Teknologi Informasi
( 850 )Tarik Makin Banyak Penonton, GoPlay Fokus Kembangkan Live Streaming
Platform video on-demand (VoD) GoPlay pada tahun ini memprioritaskan pengembangan platform layanan live streaming, GoPlay Live, agar lebih banyak meraup pengguna. Platform besutan Gojek mencatat jumlah live show mengalami peningkatan hingga 10 kali lipat sepanjang kuartal pertama tahun ini. CEO GoPlay Edy Sulistyo mengatakan pertumbuhan live show ini didukung oleh jumlah konten kreator yang tumbuh signifikan 100% pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan periode sama tahun lalu. Beberapa konten bisa meraup hingga ribuan penonton. Misalnya, konten terbaru JKT48 Live Show yang mempunyai tiga program acara berbeda berhasil mendapatkan jumlah penonton tertinggi pada penayangan perdananya hingga lebih dari 4.000 penonton.
GoPlay menawarkan pengalaman berinteraksi sehingga pengguna tidak hanya menonton pertunjukan atau event dari konten kreator saja. "Ada game show, ada trivia, bisa tanya privat, atau lainnya," kata Eddy. Konten kreator pun bisa memonetisasi kontennya melalui GoPlay. Sebab, pengguna layanan GoPlay Live bisa memberikan dukungan dan apresiasi terhadap konten kreator melalui fitur virtual gift selama pertunjukan berlangsung. "Kami juga melihat tren pendapatan para konten kreator terus meningkat seiring antusiasme pengguna," katanya.
(Oleh - HR1)
Pemerintah Kembangkan 4 Sektor Strategis Berbasis Digital
JAKARTA – Pemerintah tengah membangun dan
mengembangkan empat sektor strategis berbasis
digital guna meningkatkan internet link ratio dan
memperkecil disparitas antarwilayah.
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate
menyebutkan, empat sektor pendorong akselerasi transformasi digital
tersebut, yakni infrastruktur digital,
pemerintahan digital, masyarakat
digital, dan ekonomi digital.
“Melalui akselerasi transformasi
digital, keempat sektor prioritas tersebut diharapkan semakin siap dalam
menyambut peluang era teknologi
digital dengan mendorong produktivitas dan kualitas kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan dan kualitas
hidup masyarakat,” ujar Johnny, dalam
Munas Ke-10 Masyarakat Telematika
Indonesia (Mastel) secara virtual,
dari Kantor Kementerian Kominfo
(Kemkominfo), Jakarta, Kamis (8/4)
Selain menjamin aktivitas ruang digital yang sehat dan terhindar dari konten
negatif, Menkominfo menegaskan,
transformasi digital diarahkan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan yang
baik, efisien, dan lebih profesional.
Pada kesempatan tersebut, Johnny juga
menjelaskan, komitmen tersebut diwujudkan salah satunya dengan dukungan
dan upaya bersama antara Kemkominfo
dan Komisi I DPR RI yang saat ini tengah
membahas Rancangan Undang-Undang
Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP).
Secara khusus, Menkominfo pun
berharap RUU tersebut dapat diselesaikan sesegera mungkin dan disahkan
menjadi UU. “Proses politik sedang berlangsung di DPR RI. Pelindungan data
pribadi sangat penting sekaligus untuk
menjamin keamanan dan kedaulatan
data kita secara nasional,” ungkapnya.
(Oleh - HR1)
BI Dorong Ekonomi Digital Via FEKDI
Bank Indonesia akan menggelar Festival Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) di Upper Hills Convention Hall, Jl Metro Tanjung Bunga, Kota Makassar pada Jumat (9/4) besok.
Direktur BI Sulsel, Iwan Setiawan mengatakan, kegiatan itu digelar sebagai perwujudan dari upaya digitalisasi sistem pembayaran di wilayah Sulawesi Selatan. Ia optimistis, festival ini dapat mengembangkan digitalisasi pembayaran ke seluruh wilayah kabupaten/kota di Sulsel.
Pada kesempatan sama, Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan (Sulsel), Ali Afthan menjelaskan secara teknis acara FEKDI nantinya. Kegiatan itu akan dihadiri Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, dan kepala daerah di 25 kabupaten/kota di Sulsel.
