Ironi Nikel: Kita Kasih Karpet Merah Pajak, Tapi Bahannya Impor dari Filipina?
Indonesia
merupakan salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Meskipun
demikian, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya peningkatan
volume impor bijih nikel (nickel ore) yang cukup signifikan dari Filipina dalam
beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan
catatan statistik, volume impor dari Filipina pada tahun 2023 berada di angka
374 ribu ton. Namun, angka tersebut mengalami peningkatan menjadi 10,18 juta
ton pada tahun 2024, dan diproyeksikan dapat mencapai 15 juta ton pada akhir
tahun 2025. Nilai transaksi impor ini diperkirakan mencapai US$ 600 juta atau
setara dengan Rp9,4 triliun. Fenomena ini bukan sekadar masalah logistik,
melainkan sinyal adanya lubang besar dalam strategi hilirisasi kita.
Apakah Pembangunan Smelter
terlalu banyak?
Pusat persoalannya ada di kawasan pengolahan
nikel yang berada di Morowali dan Weda Bay. Pertumbuhan smelter di kawasan ini
sangat agresif, namun tidak sebanding dengan ketersediaan bahan baku yang bisa
keluar dari mulut tambang. Berdasarkan data Asosiasi Penambang Nikel Indonesia
(APNI), saat ini terdapat 73 smelter nikel yang telah beroperasi di Indonesia.
Selain itu, sebanyak 73 smelter masih dalam tahap konstruksi, dan 17 smelter
lainnya berada dalam tahap perencanaan dengan estimasi total kebutuhan bijih
735,2 juta ton. Sementara itu, rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) nikel
yang disetujui untuk 2025 mencapai 364 juta ton, naik dari tahun 2024 sebanyak
319 juta ton.
Pemerintah belakangan mulai memperketat atau
membatasi kuota dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan
tambang demi menjaga umur cadangan nikel nasional. Akibatnya, terjadi supply
gap. Smelter raksasa yang mesinnya harus terus menyala 24 jam tidak punya
pilihan selain mengimpor dari Filipina. Kita membangun smelter yang terlalu
banyak, namun lupa memastikan apakah stok bahan baku di lokasi tambang bisa
diambil dengan cepat.
Efektifitas Insentif Pajak.
Di sinilah letak ketimpangannya. Industri
smelter nikel selama ini menikmati status Industri Pionir dengan fasilitas
perpajakan yang cukup banyak diantaranya:
a. Tax Holiday: Pembebasan
Pajak Penghasilan (PPh) Badan hingga 100% untuk jangka waktu 5 hingga 20 tahun.
b. Tax Allowance:
Pengurangan penghasilan neto sebesar 30% dari nilai investasi.
c. Pembebasan Bea Masuk:
untuk mesin dan barang untuk produksi khususnya di industri pionir.
Pertanyaannya: Apakah insentif ini masih
relevan? Fasilitas pajak tersebut awalnya diberikan untuk menarik investasi di
sektor yang dianggap berisiko tinggi. Namun, saat ini smelter nikel sudah
menjadi industri yang sangat mapan . Ketika negara merelakan potensi penerimaan
pajak yang seharunya dapat digunakan untuk kepentingan rakyat, namun smelter
tersebut malah mengimpor bahan baku dari luar negeri, maka nilai tambah ekonomi
yang diharapkan bagi publik menjadi tergerus. Uang negara melalui subsidi pajak
seolah-olah justru membiayai efisiensi perusahaan yang mendatangkan bahan baku
dari luar negeri ketimbang mengoptimalkan rantai pasok dalam negeri.
Kenaikan impor ini adalah alarm bagi kebijakan
hilirisasi kita. Pemerintah perlu melakukan audit ulang. Jika jumlah smelter
sudah melebihi kapasitas daya dukung cadangan nikel yang diizinkan dalam RKAB,
maka pemberian izin smelter baru serta pemberian tax holiday harus
dipertimbangkan untuk dilakukan evaluasi yang komprehensif.
Kita tidak boleh membiarkan hilirisasi hanya
menjadi sekadar angka investasi di atas kertas, sementara di lapangan kita
kehilangan kedaulatan bahan baku dan kehilangan potensi pajak secara bersamaan.
Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pengolah bijih nikel milik negara
tetangga dengan fasilitas gratis dari pajak rakyat kita sendiri. (Zain).
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Lubang di Balik Angka Manis Surplus Perdagangan
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023