;
Tags

Perbankan

( 2327 )

Pukulan Ganda bagi Perbankan Dalam Negeri

Benny1284 23 Mar 2020 Kontan, 23 Maret 2020

Dunia perbankan kembali diuji. Tahun lalu perang dagang Amerika Serikat versus China, plus beragam skandal di industri keuangan menyebabkan sentimen negatif. Penyaluran kredit perbankan pun cuma naik 6,07%. Tahun ini wabah virus corona baru (Covid-19) bakal menjadi pagebluk baru bagi industri perbankan. Wabah virus corona berpeluang memicu resesi dan krisis ekonomi. Alhasil, permintaan kredit berpotensi mengerut. Di sisi lain, BI juga terus menurunkan suku bunga acuan, yang kini sebesar 4,5%. Dengan suku bunga rendah, margin bunga bersih (NIM) perbankan juga bakal terpangkas. Alhasil, dua pukulan sekaligus itu, penyaluran kredit dan penurunan NIM, bisa menyebabkan bisnis bank berada di titik nadir.

Sejumlah bank pun mulai bersiap merevisi target. Bank Rakyat Indonesia (BRI), misalnya, akan menurunkan target kredit tahun 2020. Bank BRI memprediksikan pertumbuhan kredit lebih moderat dari target semula di kisaran 10%-11%. Sebagai bagian dari strategi jangka panjang fokus pada pengembangan segmen UMKM, Bank BRI mengurangi laju pertumbuhan kredit korporasi. Bank BRI masih optimistis dengan pertumbuhan kredit UMKM tahun ini, terutama jenis mikro. Dengan kondisi ekonomi saat ini, segmen ritel dan menengah diperkirakan berat. BRI pun mengutamakan menjaga kualitas kredit di segmen ini dibanding mengejar kuantitas kredit. Dengan proyeksi kredit kian lemah, Bank BRI akan menjaga pertumbuhan laba dengan fokus mengumpulkan dana murah dan menggenjot fee based income. Direktur Utama Bank Panin Indonesia masih melihat perkembangan situasi sambil konsentrasi dalam menangani Covid-19. Namun, Bank Panin akan mencoba realistis menyikapi perkembangan. Bank CIMB Niaga juga memperkirakan kredit akan melambat akibat melemahnya keyakinan pelaku ekonomi. Bank OCBC NISP juga tidak akan menghindari pemangkasan target kredit dengan melihat kondisi ekonomi.


Blueprint SPI 2025, Navigasi Sistem di Era Pembayaran di Era Digital

leoputra 05 Mar 2020 Investor Daily, 5 Maret 2020

Bank Indonesia (BI) menyatakan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025 menjadi navigasi sistem pembayaran di era digital. Hal ini juga untuk mendukung integrasi ekonomi-keuangan digital nasional sehingga menjamin fungsi bank sentral dalam proses peredaran uang, kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, serta mendorong inklusi keuangan. Demikian disampaikan Asisten Gubernur, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DSKP) BI Filianingsih Hendarta dalam focus group discussion BI dengan pimpinan redaksi media massa di Jakarta, Rabu (4/3). Dia menjelaskan, BSPI 2025 membutuhkan dukungan dan kolaborasi dengan industri. BSPI 2025, jelas dia, menjamin interlink antara fintech dengan perbankan untuk menghindari risiko shadow banking melalui pengaturan teknologi digital (application programming interfaces/API), kerja sama bisnis, maupun kepemilikan perusahaan. Dia menjelaskan, open banking, sebagaimana visi kedua BSPI 2025 bertujuan untuk mendorong transformasi digital di tubuh perbankan dan membangun keterkaitan (interlink) antara bank dan fintech. Visi ini diwujudkan dalam inisiatif pertama yaitu open banking melalui open API. "Dengan open API, bank dan fintech dapat berkolaborasi dalam ekosistem ekonomi-keuangan digital," jelas Filianingsih. Ada tiga aspek tantangan baru yang akan sangat memengaruhi lanskap sistem pembayaran nasional di era digital. Pertama, perkembangan teknologi digital. Kedua, customer experience. Ketiga munculnya banyak pelaku baru dengan model bisnis yang telah mendisrupsi industri sistem pembayaran. Teknologi digital telah hadir dalam setiap sudut kehidupan. Hampir seluruh aktivitas baik individu maupun korporasi, terpapar oleh inovasi digital dengan laju pertumbuhan yang eksponensial. Fenomena tersebut muncul sebagai efek multiplier dari kapasitas komputasi yang melesat dan perkembangan teknologi digital yang sangat cepat.

