Pertambangan
( 485 )Cadangan Batubara Nasional
Pasar batubara Indonesia sedang menantang setelah
tiga tahun yang fantastis, dari segi harga maupun permintaan pasar
internasional. Apakah cadangan batubara nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan
selama lebih dari 40 tahun? Sejak lonjakan harga batu-bara internasional pada
2022, hingga mencapai 400 USD per ton, produksi nasional terus menanjak dan
menorehkan rekor. Pada 2023, produksi batu-bara sebanyak 775,2 juta ton, sedangkan
pada 2024 produksinya 836 juta ton. Kondisi itu dipengaruhi relatif terjaganya
harga batubara internasional serta meningkatnya permintaan ekspor, terutama
dari China dan India. Namun, memasuki 2025, kondisi menantang karena kedua
negara utama tujuan ekspor batubara Indonesia itu justru meningkatkan produksi
dalam negeri. Sementara di domestik, ketenagalistrikan nasional masih
bergantung pada batubara sebagai bahan bakar PLTU.
Sebagai komoditas strategis, baik sebagai
penopang kelistrikan nasional maupun pendulang penerimaan negara bukan pajak
(PNBP), keberlanjutan batubara diperlukan. Mengutip data Badan Geologi, pada
2024, total sumber daya batubara Indonesia sebanyak 97,96 miliar ton. Sementara
total cadangan batubara sebanyak 31,95 miliar ton. Sumber daya batubara mencakup
total batubara yang mengendap diperut bumi, sedangkan cadangan ialah bagian
dari sumber daya yang dapat ditambang secara ekonomis. Sumber daya dan cadangan
batubara tersebut terdiri atas kalori rendah berarti 4.200 kkal/kg (gar) ke
bawah, kalori sedang 4.200 kkal/kg (gar)-5.200 kkal/kg (gar) dan kalori tinggi
5.200 kkal/kg (gar) ke atas. Dari total sumber daya batu-bara 2024, kalori
rendah dominan dengan 68,73 %, kalori sedang 15,84 % dan kalori tinggi 15,41 %.
Cadangan batubara, juga didominasi kalori rendah
dengan jumlah 75,28 %, diikuti kalori sedang 14,2 % dan kalori tinggi10,5 %. Batubara
kalori sedang dominan dimanfaatkan untuk PLTU. Batubara dengan kalori lebih
tinggi umumnya untuk kebutuhan industri, termasuk semen. Adapun kalori rendah,
dengan kadar air tinggi, memiliki keekonomian lebih rendah, namun bisa dicampur
dengan kalori tinggi untuk menghasilkan batubara yang sesuai untuk pengguna
akhir. Mengutip Laporan Kinerja Ditjen Minerba Kementerian ESDM 2024, umur
cadangan batubara pada 2024 ialah 43,93 tahun, didapat dari perbandingan jumlah
total cadangan terbukti (proven reserve) batubara terhadap produksi batubara pada
tahun yang sama. Namun, umur cadangan itu masih berdasarkan cadangan batubara
Indonesia keseluruhan, belum mengacu pada klasifikasi kualitas atau jenis
kalorinya. (Yoga)
Mata yang Akhirnya Terbuka terhadap Nasib Raja Ampat
Eksplorasi nikel di Pulau Gag di kawasan Raja Ampat, Papua Barat Daya, belakangan memantik perhatian. Publik berharap pengelolaan sumber daya alam di pulau itu sesuai ketentuan. Sejak lama kawasan Raja Ampat terkenal akan keanekaragaman hayati. Untuk mencapai pulau seluas 6.060 hektar itu, tim Kompas harus menghadapi angin yang sangat kencang dan bisa menegakkan gelombang hingga 5 meter. Tapi, saat tiba di pesisir, anggota tim justru jauh dari tenang, karena khawatir pada masa depan alam sekitar Raja Ampat. Air di pesisir keruh, permukaannya berlumpur. Berbeda dengan pesisir pulau-pulau lain di Raja Ampat dimana karang dan ikan bisa dilihat dengan mata telanjang dari atas permukaan air. Berada dalam wilayah Raja Ampat, yang dijuluki ”Surga Terumbu Karang Dunia”, pesisir Pulau Gag menampilkan wajah yang kontras. Eksploitasi nikel diduga menjadi penyebab.
