlu berjalan beriringan dengan penguatan pasar domestik.
Impor Masih Jadi Tantangan
Meski indikator pertumbuhan dan
investasi membaik, pemulihan industri tekstil nasional belum merata. Sejumlah
perusahaan masih menghadapi tekanan pasar, sementara pelaku industri menyoroti
biaya produksi, ketersediaan bahan baku, harga energi, produktivitas, akses
pembiayaan, serta persaingan dengan barang impor sebagai persoalan yang perlu
diselesaikan.
API juga mengingatkan bahwa
menyempitnya surplus perdagangan menunjukkan penguatan ekspor saja belum cukup.
Kenaikan impor dari US$3,41 miliar menjadi US$3,58 miliar pada Januari–Mei 2026
menunjukkan produsen dalam negeri masih menghadapi persaingan yang semakin
ketat di pasar domestik.
Karena itu, momentum pertumbuhan
2026 menjadi titik penting bagi industri TPT. Peningkatan produksi dan
investasi menunjukkan industri tekstil nasional masih memiliki daya tarik dan
potensi ekspansi, tetapi keberlanjutan pemulihannya akan sangat bergantung pada
kemampuan meningkatkan produktivitas, memperluas pasar ekspor, melakukan
modernisasi serta menjaga pasar domestik dari praktik perdagangan yang
merugikan industri dalam negeri.
Pemerintah Siapkan Insentif Pajak Panas Bumi, Bahlil Dorong Pengembang Percepat Proyek
Jakarta – Pemerintah menyiapkan insentif
perpajakan untuk mendorong investasi dan mempercepat pengembangan energi panas
bumi atau geothermal di Indonesia. Kebijakan tersebut akan dibarengi
dengan pembenahan regulasi menyusul masih besarnya potensi panas bumi nasional
yang belum dimanfaatkan.
Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia
memiliki potensi panas bumi sekitar 23.202,77 megawatt (MW). Namun, kapasitas
yang sudah terpasang baru mencapai sekitar 2.776,39 MW atau 11,6 persen dari
total potensi tersebut. Artinya, sekitar 88,4 persen sumber daya panas bumi
Indonesia masih belum tergarap.
Bahlil
menyebut besarnya sumber daya tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu
negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia. Namun dari sisi kapasitas
pembangkit yang telah beroperasi, Indonesia masih berada di posisi kedua secara
global. Kondisi itu membuat pemerintah mendorong percepatan investasi agar
besarnya potensi panas bumi dapat segera dikonversi menjadi sumber energi
produktif.
Salah
satu langkah yang disiapkan adalah pemberian insentif perpajakan kepada pelaku
usaha. Kebijakan tersebut muncul setelah pemerintah mengevaluasi keekonomian
proyek panas bumi serta masukan dari pelaku industri terkait harga listrik yang
dinilai belum cukup menarik untuk mendukung pengembangan proyek baru.
Bahlil
mengatakan nilai keekonomian listrik panas bumi saat ini berada di kisaran 9,5
sen dolar AS per kilowatt hour (kWh). Namun, menurutnya, pelaku industri masih
menilai tingkat tersebut belum memadai.
“Kita
akan memberikan terobosan dengan insentif pajak,” kata Bahlil dalam Indonesia
International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta,
Rabu (19/8/2026).
Pemerintah
belum merinci bentuk insentif perpajakan yang nantinya akan diberikan. Namun,
kebijakan tersebut disiapkan bersamaan dengan revisi Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 7 Tahun 2017 mengenai panas bumi serta Peraturan Presiden (Perpres) Nomor
112 Tahun 2022 mengenai percepatan pengembangan energi terbarukan untuk
penyediaan tenaga listrik.
Revisi
PP Nomor 7 Tahun 2017 antara lain diarahkan untuk memperbaiki pengaturan
pemanfaatan tidak langsung panas bumi dan meningkatkan tingkat pengembalian
investasi. Sementara itu, perubahan Perpres Nomor 112 Tahun 2022 ditujukan
untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan.
Langkah
tersebut melanjutkan agenda pemerintah untuk mengatasi berbagai hambatan
pengembangan panas bumi. Selain persoalan keekonomian, pemerintah menilai
panjangnya proses regulasi dan perizinan turut memengaruhi kecepatan realisasi
investasi.
Bahlil
mengatakan evaluasi pemerintah menunjukkan masih terdapat hambatan dalam aturan
meskipun sejumlah tahapan regulasi sebelumnya telah dipangkas. Karena itu,
percepatan proyek panas bumi dinilai membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat
antara pemerintah sebagai regulator dan pelaku usaha.
Di
sisi lain, pemerintah meminta kemudahan dan insentif yang diberikan kepada
industri diikuti dengan komitmen dari pemegang konsesi. Bahlil mengingatkan
perusahaan yang telah memperoleh konsesi panas bumi agar segera merealisasikan
proyek dan tidak menahan wilayah pengelolaan tanpa perkembangan yang jelas.
Menurut
pemerintah, keterlambatan pengembangan panas bumi tidak hanya bersumber dari
perizinan. Permohonan penghentian sementara serta perpanjangan izin secara
berulang dari pengembang juga menjadi perhatian, terutama apabila keterlambatan
disebabkan belum siapnya teknologi atau pembiayaan proyek.
Kejar
Posisi Nomor Satu Dunia
Pemerintah
menargetkan pengembangan panas bumi sebagai salah satu pilar untuk memperkuat
ketahanan dan swasembada energi nasional. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga
Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah mendorong Indonesia menjadi produsen
energi panas bumi terbesar dunia pada 2030.
Potensi
panas bumi nasional tersebar di berbagai wilayah. Sumatera memiliki potensi
sekitar 9.441 MW, disusul Jawa sekitar 7.588 MW, Sulawesi sekitar 3.006 MW,
serta Nusa Tenggara sekitar 1.273 MW. Sejumlah wilayah lain seperti Kalimantan,
Bali, Maluku dan Papua juga memiliki potensi yang dapat dikembangkan.
Pemerintah
juga mulai mempercepat proyek baru. Dalam IIGCE 2026, pemerintah menyerahkan
Izin Panas Bumi kepada PT PLN (Persero) untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP)
Gunung Ungaran dan kepada PT Telaga Rano Geothermal untuk WKP Telaga Ranu.
Selain itu, pemerintah menyiapkan penawaran lima WKP dan tujuh Wilayah
Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) sepanjang 2026.
Secara
keseluruhan, pipeline wilayah yang tengah disiapkan tersebut memiliki potensi
pengembangan sekitar 392 MW dengan rencana investasi sekitar US$2,23 miliar.
Lima WKP yang akan ditawarkan mencakup Danau Ranau, Hamiding, Songgoriti, Oka
Ile Ange dan Gunung Sirung.
Pengembangan
panas bumi ke depan juga tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan listrik.
Pemerintah mulai mendorong konsep beyond geothermal atau geothermal
economy, yakni pemanfaatan sumber daya panas bumi untuk aktivitas ekonomi
lain. Contohnya meliputi pemanfaatan panas bumi untuk pengeringan kopi di
Kamojang, pengolahan gula aren di Lahendong, hingga potensi ekstraksi mineral
seperti litium dan silika dari proyek panas bumi Dieng.
Dengan
pembenahan regulasi, pemberian insentif dan peningkatan keekonomian proyek,
pemerintah berharap investasi panas bumi dapat bergerak lebih cepat. Namun,
insentif tersebut sekaligus akan diikuti tuntutan kepada pengembang untuk
mempercepat realisasi investasi sehingga potensi panas bumi Indonesia tidak
hanya berhenti sebagai cadangan sumber daya, tetapi dapat berkontribusi nyata
terhadap pasokan energi dan perekonomian nasional.