BI dan Bank Sentral Filipina Perkuat Kerja Sama Sistem Pembayaran

leoputra 04 Feb 2020 Investor Daily, 4 Februari 2020
Bank Indonesia (BI) dan bank sentral Filipina Sentral ng Pilipinas (BSP), menyepakati kerja sama di bidang sistem pembayaran dan inovasi keuangan digital, yang diharapkan dapat memperkuat hubungan bilateral kedua bank sentral. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur BSP Benjamin E Diokno di tengah pertemuan bilateral kedua bank sentral di Manila, Sabtu (1/2). "MoU ini melengkapi kerja sama BI dan BSP sebelumnya terkait antipencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme (APU APTT) di bidang sistem pembayarn dan penyelesaian akhir tahun 2018 lalu," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan tertulisnya, Senin (3/1).

Kredit Bank mandiri Tertekan Geliat Takfin

ulhaq 27 Jan 2020 Republika

Pertumbuhan kredit Bank Mandiri secara konsolidasi mengalami perlambatan sepanjang tahun 2019. Pertumbuhan hanya mencapai 10,65 persen lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 12,4 persen. Perlambatan ini cukup dipengaruhi oleh maraknya teknologi finansial (tekfin) dimana sektor konsumer yang paling besar terdampak. Sektor ini hanya tumbuh 7,9 persen. Diperlukan inovasi pelayanan yang berkelanjutan untuk menghadapi persaingan dengan tekfin. Direktur Utama Bank Mandiri, Royke Tumilaar berusaha menjaga komposisi portofilio segmen wholesale dan ritel. Portofolio keduanya secara berurutan tumbuh 9,3 persen dan 11,11,9 persen. Bank Mandiri juga menjaga komposisi kredit produktif, seperti kredit investasi dan modal kerja dalam porsi yang signifikan, yakni 77,4 persen dari total portofolio. Pada akhir tahun penyaluran kredit investasi mencapai Rp 282,6 triliun dan kredit modal kerja sebesar Rp 330,3 triliun. Adapun penyaluran kredit UMKM tumbuh 89,85 persen (yoy) atau sebear Rp 92,23 triliun kepada 928.798 pelaku UMKM. Strategi membangun sektor UMKM adalah dengan memanfaatkan value chain nasabah-nasabah wholesale.

Laju Pertumbuhan Kredit Masih Lemah

leoputra 24 Jan 2020 Tempo, 24 Januari 2020

Kinerja intermediasi perbankan masih belum mencapai performa terbaiknya. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2019 hanya sebesar 6,08 persen, melorot dari capaian 2018 yang tumbuh 12,8 persen.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menuturkan setelah agresif memangkas suku bunga acuan 7-days reverse repo rate hingga 100 basis point (bps) pada 2019, bank sentral kini berfokus mengakselerasi trasnmisi penurunan tersebut pada suku bunga kredit dan deposito perbankan. Hal ini diharapkan turut menjadi stimulus dalam mendongkrak permintaan kredit. Adapun kemarin Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5 persen. Perry optimistis permintaan pembiayaan akan kembali bangkit dan tahun ini pertumbuhan kredit dapat mencapai 10-12 persen. Pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan membaik dan harga komoditas yang kembali merangkak naik disebut sebagai faktor pendukungnya. Sedangkan kinerja konsumsi yang stabil serta investasi yang diproyeksikan meningkat juga akan menopang pertumbuhan perekonomian 2020.

