Batu Bara
( 291 )Meniti Keseimbangan Royalti Batu Bara
Di tengah fluktuasi harga komoditas batu bara ICE Newcastle yang cenderung meroket, pemerintah memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat pembahasan tarif royalti baru untuk Si Emas Hitam. Percepatan pembahasan perubahan tarif royalti digadang-gadang dapat mendongkrak penerimaan negara. Tren harga batu bara yang cenderung naik tentu saja membawa angin segar bagi para pelaku industri pertambangan nasional. Kendati, harga komoditas batu bara ICE Newcastle pada perdagangan Jumat (29/10) sempat terkoreksi menjadi US$223,45 per metrik ton, setelah sebelumnya sempat bertengger di angka US$272,5 per metrik ton, harga emas hitam diproyeksikan tetap menjanjikan hingga akhir tahun. Berdasarkan pertimbangan tersebut, pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuat kajian perubahan tarif royalti batu bara yang disampaikan kepada Kementerian Keuangan. Pembahasan perubahan tarif royalti batu bara ini direncanakan selesai dalam waktu singkat dan dapat disosialisasikan kepada para pemangku kepentingan. Saat ini tarif royalti untuk batu bara dari pertambangan terbuka dari pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dengan tingkat kalori kurang dari 4.700 Kkal per kg sebesar 3% dari harga jual.
PTBA Serius Garap Bisnis Energi Terbarukan
PT Bukit Asam Tbk PTBA) menyatakan serius menggarap bisnis energi terbarukan. Proyek Pambangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) merupakan salah satu upaya yang sudah bergulir. Keseriusan itu merupakan upaya menjaring pembiayaan dari institusi keuangan. Direktur Utama PTBA Suryo Eko Hadianto mengatakan sulitnya pendanaan untuk mengembangkan batu bara bakal ditemui di masa mendatang. "Kami mengembangkan PLTS untuk menunjukkan PTBA akan menuju masuk bisnis energi terbarukan," kata Suryo dalam BUMEE summit 2021 yang digelar Berita Satu Media Holding, Rabu (27/10).
Suryo mengatakan opersional PTBA dari perencanaan, penambangan, hingga pengangkutan batu bara selalu mempertimbangkan aspek lingkungan. Bahkan lahan paksa tambangpun dikelola dengan baik. "Ini upaya kami untuk bisa mendapatkan rating ESG supaya kebutuhan pendanaan berjalan kedepannya," paparnya. Pada kesempatan itu, Suryo juga mengatakan bahwa pemanfaatan batu bara saat ini dibenturkan dengan isu perubahan iklim. Padahal perkembangan teknologi telah mampu menekan hingga emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran batu bara.
Perkembangan teknologi carbon capture merupakan salah satu jawaban dalam menyikapi isu perubahan iklim. PT Bukit Asam Tbk bekerja samapun dengan perguruan tinggi untuk mengembangkan teknologi carbon capture maupun carbon storage. "Carbon capture dan carbon storage mampu menjawab dan tidak membenturkan isu perubahan iklim dengan pembakaran batu bara. Saat ini sudah 29 perusahaan yang mengembangkan teknologi carbon capture dan carbon storage dengan biaya terjangkau." jelasnya. (Yetede)
Mendulang Untung Dari Geliat Batu Bara
Momentum menggeliatnya harga batu bara di pasar internasional mengembuskan angin segar di ranah energi dan sumber daya mineral, khususnya pertambangan batu bara. Pada Oktober ini, harga si Emas Hitam menguat setelah sebelumnya sempat lunglai akibat pandemi. Bursa ICE Neswcastel mencatat harga batu bara di pasar global mencapai mencapai US$247,50 per metrik ton untuk kontrak Desember 2021. Pada saat yang sama, harga batu bara acuan di pasar domestik, menyentuh US$161,63 per metrik ton atau yang tertinggi sejak ditetapkan pada 2009.