Kartu Kredit Indonesia Resmi Hadir, Transaksi Kredit Kini Bisa Lewat QRIS
Jakarta — Indonesia
memasuki babak baru dalam pengembangan sistem pembayaran nasional. Bank
Indonesia (BI) bersama industri sistem pembayaran resmi meluncurkan Kartu
Kredit Indonesia (KKI) untuk segmen yang lebih luas pada 17 Agustus 2026,
bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik
Indonesia.
KKI merupakan instrumen
pembayaran berbasis kredit yang pemrosesan transaksinya dilakukan melalui
infrastruktur domestik. Seperti kartu kredit pada umumnya, pengguna memperoleh
fasilitas deferred payment atau penundaan pembayaran sehingga transaksi
dilakukan terlebih dahulu dan kewajibannya dibayar kemudian sesuai ketentuan
bank penerbit. Yang membedakan, KKI dirancang terintegrasi dengan ekosistem
sistem pembayaran nasional.
Pada tahap awal untuk segmen
ritel, KKI hadir dalam bentuk digital dan digunakan sebagai sumber dana
pembayaran melalui QRIS. Pengguna dapat melakukan transaksi dengan memindai
kode QRIS maupun menggunakan fitur QRIS Tap. Dengan mekanisme tersebut, limit
kredit dari KKI dapat digunakan untuk membayar transaksi pada merchant yang
menerima QRIS.
Artinya, ketika pengguna memindai
QRIS di sebuah merchant, sumber dana pembayaran tidak harus berasal dari saldo
rekening atau uang elektronik. Jika fasilitas tersebut telah tersedia dan
diaktifkan oleh bank penerbit, pengguna dapat memilih KKI sebagai sumber dana
dan nilai transaksi kemudian masuk sebagai kewajiban kartu kredit.
Bukan Kartu Kredit Pemerintah
yang Benar-Benar Baru
Meski peluncurannya pada Agustus
2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat umum, KKI sebenarnya bukan sistem
yang sepenuhnya baru.
Cikal bakal KKI telah
dikembangkan untuk segmen pemerintah sejak 2022. Pada tahap pertama, KKI
pemerintah dengan fitur QRIS diluncurkan pada 29 Agustus 2022. Pengembangannya
kemudian dilanjutkan dengan kartu fisik pada Mei 2023 serta fitur pembayaran
daring. Instrumen tersebut digunakan untuk membantu transaksi belanja
pemerintah pusat dan daerah dengan pemrosesan melalui sistem domestik.
Pada 2026, cakupan KKI diperluas
sehingga dapat digunakan oleh masyarakat dan korporasi. Reuters mencatat
perluasan tersebut sebagai perkembangan dari sistem kartu kredit yang
sebelumnya dikembangkan untuk entitas pemerintah menuju penggunaan ritel yang lebih
luas.
Perubahan ini membuat KKI tidak
lagi hanya relevan dalam konteks digitalisasi belanja pemerintah, tetapi mulai
masuk langsung ke ekosistem pembayaran masyarakat.
Delapan Bank Jadi Penerbit
Awal
Pada tahap awal, BI mencatat
terdapat delapan Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP) yang telah
menerbitkan KKI, yakni BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, CIMB Niaga, PermataBank,
Bank Mega, serta Bank Syariah Indonesia (BSI). BSI mengembangkan produk
tersebut menggunakan skema pembiayaan syariah.
Masyarakat yang ingin menggunakan
KKI tidak mengajukan fasilitas tersebut kepada Bank Indonesia, melainkan
melalui bank penerbit. Persyaratan pemberian fasilitas kredit, limit, penilaian
kelayakan nasabah, hingga fitur yang tersedia mengikuti kebijakan dan manajemen
risiko masing-masing bank.
BI menyatakan pengembangan KKI
akan dilakukan secara bertahap, baik dari sisi fitur maupun layanan. Pada fase
awal, fokusnya adalah penggunaan KKI digital sebagai sumber dana QRIS, sebelum
pengembangan lebih lanjut pada kanal pembayaran lainnya.
Apa Bedanya dengan Visa dan
Mastercard?
Salah satu pembeda utama KKI
terletak pada infrastruktur pemrosesan transaksi.
BI mendefinisikan KKI sebagai
instrumen pembayaran dengan fasilitas kredit yang diproses secara domestik
melalui Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Pengembangan tersebut merupakan
bagian dari upaya meningkatkan efisiensi pemrosesan sekaligus memperkuat kapasitas
dan kemandirian sistem pembayaran nasional.
Sementara itu, kartu kredit
dengan prinsipal seperti Visa dan Mastercard menggunakan jaringan pembayaran
internasional yang memiliki jangkauan global.
Namun, hadirnya KKI tidak berarti
Visa dan Mastercard akan disingkirkan dari Indonesia. BI menegaskan KKI
dikembangkan sebagai alternatif tambahan bagi konsumen, bukan sebagai
pengganti kartu kredit berprinsipal internasional. Kedua jenis instrumen
tersebut tetap dapat berjalan berdampingan dan konsumen dapat memilih sesuai
kebutuhan.
Kartu dengan jaringan
internasional masih memiliki keunggulan dalam cakupan transaksi global.
Sementara KKI memiliki kekuatan pada integrasinya dengan infrastruktur
pembayaran domestik, khususnya QRIS. KKI juga dapat menjangkau transaksi di
luar negeri pada negara mitra melalui skema QRIS lintas negara sepanjang
fasilitas tersebut tersedia.
Menumpang Besarnya Ekosistem
QRIS
Integrasi dengan QRIS menjadi
salah satu faktor penting dalam pengembangan KKI. Pasalnya, QRIS telah memiliki
basis pengguna dan merchant yang sangat luas.
Data Bank Indonesia menunjukkan
hingga Juni 2026 terdapat 65,77 juta pengguna QRIS di Indonesia. Jumlah
merchant yang menerima QRIS telah mencapai 44,86 juta, dan 96,68 persen
di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sepanjang semester pertama 2026
saja, QRIS mencatat 12,55 miliar transaksi dengan nilai mencapai sekitar
Rp1,12 kuadriliun, tumbuh 93,92 persen dibandingkan periode yang sama
tahun sebelumnya.
Basis merchant yang besar
tersebut membuat pendekatan KKI berbeda dengan ekspansi kartu kredit yang
secara tradisional mengandalkan akseptasi jaringan kartu dan mesin Electronic
Data Capture (EDC). Dengan menjadikan QRIS sebagai salah satu kanal utama, fasilitas
kredit berpotensi digunakan pada spektrum merchant yang lebih luas, termasuk
pelaku UMKM.
Bagian dari Kemandirian Sistem
Pembayaran
Bagi BI, KKI bukan hanya
persoalan menghadirkan produk kartu kredit baru. Pengembangannya menjadi bagian
dari agenda yang lebih besar untuk memperkuat sistem pembayaran dan ekonomi
digital Indonesia.
BI menyebut peluncuran KKI
sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas
inklusivitas pengguna dan penyelenggara sistem pembayaran, serta meningkatkan
daya saing pelaku usaha. Kebijakan tersebut juga ditempatkan dalam kerangka Blueprint
Sistem Pembayaran Indonesia 2030 dan agenda penguatan kemandirian ekonomi
nasional.
Pada saat yang sama, BI tetap
membuka ruang bagi jaringan pembayaran internasional. Karena itu, persaingan ke
depan tidak semata-mata mengenai KKI melawan Visa atau Mastercard, tetapi
mengenai seberapa besar masyarakat melihat manfaat dari masing-masing jaringan
pembayaran.
Bagi konsumen, pada akhirnya
pertimbangannya kemungkinan akan kembali pada hal yang paling praktis:
kemudahan penggunaan, luasnya penerimaan merchant, biaya, program promosi,
keamanan, serta fasilitas yang diberikan oleh masing-masing penerbit.