Perbankan Agresif Konsolidasi Tahun Depan

leoputra 20 Jan 2020 Tempo, 13 Desember 2019

Industri perbankan mulai bersiap merencanakan strategi memperkuat kinerja bisnisnya pada tahun depan. Aksi merger dan akuisisi antar perbankan pun kian gencar dilakukan menjelang akhir tahun ini. Salah satunya adalah PT Bank Central Asia Tbk yang baru saja mengumumkan mengakuisisi PT Bank Rabobank International Indonesia, dengan total nilai pembelian saham Rp 397 miliar.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, menuturkan akuisisi tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan usaha perseroan ke depan. Komitmen tinggi terhadap inovasi digital juga ditunjukkan BCA dengan alokasi belanja modal senilai Rp 5,2 triliun untuk kebutuhan teknologi dan informasi tahun depan. Selain itu, bank terbesar di Tanah Air ini juga menginjeksi modal sebesar Rp 200 miliar kepada anak usaha modal ventura, PT Central Capital Ventura. Aksi konsolidasi juga ditempuh oleh PT Bank Permata Tbk yang kemarin resmi diakuisisi oleh Bangkok Bank Public Limited. Akuisisi itu ditandai dengan penandatanganan perjanjian pembelian saham bersyarat Bangkok Bank dengan Standard Chartered Bank dan PT Astra International Tbk, dengan total nilai akuisisi Rp 37,43 triliun untuk kepemilikan 89,12 persen. Adapun PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di bawah kepemimpinan baru Reoyke Tumilaar sebagai Direktur Utama, menyiapkan diri untuk tiga fokus bisnis baru pada 2020. Pertama adalah transformasi digital. Kedua, kolaborasi antara segmen wholesale dan retail banking. Ketiga, pengembangan segmen komersial dan UKM.




Bank Sentral Diproyeksikan Tahan Bunga Acuan

leoputra 16 Dec 2019 Tempo

Bank Indonesia diproyeksikan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate pada level 5 persen hingga akhir tahun ini. Bank Sentral juga diprediksi akan memperkuat upaya pelonggaran likuiditas menjelang akhir tahun.

Namun, untuk mengundurkan likuiditas tersebut, ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan bank sentral perlu memastikan penurunan suku bunga simpanan dan kredit. Apalagi suku bunga acuan telah turun empat kali pada tahun ini. Salah satu kebijakan yang berpeluang ditempuh Bank Indonesia dalam rapat dewan gubernur (RDG) pekan ini adalah pelonggaran giro wajib minimum (GWM). Pada RDG November lalu, bank sentral telah memangkas GMW sebesar 1 persen untuk bank umum konvensional maupun syariah, masing-masing menjadi 5,5 persen dan 4 persen. Adapun sentimen perekonomian global cenderung menguatkan bank sentral agar menahan bunga acuan. Direktur PT Anugerah Mega Investasi, Hans Kwee, mengatakan pelaku pasar keuangan global pada akhir 2019 ini masih menanti satu kesepakatan penangguhan perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat. Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, pekan lalu memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 1,50-1,75 persen.

BTN Kantongi Laba Rp 801 Miliar

ulhaq 15 Nov 2019 Republika

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk berhasil mengantongi laba bersih Rp 801 miliar pada kuartal III 2019. Angka itu diraih setelah meningkatkan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar 21,34 persen untuk persiapan mengikuti aturan baru Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 pada 2020. Perolehan laba bersih tersebut disumbang pendapatan bunga perseroan serta efisiensi yang dilakukan. Pendapatan bunga meningkat 17,9 persen (yoy). Efisiensi dilakukan dengan menekan pertumbuhan biaya operasional di luar CKPN yang hanya sebesar 1,3 persen (yoy) per September 2019, dimana sebelumnya 11,2 persen (yoy) pada 2018. Pendapatan bunga Bank BTN ditopang penyaluran kredit perseroan yang naik sebesar 16,75 persen menjadi Rp 256,93 triliun. Kenaikan kredit ditopang pertumbuhan positif pada KPR Subsidi sebesar 25,52 persen (yoy). Hingga akhir tahun nanti BTN tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian, perbaikan kualitas, dan penyesuaian dengan likuiditas dalam penyaluran kredit.