Pada Juni 2025, penambangan nikel yang dikelola PT Gag Nikel di Pulau Gag ramai dibicarakan. Publik menyoroti dampaknya terhadap keberlangsungan ekosistem Raja Ampat. Plt Presdir PT Gag Nikel, Arya Arditya menyatakan akan menghentikan sementara kegiatan penambangan, sesuai perintah Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Akan dilakukan verifikasi lapangan terkait kegiatan usaha pertambangan (Kompas.id, 5/6/2025). Izin eksplorasi nikel di Pulau Gag turun pada 1998. Perusahaan baru mendapat izin produksi pada 2017 dan berproduksi setahun kemudian. Target produksinya 1,8 juta ton per tahun. Arya mengatakan, pihaknya memahami pentingnya transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi. ”Khususnya berkaitan dengan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Kami siap menyampaikan segala dokumen pendukung yang diperlukan dalam proses konfirmasi pada Kementerian ESDM,” ujar Arya, Kamis (5/6).
PT Gag Nikel telah melaksanakan rehabilitasi daerah aliran sungai, reklamasi area tambang, program konservasi terumbu karang dan pemantauan kualitas lingkungan.”Gag Nikel berkoordinasi intensif dengan KLH dan Kemenhut untuk mengawasi dan memonitor operasionalisasi tambang,” lanjutnya. Empat tahun silam, guru besar logam berat Universitas Pattimura, Ambon, Yusthinus T Male, sudah memprediksi risiko penambangan nikel di Pulau Gag yang bisa merusak ekosistem Raja Ampat. ”Akhirnya mata semua orang terbuka melihat dampak nikel,” ujar Yusthinus, Jumat (6/6). Ia mengatakan, sedimen yang mengandung logam berat, khususnya nikel (Ni), sangat berbahaya bagi terumbukarang. Nikel sangat beracun bagi anemon laut, bahkan lebih beracun dari logam tembaga (Cu) karena mematikan larva karang. Banyak lokasi tambang di daerah tropis yang berada di pulau-pulau kecil tercemar limbah tambang, seperti nikel. Padahal, penduduk setempat menjadikan laut sebagai sumber utama protein. (Yoga)
Mata yang Akhirnya Terbuka terhadap Nasib Raja Ampat
Eksplorasi nikel di Pulau Gag di kawasan Raja Ampat, Papua Barat Daya, belakangan memantik perhatian. Publik berharap pengelolaan sumber daya alam di pulau itu sesuai ketentuan. Sejak lama kawasan Raja Ampat terkenal akan keanekaragaman hayati. Untuk mencapai pulau seluas 6.060 hektar itu, tim Kompas harus menghadapi angin yang sangat kencang dan bisa menegakkan gelombang hingga 5 meter. Tapi, saat tiba di pesisir, anggota tim justru jauh dari tenang, karena khawatir pada masa depan alam sekitar Raja Ampat. Air di pesisir keruh, permukaannya berlumpur. Berbeda dengan pesisir pulau-pulau lain di Raja Ampat dimana karang dan ikan bisa dilihat dengan mata telanjang dari atas permukaan air. Berada dalam wilayah Raja Ampat, yang dijuluki ”Surga Terumbu Karang Dunia”, pesisir Pulau Gag menampilkan wajah yang kontras. Eksploitasi nikel diduga menjadi penyebab.
Pada Juni 2025, penambangan nikel yang dikelola PT Gag Nikel di Pulau Gag ramai dibicarakan. Publik menyoroti dampaknya terhadap keberlangsungan ekosistem Raja Ampat. Plt Presdir PT Gag Nikel, Arya Arditya menyatakan akan menghentikan sementara kegiatan penambangan, sesuai perintah Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Akan dilakukan verifikasi lapangan terkait kegiatan usaha pertambangan (Kompas.id, 5/6/2025). Izin eksplorasi nikel di Pulau Gag turun pada 1998. Perusahaan baru mendapat izin produksi pada 2017 dan berproduksi setahun kemudian. Target produksinya 1,8 juta ton per tahun. Arya mengatakan, pihaknya memahami pentingnya transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi. ”Khususnya berkaitan dengan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Kami siap menyampaikan segala dokumen pendukung yang diperlukan dalam proses konfirmasi pada Kementerian ESDM,” ujar Arya, Kamis (5/6).
