;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Tiga Sektor Usaha Masih Melaju

leoputra 16 Oct 2019 Bisnis Indonesia

Hingga Juli 2019, hanya ada tiga sektor lapangan usaha yang mencatat penguatan pertumbuhan permintaan kredit baru perbankan. Tiga sektor tersebut adalah sektor konstruksi ,sektor listrik,gas,dan air, serta sektor realestat, usaha persewaan, dan jasa perusahaan. Namun kontribusi ketiganya terhadap total penyaluran kredit hanya 14,7% dimana nilai tersebut masih dibawah sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 18,0% atau sektor industri pengolahan sebesar 16,4%. Sementara itu perlambatan pertumbuhan paling signifikan dialami oleh sektor perdagangan besar dan eceran, sektor agrikultur, serta sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi. 

Senior Faculty LPPI menilai sektor energi dan konstruksi menjadi pendongkrak pertumbuhan kredit tahun ini. Sektor energi cukup terdongkrak seiring dengan adanya dorongan dari implementasi sustainability development goals. Menurutnya, perusahaan milik negara serta swasta gencar membangun pembangkit listrik tenaga micro hydro sehingga membuat penyerapan kreditnya meningkat. Disamping itu kredit pemilikan rumah juga dapat menjadi penopang yang cukup baik pada tahun ini. Direktur Legal, Risk, and Compliance BTN menyatakan bahwa untuk KPR, kinerja fungsi intermediasinya termasuk yang tertinggi diantara bank besar lainnya, yakni tumbuh 18,78% secara tahunan menjadi Rp251,04 triliun pada paruh pertama ini.

Penyaluran Kredit Bank Masih Tersendat

Benny1284 16 Oct 2019 Kontan
Penyaluran kredit perbankan melambat di kuartal III-2019.  Permintaan kredit yang menurun efek perekonomian domestik dan dunia yang sedang lesu. Direktur Utama Bank Mandiri mengakui, sampai kuartal III-2019 penyaluran kredit melambat kisaran 8%-9%, secara year on year (yoy). Disamping perlambatan ekonomi domestik saat ini industri perbankan punya kewaspadaan ekstra untuk menyalurkan kredit.  Bank Mandiri mulai menahan penyaluran kredit di sejumlah sektor industri yang dinilai masih berisiko tinggi dalam beberapa tahun mendatang. Salah satunya di sektor komoditas. Dirut Bank Mandiri menyebut harga batu bara masih turun, industri sawit dihilir juga harganya masih belum bagus, akan tetapi untuk industri turunan sawit masih agresif, dan jadi fokus untuk meningkatkan nilai tambah.  Selain itu, sejumlah sektor yang masih memiliki peluang untuk menopang pertumbuhan kredit misalnya berasal dari segmen properti menengah kebawah, kredit mikro hingga fast moving consumer goods (FMCG).
Presiden Direktur BCA juga mengakui situasi politik yang belakangan gaduh menjadi penyebab tambahan merosotnya penyaluran kredit perbankan. Menurutnya, pertumbuhan kredit sampai september memang tercatat meredup. Jika dibandingakan dari akhir tahun baru tumbuh 6%-7%. Sedangkan secara tahunan kredit baru tumbuh sekitar 10%.
Merosotnya pertumbuhan kredit konsumer jadi penopang melandainya pertumbuhan kredit BCA, terutama di segmen kredit kendaraan bermotor. Sementara penopang pertumbuhan kredit bank swasta terbesar di Tanah Air ini berasal dari industri infrastruktur khususnya, kelistrikan. Segmen perdagangan juga menjadi salah satu penopang. Masih menurut Presiden Direktur BCA situasi saat ini sebenarnya masih belum baik,dan harapannya mungkin setelah pelantikan presiden dan pemilihan kabinet kredit bisa melaju kembali.
Direktur keuangan Tresuri dan Strategi Bank Tabungan Negara (BTN) menambahkan, likuiditas yang masih ketat menyebabkan ekspansi kredit menjadi terbatas. Bahkan menurutnya tahun depan hanya menargetkan pertumbuhan kredit hanya dikisaran 8% sampai 9%. Padahal, hingga kuarta III-2019 BTN masih dapat meraih pertumbuhan kredit dikisaran 11%-12%, sesuai target yang dipasang hingga akhir tahun. Tahun depan BTN akan mengurangi penyaluran kredit di segmen seperti konstruksi, kredit kepemilikan apartemen (KPA) dan lebih fokus KPR baik subsidi maupun non-subsidi dibawah Rp 500 juta.

