Perbankan
( 2293 )Pencucian Uang 12 Koperasi Rp 500 Triliun
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau PPATK menemukan ada dugaan tindak pidana pencucian (TPPU) uang di 12 koperasi simpan pinjam (KSP) dengan total Rp 500 triliun. Temuan itu sudah diserahkan kepada aparat penegak hokum untuk ditelusuri lebih lanjut. Khusus terkait kasus KSP Indosurya, PPATK juga menemukan adanya aliran dana ke luar negeri. Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR di Kompleks Senayan, Jakarta, Selasa (14/2) mengatakan, selama 2020-2022 PPATK menelusuri dugaan praktik TPPU di koperasi. Berdasarkan 21 hasil analisis yang dilakukan, PPATK menemukan ada 12 KSP yang diduga melakukan TPPU, salah satunya KSP Indosurya.
”Jumlah dana secara keseluruhan melebihi Rp 500 triliun kalau bicara kasus yang pernah ditangani koperasi. Jadi, artinya, kami melihat bahwa dana yang dihimpun oleh koperasi yang melakukan tindak pidana pencucian uang itu memang luar besar,” ujarnya. Untuk kasus KSP Indosurya, PPATK telah beberapa kali melaporkan hasil analisis tersebut kepada Kejaksaan Agung. Ivan juga telah melapor ke Menteri Koperasi dan UKM terkait skema Ponzi yang dijalankan Indosurya.Skema ponzi merupakan skema penipuan berkedok investasi dengan menawarkan imbal hasil besar kepada nasabah. Namun, sumber dana untuk pemberian imbal hasil itu sebenarnya bukan dari hasil investasi,tetapi dari dana nasabah berikutnya. PPATK juga menemukan ada dana nasabah Indosurya yang dialirkan ke luar negeri lewat perusahaan afiliasi. Dana itu kemudian dipakai untuk transaksi bisnis yang tidak selayaknya di- lakukan koperasi, seperti pembelian jet dan operasi kecantikan. (Yoga)
BRI Kucurkan Pembiayaan Berkelanjutan Rp694,9 Triliun
JAKARTA, ID – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) telah mengucurkan pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp 694,9 triliun, tumbuh 13,1% secara tahunan (year on year/yoy) pada tahun 2022. Penyaluran pembiayaan hijau tersebut merupakan mayoritas atau setara 67,5% dari total portofolio kredit yang disalurkan perseroan. Komposisi pembiayaan berkelanjutan BRI terus menunj ukkan peningkatan, di mana pada 2021 pembiayaan hijau sebesar 65,1% terhadap total kredit perseroan dengan nilai Rp 614,2 triliun. Sedangkan, pada 2020 penyaluran pada portofolio hijau sebesar Rp 550,4 triliun, dengan porsi 62,5%. Hal ini menunjukkan bahwa BRI senantiasa komitmen untuk menyalurkan kredit dan pembiayaan pada sektor yang berkelanjutan. Untuk segmen sosial, BRI gencar menyalurkan pembiaya kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Total pembiayaan ke sektor ini mencapai Rp 616,1 triliun pada 2022. Nilai tersebut setara 59,8% dari total penyaluran kredit BRI, untuk segmen sosial ini didukung dari PNM Mekaar, di mana total outstanding pinjaman yang diberikan Rp 35,8 triliun kepada 13,9 juta peminjam wanita. (Yetede)
Jokowi Luncurkan Kartu Tani Digital dan Serahkan KUR BSI di Aceh
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyerahkan pembiayaan kredit usaha rakyat (KUR) tahun 2023, sekaligus meluncurkan Kartu Tani Digital untuk pupuk bersubsidi di Kabupaten Aceh Utara. Penyerahan KUR dan peluncuran Kartu Tani Digital bertujuan untuk meningkatkan perekonomian di Aceh. KUR disalurkan via PT Bank Syariah Indonesia Tbk senilai Rp3 triliun. Turut hadir pada kesempatan tersebut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Pj. Gubernur Aceh Achmad Marzuki dan Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) Hery Gunardi.Jokowi mengatakan penyediaan pembiayaan KUR senilai Rp3 triliun merupakan angka yang besar untuk meningkatkan perekonomian di Provinsi Aceh.