PT Gag Nikel telah melaksanakan rehabilitasi daerah aliran sungai, reklamasi area tambang, program konservasi terumbu karang dan pemantauan kualitas lingkungan.”Gag Nikel berkoordinasi intensif dengan KLH dan Kemenhut untuk mengawasi dan memonitor operasionalisasi tambang,” lanjutnya. Empat tahun silam, guru besar logam berat Universitas Pattimura, Ambon, Yusthinus T Male, sudah memprediksi risiko penambangan nikel di Pulau Gag yang bisa merusak ekosistem Raja Ampat. ”Akhirnya mata semua orang terbuka melihat dampak nikel,” ujar Yusthinus, Jumat (6/6). Ia mengatakan, sedimen yang mengandung logam berat, khususnya nikel (Ni), sangat berbahaya bagi terumbukarang. Nikel sangat beracun bagi anemon laut, bahkan lebih beracun dari logam tembaga (Cu) karena mematikan larva karang. Banyak lokasi tambang di daerah tropis yang berada di pulau-pulau kecil tercemar limbah tambang, seperti nikel. Padahal, penduduk setempat menjadikan laut sebagai sumber utama protein. (Yoga)
Hutan Dibabat dan Sawah Kami Rusak Setelah Masuknya Tambang
Kementerian Lingkungan Hidup telah mencabut izin lingkungan tambang seng dan timbal PT Dairi Prima Mineral (DPM) di Kabupaten Dairi, Sumut, sebagai tindak lanjut putusan MA yang memenangkan gugatan warga. Kini, warga meminta agar pertambangan ditutup permanen. ”Kami turun-temurun hidup dari pertanian. Setelah tambang beraktivitas, hutan lindung dibabat, banjir bandang melanda, dan sawah kami rusak total. Dulu kami menjual beras, sekarang harus membeli beras,” kata Darwin Situmorang (73), warga Desa Bongkaras, Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Selasa (3/6) di Medan. Penolakan warga terhadap kehadiran tambang sudah berlangsung 20 tahun, sejak PT DPM masuk ke Dairi pada 2005. Ada 11 desa di Kecamatan Silima Pungga-Pungga dan Siempat Nempu Hilir yang terdampak langsung oleh aktivitas tambang tersebut. Warga bersama sejumlah organisasi pendamping berjuang dengan berbagai cara menolak kehadiran tambang.
Aktivitas tambang tersebut, sangat berdampak terhadap pertanian. PT DPM, sudah membangun gudang bahan peledak,mulut terowongan, bendungan limbah dan jalan akses ke kawasan pertambangan. Alih fungsi hutan lindung dihulu permukiman, telah berdampak langsung terhadap kegiatan pertanian mereka. Banjir bandang melanda Kecamatan SilimaPungga-Pungga pada 2018.Enam warga meninggal serta puluhan hektar sawah dan ladang rusak berat. ”Saya sendiri kehilangan 3 hektar sawah karena rusak akibat banjir bandang itu, ” kata Darwin, yang sebelumnya, tiap pekan menjual beras ke kota untuk memenuhi kebutuhan lauk-pauk. Sementara hasil dari ladang, seperti durian, petai, jeruk purut dan kopi, digunakan untuk menyekolahkan anak-anaknya. ”Anak saya sembilan orang,semuanya tamat sarjana dari hasil pertanian,” kata Darwin. Kini, Darwin tak punya sawah lagi dan harus membeli beras untuk kebutuhan keluarga. Hasil ladang juga menurun drastis.
