Perbankan
( 2293 )Di Tengah Tantangan Global dan Domestik, Bank OCBC Tumbuh Positif
Bank OCBC NISP Tbk mencatatkan pertumbuhan
kuat dan kinerja yang solid. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST),
OCBC membagikan dividen tunai Rp 106 per saham atau Rp 2,43 triliun yang merupakan
50 % dari laba tahun buku 2024. Sepanjang tahun 2024, OCBC NISP membukukan laba
Rp 4,9 triliun atau naik 19 % secara tahunan. Dana sebesar Rp 100 juta juga disisihkan
untuk cadangan umum, sedangkan sisa laba bersih ditetapkan sebagai laba
ditahan. RUPST yang digelar pada Kamis (20/3) juga memberi persetujuan untuk pembelian
kembali saham perseroan (share buyback) dari pemegang saham publik sebesar 390.000
saham atau 0,002 % dari total modal yang telah dikeluarkan dan disetor penuh dalam
perseroan. Presdir OCBC, Parwati Surjaudaja menambahkan, akuisisi dan merger PT
Bank Commonwealth telah diselesaikan pada 2024.
Akuisisi tersebut sekaligus menjadi komplementer
dalam memperkuat pertumbuhan ke depan. Direktur OCBC Hartati menyebut, return
on equity (ROE) atau imbal hasil atas ekuitas juga naik menjadi 13 %. Total
kredit yang disalurkan bank pun tumbuh 11 % mencapai Rp 170,5 triliun dengan
kualitas yang terjaga di mana rasio NPL bruto terhitung sebesar 1,6 %, lebih
rendah dari rata-rata industri perbankan. Total simpanan nasabah atau dana
pihak ketiga (DPK) juga meningkat 13 % menjadi Rp 205,9 triliun. Bank juga memiliki
modal yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ke depan yang tecermin pada rasio
kecukupan modal (CAR) sebesar 23,6 persen. Sementara margin bunga bersih
sebesar 4,4 %. Pendapatan bunga bersih bank meningkat 11,4 %, seiring pertumbuhan
kredit yang diberikan dan juga peningkatan pasar. (Yoga)
Di Tengah Tantangan Global dan Domestik, Bank OCBC Tumbuh Positif
Bank OCBC NISP Tbk mencatatkan pertumbuhan
kuat dan kinerja yang solid. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST),
OCBC membagikan dividen tunai Rp 106 per saham atau Rp 2,43 triliun yang merupakan
50 % dari laba tahun buku 2024. Sepanjang tahun 2024, OCBC NISP membukukan laba
Rp 4,9 triliun atau naik 19 % secara tahunan. Dana sebesar Rp 100 juta juga disisihkan
untuk cadangan umum, sedangkan sisa laba bersih ditetapkan sebagai laba
ditahan. RUPST yang digelar pada Kamis (20/3) juga memberi persetujuan untuk pembelian
kembali saham perseroan (share buyback) dari pemegang saham publik sebesar 390.000
saham atau 0,002 % dari total modal yang telah dikeluarkan dan disetor penuh dalam
perseroan. Presdir OCBC, Parwati Surjaudaja menambahkan, akuisisi dan merger PT
Bank Commonwealth telah diselesaikan pada 2024.