“Ekonomi akan tumbuh kalau sebuah negara, atau sebuah provinsi atau sebuah daerah itu peredaran uangnya makin banyak. Sehingga kalau tadi dijatah oleh Pak Dirut Rp3 triliun itu akan mentrigger, memperkuat, mengembangkan ekonomi di Aceh,” kata Jokowi, Minggu(12/2/2023). Sementara itu Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan peluncuran Kartu Tani Digital ini sejalan dengan arahan Presiden Jokowi untuk pemerataan ekonomi yang berkeadilan di seluruh Indonesia.
Bank Mandiri Bidik Pertumbuhan KPR Dua Digit
JAKARTA, ID - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk optimistis bisnis kredit pemilikan rumah (KPR) di tahun ini bisa tumbuh dua digit. Guna mendorong pertumbuhan tersebut, perseroan menggelar properti expo bertajuk Find Your Property (FYP) Fest 2023 untuk memudahkan akses nasabah dalam mencari hunian impian. Optimisme tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat yang membaik tahun ini. Sampai dengan akhir 2022 Bank Mandiri telah menyalurkan KPR mencapai Rp 50,1 triliun, tumbuh 8,4% secara year on year (yoy). Pencapaian tersebut juga turut menyumbang peningkatan kredit konsumer Bank Mandiri yang tumbuh 11,6% (yoy) menjadi Rp 102,8 triliun di akhir tahun lalu. SVP Consumer Loans Bank Mandiri Dessy Wahyuni mengatakan, Dessy mengatakanbahwa pameran properti tersebut menjadi momentum Bank Mandiri untuk mencapai target kredit khususnya pada lini bisnis KPR. Sementara, dari FYP Fest 2023, perseroan menargetkan pengajuan aplikasi KPR hingga Rp 1 triliun. “Ini dapat mendukung pencapaian target pertumbuhan KPR tahun ini yang doubel digit, karena tahun lalu itu 8,4%,” ujar Dessy.
Penuhi Ketentuan Modal, Bank Kecil Siap Tancap Gas
Bank-bank kecil di Tanah Air bersiap lebih ekspansif dan melakukan inovasi dalam mengembangkan bisnis mereka tahun ini. Apalagi setelah mereka memenuhi ketentuan modal inti minimum pada akhir 2022.
Bank SBI Indonesia akan memacu ekspansi dengan fokus pada kredit korporasi dan komersial. Hal ini sejalan dengan strategi bisnisnya yang tetap menyasar sektor terkait perdagangan Indonesia-India dan bisnis investasi.
Direktur Utama SBI Indonesia, Akash Shambhu mengungkapkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyetujui State Bank of India (SBI) melakukan penambahan modal ke perseroan itu, sehingga modal inti sudah dipenuhi sesuai ketentuan. Tambahan modal itu bukti komitmen SBI terus ada di Indonesia.
Sementara PT Bank IBK Indonesia Tbk menargetkan nilai kredit di tahun ini bertambah Rp 2,5 triliun. Adapun outstanding kredit bank ini pada akhir 2022 mencapai Rp 8 triliun. Sehingga di akhir tahun 2023 diharapkan akan mencapai Rp 10,5 triliun.
Direktur Kepatuhan Bank IBK Indonesia, Alexander F. Rori mengatakan, perseroan agresif di tahun ini sesuai target pertumbuhan penyaluran kredit yang ditetapkan OJK hingga dua digit.
PT Bank Ina Perdana Tbk juga akan memperkuat ekspansi bisnis setelah modalnya dipertebal. Bank milik Salim Group ini membidik kredit dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh dua digit tahun ini.
