Perbankan
( 2293 )Tiga Sektor Usaha Masih Melaju
Hingga Juli 2019, hanya ada tiga sektor lapangan usaha yang mencatat penguatan pertumbuhan permintaan kredit baru perbankan. Tiga sektor tersebut adalah sektor konstruksi ,sektor listrik,gas,dan air, serta sektor realestat, usaha persewaan, dan jasa perusahaan. Namun kontribusi ketiganya terhadap total penyaluran kredit hanya 14,7% dimana nilai tersebut masih dibawah sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 18,0% atau sektor industri pengolahan sebesar 16,4%. Sementara itu perlambatan pertumbuhan paling signifikan dialami oleh sektor perdagangan besar dan eceran, sektor agrikultur, serta sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi.
Senior Faculty LPPI menilai sektor energi dan konstruksi menjadi pendongkrak pertumbuhan kredit tahun ini. Sektor energi cukup terdongkrak seiring dengan adanya dorongan dari implementasi sustainability development goals. Menurutnya, perusahaan milik negara serta swasta gencar membangun pembangkit listrik tenaga micro hydro sehingga membuat penyerapan kreditnya meningkat. Disamping itu kredit pemilikan rumah juga dapat menjadi penopang yang cukup baik pada tahun ini. Direktur Legal, Risk, and Compliance BTN menyatakan bahwa untuk KPR, kinerja fungsi intermediasinya termasuk yang tertinggi diantara bank besar lainnya, yakni tumbuh 18,78% secara tahunan menjadi Rp251,04 triliun pada paruh pertama ini.
Penyaluran Kredit Bank Masih Tersendat
Bank Gencar Membangun Cabang Digital
Perbankan
terus beradaptasi dengan pesatnya laju teknologi. Salah satunya dengan
mendirikan cabang digital. Selain alasan adaptasi teknologi, cabang digital
bisa memperkuat efisiensi biaya. Bank CIMB Niaga sudah membuka cabang digital
sejak beberapa tahun silam. Bank Permata baru saja meluncurkan cabang digital
dengan konsep branch. Sementera BPD Jawa Timur telah menyiapkan cabang
digitalnya dan siap untuk diresmikan. Melalui cabang digital ini, nasabah
bisa membuka rekening secara online hingga pengajuan kredit.
Konglomerasi Keuangan Semakin Menggurita
Konglomerasi
di Indonesia ternyata tergiur dengan industri keuangan. Perlahan-lahan,
perusahaan besar masuk ke bisnis keuangan hingga level yang paling kecil.
Mereka masuk ke bisnis asuransi dan multifinance, modal ventura, fintech
lending hingga transaksi pembayaran. Misalnya, Sinar Mas yang sudah mempunyai
Bank Sinar Mas, memiliki 10 perusahaan asuransi, tujuh perusahaan
multifinance, tiga fintech lending (Danamas, Finmas, PinjamanGo). Sinar Mas
Group juga memiliki tiga modal venture yang siap menyuntikkan dana ke startup
Indonesia. Hal serupa juga dilakukan oleh Lippo Group, Djarum Group, hingga
Astra International.
Dunia Rame-Rame Gunting Suku Bunga
Bank
sentral di beberapa negara kompak memangkas suku bunga. Terbaru, The Federal
Reserve AS (The Fed) memangkas suku bunga 25 basis poin (bps). Tak butuh
lama, BI juga mengikuti langkah The Fed. Penurunan ini diprediksi yang
terkahir tahun ini. Meski begitu, sentimen penurunan suku bunga hanya
memengaruhi pasar keuangan dalam jangka pendek. Sentimen perang dagang masih
menjadi sentimen penggerak utama.
Investor Asia Timur Garap Bank Domestik
Dominasi
investor Asia Timur semakin mencengkeram perbankan Indonesia. Paling tidak
ada tiga negara yang agresif berinvestasi di perbankan tanah air, yaitu
Jepang, Korea Selatan, dan China. Jepang menjadi negara paling getol
mengakuisisi bank Indonesia. Disusul Korea Selatan, terakhir dengan akuisisi
Bank IBK Indonesia terhadap Bank Agris dan Bank Mitraniaga. Bank IBK
memfokuskan diri pada sekmen industri UKM.
Bisnis Pembayaran Kartu Bank Tertekan Tekfin
Platform
pembayaran yang ditawarkan perusahaan fintech bekal menantang bisnis kartu
debit dan kartu kredit bank. Riset Accenture melaporkan bank bisa kehilangan
pendapatan US$ 280 miliar di tahun 2025. Direktur PT BCA, Santoso Liem,
mengakui bisnis pembayaran bank tergerus, tapi itu justru jadi tantangan agar
bank mengumpulkan pendapatan dari kanal lain.
Bisnis Uang Elektronik Perbankan Tersaingi Tekfin
Pasar
uang elektronik yang masih besar tak hanya diisi oleh bank, tetapi juga
perusahaan tekfin non-bank. Volume transaksi fintek non-bank semakin melesat.
Contohnya PT Visionet International, pemilik platform OVO, mencatatkan
pertumbuhan volume transaksi 2018 mencapai 75 kali. DANA juga sudah berhasil
mencetak volume transaksi 1,5 juta per hari. Adapun Go-Pay mencatat volume
transaksi 2 miliar dalam setahun di 2018 atau sekitar 5,4 juta transaksi per
hari.
Pertumbuhan yang pesat itu sedikit banyak menjadi sandungan bagi bank yang
sudah lebih dulu mengecap bisnis uang elektronik. Meskipun demikian, bankir
masih optimistis dengan bisnis uang elektronik milik mereka.
Tiga Bank Milik Negara Menguasai Sindikasi Bank
Mengutip
data Bloomberg (13/9), tiga bank plat merah menjadi penyalur kredit sindikasi
terbesar. Bank-bank itu adalah BNI (US$2.307,34 juta), Mandiri (US$2.094,10
juta), dan BRI (US$1.504,41 juta).
OJK dan Para Bankir Membantah Bank Dunia
OJK menyanggah Bank Dunia yang menyatakan otoritas tak memiliki jangkauan mengawasi konglomerasi keuangan. OJK menegaskan sudah melakukan pengawasan konglomerasi keuangan secara terintegrasi. Setiap tahun, OJK menyusun supervisory plan serta mengintegrasikan seluruh data lintas sektor jasa keuangan. Hal ini juga dibenarkan oleh para bankir.