Kehadiran KKI membuat pilihan itu
kini bertambah. Indonesia bukan hanya memiliki QRIS sebagai standar pembayaran
berbasis kode QR, tetapi juga mulai membangun instrumen kredit ritel yang
bertumpu pada infrastruktur pembayaran nasional.
Sumber: Bank Indonesia,
Reuters, detikFinance, dan Kontan.
Paradoks Penerimaan Pajak 2025: Saat Ekonomi Tumbuh, Setoran Sektor Utama Justru Menyusut
Perekonomian Indonesia pada 2025 menunjukkan kinerja yang
relatif solid. Produk Domestik Bruto (PDB) riil tumbuh 5,11 persen, sedikit
lebih tinggi dibandingkan 5,03 persen pada 2024. Dari sisi nominal, pertumbuhan
bahkan meningkat dari 5,97 persen menjadi 7,60 persen. Pertumbuhan juga terjadi
pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali sektor Pertambangan dan Penggalian
yang terkontraksi 0,66 persen.
Namun, di balik
pertumbuhan tersebut, data menunjukkan bahwa perkembangan penerimaan pajak
tidak selalu bergerak searah dengan dinamika ekonomi sektoral. Temuan paling
menonjol muncul pada sektor Industri Pengolahan dan Perdagangan Besar dan
Eceran. Kedua sektor ini merupakan kontributor terbesar terhadap PDB nasional
masing-masing sekitar 19,07 persen dan 13,17 persen pada 2025. Keduanya juga
termasuk penyumbang penerimaan pajak terbesar. Meski demikian, penerimaan pajak
neto dari kedua sektor justru mengalami kontraksi di tengah pertumbuhan ekonomi
yang masih positif.
Fenomena tersebut menjadi
sinyal yang patut dicermati karena terjadi pada sektor-sektor dengan basis
ekonomi dan basis penerimaan yang besar. Dengan kata lain, pertumbuhan
aktivitas ekonomi belum sepenuhnya tercermin dalam perkembangan penerimaan
pajak pada sektor-sektor utama tersebut.
Di sisi lain, sektor
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menunjukkan dinamika yang berbeda. Sektor
ini menjadi kontributor terbesar ketiga terhadap PDB nasional dengan kontribusi
meningkat dari 12,61 persen pada 2024 menjadi 13,10 persen pada 2025.
Pertumbuhan riilnya meningkat dari 0,68 persen pada 2024 menjadi 5,33 persen
pada 2025. Peningkatan tersebut terutama ditopang oleh Tanaman Perkebunan,
Tanaman Pangan, dan Perikanan. Tanaman Perkebunan menjadi kontributor terbesar
dalam sektor tersebut, sementara Tanaman Pangan mencatat pertumbuhan riil
tertinggi pada 2025.
Meski perannya dalam perekonomian
semakin besar, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tidak termasuk dalam
kelompok penyumbang penerimaan pajak terbesar. Temuan ini menunjukkan adanya
perbedaan antara kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian nasional dan
posisinya dalam struktur penerimaan pajak berdasarkan data yang tersedia.
Meski demikian, berbagai
perbedaan tersebut tidak serta merta dapat diartikan sebagai tax gap
atau rendahnya kepatuhan perpajakan. Penerimaan pajak dipengaruhi oleh banyak
faktor selain pertumbuhan ekonomi, mulai dari profitabilitas usaha, restitusi,
pemanfaatan insentif perpajakan, struktur pelaku usaha, hingga karakteristik
basis pajak masing-masing sektor.
Menakar Ambisi Pusat Finansial Internasional RI: Antara Obral Pajak dan Kepastian Hukum
Pemerintah tengah
mengakselerasi pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII)
sebagai instrumen untuk menarik investasi global, memperdalam sektor keuangan,
dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat internasional. Ambisi yang
dipasang tidak kecil. Pemerintah memperkirakan PFII berpotensi menarik
investasi hingga Rp300 triliun-Rp500 triliun sekaligus menjadi pintu masuk bagi
arus modal internasional yang selama ini lebih banyak mengalir ke pusat-pusat
keuangan global lainnya.
Untuk mencapai tujuan
tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai insentif yang kompetitif, termasuk
usulan pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) hingga 0 persen selama 50 tahun,
fasilitas bagi tenaga ahli asing, serta berbagai kemudahan perpajakan dan
perizinan lainnya. Langkah ini dapat dipahami mengingat persaingan
antarjurisdiksi dalam menarik modal global semakin ketat.
Namun, pengalaman
berbagai pusat keuangan internasional menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah international financial center
tidak ditentukan oleh insentif pajak semata. Faktor yang lebih menentukan
justru adalah kepercayaan investor, kepastian hukum, kualitas regulasi, dan
kredibilitas pengawasan. Bahkan dalam berbagai diskusi dengan investor
internasional, kebutuhan akan sistem hukum yang lebih prediktabel disebut
sebagai salah satu prasyarat utama sebelum mempertimbangkan insentif fiskal
yang ditawarkan.
Selain itu, efektivitas
strategi berbasis insentif pajak juga menghadapi tantangan baru. Di tengah
penerapan Global Minimum Tax (GMT) sebesar 15 persen yang mulai diadopsi banyak
negara, ruang kompetisi melalui tarif pajak yang sangat rendah menjadi semakin
terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa daya tarik PFII pada akhirnya tidak
dapat hanya bergantung pada fasilitas fiskal, tetapi harus ditopang oleh
kualitas institusi yang mampu memberikan kepastian bagi investor jangka
panjang.
Risiko fiskal dan tata
kelola juga perlu mendapat perhatian. Sejumlah ekonom mengingatkan potensi
praktik capital round tripping,
yakni modal domestik yang keluar negeri lalu kembali sebagai investasi asing
untuk memperoleh fasilitas perpajakan. Jika tidak diantisipasi melalui
pengujian substansi ekonomi (substance
over form) yang memadai, PFII berisiko menjadi kanal arbitrase
pajak ketimbang pusat intermediasi keuangan yang produktif.
Tantangan lain terletak
pada desain kelembagaan. RUU PFII mengusulkan pembentukan regulator dan
pengadilan khusus guna meningkatkan kepastian hukum dan efisiensi layanan. Di
satu sisi, skema ini menjanjikan kemudahan bagi pelaku usaha. Namun di sisi
lain, muncul pertanyaan mengenai koordinasi dengan OJK, Bank Indonesia, PPATK,
serta mekanisme pengawasan terhadap konglomerasi keuangan yang beroperasi
lintas yurisdiksi. Celah koordinasi berpotensi menciptakan regulatory arbitrage yang
justru mengganggu stabilitas sistem keuangan.
Perkembangan terbaru
mengenai kemungkinan keterlibatan Danantara menambah dimensi baru dalam
pembahasan PFII. Dukungan modal dari lembaga investasi negara berpotensi
mempercepat pembangunan ekosistem awal PFII. Namun, langkah tersebut juga
menuntut tata kelola yang kuat agar risiko reputasi, risiko investasi, dan
manfaat ekonomi yang diharapkan dapat dikelola secara transparan dan akuntabel.
Karena itu, PFII
seharusnya tidak diposisikan sekadar sebagai kawasan berinsentif pajak rendah.
Keunggulan Indonesia justru berada pada kebutuhan pembiayaan sektor-sektor
strategis yang sulit ditiru negara lain, mulai dari hilirisasi sumber daya
alam, transisi energi, pembangunan infrastruktur, hingga ekonomi karbon yang
didukung pasar domestik yang besar. PFII akan memiliki nilai strategis apabila
mampu menghubungkan modal global dengan kebutuhan pembiayaan sektor-sektor
tersebut.