Selama ini kegiatan ekplorasi batu bara di Indonesia begitu rendah. Perusahaan batu bara cenderung lebih fokus pada kegiatan produksi dibandingkan dengan kegiatan eksplorasi. Berdasarakan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESD), investasi eksplorasi tambang sejak 2016 cenderung stagnan. Tercatat pada 2016 investasi eksplorasi baru mencapai sebesar UUS$65 juta, pada 2017 sebesar sebesar US$115 juta, dan pada 2018 sebesar US$145 juta. Sementara itu, pada 2019 sebesar US$274 juta, dan pada tahun lalu kurang lebih tercapai US$300 juta.
Pemerintah telah memberikan banyak intensif untuk menarik minat pemilik tambang untuk berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi. Termasuk membuat peta jalan yang berisikan kebijakan untuk mendukung sektor tambang sebagai salah satu pilar perekonomian nasional. Upaya tersebut ternyata belum cukup kuat untuk mengungkit minat investor. Di sisi lain, melalui kegiatan eksplorasi maka potensi hasil tambang disetiap wilayah penghasil akan lebih maksimal diperoleh dan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat sekitar tambang dan rakyat Indonesia. (yetede)
Pertambangan Batu Bara, Momentum Besar Pacu Eksplorasi
Harga batu bara di pasar internasional yang terus mengukir rekor tertinggi pada tahun ini menjadi momentum bagi perusahaan tambang untuk merealisasikan rencana eksplorasi guna menambah cadangan komoditas tersebut. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menilai kondisi ini menjadi waktu tepat bagi pengusaha mendongkrak produksi. Seiring dengan hal itu, kegiatan eksplorasi pun perlu dilakukan sebagai penyeimbang. “Harusnya dengan kondisi harga seperti saat ini pelaku usaha bisa merealisasikan rencana eksplorasi mereka,” katanya kepada Bisnis, Senin (11/10). Adapun, bursa ICE Newcastle mencatat harga batu bara di pasar global mencapai US$238,6 per metrik ton pada akhir pekan lalu. Sementara itu, harga batu bara acuan (HBA) di pasar domestik, telah menyentuh US$161,63 per metrik ton pada Oktober 2021 atau yang tertinggi sejak ditetapkan pada 2009.
Lonjakan Harga Batubaru & CPO Kerek Harta Taipan
Sederet taipan Indonesia pemilik bisnis batubara dan kelapa sawit tengah menikmati berkah lonjakan harga komoditas tersebut. Harga batubara, misalnya, sempat menembus US$ 238,30 per ton atau melonjak 202% sejak awal tahun atau year to date (ytd). Sementara harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) juga sudah menembus US$ 1.100 per ton atau melesat 56% sejak awal tahun ini.
Bisnis Jasa Pengangkut Batubara Mulai Menggeliat
Harga barubara yang terus meningkat membuat bisnis jasa pengangkut batubara kian menggeliat. Salah satunya adalah PT Batulicin Nusantara Maritim (BNM). "Sebagai dampak positif dari meningkatnya perdagangan batubara dan prediksi kedepannya komoditi akan terus meningkat, maka PT BMN tidak ingin ketinggalan dari moment tersebut. Dengan menambah armada, kami berharap kedepannya pasokan batu bara dapat lebih kuat." kata Direktur PT BNM Yuliana di Jakarta, kemarin.
Menurut dia tren meningkatnya permintaan komoditi batu bara ini membuat PT BNM sebagai perusahaan yang menyediakan jasa kapal pengangkut batubara diproyeksikan akan memiliki dampak positif akibat meningkatnya permintaan jasa batubara yang diperkirakan akan berlanjut hingga akhir tahun ini. BNM berencana membeli tiga set kapal yang terdiri tugboat terbaru beserta barge atau lebih dikenal dengan sebutan tongkang.