Bank Gencar Membangun Cabang Digital

budi6271 24 Sep 2019 Kontan

Perbankan terus beradaptasi dengan pesatnya laju teknologi. Salah satunya dengan mendirikan cabang digital. Selain alasan adaptasi teknologi, cabang digital bisa memperkuat efisiensi biaya. Bank CIMB Niaga sudah membuka cabang digital sejak beberapa tahun silam. Bank Permata baru saja meluncurkan cabang digital dengan konsep branch. Sementera BPD Jawa Timur telah menyiapkan cabang digitalnya dan siap untuk diresmikan. Melalui cabang digital ini, nasabah bisa membuka rekening secara online hingga pengajuan kredit.

Konglomerasi Keuangan Semakin Menggurita

budi6271 24 Sep 2019 Kontan

Konglomerasi di Indonesia ternyata tergiur dengan industri keuangan. Perlahan-lahan, perusahaan besar masuk ke bisnis keuangan hingga level yang paling kecil. Mereka masuk ke bisnis asuransi dan multifinance, modal ventura, fintech lending hingga transaksi pembayaran. Misalnya, Sinar Mas yang sudah mempunyai Bank Sinar Mas, memiliki 10 perusahaan asuransi, tujuh perusahaan multifinance, tiga fintech lending (Danamas, Finmas, PinjamanGo). Sinar Mas Group juga memiliki tiga modal venture yang siap menyuntikkan dana ke startup Indonesia. Hal serupa juga dilakukan oleh Lippo Group, Djarum Group, hingga Astra International.

Dunia Rame-Rame Gunting Suku Bunga

budi6271 20 Sep 2019 Kontan

Bank sentral di beberapa negara kompak memangkas suku bunga. Terbaru, The Federal Reserve AS (The Fed) memangkas suku bunga 25 basis poin (bps). Tak butuh lama, BI juga mengikuti langkah The Fed. Penurunan ini diprediksi yang terkahir tahun ini. Meski begitu, sentimen penurunan suku bunga hanya memengaruhi pasar keuangan dalam jangka pendek. Sentimen perang dagang masih menjadi sentimen penggerak utama.

Investor Asia Timur Garap Bank Domestik

budi6271 20 Sep 2019 Kontan

Dominasi investor Asia Timur semakin mencengkeram perbankan Indonesia. Paling tidak ada tiga negara yang agresif berinvestasi di perbankan tanah air, yaitu Jepang, Korea Selatan, dan China. Jepang menjadi negara paling getol mengakuisisi bank Indonesia. Disusul Korea Selatan, terakhir dengan akuisisi Bank IBK Indonesia terhadap Bank Agris dan Bank Mitraniaga. Bank IBK memfokuskan diri pada sekmen industri UKM.

Bisnis Pembayaran Kartu Bank Tertekan Tekfin

budi6271 19 Sep 2019 Kontan

Platform pembayaran yang ditawarkan perusahaan fintech bekal menantang bisnis kartu debit dan kartu kredit bank. Riset Accenture melaporkan bank bisa kehilangan pendapatan US$ 280 miliar di tahun 2025. Direktur PT BCA, Santoso Liem, mengakui bisnis pembayaran bank tergerus, tapi itu justru jadi tantangan agar bank mengumpulkan pendapatan dari kanal lain.

Bisnis Uang Elektronik Perbankan Tersaingi Tekfin

budi6271 16 Sep 2019 Kontan

Pasar uang elektronik yang masih besar tak hanya diisi oleh bank, tetapi juga perusahaan tekfin non-bank. Volume transaksi fintek non-bank semakin melesat. Contohnya PT Visionet International, pemilik platform OVO, mencatatkan pertumbuhan volume transaksi 2018 mencapai 75 kali. DANA juga sudah berhasil mencetak volume transaksi 1,5 juta per hari. Adapun Go-Pay mencatat volume transaksi 2 miliar dalam setahun di 2018 atau sekitar 5,4 juta transaksi per hari.
Pertumbuhan yang pesat itu sedikit banyak menjadi sandungan bagi bank yang sudah lebih dulu mengecap bisnis uang elektronik. Meskipun demikian, bankir masih optimistis dengan bisnis uang elektronik milik mereka.

Tiga Bank Milik Negara Menguasai Sindikasi Bank

budi6271 16 Sep 2019 Kontan

Mengutip data Bloomberg (13/9), tiga bank plat merah menjadi penyalur kredit sindikasi terbesar. Bank-bank itu adalah BNI (US$2.307,34 juta), Mandiri (US$2.094,10 juta), dan BRI (US$1.504,41 juta).

OJK dan Para Bankir Membantah Bank Dunia

budi6271 12 Sep 2019 Kontan

OJK menyanggah Bank Dunia yang menyatakan otoritas tak memiliki jangkauan mengawasi konglomerasi keuangan. OJK menegaskan sudah melakukan pengawasan konglomerasi keuangan secara terintegrasi. Setiap tahun, OJK menyusun supervisory plan serta mengintegrasikan seluruh data lintas sektor jasa keuangan. Hal ini juga dibenarkan oleh para bankir.

Pilihan Editor