Menakar Daya Pikat dan Risiko Karpet Merah Patriot Bond
Jakarta. Langkah Badan Pengelola Investasi Daya
Anagata Nusantara (Danantara) merilis instrumen Patriot Bond berdasarkan
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 memicu diskursus hangat. Di satu sisi,
instrumen pendanaan di luar APBN ini diproyeksikan menjadi booster
likuiditas untuk membiayai Proyek Strategis Nasional (PSN). Di sisi lain, berbagai
keistimewaan hukum dan fasilitas pajak yang diberikan kepada investor justru
memicu kekhawatiran transparansi pengelolaan keuangan negara.
Daya Tarik Proteksi Hukum bagi Investor
Bagi pemilik modal, Patriot Bond
menawarkan insentif yang sulit diabaikan. Melalui revisi Pasal 50A ayat (5) UU
P2SK, pemerintah menggelar karpet merah berupa perlindungan hukum bagi investor
di pasar primer. Transaksi pembelian instrumen ini dijamin bebas dari tuntutan
pidana umum, pidana khusus termasuk tindak pidana perpajakan hingga gugatan
perdata.
Selain itu, data transaksi investasi ini
dikunci rapat, tidak dapat digunakan sebagai dasar pengenaan pajak baru maupun
dijadikan alat bukti di peradilan. Karpet merah fiskal ini dirancang cerdik
untuk menarik dana kakap warga negara Indonesia (WNI) yang selama ini terparkir
di luar negeri, sekaligus menjadi wadah repatriasi yang aman bagi alumni
program Tax Amnesty maupun Program Pengungkapan Sukarela (PPS).
Mengendus Celah Pencucian Uang
Namun, di balik optimisme penyerapan
likuiditas, para ekonom dan pengamat kebijakan publik langsung menyuarakan
alarm waspada. Kebijakan tutup mata terhadap asal-usul sumber dana dinilai menjadi
titik rawan (money laundering loophole) yang berpotensi dimanfaatkan
untuk pencucian uang.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
menegaskan bahwa pemerintah sengaja mengambil langkah berani ini demi menarik
likuiditas raksasa masuk ke dalam sistem keuangan domestik. Meski demikian,
otoritas menggarisbawahi bahwa imunitas ini tidak berlaku mutlak. Sementara
itu, unit bisnis aktif atau aset eksternal lain milik investor tetap berada
dalam pengawasan penuh Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
Kendati ada batasan, pelonggaran
pelacakan asal-usul dana ini tetap berisiko mengaburkan prinsip transparansi
finansial. Di tengah komitmen Indonesia terhadap standar Financial Action Task
Force (FATF), kebijakan ini dikhawatirkan dapat menurunkan derajat kepatuhan anti-pencucian
uang nasional di mata internasional.
Dilema Keadilan Fiskal dan Sektor Riil
Dari kacamata perpajakan, insentif
eksklusif ini berpotensi memicu moral hazard. Keisitimewaan perlindungan data
bagi pemilik modal besar dikhawatirkan mengikis rasa keadilan fiskal dan
menurunkan tingkat kepatuhan sukarela (voluntary compliance) dari wajib
pajak reguler yang selama ini patuh.
Selain itu, risiko crowding out effect
juga membayangi sektor riil. Jika korporasi berbondong-bondong mengalihkan laba
ditahan mereka ke instrumen steril pajak ini demi memburu keamanan hukum,
likuiditas untuk ekspansi usaha riil justru berisiko mengetat.
Penerbitan Patriot Bond pada akhirnya
merupakan pilihan kebijakan yang berani sekaligus berisiko. Pemerintah bertaruh
pada kecepatan pembangunan infrastruktur non-APBN, meski harus melonggarkan
sebagian prinsip akuntabilitas. Tantangan terbesar kini ada pada Danantara dan
Kementerian Keuangan untuk memastikan aturan turunan mampu membentengi
instrumen ini agar tidak menjadi pintu belakang bagi aliran dana gelap. (Zain).
Mengurai Risiko Regulasi RKAB di Tengah Agresivitas Hilirisasi Nikel
Jakarta.
Indonesia memegang posisi krusial dalam rantai pasok komoditas global, didorong
oleh gelombang investasi hilirisasi nikel yang masif dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, di balik ekspansi kapasitas pengolahan domestik, para pelaku pasar dan
investor global kini menaruh perhatian besar pada dinamika tata kelola hulu,
khususnya mekanisme persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Fluktuasi dalam penentuan, pembatasan, serta revisi kuota produksi tahunan kini
menjadi variabel risiko regulasi (regulatory risk) utama yang secara
langsung memengaruhi kalkulasi bisnis di sektor ini.
Bagi sektor korporasi, kepastian
pasokan bijih nikel (nickel ore) adalah pilar utama guna mempertahankan
margin operasi dan mengamankan pengembalian modal atas pengeluaran investasi (capital
expenditure). Fasilitas pengolahan yang mengadopsi teknologi Rotary Kiln
Electric Furnace (RKEF) untuk produksi feronikel, maupun High-Pressure
Acid Leaching (HPAL) untuk bahan baku ekosistem baterai kendaraan listrik,
beroperasi dengan struktur biaya tetap (fixed cost) yang tinggi.
Keterlambatan atau pemotongan kuota
dalam persetujuan e-RKAB di tingkat penambang pemilik Izin Usaha Pertambangan
(IUP) berisiko menciptakan efek cambuk berupa kelangkaan pasokan domestik
secara mendadak. Hambatan rantai pasok ini bahkan sempat memaksa sejumlah
emiten hilir menempuh opsi impor komoditas dari negara tetangga seperti
Filipina guna menjaga kontinuitas operasional tungku pembakaran mereka sebuah
anomali yang menekan efisiensi biaya logistik perusahaan.
Di sisi lain, otoritas pemerintah
melalui Kementerian ESDM dihadapkan pada tantangan penegakan tata kelola dan
konservasi cadangan mineral strategis. Kebijakan evaluasi kuota RKAB berfungsi
sebagai instrumen kendali makro untuk mencegah eksploitasi berlebih yang dapat
memperpendek usia cadangan nasional secara prematur. Secara fiskal, pengetatan
sistem e-RKAB yang terintegrasi dengan platform digital SIMBARA dan e-PNBP juga
menjadi alat penegakan kepatuhan ekosistem pertambangan. Melalui mekanisme
pengetatan digital ini, pemerintah dapat membatasi ruang operasi bagi entitas
tambang yang belum menyelesaikan kewajiban finansialnya kepada negara, baik
berupa royalti (PNBP) maupun pajak daerah.
Kendati demikian, para analis
kebijakan publik menggarisbawahi bahwa aspek volatilitas dalam implementasi
regulasi di lapangan dapat mengikis prediktabilitas iklim usaha (business
predictability). Penentuan kuota tahunan yang bergerak fluktuatif tanpa
masa transisi yang matang berisiko mengaburkan proyeksi arus kas (cash flow)
korporasi, mengganggu struktur pembiayaan perbankan dan mempersulit pemenuhan
kontrak pasokan jangka panjang.
Pada akhirnya, keberlanjutan daya saing
industri nikel Indonesia tidak hanya ditentukan oleh volume cadangan di dalam
perut bumi atau kapasitas terpasang di kawasan-kawasan industri terintegrasi.
Skalabilitas industri ini ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan
regulator dalam menyusun formula kebijakan RKAB yang transparan, terukur, dan
adaptif terhadap kebutuhan kapasitas industri hilir, tanpa harus mengorbankan
fungsi pengawasan lingkungan serta target penerimaan fiskal negara. (Zain)
Tax Holiday di Persimpangan Jalan: Masihkah Relevan Menarik Investasi?
Rampungnya harmonisasi
perubahan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 130/PMK.010/2020 menandai
upaya pemerintah menyesuaikan kebijakan tax holiday dengan rezim Pajak Minimum Global
(Global Minimum Tax/GMT). Namun di balik penyesuaian tersebut, muncul
pertanyaan yang lebih mendasar: apakah tax holiday masih merupakan instrumen
yang paling tepat untuk mencapai tujuan investasi di tengah perubahan lanskap
perpajakan global dan besarnya biaya fiskal yang ditanggung negara?