Akuisisi tersebut sekaligus menjadi komplementer
dalam memperkuat pertumbuhan ke depan. Direktur OCBC Hartati menyebut, return
on equity (ROE) atau imbal hasil atas ekuitas juga naik menjadi 13 %. Total
kredit yang disalurkan bank pun tumbuh 11 % mencapai Rp 170,5 triliun dengan
kualitas yang terjaga di mana rasio NPL bruto terhitung sebesar 1,6 %, lebih
rendah dari rata-rata industri perbankan. Total simpanan nasabah atau dana
pihak ketiga (DPK) juga meningkat 13 % menjadi Rp 205,9 triliun. Bank juga memiliki
modal yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ke depan yang tecermin pada rasio
kecukupan modal (CAR) sebesar 23,6 persen. Sementara margin bunga bersih
sebesar 4,4 %. Pendapatan bunga bersih bank meningkat 11,4 %, seiring pertumbuhan
kredit yang diberikan dan juga peningkatan pasar. (Yoga)
Di Tengah Dinamika Global, BI Tahan Suku Bunga Acuan
BI memutuskan mempertahankan suku
bunga acuan pada level 5,75 %, dengan mempertimbangkan ketidakpastian global
yang masih berlanjut sekaligus menjaga stabilitas perekonomian domestik. BI
juga tetap mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 5 % dan suku
bunga lending facility 6,5 %. Hal itu disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo
dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI di Jakarta, Rabu
(19/3). Keputusan itu konsisten dalam upaya menjaga perkiraan inflasi pada 2025
dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 1,5-25 persen. Hal tersebut sejalan
pula dengan upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental
di tengah ketidakpastian yang tetap tinggi seraya tetap mendorong pertumbuhan ekonomi
secara berkelanjutan.
BI akan mencermati prospek inflasi dan
pertumbuhan ekonomi dalam memanfaatkan ruang pemangkasan suku bunga acuan
dengan mempertimbangkan pergerak an nilai tukar rupiah. Adapun kebijakan
makroprudensial dan sistem pembayaran terus dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan. Menurut
Perry, ketidakpatian global masih tetap tinggi akibat kebijakan tarif AS yang
semakin luas. Hal itu berdampak terhadap dinamika perekonomian global yang pada
2025 diperkirakan tumbuh 3,2 %. ”Tetap tingginya ketidakpastian global itu
memerlukan respons kebijakan yang tepat dan terkoordinasi dengan baik untuk
memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi
domestik,” ujarnya. (Yoga)
Di Tengah Dinamika Global, BI Tahan Suku Bunga Acuan
BI memutuskan mempertahankan suku
bunga acuan pada level 5,75 %, dengan mempertimbangkan ketidakpastian global
yang masih berlanjut sekaligus menjaga stabilitas perekonomian domestik. BI
juga tetap mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 5 % dan suku
bunga lending facility 6,5 %. Hal itu disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo
dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI di Jakarta, Rabu
(19/3). Keputusan itu konsisten dalam upaya menjaga perkiraan inflasi pada 2025
dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 1,5-25 persen. Hal tersebut sejalan
pula dengan upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental
di tengah ketidakpastian yang tetap tinggi seraya tetap mendorong pertumbuhan ekonomi
secara berkelanjutan.
BI akan mencermati prospek inflasi dan
pertumbuhan ekonomi dalam memanfaatkan ruang pemangkasan suku bunga acuan
dengan mempertimbangkan pergerak an nilai tukar rupiah. Adapun kebijakan
makroprudensial dan sistem pembayaran terus dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan. Menurut
Perry, ketidakpatian global masih tetap tinggi akibat kebijakan tarif AS yang
semakin luas. Hal itu berdampak terhadap dinamika perekonomian global yang pada
2025 diperkirakan tumbuh 3,2 %. ”Tetap tingginya ketidakpastian global itu
memerlukan respons kebijakan yang tepat dan terkoordinasi dengan baik untuk
memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi
domestik,” ujarnya. (Yoga)
Rekor Tertinggi Harga Emas
Naiknya Suku Bunga Bank
BI mencatatkan tren suku bunga perbankan mulai menanjak di awal tahun ini. Peningkatan suku bunga tersebut akibat biaya dana yang juga meningkat di tengah tantangan likuiditas. Suku bunga dasar kredit (SBDK) Januari 2025 masih mengalami peningkatan secara bulanan, terutama pada kelompok BUMN. SBDK Januari 2025 tercatat 9,23% atau meningkat 5 basis poin (bps) dibanding Desember 2024. Peningkatan SBDK disebabkan masih berlanjutnya tren kenaikan biaya dana dan upaya memperbaiki margin keuntungan. Biaya dana atau Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK) masih melanjutkan tren kenaikan, atau meningkat sebesar 3 bps secara bulanan menjadi 3,54%.