Kredit UMKM Bank Mandiri Tumbuh 13,2% Pada 2022
JAKARTA, ID – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan kredit sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) secara bank only sebesar Rp 117,2 triliun pada 2022. Nilai tersebut tumbuh 13,2% dibandingkan tahun 2021 yang mencapai Rp 103,5 triliun. Pertumbuhan kredit UMKM itu ditopang penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) 2022. Bank Mandiri berhasil memenuhi target penyaluran dari pemerintah sebesar Rp 40 triliun untuk lebih dari 351 ribu pelaku UMKM. Penyaluran KUR Bank Mandiri utamanya disalurkan ke sektor produksi yaitu sebanyak 59,73% atau senilai Rp 23,9 triliun. Tren peningkatan penyaluran KUR sektor produktif tercermin dari seluruh sektor yang meningkat, salah satunya sektor pertanian yang menyumbang 29,53% dari total KUR senilai Rp11,81 triliun. Disusul sektor jasa produksi yang mencapai Rp 8,03 triliun atau sekitar 20,07%. Bank Mandiri mengaku terus melanjutkan komitmen dalam mendukung pengembangan pelaku UMKM. Komitmen itu diwujudkan melalui optimalisasi keberadaan Rumah BUMN (RB) yang merupakan bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) guna memperkokoh wadah pengembangan UMKM di wilayah kerja perseroan. (Yetede))
Efisiensi Dorong Laba Bersih BRI
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat laba bersih 2022 secara konsolidasi Rp 51,4 triliun, tumbuh 67,15 % secara tahunan. Faktor utama penumbuh laba adalah peningkatan efisiensi. ”Faktor utama pertumbuhan laba bersih BRI bukan berasal dari bunga. Tapi, efisiensi operasional,” ujar Dirut BRI Sunarso dalam jumpa pers paparan kinerja 2022 secara daring di Jakarta, Rabu (8/2). Ia menjelaskan, efisiensi itu tecermin dari rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), rasio efisiensi biaya (cost efficiency ratio/CER), rasio beban terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR), dan biaya kredit.
Sepanjang 2022, BOPO BRI berada pada level 69,10 %, lebih rendah dibandingkan 2021 yang sebesar 78,54 %. CER juga menurun menjadi 48,16 % dari 50,25 %. CIR turun dari 48,56 % menjadi 47,38 %. Adapun biaya kredit menurun dari 3,78 % menjadi 2,55 %. Sementara itu, per akhir 2022, kredit BRI mencapai Rp 1.139,08 triliun atau tumbuh 13,9 % secara tahunan, ditopang kredit UMKM sebesar 4,74 % dari total kredit BRI. BRI terus menjaga kualitas kreditnya. Hal ini tecermin dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL)BRI yang berada pada level 2,67 %, di bawah ambang batas 5 %. BRI pun menyiapkan pencadangan yang cukup dengan NPL coverage sebesar 305,73 %, meningkat disbanding NPL coverage tahun lalu sebesar 281,16 %. (Yoga)
Bank IBK Akan Right Issue dengan Target Rp 1,2 Triliun
PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) akan menggelar
rights issue
pada pertengahan tahun ini dengan target dana Rp 1,2 triliun.
Perusahaan ini akan menerbitkan saham sebanyak-banyaknya 13.81 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham. "
Rights issue
saat ini sedang dalam persiapan. Kami menargetkan semester I ini dapat pernyataan efektif dari OJK," ujar Direktur Kepatuhan Bank IBK Indonesia Alexander F. Rori, Rabu (8/1).
Direktur Utama Bank IBK Indonesia Tbk Chae Jae Young mengatakan, dana itu akan dipakai untuk keperluan modal kerja. Dengan peningkatan modal ini, IBK optimistis struktur permodalan menjadi lebih baik sehingga perseroan bisa leluasa menjalankan strategi usaha ke depannya.