Data Kementerian Keuangan
menunjukkan realisasi belanja perpajakan pada 2025 mencapai Rp530,3 triliun.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp84,3 triliun dialokasikan untuk mendukung
investasi, dengan tax holiday menjadi salah satu fasilitas terbesar. Di sisi
lain, policy gap Indonesia pada 2024 diperkirakan mencapai 1,81 persen terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB), mencerminkan besarnya potensi penerimaan yang
dilepas untuk mencapai tujuan pembangunan tertentu.
Dalam literatur kebijakan
fiskal, efektivitas tax holiday umumnya diukur melalui konsep additionality, yakni sejauh
mana insentif tersebut memengaruhi keputusan investasi. Semakin besar investasi
yang terjadi karena adanya fasilitas pajak, semakin tinggi efektivitas
kebijakan tersebut. Sebaliknya, apabila keputusan investasi lebih banyak
didorong oleh faktor lain, seperti besarnya pasar domestik, ketersediaan sumber
daya alam, atau kebijakan hilirisasi, maka manfaat tambahan dari tax holiday
menjadi lebih terbatas. Dalam kondisi tersebut, insentif berpotensi berubah
menjadi windfall benefit,
yaitu keuntungan fiskal yang diterima investor tanpa menghasilkan tambahan
investasi yang signifikan bagi perekonomian.
Berbagai kajian IMF,
OECD, Bank Dunia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selama satu dekade
terakhir secara konsisten menyoroti keterbatasan tax holiday sebagai instrumen
penarik investasi. Dalam laporan bersama yang diterbitkan pada 2015, keempat
lembaga tersebut menilai insentif berbasis laba (profit-based incentives) seperti tax holiday
rentan menimbulkan windfall
benefit, menarik investasi yang bersifat footloose, memiliki biaya
fiskal yang tinggi, serta relatif mudah dimanfaatkan untuk perencanaan pajak
agresif. Karena itu, banyak negara didorong untuk menggeser kebijakan menuju
insentif berbasis biaya (cost-based
incentives) yang lebih langsung terkait dengan aktivitas investasi
riil.
Instrumen yang kerap
direkomendasikan antara lain investment
tax credit, percepatan penyusutan (accelerated depreciation), serta insentif untuk
kegiatan penelitian dan pengembangan (research
and development/R&D). Berbeda dengan tax holiday yang
memberikan manfaat berdasarkan laba perusahaan, insentif tersebut dikaitkan
langsung dengan pengeluaran atau investasi yang benar-benar dilakukan sehingga
dinilai lebih tepat sasaran dan lebih mudah dievaluasi efektivitasnya.
Selain additionality, tingkat
kematangan industri penerima fasilitas juga menjadi faktor penting dalam
menilai efektivitas tax holiday. Hilirisasi nikel menjadi contoh yang relevan.
Nilai ekspor produk nikel Indonesia meningkat dari sekitar USD3,3 miliar pada
2014 menjadi lebih dari USD30 miliar pada periode 2022–2023. Perkembangan
tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi Indonesia dalam rantai pasok global
sekaligus menimbulkan pertanyaan apakah sektor yang telah berkembang pesat
masih memerlukan tingkat dukungan fiskal yang sama. Karena itu, penerapan sunset provision atau
evaluasi berkala menjadi penting agar insentif tetap sesuai dengan kebutuhan
sektoral.
Perubahan lanskap
perpajakan global turut memperkuat urgensi tersebut. Sejak 2025, Indonesia
menerapkan GMT melalui PMK Nomor 136 Tahun 2024 dengan tarif minimum efektif 15
persen bagi kelompok perusahaan multinasional tertentu. Dalam rezim baru ini,
manfaat tax holiday menjadi lebih terbatas karena pembebasan pajak yang
diberikan tidak lagi otomatis menurunkan beban pajak global investor.
Rampungnya harmonisasi perubahan PMK 130/PMK.010/2020 menunjukkan bahwa
pemerintah mulai mengantisipasi perubahan tersebut, termasuk dengan mengkaji
desain insentif yang lebih selaras dengan perkembangan internasional.
Ancaman PHK Massal 2026: Sinyal Bahaya Daya Saing Industri Indonesia
Jakarta — Ancaman
pemutusan hubungan kerja atau PHK massal kembali membayangi Indonesia pada
2026. Isu ini menguat setelah sejumlah perusahaan manufaktur dilaporkan
mengurangi aktivitas produksi, merumahkan pekerja, bahkan muncul kabar adanya
pabrik besar yang mempertimbangkan pemindahan basis produksi ke negara ASEAN
lain, terutama Vietnam.
Data Kementerian Ketenagakerjaan
menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga Mei 2026 terdapat 23.470 pekerja
terkena PHK yang tercatat sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan
atau JKP. Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah PHK tertinggi, yaitu 5.044
pekerja, disusul Banten dengan 2.596 pekerja. Meski angka ini belum
mencerminkan seluruh pekerja terdampak di sektor informal maupun pekerja yang
belum tercatat dalam sistem, data tersebut menunjukkan tekanan nyata terhadap
pasar tenaga kerja nasional.
Ancaman PHK 2026 tidak hanya
dipicu oleh penurunan produksi sesaat. Persoalannya lebih dalam karena
menyangkut daya saing industri manufaktur Indonesia. Sektor-sektor padat karya
seperti otomotif, komponen kendaraan, alas kaki, tekstil, elektronik, dan
industri berbasis ekspor menghadapi tekanan dari pelemahan permintaan global,
naiknya biaya produksi, ketatnya persaingan regional, serta perubahan strategi
rantai pasok perusahaan multinasional.
Isu paling menonjol muncul dari
kabar dua pabrik komponen otomotif asal Jepang di Jawa Timur yang disebut
mempertimbangkan pemindahan produksi ke Vietnam. Kabar tersebut menimbulkan
kekhawatiran karena berpotensi berdampak pada ribuan pekerja. Vietnam disebut
menarik karena sedang memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik atau electric
vehicle/EV, sehingga menjadi salah satu tujuan baru dalam rantai pasok otomotif
Asia Tenggara.
Namun, informasi tersebut
kemudian berkembang menjadi lebih kompleks. Kementerian Perindustrian
menyatakan bahwa dua perusahaan komponen otomotif di Jawa Timur, yaitu PT SAI
dan PT JAI, masih beroperasi normal serta belum melakukan relokasi maupun PHK.
Di sisi lain, Istana menyebut dua perusahaan otomotif Jepang tersebut menunda
rencana hengkang dari Indonesia setelah pemerintah dan pemangku kepentingan
turun ke lapangan. Artinya, belum dapat disimpulkan bahwa pabrik tersebut
benar-benar sudah “cabut”, tetapi isu ini tetap menjadi peringatan serius bahwa
sebagian pelaku industri mulai membandingkan Indonesia dengan negara ASEAN lain
sebagai basis produksi.
Bagi perusahaan multinasional,
keputusan memindahkan produksi biasanya tidak berdiri pada satu faktor. Mereka
menghitung biaya tenaga kerja, produktivitas, kepastian regulasi, ketersediaan
energi, rantai pasok bahan baku, akses ekspor, insentif investasi, dan
kedekatan dengan industri pendukung. Jika negara seperti Vietnam, Thailand,
atau Malaysia dinilai lebih kompetitif, maka Indonesia berisiko kehilangan
sebagian kegiatan manufaktur, terutama yang berorientasi ekspor.
Pemerintah merespons ancaman ini
dengan membentuk Satuan Tugas Mitigasi PHK melalui Keputusan Presiden Nomor 10
Tahun 2026. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pembentukan satgas
tersebut merupakan langkah untuk melindungi pekerja yang terancam PHK. Satgas
ini diharapkan tidak hanya menangani pekerja setelah terkena PHK, tetapi juga
memetakan perusahaan yang berisiko melakukan pengurangan tenaga kerja.