Dampak buruk dari tambang membuat warga menolak keberadaan PT DPM. Pertambangan seng dan timbal itu digagas sejak 2005 dan langsung ditolak keras masyarakat. Pembangunannya berhenti total pada 2012 hingga 2017 karena penolakan warga. Namun, pembangunan tambang dilanjutkan pada 2017. Warga juga menolak pembangunan gudang bahan peledak yang sangat dekat dengan permukiman, yakni hanya berjarak 50 meter dari permukiman dan ladang warga terdekat. Warga pun menolak pembangunan bendungan limbah di hulu permukiman yang dikhawatirkan rawan jebol karena gempa. ”Kami berharap pencabutan izin lingkungan oleh pemerintah ditindaklanjuti dengan penghentian pertambangan secara permanen,” kata Rainim. Sekretaris Eksekutif LBH Rakyat Sumut, Juniaty Aritonang mengatakan, pihaknya mengapresiasi langkah KLH yang mencabutizin lingkungan PT DPM. ”Ini preseden baik. Negara berani mencabut surat keputusan izin lingkungan perusahaan yang mengancam ruang hidup masyarakat,” kata Juniaty. (Yoga)
Sektor Pertambangan Mineral dan Batu Bara Mencapai Rp53,39 Triliun
Perusahaan Perancis Digandeng Danantara
Badan Pengelola Investasi atau BPI Danantara meneken dua nota kesepahaman strategis dengan perusahaan pertambangan Eramet, serta grup perbankan Crédit Agricole Corporate and Investment Bank (CIB) asal Perancis untuk memperkuat ekosistem hilirisasi mineral dan memperluas akses pembiayaan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, yang diteken di Jakarta pada Rabu (28/5) bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Perancis Emmanuel Macron dan disaksikan Presiden RI Pra-bowo Subianto. Kerja sama pertama antara BPI Danantara dan Eramet melibatkan Indonesia Investment Authority (INA). Ketiganya berkomitmen membentuk platform investasi strategis sektor nikel dari hulu ke hilir. Kemitraan ini difokuskan pada pengembangan ekosistem bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) yang berkelanjutan dan terintegrasi di Indonesia. Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan, pihaknya bersama INA akan mengelola pendanaan jangka panjang.
Sementara Eramet menyumbangkan keahlian teknis dan pengalaman global dalam proyek pertambangan berkelanjutan. ”Kemitraan ini mencerminkan komitmen mendorong investasi hilirisasi nikel kelas dunia, serta mendukung pembangunan industri nasional yang berkelanjutan,” ujarnya, dikutip Kompas dari pernyataan resmi,Kamis (29/5). Eramet yang telah beroperasi di Weda Bay, Maluku Utara, sejak 2006, juga tengah mengeksplorasi mineral kritis, seperti litium bersama Badan Geologi. CEO Eramet Group Paulo Castellari mengatakan, kerjasama ini sejalan dengan strategi jangka panjang perusahaan untuk mendukung transisi energi dan penguatan rantai nilai baterai EV di Indonesia. ”Kami siap memberi kontribusi melalui keahlian kami dibidang pertambangan berkelanjutan serta komitmen jangka panjang dalam mengembangkan industri strategis di Indonesia,” ujar Paulo. (Yoga)
Freeport Siapkan Pasar Dalam Negeri untuk Katoda Tembaga
PT Freeport Indonesia membidik sejumlah industri dalam negeri sebagai pasar utama untuk menyerap katoda tembaga dari smelter barunya di Gresik, Jawa Timur, yang ditargetkan beroperasi penuh dengan kapasitas 600.000 ton pada akhir tahun ini. Presiden Direktur Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan bahwa perusahaan telah memetakan berbagai industri yang memerlukan katoda tembaga, termasuk Hailiang Group yang membangun pabrik foil tembaga di sekitar smelter dan diperkirakan membutuhkan 100.000 ton katoda tembaga per tahun. Selain itu, terdapat minat dari perusahaan China dan lokal yang akan memproduksi copper rod, serta kebutuhan dari PT Pindad untuk selongsong peluru yang selama ini masih bergantung pada impor.
Tony juga menyoroti peluang besar dari proyek pembangunan jalur transmisi PT PLN sepanjang 40.000 kilometer sirkuit yang membutuhkan pasokan tembaga. Dengan beroperasinya smelter Freeport secara penuh, produksi katoda tembaga nasional diperkirakan mencapai 800.000 ton per tahun, belum termasuk pasokan dari smelter Amman Mineral.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menambahkan bahwa di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) akan dibangun dua pabrik turunan tembaga dengan investasi sekitar Rp6-7 triliun. Pabrik-pabrik ini akan mengolah katoda tembaga menjadi copper foil dan kabel, sehingga mendukung optimalisasi penghiliran industri tembaga nasional di kawasan tersebut.
Langkah ini menunjukkan upaya strategis PT Freeport Indonesia dan pemerintah dalam mengembangkan industri pengolahan tembaga dalam negeri untuk memperkuat rantai nilai dan ketahanan industri nasional.
Ambisi Industri Nikel
Indonesia saat ini menghadapi dua pilihan kritis, antara
mengejar ambisi industrialisasi-khususnya sebagai produsen dan pusat manufaktur
baterai kendaraan listrik (lectric vehicle atau EV) di pasar dunia. Sebagai
produsen nikel terbesar dengan cadangan mencapai 55 juta metrik ton, posisi
Indonesia memang sangat strategis dalam rantai pasok baterai EV global.