Tingkat Kredit Macet KUR Rendah

leoputra 13 Nov 2019 Tempo

Pemerintah menjamin tingkat kredit macet (NPL) kredit usaha rakyat (KUR) akan terus dijaga seiring dengan penurunan suku bunga. Tingkat kredit macet KUR terbilang kecil, bahkan mengalami tren penurunan. Pemerintah memutuskan menurunkan bunga KUR menjadi 6 persen, dari sebelumnya 7 persen, pada tahun depan. Dengan penurunan ini, diharapkan makin banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengakses pinjaman.

Selain menurunkan bunga KUR, pemerintah menaikkan palfon kredit dari Rp 140 triliun menjadi Rp 190 triliun per Januari 2020. Pemerintah juga menaikkan plafon maksimal KUR mikro dari Rp 25 juta menjadi Rp 50 juta. Khusus untuk akumulasi plafon kredit mikro sektor perdagangan, naik dari Rp 100 juta menjadi Rp 200 juta mulai 2020. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan kredit macet KUR sebesar 1,23 persen saat ini masih terbilang rendah. Airlangga mengatakan mayoritas penyaluran KUR pada tahun depan akan diarahkan ke sektor produksi mencapai 60 persen. Terakhir, pada 2018, realisasi penyaluran terendah berada di sektor ini, yakni hanya 47 persen. Sedangkan realisasi di sektor non produksi lebih tinggi, yaitu 53 persen. Airlangga menambahkan UMKM memiliki kontribusi yang sangat besar dalam perekonomian nasional. Dari data BPS 2017, total unit UMKM mencapai 99,9 persen dari total unit usaha. Selain itu, 96,9 persen sumber penyerapan tenaga kerja di Indonesia berada pada sektor ini. Kontribusi UMKM terhadap PDB nasional mencapai 60,34 persen.


Biaya Dana Perbankan Masih Tinggi

leoputra 12 Nov 2019 Tempo

Kalangan perbankan menilai penurunan bunga kredit tidak mudah selama biaya dana masih tinggi. Langkah awal yang akan dilakukan kalangan perbankan adalah memangkas bunga simpanan dan deposito. Saat ini bunga acuan Bank Indonesia 7-day (Reverse) Repo Rate turun 100 basis point dalam empat bulan terakhir ke level 5 persen. Menurut Direktur Utama PT Bank Mayora, Irfanto Oeij, agar keluar dari jebakan suku bunga tinggi, perbankan harus meningkatkan upaya penghimpunan dana murahnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta perbankan agar bergerak cepat memangkas suku bunga kreditnya. Menurut Jokowi, suku bunga kredit perbankan Indonesia masih tinggi di banding negara- negara lain di kawasan. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, transmisi penurunan suku bunga kredit baru sebesar 8 basis point hingga Agustus lalu. Sedangkan bunga deposito 26 basis point.  Presiden Direktur PT Bank Central Asia, Jahja Setiaatmadja, menambahkan, penurunan suku bunga kredit tidak menjamin akan berdampak langsung pada lonjakan permintaan kredit. Jahja membandingkan dengan kondisi pada 2018, ketika tingkat bunga acuan berada di level 6 persen dan pertumbuhan kredit mencapai 12 persen. Angka itu lebih baik dari pertumbuhan kredit saat ini yang berada di kisaran 8 persen.


Pilihan Editor