Menteri Sekretaris Negara
Prasetyo Hadi ditunjuk sebagai Ketua Satgas Mitigasi PHK. Pemerintah menyatakan
satgas akan menelusuri penyebab tekanan industri secara spesifik, mulai dari
persoalan bahan baku, energi, batu bara, gas, pasar ekspor, hingga masalah
internal perusahaan. Pendekatan ini penting karena setiap industri memiliki
akar masalah berbeda. Masalah pabrik tekstil tidak selalu sama dengan otomotif,
begitu pula industri alas kaki tidak selalu menghadapi tekanan yang sama dengan
elektronik.
Di sisi perlindungan pekerja,
pemerintah juga mengandalkan program Jaminan Kehilangan Pekerjaan/JKP. Program
ini memberikan manfaat berupa uang tunai, akses informasi pasar kerja, dan
pelatihan kerja bagi pekerja yang mengalami PHK. BPJS Ketenagakerjaan menyebut
manfaat uang tunai JKP diberikan setiap bulan paling lama enam bulan setelah
pekerja yang terkena PHK diverifikasi dan memenuhi syarat.
Meski demikian, JKP hanya
berfungsi sebagai bantalan sosial setelah pekerja kehilangan pekerjaan.
Tantangan terbesar pemerintah tetap berada di hulu, yaitu bagaimana mencegah
PHK terjadi secara luas. Pemerintah perlu menjaga agar industri padat karya tetap
berproduksi, menahan gelombang relokasi, memperbaiki kepastian investasi,
menekan biaya produksi, mengamankan pasokan energi, dan memastikan produk
Indonesia tetap kompetitif di pasar ekspor.
Fenomena ancaman PHK massal 2026
pada akhirnya memperlihatkan bahwa Indonesia sedang berada di titik krusial.
Persoalan ini bukan semata soal perusahaan mengurangi karyawan, melainkan
sinyal bahwa posisi Indonesia dalam peta manufaktur ASEAN sedang diuji. Jika
pemerintah gagal menjaga daya saing industri, maka ancaman PHK dapat berubah
menjadi masalah yang lebih struktural: hilangnya basis produksi, melemahnya
ekspor manufaktur, dan menyusutnya lapangan kerja formal.
Sebaliknya, apabila pemerintah
mampu menggunakan Satgas Mitigasi PHK sebagai instrumen deteksi dini,
memperkuat perlindungan pekerja, serta memperbaiki hambatan industri secara
konkret, maka ancaman PHK 2026 dapat menjadi momentum untuk membenahi fondasi
manufaktur nasional.
Referensi
- Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 23.470
pekerja terkena PHK pada Januari–Mei 2026, dengan Jawa Barat sebagai
provinsi tertinggi sebanyak 5.044 pekerja. Korban
PHK Januari-Mei 2026 Capai 23.470 Orang, Bertambah 52% - Sektor Riil
- Presiden Prabowo Subianto mengesahkan Keputusan
Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang pembentukan Satuan Tugas Mitigasi
PHK. Presiden
Prabowo Sahkan Keppres Bentuk Satgas Mitigasi PHK: Kita Bela dan Lindungi
Buruh | Sekretariat Negara
- Kementerian Perindustrian menyatakan dua perusahaan
komponen otomotif di Jawa Timur, PT SAI dan PT JAI, masih beroperasi
normal serta belum melakukan relokasi maupun PHK. Kemenperin
Pastikan 2 Pabrik Otomotif Jatim Tak Relokasi Dan PHK
- Istana menyebut dua perusahaan otomotif Jepang di
Jawa Timur menunda rencana hengkang dari Indonesia setelah pemerintah
turun ke lapangan. Istana
Sebut 2 Raksasa Otomotif Jepang Tunda Rencana Cabut dari RI
- Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan memberikan
manfaat uang tunai, akses informasi pasar kerja, dan pelatihan kerja bagi
pekerja yang mengalami PHK Tentang JKP |
Jaminan Kehilangan Pekerjaan
Patriot Bond dan Merah Putih Bond: Instrumen Nasionalisme Keuangan atau Celah Baru Dana Gelap?
Jakarta — Pemerintah
kembali menjadi sorotan setelah munculnya dua instrumen pembiayaan baru yang
membawa nama nasionalisme: Patriot Bond dan Merah Putih Bond. Di
atas kertas, keduanya dirancang sebagai surat utang khusus untuk menarik dana
besar masuk ke sistem keuangan nasional dan membiayai proyek pembangunan.
Namun, di balik narasi kemandirian pembiayaan, muncul pertanyaan besar: apakah
instrumen ini benar-benar menjadi solusi pendanaan negara, atau justru berisiko
membuka ruang baru bagi praktik pencucian uang?
Patriot Bond lebih dulu dikenal
publik setelah Danantara berhasil menghimpun dana Rp50 triliun. Dana
tersebut disebut akan diarahkan untuk proyek energi baru terbarukan serta waste-to-energy,
yakni pengolahan sampah menjadi energi. Obligasi patriot ini menjadi surat
utang perdana Danantara dan ditargetkan sebagai sumber pembiayaan proyek
strategis yang tidak sepenuhnya bergantung pada APBN.
Sementara itu, Merah Putih Bond
muncul dalam kerangka hukum yang lebih baru setelah terbitnya UU Nomor 4
Tahun 2026 tentang Perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2023 mengenai
Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. Regulasi ini memberi kewenangan
kepada Danantara untuk menerbitkan surat utang, termasuk surat utang khusus
seperti Patriot Bond dan Merah Putih Bond.
Kontroversi bermula dari
perlindungan hukum yang melekat pada pembelian surat utang khusus tersebut.
Pasal 50A UU 4/2026 disebut memberikan perlindungan kepada pembeli surat utang
khusus dari penuntutan pidana umum, pidana khusus termasuk pidana perpajakan,
serta gugatan perdata. Data dan informasi pembelian instrumen tersebut juga
tidak dapat dijadikan dasar pengenaan pajak maupun alat bukti di pengadilan.
Di satu sisi, pemerintah melihat
instrumen ini sebagai jalan untuk menarik dana masyarakat Indonesia, termasuk
dana yang berada di luar negeri atau di luar sistem keuangan formal, agar
kembali masuk ke dalam sistem keuangan nasional. Pengamat ekonomi Feiral Rizky
Batubara menilai Patriot Bond dan Merah Putih Bond perlu dilihat sebagai
instrumen mobilisasi modal untuk memperkuat pembiayaan pembangunan, memperdalam
pasar keuangan domestik, dan mendukung proyek strategis nasional.
Namun, di sisi lain, sejumlah
ahli melihat desain perlindungan hukum tersebut terlalu luas. Batara Maju
Simatupang, akademisi Indonesia Banking School, menilai Pasal 50A menjadi
taruhan besar bagi kepercayaan nasional karena memberi perlindungan hukum kepada
pembeli instrumen tertentu. Menurutnya, apabila tidak diatur dengan batas yang
jelas, kebijakan ini dapat menimbulkan pertanyaan serius mengenai prinsip
kesetaraan di hadapan hukum, integritas sistem keuangan, dan kredibilitas tata
kelola negara.
Kritik lebih keras datang dari
pakar tindak pidana pencucian uang Yenti Garnasih. Ia memperingatkan bahwa
perlindungan yang terlalu luas terhadap investor Patriot Bond dapat menjadi
“karpet merah” bagi pelaku pencucian uang. Kekhawatirannya sederhana: apabila
negara menerima dana tanpa penelusuran asal-usul yang memadai, maka instrumen
resmi negara dapat dipersepsikan sebagai tempat aman bagi dana hasil kejahatan.