Selain kepala daerah, pihaknya juga akan mengundang Pentahelix atau yang memiliki peran diantaranya Akademi, Bisnis, komunitas, pemerintah dan media. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Ovo hingga Tokopedia.
Strategi Mahaka Radio di Tengah Penguatan Digitalisasi
JAKARTA, investor.id - PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) tengah menjalankan berbagai strategi, salah satunya peluncuran aplikasi streaming radio Noice generasi kedua di tengah penguatan digitalisasi. Strategi ini diharapkan menjadi faktor utama penopang pertumbuhan kinerja keuangan perseroan dalam jangka panjang. Noice merupakan aplikasi multiplatform bagi radio digital, musik digital, hingga podcast digital yang dioperasikan oleh PT Mahaka Radio Digital. Noice adalah hasil bentukan Mahaka Radio Integra dan PT Quatro Kreasi Indonesia. Analis Trimegah Sekuritas Richardson Raymond dan Willinoy Sitorus mengungkapkan, peluncuran aplikasi Noice generasi kedua tergolong sukses. Hal itu dibuktikanoleh keberhasilan aplikasi ini meraih peringkat bintang 4,3 di Google Store. Jumlah pengunduh juga menunjukkan peningkatan pesat melampaui 500 ribu dengan MAU sekitar180 ribu. Padahal, upaya masif promosi aplikasi generasi kedua tersebut belum dilakukan kepada masyarakat luas. “Noice ditujukan untuk menangkappasar dari berbagai komunikasi. Tidak seperti aplikasi Spotify yang kontennya 70% musik.
Mahaka Radio Integra telah membentuk perusahaan patungan (joint venture/ JV) dengan PT Nusantara Teknologi Terdepan (NTT) bernama PT Cepat Untung Agar Nikmat. Cepat Untung Agar Nikmat dibentuk untuk menggarap usaha di bidang pengembangan konser virtual atau e-concert. Menurut Adrian, perseroan telah menggandeng TMC (The Music Company) yang akan membawa musisi lokal dan internasional. Untuk musisi lokal, perseroan akan fokus pada musisi indie. Sedangkan, untuk internasional menampilkan musisi dunia papan atas, seperti Maroon 5 dan Billie Eilish yang sudah di pipeline. E-Concert ini tak hanya menargetkan penonton dari dalam negeri, melainkan juga lintas negara. ”Yang lokal sudah mulai menggelar konser virtualnya. Yang internasional, saya belum bisa announce sampai kontraknya sudah didapatkan,” kata dia kepada Investor Daily.
(Oleh - HR1)
Juni, BI Terbitkan Ketentuan Standar Open API Pembayaran
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) terus
mengakselerasi digitalisasi ekonomi dan
keuangan nasional. Untuk itu, pada Juni
2021, BI akan menerbitkan pedoman teknis,
developer site, dan ketentuan Standar Open
Application Programming Interfaces (Open
API) Pembayaran bagi para pelaku industri.
Asisten Gubernur BI Juda
Agung mengungkapkan, inisiatif standardisasi Open API
sudah dilakukan sejak satu
tahun lalu, di mana terdapat
dalam visi blueprint sistem pembayaran Indonesia 2025 yang
mendorong interlink antara
perbankan dengan nonbank. BI
juga mendukung digitalisasi perbankan menggunakan teknologi
dalam bisnis keuangannya.
Dari visi tersebut direalisasikan
standardisasi Open API. Dengan
dibuat standar, Open API akan
membuka banyak kesempatan,
inovasi antara bank dengan fintech baik fintech payment, fintech
lending, dan juga e-commerce.
Pada akhirnya, memberikan
layanan bagi pengguna karena
kebutuhan masyarakat saat ini
menginginkan pelayanan yang
cepat, mudah, murah. Open API
ini akan mendorong digitalisasi
ekonomi dan keuangan serta
meningkatkan efisiensi.
Berdasarkan milestone inisiatif
Standar Open API Pembayaran,
consultative paper sudah dimulai
sejak Maret 2020 dilanjutkan
dengan kick off working group
nasional pada Juni 2020. Kemudian pada April 2021 dilakukan
penyusunan pedoman teknis dan
pengembangan developer site,
lalu ada tahap pengujian.
