Mandat Konstitusi: Mengawal Transisi Pengadilan Pajak Menuju Satu Atap Mahkamah Agung
Mandat
Konstitusi: Mengawal Transisi Pengadilan Pajak Menuju Satu Atap Mahkamah Agung
JAKARTA – Indonesia tengah bersiap menyambut fajar baru
dalam sistem peradilan fiskalnya. Pengadilan Pajak, yang selama lebih dari dua
dekade berada di bawah kendali administratif Kementerian Keuangan, kini sedang
dalam masa transisi besar-besaran untuk bergabung sepenuhnya ke bawah naungan
Mahkamah Agung (MA).
Langkah ini bukan sekadar urusan perpindahan
birokrasi, melainkan misi besar memperkuat independensi hukum yang ditargetkan
tuntas pada akhir Desember 2026. Perubahan ini menjadi krusial karena selama
ini posisi Pengadilan Pajak dinilai dilematis; dibina secara teknis oleh MA,
namun dapur organisasinya dikelola oleh lembaga yang justru sering bersengketa
dengan para wajib pajak.
Kepastian Hukum: Mesin Penggerak
Ekonomi
Dari sudut pandang ekonomi, penyatuan satu atap di
bawah MA memiliki dampak domino yang signifikan. Kepastian hukum merupakan mata
uang utama bagi investor, baik domestik maupun asing. Ketika sengketa pajak
diselesaikan oleh lembaga yang sepenuhnya independen dan terpisah dari otoritas
pemungut pajak, kepercayaan pasar akan meningkat.
Sistem peradilan yang imparsial memberikan jaminan
bagi pelaku usaha bahwa hak-hak mereka terlindungi secara adil. Hal ini secara
langsung akan memperbaiki iklim investasi di Indonesia, karena risiko
ketidakpastian hukum dalam sengketa pajak yang bernilai triliunan rupiah dapat
ditekan seminimal mungkin. Dengan demikian, penguatan Pengadilan Pajak adalah
investasi jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih stabil.
Mempertajam Profesionalisme di
Bidang Perpajakan
Integrasi ini juga membawa angin segar bagi
penguatan kompetensi di lingkungan peradilan. Alih-alih melebur secara umum,
Pengadilan Pajak akan ditempatkan sebagai bagian spesialis dari Peradilan Tata
Usaha Negara (TUN). Fokus utamanya adalah menjaga agar keahlian teknis dalam
membedah kasus-kasus pajak yang rumit tidak memudar.
Harapannya, pemisahan ini akan mendorong lahirnya
standar baru dalam penanganan perkara, mulai dari penggunaan teknologi e-court
yang lebih terintegrasi hingga pembaruan regulasi mengenai kuasa hukum.
Tujuannya jelas: menciptakan proses persidangan yang tidak hanya cepat dan
murah, tetapi juga memiliki kualitas putusan yang kredibel secara teknis
perpajakan dan kuat secara hukum tata usaha negara.
Menjaga Stabilitas di Masa
Transisi
Pemerintah saat ini sedang merampungkan landasan
hukum berupa Peraturan Presiden untuk mengatur pengalihan aset dan sumber daya
manusia. Salah satu tantangan terbesar adalah menyelaraskan kesejahteraan
pegawai tanpa menimbulkan gejolak administratif. Pemerintah berkomitmen agar
proses transisi ini tetap menjaga hak-hak pegawai yang berpindah status dari
Kemenkeu ke MA.
Selain itu, revisi terhadap Undang-Undang
Pengadilan Pajak menjadi pekerjaan rumah mendesak. Tanpa payung hukum yang
baru, proses integrasi berisiko mengalami kendala prosedural. Sinergi antara MA
dan Kemenkeu dalam beberapa tahun ke depan akan menentukan apakah transisi ini
mampu menciptakan sistem peradilan fiskal yang benar-benar mandiri atau hanya
sekadar perpindahan alamat kantor.
Jika misi ini berhasil, Indonesia akan memiliki sistem hukum pajak yang tidak hanya disegani karena ketegasannya, tetapi juga dihormati karena keadilannya, sebuah fondasi utama bagi negara hukum yang ingin mengakselerasi kemajuan ekonominya.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023