Pemerintah membantah tudingan
tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan
investasi di surat utang Danantara tidak dapat serta-merta disebut sebagai money
laundering karena dilakukan melalui instrumen resmi. Menurut pemerintah,
instrumen tersebut akan tetap berada dalam sistem keuangan dan mekanisme yang
diatur.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi
Sadewa juga menjelaskan bahwa perlakuan khusus Patriot Bond hanya berlaku pada
dana yang ditempatkan dalam instrumen investasi tersebut. Ia menyatakan dana
yang dipakai untuk Patriot Bond tidak akan “diutak-atik” sumbernya, tetapi
apabila investor memiliki bisnis lain yang bermasalah, bisnis tersebut tetap
dapat dikejar oleh aparat penegak hukum.
Dari perspektif rezim
anti-pencucian uang, pernyataan tersebut tetap memunculkan dilema. UU Tindak
Pidana Pencucian Uang menegaskan bahwa pencucian uang mengancam stabilitas
perekonomian dan integritas sistem keuangan, sehingga penelusuran dan
pengembalian harta kekayaan hasil tindak pidana menjadi bagian penting dari
penegakan hukum.
Dilema ini semakin penting karena
Indonesia telah menjadi bagian dari standar global anti-pencucian uang. FATF
menempatkan pencegahan pencucian uang, pendanaan terorisme, dan pendanaan
proliferasi sebagai standar internasional untuk menjaga integritas sistem
keuangan. Dalam konteks tersebut, instrumen apa pun yang membatasi penelusuran
asal-usul dana berpotensi menimbulkan risiko reputasi, terutama apabila tidak
disertai pengecualian tegas terhadap dana hasil kejahatan.
Dari sisi efektivitas, Patriot
Bond memang menunjukkan keberhasilan awal karena mampu menghimpun dana dalam
jumlah besar. Namun, efektivitas sejati tidak hanya diukur dari besarnya dana
yang masuk. Ukuran yang lebih penting adalah apakah dana tersebut benar-benar
digunakan untuk proyek produktif, menghasilkan manfaat publik, memperkuat
transisi energi, menyelesaikan masalah sampah, dan tidak menimbulkan beban
fiskal atau risiko hukum baru.
Danantara sendiri telah
menempatkan proyek pengolahan sampah menjadi energi sebagai bagian dari agenda
strategis. Tiga proyek PSEL gelombang pertama di Bekasi, Bogor Raya, dan
Denpasar Raya telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional. Proyek-proyek
ini disebut akan memperoleh dukungan koordinasi lintas kementerian/lembaga,
fasilitasi penyelesaian hambatan, dan berbagai instrumen percepatan
pelaksanaan.
Pada akhirnya, Patriot Bond dan
Merah Putih Bond berada di persimpangan antara kebutuhan pembiayaan pembangunan
dan kebutuhan menjaga integritas sistem keuangan. Jika dikelola dengan
transparan, diawasi ketat, dan tetap tunduk pada prinsip anti-pencucian uang,
instrumen ini dapat menjadi sumber pembiayaan alternatif bagi proyek strategis
nasional. Namun, apabila perlindungan hukumnya terlalu luas tanpa pengecualian
yang jelas terhadap dana hasil korupsi, narkotika, tindak pidana perpajakan,
pendanaan terorisme, atau kejahatan lain, instrumen ini berisiko menjadi
kontroversi berkepanjangan.
Pertanyaan publik kini bukan
hanya berapa besar dana yang bisa dihimpun Danantara. Pertanyaan yang lebih
mendasar adalah: dana siapa yang masuk, dari mana asalnya, digunakan untuk
apa, dan siapa yang mengawasinya? Tanpa jawaban yang terang, obligasi
bernama patriotik ini dapat berubah dari simbol kemandirian pembiayaan menjadi
ujian besar bagi kepercayaan publik terhadap negara.
Referensi:
Danantara
kumpulkan patriot bond Rp50 triliun buat EBT-Waste to Energy - ANTARA News
Patriot
Bond dan Merah Putih Bond Perkuat Dana Pembangunan
Pasal
50A, Patriot Bond-Merah Putih Bond, dan Taruhan Kepercayaan Nasional
Patriot
Bond jadi Karpet Merah bagi Penjahat Pencucian Uang
Airlangga:
Investasi di Surat Utang Danantara Bukan Money Laundering
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010
tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
FATF
Recommendations 2012.pdf.coredownload.inline.pdf
Saat Listrik Jawa Tersandera Batu Bara, Harga Ekspor, dan Lemahnya Tata Kelola DMO
Jakarta — Pemadaman listrik
bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa pada Juni 2026 kembali
membuka persoalan lama dalam tata kelola energi nasional: Indonesia adalah
produsen dan eksportir batu bara besar, tetapi sistem kelistrikannya tetap rentan
ketika batu bara yang dibutuhkan PLTU tidak tersedia tepat waktu, sesuai
spesifikasi, dan dalam volume yang cukup.
Krisis ini tidak dapat dibaca
secara sederhana sebagai “PLN kehabisan batu bara”. Persoalannya lebih
kompleks. Di satu sisi, PLN membutuhkan batu bara dengan spesifikasi tertentu,
terutama medium rank coal atau batu bara kalori menengah untuk kebutuhan sejumlah
PLTU. Di sisi lain, harga batu bara internasional sedang menarik, sementara
harga batu bara untuk kebutuhan domestik melalui skema Domestic Market
Obligation/DMO masih dibatasi. Perbedaan harga inilah yang menciptakan
tarik-menarik antara kepentingan menjaga pasokan listrik nasional dan
kepentingan komersial pelaku usaha batu bara.
PLN menyatakan bahwa pihaknya
mempercepat pengadaan batu bara kalori menengah untuk pembangkit listrik.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut perseroan mempercepat
penandatanganan kontrak dengan pemasok batu bara, khususnya pemasok medium rank
coal yang telah mendapat penugasan dari pemerintah. Pasokan tersebut diarahkan
ke sejumlah PLTU strategis di Jawa, antara lain Suralaya, Pelabuhan Ratu,
Lontar, Labuan, Jawa 7, Jawa 9–10, Indramayu, Paiton, Rembang, Pacitan, dan
Tanjung Awar-Awar.
Kementerian ESDM mencatat
kebutuhan batu bara PLN pada 2026 mencapai sekitar 154 juta metrik ton per
tahun. Dari jumlah tersebut, PLN telah mengamankan kontrak sekitar 134 juta
ton, sehingga masih terdapat kebutuhan yang belum sepenuhnya tertutup. Kendala
utama berada pada batu bara kalori menengah, khususnya dengan spesifikasi
sekitar 5.200 kcal/kg GAR, yang dibutuhkan untuk proses pembangkitan dan
pencampuran atau blending di sejumlah PLTU.
Masalah menjadi lebih sensitif
karena harga batu bara global pada Juni 2026 bergerak tinggi. Reuters
melaporkan pasar batu bara global mengalami tekanan pasokan akibat gangguan
produksi di China, ketidakpastian kebijakan ekspor Indonesia, gangguan pasokan
LNG, serta peningkatan permintaan dari negara-negara Asia. Kondisi tersebut
mendorong indeks batu bara Newcastle mendekati level tertinggi hampir dua
tahun, di atas US$150 per metrik ton.
Di dalam negeri, Harga Batu Bara
Acuan atau HBA periode kedua Juni 2026 juga meningkat. Keputusan Menteri ESDM
Nomor 253.K/MB.01/MEM.B/2026 menetapkan HBA periode kedua Juni 2026, sementara
pemberitaan pasar mencatat HBA batu bara 6.322 GAR berada pada level US$123,91
per ton, dan HBA I 5.300 GAR berada pada US$88,40 per ton.