Pemerintah menargetkan untuk menjadi salah satu dari tiga produsen baterai EV
terbesar di dunia pada tahun 2027, dengan kapasitas produksi mencapai 2030 guna
memenuhi hingga 9% dari permintaan global. Langkah strategis seperti larangan
ekspor bijih nikel sejak 2020 bertujuan untuk mendorong hilirisasi dan menarik
investasi asing guna mewujudkan ambisi ini. Oleh karena itu, pemerintah aktif
mengundang masuknya perusahaan-perusahaan besar seperti Hyundai-LG, CATL,
Faxconn, Ford, BASF, dan LG Solution. Kawasan industri seperti Indonesia Morowali
Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tenggara juga berkembang pesat sebagai pusat
pengolahan nikel. (Yetede)
Operasional Perdana Smelter
Dua petinggi Freeport McMoran (FCX) melihat langsung dimulainya operasinal smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur. Freeport McMoran merupakan pemegang 49% saham PT Freeport Indonesia (PTFI) sekaligus menjadi operator tambang Grasberg di Papua. Kedua petinggi itu yakni Chairman of the Board FCX Richard C. Adkerson dan Presiden & CEO FCX Kartleen Quirk. Kehadiran kedua petinggi itu seiring rampungnya perbaikan pabrik asam sulfat di kompleks smelter Manyar. Reparasi rampung lebih cepat satu bulan dari rencana kerja yang telah ditetapkan. Kini, smelter Manyar mulai masuk fase berikutnya yakni berproduksi secara bertahap hingga kapasitas maksimum yang direncanakan pada akhir 2025.5.22.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan kehadiran Adkerson dan Quirk guna memastikan kelancaran
beroperasinya smelter Manyar. Ditargetkan produksi smelter menghasilkan katoda
tembaga pada pekan keempat Juni mendatang. “Setelah dimasukkan konsentrat,
diolah oleh furnace menjadi anoda tembaga, kemudian dibawa ke elektroefinery
untuk menjadi ketoda tembaga,” kata Tony. Dia menuturkan beroperasinya kembali
Smelter PTFI pada pekan ketiga Mei ini merupakan sebuah capaian yang sangat
baik dan merupakan bukti nyata resilensi perusahaan dalam mengatasi
melaksanakan komitmen terhadap hilirisasi. “Produksi smelter sebetulnya akan
dimulai pekan ketiga bulan Juni. Namun pada perkembangannya, proses perbaikan
dapat terselesaikan lebih cepat,” kata Toni. (Yetede)
Motor Pertumbuhan Vale
Tiga proyek raksasa PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksikan bakal beroperasi lebih cepat dari jadwal dan menjadi motor bagi pertumbuhan kinerja perseroan ke depan. Laba Vale bahkan ditaksir bisa menguat sampai tiga digit pada tahun ini. Ketiga proyek tambang sekaligus smelter tersebut memiliki total nilai fantastis berkisar US$ 9-10 miliar atau ekuivalen Rp 164 triliun (kurs Rp 16.450 per US$) yang hingga saat ini masih terus disebut Vale. Pertama adalah proyek tambang forenikel di Bahodopi yang dikerjakan perseroan melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), perusahaan patungan (joint venture/JV) antara Vale dan Tisco serta Xinhai.
Kedia, proyel Hihg Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomala melalui PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), JV antara Vale menggandeng Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford. Terakhir, proyek mixed hydroxide precipitate (MHP) di Sorowako yang dikerjakan perseroan melalui PT HPAL Nickel Indonesia (HNI), JV antara Vale, Huayou, dan pihak ketiga yang disebut-sebut akan disiapkan oleh Huayou dengan syarat memiliki standar ESG global. Salah satu dari tiga proyek tersebut tepatnya proyek tambang di Blok Bahodopi diperkirakan berpotensi lebih cepat, sehingga berpotensi menjadi katalis kinerja laba perusahaan pada tahun. Belum lagi, proyek KNI an HNI yang disebut juga akan mendukung profitabilitas vale. Ini terlihat pada kuartal 1-2025, keuntungan derivatif INCO terdorong oleh proyek KNI dan HNI sebesar US$ 16,7 juta. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023








