Perbankan
( 2327 )Pemberi Andil pada Inflasi
Tarif listrik merupakan komoditas utama yang memberikan andil tertinggi terhadap inflasi bulanan pada Maret 2025 dengan kontribusi sebesar 1,18%. Sementara itu, untuk mengantisipasi inflasi pada kuartal tahun kedua pemerintah perlu memperhatikan ketersediaan pangan, terutama ketika musim kemarau sudah tiba. Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa tingkat inflasi tahunan pada Maret 2025 sebesar 1,03% year on year (yoy), tercatat lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi tahunan pada Maret 2024 yang mencapai 3,05% (yoy). Namun, tingkat inflasi tahunan pada Maret 2025 masih lebih tinggi daripada Februari 2025 yang tercatat mengalami deflasi hingga 0,09% (yoy).
Setelah langkah pemerintah memberikan diskon listrik sebesar 50% selama bulan Januari-Februari 2025 mendorong terjadinya deflasi pada Januari 2025. Tarif listrik mengalami deflasi 32,03% dan memberikan sumbangan ke deflasi sebesar 1,47%. Adapun diskon tarif listrik memberikan andil deflasi pada Februari 2025 sebesar 0,67%. Adapun program pemerintah tersebut untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi. Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah mengatakan, pada Maret 2025 terjadi inflasi secara bulanan sebesar 1,65 month-to-month (mtm), dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,48 pada Februari 2025 menjadi 107,22 pada maret 2025. Pihaknya mencatat bahwa kelompok pengeuaran yang terbesar adalahan perumahan, air listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan inflasi sebesar 8,45% (mtm). (Yetede)
BI Berupaya Menstabilkan Rupiah di Tengah Tekanan Global
Risiko Pelemahan Rupiah Perbankan Harus Waspada
OJK menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak akan banyak berpengaruh secara langsung terhadap neraca bank. Namun, perbankan diimbau untuk tetap mewaspadai risiko pelemahan nilai tukar terhadap kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Mengacu data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp16.821,5 pada posisi Senin (7/4/2025) nyaris menuju Rp 17.000. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, pada Januari 2025 risiko pasar terkait dengan nilai tukar tergolong sangat rendah, tercermin dari Posisi Devisa Neto (PDN) bank sebesar 1,24%, jauh di bawah threshold 20%. "Ini dapat diterjemahkan bahwa eksposur langsung bank terhadap risiko nilai tukar relatif kecil.
Sehingga pelemahan nilai tukar tidak akan banyak berpengaruh secara langsung terhadap neraca bank," tutur Dian. Merujuk data OJK, per Januari 2025 kredit yang disalurkan perbankan nasional kepada debitur mencapai Rp 7.782,22 triliun, tumbuh 10,27% secara tahunan (year on year/yoy). Dari nilai tersebut, kredit valas yang disalurkan sebesar Rp1.155,76 triliun, tumbuh 13,38% (yoy) per Januari 2025. Sementara itu, kredit rupiah masih mendominasi dengan penyaluran Rp6.626,45 triliun, tumbuh 9,74% (yoy). Apabila dilihat dari nominal penyalurannya, kredit valas hanya memiliki porsi 14,85% dari total kredit yang disalurkan perbankan per januari 2025. Mayoritas perbankan menyalurkan kredit berdenominasi rupiah. (Yetede)
Sektor Teknologi Digital Terdampak Kebijakan Tarif Trump
Saham Bank Diprediksi Melemah Pasca Libur Panjang
Antisipasi Risiko, Perbankan Membukukan Laba Bersih Rp19,36 T
Industri perbankan di awal tahun ini membukukan laba bersih Rp19,36 triliun. Nilai ini menyusut 7,28% dibandingkan dengan laba bersih periode Januari 2024 yang sebesar Rp 20,88 triliun. Apabila ditelaah dari data OJK, pendapatan bunga perbankan nasional di awal tahun mencapai Rp101,92 triliun, naik 4,88% secara yoy per Januari 2025. Sedangkan, beban bunga tumbuh lebih tinggi 6,25% yoy menjadi Rp56,03 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perbankan senilai Rp45,89% yoy. Susutnya laba bersih perbankan nasional disebabkan karena kelompok bank berdasarkan, modal inti (KBMI) 4 yang juga mengalami penurunan laba 15,33% dari 14,61 triliun pada Januari 2024 menjadi Rp12,37 triliun per Januari 2025. Tingginya suku bunga membuat beban bunga perbankan ikut melonjak, sehingga menekan margin bunga (net interest margin/NIM) menjadi 4,5% di Januari 2025. Jika ditelaah lagi berdasarkan kepemilikannya, bank pelat merah meraup laba bersih Rp7,74 triliun, anjlok 25,79% (yoy). Sehingga, pangsa pasar dari laba bank BUMN sebesar 39,98% dari total laba industri perbankan. Kemudian, bank umum swasta nasional (BUSN) mengantongi laba Rp9,34 triliun atau tumbuh 15,74% (yoy) per Januari 2025. Ini menjadikan pangsa pasar BUSN di sisi laba bersih membalap bank BUMN menjadi 48,24% dari total laba industri perbankan. (Yetede)
Perbankan Waspada: Likuiditas Menuju Titik Kritis
Kredit UMKM Melambat
Penyaluran kredit ke sektor UMKM
tumbuh melambat dalam beberapa tahun terakhir, tak lepas dari daya beli
rata-rata masyarakat yang lemah. Dengan momentum Lebaran yang cenderung kurang
menggeliat, perlambatan kredit UMKM diperkirakan masih akan berlanjut. Kepala
Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan, Rabu (2/4)
mengatakan, penurunan daya beli masyarakat benar-benar terjadi dan dirasakan oleh
semua sektor, terutama UMKM. Alhasil, penyaluran kredit ke sektor UMKM pun melambat.