Sementara itu, harga DMO batu
bara untuk sektor kelistrikan masih dipatok US$70 per ton. Kebijakan ini
dimaksudkan untuk menjaga agar biaya pembangkitan listrik tidak melonjak dan
tarif listrik masyarakat tetap terkendali. Namun, ketika harga pasar internasional
berada jauh di atas harga DMO, muncul insentif ekonomi bagi pelaku usaha untuk
lebih tertarik menjual batu bara ke pasar ekspor. Kementerian ESDM sendiri
menjelaskan bahwa DMO menetapkan kewajiban pasokan dalam negeri minimal 25%
dari rencana produksi, dengan harga batu bara untuk kelistrikan umum sebesar
US$70 per metrik ton sebagai harga batas atas apabila HBA melebihi US$70.
Kesenjangan harga tersebut
menjadi salah satu akar persoalan. Pada satu sisi, pemerintah membutuhkan batu
bara murah agar biaya listrik tetap terjaga. Pada sisi lain, pengusaha batu
bara menghadapi biaya produksi yang meningkat dan peluang memperoleh harga
lebih tinggi di pasar ekspor. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahkan membuka
peluang mengkaji ulang harga DMO agar PLN tidak dirugikan, tetapi pengusaha
batu bara juga tidak dipaksa menjual pada harga yang dianggap terlalu rendah.
Ia menyebut biaya produksi batu bara kalori menengah meningkat, antara lain
karena stripping ratio yang tinggi.
Pandangan serupa juga muncul dari
pelaku industri. APBI menilai harga DMO yang tidak berubah sejak 2018 tidak
lagi sepenuhnya mencerminkan kondisi biaya industri saat ini, termasuk kenaikan
biaya bahan bakar, alat berat, upah, logistik, dan kewajiban lingkungan.
Perhapi juga menyoroti bahwa kebutuhan PLN banyak berada pada batu bara kalori
menengah, sementara struktur harga DMO untuk batu bara jenis tersebut dapat
jatuh jauh lebih rendah dibanding harga pasar global.
Dalam kondisi demikian, DMO
menjadi instrumen yang sangat penting, tetapi sekaligus rawan. Tanpa DMO,
pengusaha batu bara memiliki dorongan lebih besar untuk mengejar pasar ekspor
karena harga luar negeri lebih menarik. Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Pati
Jaya menyebut bahwa sebelum kebijakan DMO diterapkan, penambang batu bara
cenderung lebih memilih ekspor karena harga jual luar negeri lebih tinggi
dibanding harga domestik. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa DMO lahir untuk
mencegah pasokan energi nasional kalah bersaing dengan pasar ekspor.
Namun, keberadaan DMO saja tidak
cukup apabila pengawasan, kontrak, kualitas batu bara, dan logistik tidak
terkendali. Pada 26 Juni 2026, Kementerian ESDM menyatakan sempat menahan
sementara pengiriman ekspor batu bara tertentu untuk mengamankan batu bara
dengan nilai kalori yang disyaratkan bagi pembangkit PLN. Hingga saat itu,
sekitar 141 juta metrik ton batu bara telah diamankan dari total kebutuhan
tahunan 154 juta metrik ton, dan ekspor disebut kembali berjalan normal setelah
pasokan dalam negeri membaik.
Langkah penahanan ekspor tersebut
menunjukkan bahwa pemerintah melihat adanya risiko nyata pada pasokan energi
primer PLN. Artinya, masalah ini bukan semata persoalan teknis pembangkit,
tetapi juga menyangkut tata kelola pasokan batu bara dari hulu ke hilir: mulai
dari kewajiban DMO, penugasan pemasok, kontrak, spesifikasi kalori, blending,
transportasi, hingga kesiapan stok di PLTU.
Pemadaman bergilir kemudian
terjadi ketika gangguan pasokan energi primer bertemu dengan gangguan teknis
pembangkit. PLN menyebut adanya dua PLTU besar milik Independent Power Producer
atau IPP yang mengalami gangguan teknis dan keluar dari sistem kelistrikan
Pulau Jawa. Dalam sistem listrik yang harus seimbang setiap saat antara pasokan
dan beban, keluarnya pembangkit besar dari sistem dapat memaksa PLN melakukan
manajemen beban agar jaringan tidak mengalami gangguan yang lebih luas.
Institute for Essential Services
Reform atau IESR menilai pemadaman bergilir di Jawa perlu diinvestigasi secara
transparan. IESR menduga gangguan tersebut dipicu rendahnya cadangan bahan
bakar di sejumlah PLTU sistem Jawa-Bali, sehingga pembangkit harus beroperasi
di bawah kapasitas optimal. IESR juga menyoroti kemungkinan Hari Operasi
Pembangkit atau HOP berada di bawah batas aman, serta faktor lain seperti
gangguan pembangkit, minimnya cadangan daya, jadwal perawatan pembangkit yang
tidak sinkron, dan gangguan transmisi.
Dengan demikian, pemadaman
listrik 2026 memperlihatkan tiga kerentanan sekaligus. Pertama, ketergantungan
sistem listrik Jawa pada PLTU batu bara masih sangat besar. Kedua, pasokan batu
bara untuk PLN tidak hanya bergantung pada jumlah produksi nasional, tetapi
juga pada insentif harga, kepatuhan DMO, dan kesesuaian kualitas batu bara.
Ketiga, ketika harga internasional tinggi, pengawasan pemerintah harus lebih
kuat agar kebutuhan domestik tidak kalah oleh orientasi ekspor.
Pelajaran penting dari kejadian
ini adalah bahwa ketahanan listrik nasional tidak cukup dijaga dengan angka
produksi batu bara nasional yang besar. Yang lebih penting adalah memastikan
batu bara yang dibutuhkan PLTU benar-benar tersedia di lokasi pembangkit,
sesuai spesifikasi, tepat waktu, dan tidak tersisih oleh insentif ekspor. Jika
selisih harga antara DMO dan pasar internasional terlalu lebar tanpa pengawasan
yang kuat, maka sistem listrik nasional akan terus menghadapi risiko yang sama:
batu bara ada, tetapi tidak cukup tersedia untuk pembangkit ketika paling
dibutuhkan.
Rujukan Utama
Kementerian ESDM, Pemerintah Awasi dan Kawal Ketat Pasokan
Batubara untuk Kelistrikan, 26 Juni 2026. Kementerian
ESDM RI - Media Center - News Archives - Pemerintah Awasi dan Kawal Ketat
Pasokan Batubara untuk Kelistrikan
ANTARA, PLN percepat pengadaan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik, 20
Juni 2026. PLN
percepat pengadaan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik - ANTARA News
Jawa Timur
Reuters, China mine disaster, Indonesia policy changes upend global coal
market, 16 Juni 2026. China
mine disaster, Indonesia policy changes upend global coal market | Reuters
Kementerian ESDM, As of 1 January 2020, DMO is Set at 25% and Sales Price to
Power Plant USD 70 per Ton. Kementerian
ESDM RI - Media Center - News Archives - As of 1 January 2020, DMO is Set at
25% and Sales Price to Power Plant USD 70 per Ton
Bloomberg Technoz, Bahlil Tegaskan Belum Akan Kerek Harga Batu Bara DMO, Baru
Kajian, Juni 2026. Bahlil
Tegaskan Belum Akan Kerek Harga Batu Bara DMO, Baru Kajian - Energi - Page 2
IESR, IESR Pertanyakan Keandalan Sistem Kelistrikan Jawa dan Mendesak
Investigasi Transparan Gangguan Listrik, 11 Juni 2026. IESR
Pertanyakan Keandalan Sistem Kelistrikan Jawa dan Mendesak Investigasi
Transparan Gangguan Listrik - IESR
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023
Kategori
- Sosial, Budaya, dan Demografi 10118
- Ekonomi 40765
- Hukum 154
- Lingkungan Hidup 5820
- Politik dan Birokrasi 6648
- Teknologi 1206