Selanjutnya, pada Juni 2021
akan diterbitkan pedoman teknis,
developer site, dan ketentuan
Standar Open API Pembayaran.
Pada semester II-2021, pengembangan API sesuai standar, piloting, dan fase transisi. Kuartal
I-2022 dimulai implementasi penuh bagi first mover yang terdiri
atas sejumlah penyelenggara jasa
sistem pembayaran. Lalu, kuartal
II-2022 mulai diimplementasikan
penuh bagi pihak lainnya.
Adapun cakupan Standar Open
API Pembayaran meliputi standar
teknis, standar data, dan standar
tata kelola. Untuk standar teknis
dan keamanan, terdapat lebih dari
50 standar yang sudah dan akan
diimplementasikan nantinya.
“Seperti standar registrasi, balance enquiry, histori transaksi,
transfer kredit, transfer debit.
Ini ada 50 standar dari turunan
kelompok ini,” papar Juda
(Oleh - HR1)
Internet Indonesia Bakal Lebih Kencang
Facebook dan Google mempersiapkan proyek jaringan kabel laut langsung antara Amerika Serikat dan Indonesia; kurangi ketergantungan akses internet melalui jaringan Singapura dan Hong Kong.
JAKARTA, KOMPAS — Untuk pertama kalinya Indonesia akan memiliki jaringan internet laut yang langsung terhubung dengan kawasan Amerika Utara. Proyek yang direncanakan selesai pada 2023-2024 ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas jaringan internet Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap jaringan Singapura dan Hong Kong.
Dua jaringan sistem komunikasi kabel laut (SKKL) yang diberi nama Echo dan Bifrost ini adalah hasil inisiatif dari raksasa media sosial Facebook. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas koneksi internet antara Asia Tenggara dan Amerika Utara. Echo direncanakan akan mulai dapat digunakan pada 2023, sedangkan Bifrost pada 2024.
Investasi Facebook untuk jaringan Bifrost akan ditanggung bersama dengan Telin, lengan bisnis internasional dari Telkom, dan perusahaan konglomerat Singapura, Keppel. Sementara Echo akan menjadi investasi bersama Facebook dengan Google dan XL Axiata.
VP Network Investments Facebook Kevin Salvadori mengatakan, Echo dan Bifrost akan menjadi proyek pertama yang menghubungkan Amerika Utara langsung ke kawasan Indonesia. Hal ini dapat meningkatkan kapasitas komunikasi data secara signifikan antara kawasan Asia Tenggara dan Amerika.
VP Global Networking Google Cloud Bikash Koley mengatakan, koneksi Echo langsung antara AS dengan Jakarta dan Singapura ini akan mempersingkat kecepatan akses atau latency pengguna terhadap layanan yang menggunakan platform komputasi awan milik Google, yakni Google Cloud Platform (GCP).
Berdasarkan data dari firma riset pasar telekomunikasi TeleGeography, selama ini kebanyakan jalur telekomunikasi bawah laut dari AS ke Asia cenderung melalui sisi utara, dengan landing point di pantai timur Jepang, Taiwan, maupun Hong Kong.
(Oleh - HR1)
Viding, Platform Perlancar Pernikahan Secara Virtual
Jakarta - Viding, one stop virtual wedding platform, atau platform pernikahan daring lahir di Jakarta pada Juli 2020. Kehadirannya untuk membantu pasangan yang ingin menikah secara aman, nyaman dan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ketat. Tamu undangan pun dapat hadir secara daring dari lokasi masing-masing. Setelah lebih dari enam bulan, Viding telah menangani 300-an pasangan muda yang menikah di berbagai kota, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Solo, Bali, dan segera hadir di Kota Medan.