”Penurunan daya beli juga dapat terlihat dari jumlah penduduk yang melakukan
kegiatan mudik Lebaran tahun ini. Jumlah pemudik turun dan tingkat hunian hotel
saat libur panjang juga menurun. Sepertinya, (kredit UMKM) masih akan mengalami
perlambatan,” katanya.
Survei Potensi Pergerakan
Nasional oleh Kemenhub menunjukkan, jumlah pemudik pada Lebaran 2025 sebanyak
146,48 juta orang atau 52 % dari total penduduk Indonesia. Perkiraan ini turun
24 % disbanding proyeksi 193,6 juta pemudik yang melakukan perjalanan pada
Lebaran 2024. Dengan demikian,turunnya daya beli masyarakat berpotensi semakin
besar dan dapat terjadi dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, pemerintah perlu mengambil
tindakan agar kondisitersebut tidak bertambah parah. Salah satunya dengan
mengevaluasi kebijakan pemotongan anggaran. ”Perlu evaluasi kebijakan efisiensi
dan alokasi anggaran dengan memprioritaskan program-program yang dapat
meningkatkan daya beli masyarakat,” ujarnya. (Yoga)
Kerja Badan Bank Tanah untuk Perumahan Lamban
Terobosan Badan Bank Tanah dalam penyediaan lahan perumahan rakyat dengan harga terjangkau tengah dinantikan. Badan yang dibentuk empat tahun silam itu memiliki sederet tugas untuk menopang program prioritas nasional Tiga Juta Rumah. Badan Bank Tanah merupakan badan khusus yang dibentuk pemerintah pusat dan diberi kewenangan khusus untuk pengadaan dan pengelolaan tanah, serta bertanggung jawab kepada Presiden. Badan itu dibentuk untuk mempercepat pelaksanaan reforma agraria dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat berpenghasilan rendah.
Badan Bank Tanah memiliki total
aset lahan 33.116 hektar. Dari jumlah itu, lahan yang ditawarkan untuk perumahan
atau permukiman seluas 73,04 hektar atau hanya 0,22 % dari total aset lahan. Sekretaris
Dewan Pakar Lembaga Pengkajian Bidang Perumahan, Permukiman, dan Pembangunan Perkotaan
(HUD Institute) Muhammad Joni menilai, Badan Bank Tanah belum fokus dan
memprioritaskan pengelolaan tanah untuk perumahan bagi masyarakat berpenghasilan
rendah. Porsi asset lahan untuk perumahan seluas 73,04 hektar dinilai sangat
kecil dari total aset Badan Bank Tanah seluas 33.116 hektar.
”Peruntukan lahan perumahan kecil
sekali. Jauh dari prioritas kebutuhan program strategis nasional Tiga Juta Rumah,”
ujar Joni, akhir pekan lalu. Ia menegaskan, Badan Bank Tanah memiliki sederet
tugas untuk mendukung program strategis nasional Tiga Juta Rumah. Di antaranya,
mengontrol indeks kemahalan harga tanah serta menjaga peran negara supaya tanah
bukan murni komoditas komersial belaka. Meskipun demikian, Badan Bank Tanah
dinilai belum memiliki peta jalan yang jelas terkait penyediaan lahan perumahan.
Penjajakan lahan oleh Bank Tanah masih terkesan lamban dan tidak terbuka. (Yoga)
Kontroversi Pejabat BI Jadi Komisaris Bank Himbara
Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) bank-bank Himbara merombak total susunan pengurus baik komisaris maupun direksi. Di jajaran dewan komisaris, terdapat tiga pejabat aktif Bank Indonesia (BI) yang diangkat menduduki posisi komisaris, yaitu Asisten Gubernur, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Edi Susianto yang menjadi Komisaris Independen BRI, sesuai RUPST 24 Maret 2025; Asisten Gubernur, Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Donny Hutabarat yang ditunjuk menjadi Komisaris BNI dalam RUPST 26 Maret 2025; Kepala Departemen SDM BI, Ida Nuryanti yang menjadi Komisaris Independen BTN pada RUPST 26 Maret 2025. Hal ini patut diwaspadai, lantaran ada bahaya serius dari rangkap jabatan ini, yakni penurunan independensi bank sentral.
BI menyadari hal itu dan langsung memberhentikan ketiga pejabat tersebut efektif berlaku sejak tanggal masing-masing keputusan RUPST bank BUMN. Meski begitu, kontroversi belum berakhir. OJK sebagai penentu lulus atau tidaknya para komisaris itu. Seharusnya penunjukan tiga pejabat BI tersebut ditunda karena terdapat masa tunggu sebelum menjadi komisaris bank, berdasarkan Peraturan OJK (POJK) No 17 Tahun 2023 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Umum Pasal 38 ayat 4 aturan itu berbunyi, mantan anggota direksi atau pejabat eksekutif atau pihak yang mempunyai hubungan dengan bank yang dapat memengaruhi kemampuan yang bersangkutan untuk bertindak independen wajib menjalani masa tunggu paling singkat setahun sebelum menjadi komisaris independen pada bank yang bersangkutan. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022 -
BUMN Garap Ekosistem Kopi
31 Jan 2022