Ekspansi Kredit Jangan Kendur
Empat bank papan atas di Indonesia kompak mencatatkan pertumbuhan kinerja yang impresif sepanjang tahun lalu. Hal ini mencerminkan keberhasilan bank-bank jumbo dalam memaksimalkan peluang selama periode pemulihan ekonomi nasional. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), salah satunya, membukukan laba bersih senilai Rp40,7 triliun sepanjang 2022. Capaian laba perusahaan itu tumbuh 29,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. BBCA sungguh piawai memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi. Tahun lalu, mereka menggelar sejumlah event dan ekshibisi strategis seperti BCA UMKM Fest 2022 dan BCA Wealth Summit 2022. Kinerja ciamik BBCA juga diikuti oleh tiga bank besar pelat merah yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI). BBRI mencetak laba bersih paling tinggi di antara bank-bank besar lainnya, yaitu sebesar Rp51,5 triliun sepanjang 2022. Laba itu melompat 67,1% jika dibandingkan dengan pencapaian pada tahun sebelumnya. Di samping BBRI, BMRI dan BBNI juga mencatatkan kinerja impresif dengan catatan laba bersih pada tahun lalu sebesar Rp41,2 triliun dan Rp18,3 triliun, atau masing-masing melesat hingga 46,9% dan 68%. BMRI membukukan penyaluran kredit secara konsolidasi sebesar Rp1.202,2 triliun sepanjang 2022 atau naik 14,5% secara tahunan. Adapun, BBNI juga sukses mengerek penyaluran kredit tahun lalu sebanyak 10,9% menjadi Rp646,2 triliun. Kita berharap bank-bank papan atas di Indonesia terus menjaga level pertumbuhan ekspansi kredit pada 2023, sembari tetap menjaga kualitas pembiayaan yang sehat.
Kinerja Tahun Buku 2022 Melayani 34 Juta Usaha Mikro, BRI Cetak Laba Rp51,4 Triliun
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. berhasil menutup tahun buku 2022 dengan kinerja gemilang. Pada pemaparan kinerja BRI kuartal IV/2022 yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (8/2), BRI Group berhasil mencatatkan kinerja positif dengan pencapaian rekor laba senilai Rp51,4 triliun melalui strategic response yang tepat. “Alhamdulillah, kami selalu didampingi kawan setia, Si Untung dan Si Slamet sepanjang Januari hingga Desember 2022. BRI Group berhasil mencatatkan laba bersih senilai Rp51,4 triliun atau tumbuh 67,15% secara year on year/yoy dengan total aset tumbuh double digit sebesar 11,18% yoy menjadi Rp1.865,64 triliun,” ujar Direktur Utama BRI Sunarso.
Sunarso pun mengungkapkan kunci keberhasilan BRI dalam menjaga bottom line kinerja perusahaan. Pertama, BRI berhasil melakukan efisiensi utamanya dalam menekan biaya dana (Cost of Fund) melalui perbaikan funding structure peningkatan dana murah (CASA).
Faktor kedua yang memberikan kontribusi besar terhadap kinerja perseroan yakni pendapatan berbasis komisi atau fee based income yang tumbuh double digit yang merupakan buah dari transformasi digital.
Ketiga, Sunarso menjelaskan bahwa BRI terus mengoptimalkan upaya recovery.
Secara umum saat ini proporsi CASA BRI tercatat 66,70%, meningkat signifikan dibandingkan dengan CASA pada periode yang sama tahun lalu yakni sebesar 63,08%. “Kemampuan BRI dalam meningkatkan proporsi CASA berdampak positif terhadap efisiensi yang dilakukan perseroan. Hal tersebut tecermin dari biaya dana atau Cost of Fund (Bank) yang terus turun, dari 2,05% pada akhir 2021 menjadi 1,87% di akhir tahun 2022,” imbuh Sunarso.