Viding lahir keinginan untuk beradaptasi menghadapi pandemi Covid-19. Viding melihat pernikahan daring ditengah situasi sulit saat ini menjadi fokus untuk bertumbuh sebagai bisnis rintisan. Hal tersebut diyakini akan menjadi tren normal baru bagi pasangan muda yang ingin menyelenggarakan intimate wedding secara hybrid. Viding dilengkapi dengan fitur-fitur yang dapat membantu pasangan muda mengelola prosesi pernikahannya. Yakni web-invitation, e-guestbook, e-angpao, dashboard reporting dan live streaming. Saat ini viding telah membantu 300-an pasangan untuk menikah, 650 ribuan undangan tamu hadir secara virtual, dan Rp 1,2 miliar angpao yang sudah terkumpul bagi mempelai yang menikah.
(Oleh - IDS)
Melirik Ceruk Pasar Konten Kreator
Sektor ekonomi kreatif yang terus tumbuh di Indonesia membuat konsumen segmen pekerja kreatif menjadi pasar dengan potensi besar bagi produsen teknologi, khususnya komputer personal.
Produsen komputer HP Inc. Indonesia Head of Consumer Personal System Category HP Inc Hansen Wijaya mengatakan bahwa HP Indonesia ingin mendukung para kreator muda Indonesia dalam berkreasi melalui produk-produk yang dimilikinya dengan menggelar program pelatihan yang disebut HP Mentorship Project. Ini
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), misalnya, juga telah menargetkan peningkatan nilai ekospor produk ekonomi kreatif dari 16,9 miliar dollar AS pada 2020 menjadi 19,26 miliar dollar AS. Sumbangan ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto yang saat ini berada di angka 7,4 persen juga diharapkan dapat menembus 10-12 persen dalam 5-10 tahun mendatang.
Market Analyst IDC Indonesia, Stallone Hangewa, memprediksikan bahwa pasar komputer di Indonesia akan tumbuh pesat pada 2021, bahkan tumbuh hingga 37,2 persen.
Percepat Transformasi Digital, Industri Telko Butuh Insentif
JAKARTA - Langkah pemerintah membangun
Palapa Ring dan menyiapkan Satelit Satria untuk
mendigitalkan seluruh wilayah NKRI sudah tepat.
Namun, untuk mempercepat transformasi digital,
pemerintah perlu memberikan insentif kepada
para penyelenggara teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) di Tanah Air.
Insentif yang dibutuhkan industri
TIK di antaranya relaksasi Biaya
Hak Penggunaan (BHP) Frekuensi,
BHP Telekomunikasi, kewajiban
pelayanan universal (universal service obligation/USO), serta insentif
fiskal untuk investasi penggelaran
jaringan TIK, khususnya di wilayah
nonkomersial atau tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Di sisi lain, pemerintah juga
harus lebih intens berkolaborasi dan melibatkan lebih banyak
penyelenggara jasa dan jaringan
telekomunikasi secara masif guna
memperluas penetrasi internet
di wilayah baru dan kawasan 3T.
Melalui langkah tersebut, target
‘merdeka sinyal’ dan menjadikan
Indonesia sebagai bangsa digital
bisa terealisasi lebih cepat.
Renstra 2020-2024
Menurut Dirjen SDPPI Kemenkominfo, Ismail, pemerintah melalui
Kemenkominfo sudah menetapkan
rencana pembangunan sektor TIK
dalam jangka pendek hingga menengah. “Kolaborasi semua pihak
terkait dibutuhkan untuk merealisasikan seluruh wilayah Indonesia
merdeka sinyal dan meujudkan program Indonesia Digital,” tegas dia.
Renstra tersebut, kata dia,
mengacu pada agenda pembangunan nasional sesuai Perpres No 18
Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020—2024.
Renstra Kemkominfo juga mengacu
pada perkembangan TIK global.
Menurut Ismail, Kemkominfo
pun telah memproyeksikan kebutuhan anggaran sebesar Rp 111,25
triliun untuk merealisasikan Renstra
hingga 2024. Perinciannya, pada
2020 membutuhkan anggaran Rp
8,09 triliun, 2021 sebanyak Rp 26,13
triliun, 2022 sebesar Rp 27,08 triliun,
2023 senilai Rp 24,61 trilun, dan 2024
sejumlah Rp 25 triliun.
Butuh Insentif
Wakil Ketua Umum ATSI/Presdir
Smartfren, Merza Fachys mengakui,
untuk mewujudkan transformasi
digital secara menyeluruh membutuhkan kolaborasi semua pemangku
kepentingan (stakeholders).