Kelompok bank pelat merah atau BUMN menjadi kontributor utama kenaikan SBDK dengan kenaikan terbesar, ditengah perlambatan pertumbuhan kredit secara industri. SBDK kelompok BUMN meningkat 6 bps, didorong oleh kenaikan komponen biaya dana dan margin keuntungan. Kenaikan SBDK pada kelompok bank umum swasta nasional (BUSN) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) terpantau lebih rendah, sebesar 4 bps persentasenya. Sebaliknya, SBDK pada kelompok kantor cabang bank asing (KCBA) mengalami penurunan sebesar 24 bps dipengaruhi oleh efisiensi operasional," ujar Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Viviana Dyah Ayu Retno kepada Investor Daily, Rabu (19/3/2025). (Yetede)
Peran Baru BI dalam Penciptaan Lapangan Kerja
Buyback Saham, Harapan Baru Investor
Langkah Strategis Bank Sentral di Tengah Tantangan
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak di pasar keuangan Indonesia, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa BI memilih menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%, demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Meskipun terdapat ruang untuk pemangkasan, langkah tersebut belum diambil karena rupiah telah melemah 2,1% sepanjang tahun berjalan dan menjadi salah satu mata uang terlemah di Asia.
Perry menjelaskan bahwa keputusan ini sejalan dengan upaya menjaga inflasi dalam target 1,5%–3,5% untuk 2025–2026, serta mempertahankan nilai tukar rupiah sesuai fundamental ekonomi. Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan mengoptimalkan instrumen moneter seperti SRBI, SVBI, dan SUVBI untuk menarik dana asing dan memperkuat nilai tukar.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menekankan bahwa seluruh instrumen moneter akan terus diperkuat agar tetap menarik bagi investor asing. Per 17 Maret 2025, kepemilikan nonresiden dalam SRBI sudah mencapai 26,05%, menunjukkan daya tarik instrumen ini bagi investor luar negeri.
Sementara itu, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset menilai kebijakan BI menciptakan peluang bagi masuknya dana asing, karena menunjukkan konsistensi menjaga stabilitas moneter dan mendukung ekonomi. Namun, menurut ekonom OCBC seperti Lavanya Venkateswaran, trade-off antara pertumbuhan dan stabilitas rupiah akan semakin tajam seiring risiko global seperti perang tarif dan ketidakpastian arah suku bunga global.
Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno, juga mendukung langkah BI, menilai stabilitas rupiah lebih krusial bagi pelaku usaha dibanding penurunan suku bunga, terutama karena daya beli konsumen masih lemah dan dampak penurunan bunga diperkirakan tidak signifikan dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, keputusan BI menahan suku bunga menunjukkan kehati-hatian dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi, di tengah tekanan global yang tinggi.
Transaksi Rp 8.400 Triliun dicatatkan Qlola by BRI
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus berinovasi dalam layanan perbankan digital melalui QLola by BRI, yang semakin mendapat kepercayaan dari berbagai sektor industri. Hingga akhir tahun 2024, platform ini telah mencatat lebih dari 190.000 pengguna baru dari berbagai sektor, termasuk Agriculture, Mining, FMCG, Telecommunication, serta sektor digital seperti e-commerce dan fintech. Kepercayaan yang terus meningkat ini sejalan dengan kinerja QLola by BRI, terutama dalam mendukung pendapatan nonbunga.
Sepanjang 2024, transaksi nasabah melalui platform QLola Cash terus meningkat, dengan volume cash management tumbuh 19,13% (yoy), sementara fee based income layanan tersebut naik 3,80%. Sejak diluncurkan pada Desember 2022, QLola by BRI telah membukukan peningkatan volume transaksi cash management sebesar 15,9% (yoy), dengan total transaksi mencapai Rp 8.400 triliun. Direktur Bisnis Wholesale dan Kelembagaan BRI, Agus Noorsanto menyatakan bahwa BRI menargetkan QLola by BRI sebagai Top of Mind dalam perbankan digital. Strategi ini diperkuat melalui pemasaran yang agresif,perluasan ekosistem digital, serta penguatan kehadiran di pasar. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022 -
BUMN Garap Ekosistem Kopi
31 Jan 2022







