Dampak Ganda Perpres 4/2026 bagi Ketahanan Pangan dan Transformasi Ekonomi
Dampak
Ganda Perpres 4/2026 bagi Ketahanan Pangan dan Transformasi Ekonomi
JAKARTA – Era ekspansi kawasan industri dan
perumahan yang leluasa mencaplok lahan pertanian resmi dibatasi. Melalui
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengendalian Alih
Fungsi Lahan Sawah, pemerintah mengambil langkah strategis untuk mengunci lahan
pangan dari ancaman konversi.
Kebijakan yang baru diteken oleh Presiden Prabowo
Subianto ini tidak hanya berfungsi sebagai "rem darurat" penyelamat
lumbung pangan nasional, tetapi juga memicu pergeseran besar dalam lanskap
ekonomi dan pembiayaan perbankan di Indonesia.
Gembok Jutaan Hektare di Delapan
Provinsi Utama
Pada tahap awal, implementasi Perpres ini
memprioritaskan delapan provinsi yang selama ini menjadi tulang punggung
produksi beras nasional. Wilayah tersebut meliputi Jawa Barat, Banten, Jawa
Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Barat, Bali, dan Nusa Tenggara
Barat (NTB).
Secara keseluruhan, pemerintah menetapkan 3,83 juta
hektare area sebagai Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD). Angka ini mewakili
sekitar 60 persen dari total Lahan Baku Sawah (LBS) nasional yang luasnya
mencapai 7,34 juta hektare. Dengan status baru ini, lahan-lahan tersebut secara
hukum dilarang keras untuk dialihfungsikan menjadi bangunan komersial maupun
permukiman, apa pun alasannya.
Transformasi Ekonomi: Akhir Era
Spekulasi Tanah
Dari kacamata ekonomi, Perpres 4/2026 membawa efek
kejut sekaligus transformasi positif, khususnya bagi sektor perbankan dan
investasi. Aturan ini secara tidak langsung menekan risiko sistemik akibat
spekulasi tanah (land banking) yang kerap dilakukan oleh pengembang
properti.
Terbitnya beleid ini memaksa perbankan untuk
mengubah arah kebijakan kredit mereka. Beberapa dampak ekonomi langsung yang
terjadi antara lain:
- Perubahan
Penilaian Agunan (Appraisal): Bank kini wajib melakukan uji tuntas (due
diligence) tata ruang yang ketat. Jika tanah agunan masuk dalam peta
LSD, nilai likuidasinya murni dihitung berdasarkan produktivitas
pertanian, bukan lagi potensi konversi menjadi kawasan komersial bernilai
tinggi.
- Penghentian
Kredit Proyek Konversi: Sektor perbankan tidak dapat lagi mengucurkan dana
untuk proyek properti atau industri yang berdiri di atas lahan sawah dilindungi,
mengingat perizinan proyek tersebut dipastikan akan ditolak oleh
pemerintah.
- Fokus
pada Ekonomi Pertanian Berkelanjutan: Profil pembiayaan perbankan kini
didorong untuk bergeser dari spekulasi properti ke sektor pertanian
produktif. Aliran dana diproyeksikan akan mengalir deras ke kredit modal
kerja petani, pengadaan alat pertanian modern, sistem irigasi, dan rantai
pasok agribisnis (agri-value chain).
Peta Jalan Nasional dan Kepastian Investasi
Untuk memastikan kebijakan ini tidak menjadi
anomali antara pusat dan daerah, pemerintah telah merancang peta jalan (roadmap)
perluasan penetapan LSD sepanjang 2026.
Pada akhir Kuartal I/2026, status lahan di 12
provinsi tambahan membentang dari Aceh hingga Sulawesi Selatan ditargetkan
tuntas diverifikasi. Menyusul kemudian 17 provinsi sisanya pada akhir Kuartal
II/2026. Sinkronisasi data antara kementerian dan pemerintah daerah ini menjadi
krusial untuk memberikan kepastian hukum bagi para investor dan pelaku usaha
agar tidak salah langkah dalam membebaskan lahan.
Selain pengetatan aturan, regulasi ini juga
mewajibkan adanya program pemberdayaan. Dengan target menekan laju kehilangan
sawah hingga 0,05 persen per tahun, pemerintah berkomitmen memberikan insentif
agar para petani tetap bangga dan sejahtera mempertahankan fungsi lahan mereka
sebagai ujung tombak ketahanan pangan nasional.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023