Yuliana mengatakan bahwa pembelian tiga set kapal tersebut akan menopang aktivitas oprasional dan meningkatkan mutu pelayanan BMN, Pembelian set kapal tersebut akan dilakukan secara by order ke Karya Terbaik Utama Shipyard, salah satu perusahaan pembuatan kapal dan pelayanan lainnya di daerah Batam, kepulauan Riau. "Alasan utama dari rencana pembelian tiga set kapal tersebut tentunya akan menambah armada demi memenuhi kebutuhan pelanggan." ujar Yulianan pada Selasa (28/10). (yetede)
Pajak Karbon menyasar PLTU Energi Batubara
Bersiaplah, pemerintah segera menerapkan pajak karbon mulai 1 Januari 2022. Pungutan pajak anyar ini dikenakan bagi usaha pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang bertenaga batubara. Tarifnya sebesar Rp 30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Agenda tersebut tertuang dalam Rancangan Undang-Undang tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP). Calon beleid ini merupakan perubahan nama dari usulan sebelumnya yakni RUU tentang Perubahan Kelima atas UU Nomor 6/1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).
RI Bisa 'Kipas-kipas', China Teriak Minta Batu Bara Lagi
Krisis listrik di China semakin gawat. Gubernur Provinsi Jilin, Han Jun, berjanji akan meningkatkan pasokan listrik lokal dengan memperbesar skala impor batu bara. "Selain mengamankan pasokan batu bara lintas provinsi dari Daerah Otonomi Mongolia Dalam, (China juga akan) untuk meningkatkan impor dari Rusia, Mongolia dan Indonesia," dikutip dari Global Times, Jumat (1/10/2021). Namun laporan mengatakan pengamat industri memperhatikan bahwa solusi impor Jilin untuk kelangkaan listrik tidak memasukkan Australia. Sebelumnya negara ini pernah menjadi pemasok batu bara uap utama China. Sebelumnya aktivitas pabrik China yang menyusut akibat pembatasan penggunaan listrik meningkatkan banyak kekhawatiran mengenai nasib negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Harga Batubara Menembus US$ 200
Harga batubara terus mencatatkan rekor baru sepanjang tahun ini. Teranyar, harga batubara di ICE Newcastle mencapai US$ 212 per ton. Ini rekor tertinggi sepanjang sejarah. Secara year to date, harga batubara sudah naik hingga 166,5%. Research & Development ICDX Girta Yoga mengungkapkan, kenaikan harga batubara belakangan ini disebabkan makin derasnya desakan pengurangan emisi global. Ini secara tidak langsung membuat investasi di industri yang menghasilkan bahan bakar fosil, termasuk tambang batubara, tak lagi menarik. Yoga memprediksi harga batubara berpotensi naik ke resistance di kisaran US$ 225-US$ 250 per ton, dengan support di US$ 175-US$ 150 per ton. " Setidaknya hingga akhir tahun ini," kata Yoga.
Bisnis Batubara Makin Membara
Tahun 2021 sepertinya menjadi tahunnya batubara. Harga si batu hitam ini terus mencatatkan rekor baru sepanjang tahun ini. Teranyar, harga batubara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat mencapai US$ 212 per ton atau rekor tertinggi sepanjang sejarah. Padahal, pada akhir 2020, harga batubara masih berada di level US$ 79,55 per ton. Artinya secara year to date sudah melesat hingga 166,5%.
Research and Development ICDX Girta Yoga mengungkapkan, kenaikan harga batubara belakangan ini disebabkan oleh semakin derasnya desakan pengurangan emisi global untuk mencapai target nol bersih.
Harga batubara berpotensi melaju naik ke level resistance di kisaran US$ 225 per ton-US$ 250 per ton, dan level support di kisaran US$ 175 per ton-US$ 150 per ton, setidaknya hingga akhir tahun ini.
Pilihan Editor
-
Melawan Hantu Inflasi
10 Mar 2022 -
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022