Ketua Umum Apjatel, Muhammad
Arif Angga menjelaskan, program
yang dijalankan Badan Aksesibilitas
Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kemenkominfo sudah berjalan
cukup baik untuk membangun akses
internet ke wilayah 3T.
Bakti bertugas membangun jaringan telekomunikasi di wilayah 3T dari
iuran biaya hak penggunaan (BHP)
frekuensi operator telekomunikasi
yang disebut USO. Juga rencana peluncuran satelit Satria-1 pada kuartal
III-2023.
Perihal rencana implementasi
5G, Arif menyarankan agar regulasi
di pusat dan daerah diharmonisasi
dengan baik. Soalnya, pembangunan
kedua infrastruktur ini akan sangat
masif jika 5G diterapkan.“Kita bisa
mulai dari kota-kota besar dulu karena investasinya pasti sangat besar,”
kata dia
Perlu Kolaborasi
Sementara itu, Group Head Corporate Communications XL Axiata,
Tri Wahyuningsih mengemukakan,
pembangunan jaringan akses internet
berteknologi mobile broadband 4G
LTE sangat dipengaruhi beberapa
faktor, seperti spektrum frekuensi,
ketersediaan jaringan transmisi/
transport, lokasi site, ketersediaan
infrastruktur jalan, serta infrastruktur
pendukung lainnya, seperti listrik dan
transportasi.
Salah satu solusinya, menurut
Tri Wahyuningsih, adalah menjalin
kolaborasi di antara stakeholder yang
terlibat.
Solusi lainnya adalah memanfaatkan teknologi yang cocok untuk mempercepat pembangunan infrastruktur
jaringan akses broadband di daerah
3T, remote, atau rural, di antaranya
teknologi satelit berkapasitas data
besar (high throughput satellites/
HTS) dan teknologi alternatif lain,
seperti high altittude platform station
(HAPS).
12.548 Desa
Dirjen SDPPI Kemenkominfo,
Ismail mengatakan, dalam Renstra
2020-2024, Kemenkominfo menetapkan peta jalan (roadmap) untuk
mencapai tujuan utama pembangunan
TIK. Pertama, mempercepat perluasan akses dan peningkatan infrastruktur digital.
Kedua, melakukan transformasi
digital di sektor-sektor strategis, di
antaranya pemerintahan, layanan
publik, bantuan sosial, pendidikan,
kesehatan, perdagangan, industri,
dan penyiaran agar utilitisasi infrastruktur meningkat.
“Ketiga yaitu percepatan integrasi
pusat data nasional, mempersiapkan
SDM talenta digital. Sedangkan keempat, kami menyiapkan berbagai
hal yang berkaitan dengan regulasi,
skema pendanaan, dan pembiayaan
transformasi digital,” ucap dia.
Berdasarkan data Kemenkominfo,
dari total 83.218 desa dan kelurahan
di wilayah Indonesia, masih terdapat
12.548 (15,07%) desa dan kelurahan
yang belum terjangkau jaringan internet 4G LTE. Sebanyak 9.113 (73%)
desa dan kelurahan di antaranya
merupakan wilayah 3T.
Di daerah-daerah tersebut, jaringan
internet bakal dibangun Kemenkominfo melalui Bakti. Sisanya, 3.435
desa dan kelurahan (27%) yang masuk
wilayah non-3T (komersial) akan
dibangun operator telekomunikasi.
Dirjen SDPPI, Ismail mengemukakan, Kemenkominfo akan memfasilitasi penggelaran infrastruktur
jaringan 5G di enam ibu kota provinsi
di Jawa yang dianggap paling siap,
lima destinasi wisata super prioritas,
dan satu industri manufaktur. “Untuk
itu, Kemkominfo mulai melelang pita
frekuensi 3,5 GHz yang akan digunakan untuk perluasan akses internet
4G dan kemungkinan 5G,” papar dia.
(Oleh - HR1)
Indonesia Terdepan Adopsi Layanan Digital di Asean
JAKARTA – Sebanyak 84% konsumen di Indonesia
sudah mulai beralih ke layanan/platform digital
untuk terhubung dengan sejumlah merek (brand)
sejak pandemi Covid-19 tahun lalu. Menurut
studi VMware Digital Frontiers 3.0, angka tersebut
tertinggi di Asia Tenggara (Asean) dan sembilan
negara yang disurvei.
Sejumlah organisasi di bidang layanan
finansial (57%), ritel (54%), dan edukasi
(36%) menjadi sektor terdepan di Indonesia yang berhasil meraih peningkatan
tertinggi dalam menghadirkan layanan
digital, dengan membandingkan kondisi
sebelum dan sesudah pandemi.
Country Manager VMware Indonesia
Cin Cin Go mengatakan, Indonesia
memperlihatkan komitmennya yang
sigap dalam mendukung terwujudnya
digital-first di masa depan. Hal ini ditandai dengan makin tingginya kebutuhan
konsumen untuk menikmati layanan
dan pengalaman secara digital.
“Ini menjadi landasan bagi perusahaan
untuk lebih gencar dalam mewujudkan
transformasi guna memenuhi kebutuhan
dan ekspektasi dari pelanggan mereka,”
tutur Cin Cin Go, dalam pernyataannya,
seperti dikutip Selasa (16/3).
Dia menjelaskan, konsumen Indonesia menjadi yang terdepan terkait
dengan tingkat penerimaan dalam merengkuh pengalaman digital (digital
experiences). Menurut studi VMware
yang bertajuk ‘Digital Frontiers 3.0
Study’, sejak tahun lalu, delapan dari 10
konsumen Indonesia, atau 84% sudah
mulai beralih ke layanan digital untuk
terhubung dengan brand.
Fakta tersebut pun menjadikan Indonesia berada di jajaran terdepan di
antara negara-negara lain di kawasan
Asia Tenggara yang menjadi target
studi dengan angka rerata penerimaan
layanan digital 78%.
Bahkan, Indonesia mengungguli
sejumlah negara maju dalam survei
tersebut, yakni Amerika Serikat yang
penerimaan layanan digitalnya baru
40%, Perancis 41%, Jerman 44%, dan
Inggris 34%.
Dari semua negara yang disurvei,
konsumen Indonesia juga merasa paling nyaman memberikan kepercayaan
ke perusahaan dalam mengakses data
personalnya agar sebagai pelanggan
dapat menikmati pengalaman digital
yang lebih baik.
Kepuasan Konsumen
Sementara itu, 64% konsumen di Indonesia juga mengaku bahwa kejadian
global tahun 2020 telah memaksa mereka
untuk beralih ke layanan digital dan merasakan pengalaman digital yang lebih baik.
Angka tersebut sedikit di bawah
rerata di Asia Tenggara (69%). Namun,
persentasenya masih jauh melebihi
negara-negara maju yang disurvei, yakni
Amerika Serikat dan Prancis sama-sama
baru 40%, Jerman 33%, dan Inggris 33%.
Bahkan disebutkan bahwa lebih dari
separuh (56%) konsumen di Indonesia
menyatakan akan beralih ke produk
maupun layanan kompetitor jika pengalaman digital yang dirasakan jauh
dari harapan. Karena itu, penting bagi
perusahaan untuk mengakselerasi
tumbuhnya inovasi.
Digitalisasi Sektor
Studi VMware Digital Frontiers 3.0
juga menyebutkan, sejumlah sektor
industri di Indonesia menjadi yang
terdepan dalam memenuhi ekspektasi
pelanggan di sepanjang tahun 2020.
Responden menyampaikan bahwa
organisasi-organisasi di sektor layanan finansial (57%), ritel (54%), dan
edukasi (36%), berhasil menghadirkan
pengalaman digital yang kian meningkat kepada konsumen dibandingkan
sebelum pandemi Covid-19.
Perusahaan di sektor layanan finansial (58%) dan ritel (38%) juga paling
dipercaya di antara sektor lain.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Iwan Sunito Bangun Properti di AS
23 Apr 2020 -
Ekspor Besi dan Baja Melonjak Selama Pandemi
20 Apr 2020 -
Fokus ke Sektor Domestik
19 Apr 2020 -
Tambahan Insentif Pajak ke 11 Sektor Usaha
16 Apr 2020









