Perbankan
( 2293 )Menghitung Kerugian Bank Digital Saat Euforia Berakhir
Prinsip dasar investasi dalam semua aset sejatinya sama yaitu membandingkan nilai dan harga. Prinsip ini berlaku untuk siapa pun dan tidak lekang oleh waktu.
Investor di mana pun selalu mencari aset yang undervalued atau underpriced, yaitu yang nilainya di atas harganya. Nilai adalah what we get atau worth, sementara harga adalah what we pay atau cost.
Ada tiga pasar dalam perekonomian, yaitu pasar barang dan jasa atau sektor riil, pasar finansial dan pasar tenaga kerja. Investasi dapat dilakukan di tiga pasar itu. Ketiga pasar juga berbeda dalam variabel terpentingnya.
Di pasar tenaga kerja, variabel paling signifikan adalah upah dan gaji. Dalam pasar barang dan jasa, variabel paling menentukan adalah harga. Sementara di pasar keuangan, variabel terpenting adalah tingkat bunga dan padanannya, yaitu tingkat diskonto, yield dan return.
Di 28 April 2021 saya membandingkan PBV lima bank digital bermodal kecil dengan tiga bank yang baru masuk buku IV. Jangan kaget jika rata-rata PBV keduanya jomplang, yaitu 24,3 berbanding 0,6. Ini berarti bank kecil dihargai 40,5 kali bank berekuitas besar.
Pada 11 Oktober 2021 saya kembali membandingkan PBV delapan bank digital dengan seluruh bank buku IV. Angkanya tetap mencengangkan, yaitu 19,6 berbanding 1,6. Bank bermodal terbesar hanya dihargai 8,2% bank-bank berekuitas kecil. Saya pun tidak ragu memprediksi euforia akan segera berakhir.
Marilah kita lihat perubahan PBV tahun 2021 dan saat ini (2023), harga terendah sebelum euforia, tertingginya dan di 2023 dari delapan saham bank digital. Simak tabel yang ada.
Januari, Laba Bersih BCA Meleset 32%
JAKARTA, ID – PT Bank Central Asia Tbk (BCA/BBCA) meraih laba bersih Rp 4,7 triliun Januari 2023, melesat 32% dibandingkan bulan sama tahun lalu Rp 3,5 triliun. Pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan sepanjang 2022 sebesar 29%. Sementara itu, laba bersih PT Bank Rakyat Indonesia (BRI/BBRI) naik 2,6% menjadi Rp 4,3 triliun Januari 2023, dibandingkan bulan sama tahun lalu sebesar Rp 4,2 triliun. Pertumbuhan itu melambat dibandingkan sepanjang 2022 sebesar 67%. Berdasarkan laporan riset Trimegah Sekuritas, akhir pekan lalu, BCA mencetak kenaikan pendapatan bunga sebesar 26% menjadi Rp 6,7 triliun Januari lalu. Adapun pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) naik 27% menjadi Rp 5,9 triliun. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BCA Januari 2023 naik menjadi 6% dari tadinya 5,1%, rasio dana murah (CASA) mencapai 82,4% dari 79,5%, sedangkan loan to deposit ratio (LDR) mencapai 66,4%. Sementara itu, NII BRI naik 9,3% menjadi Rp 9,1 triliun Januari 2023, dari Rp 8,3 triliun. Namun, provisi naik 22,5% menjadi Rp 3,1 triliun. NIM BRI mencapai 7,2% pada Januari lalu, turun dibandingkan bulan sama tahun lalu 7,3%. Adapun CASA mencapai 65%, sedangkan LDR mencapai 82,9%. (Yetede)
OJK: NIM Tinggi Bukan Cermin Inefisiensi Perekonomian
BALIKPAPAN, ID -- Tingginya margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan di Indonesia bukan mencerminkan adanya inefisiensi perekonomian. Meski demikian, NIM memang perlu ditekan, di antaranya lewat efisiensi beban operasional dan menekan tingkat kredit bermasalah (non-performing loan/NPL). Menurut Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) , Mirz a Adityaswara, ada sejumlah faktor penyebab tingginya margin bunga bersih bank di Indonesia. Banyak komponen yang membuat NIM perbankan di Tanah Air lebih tinggi dibanding sejumlah negara di tingkat regional. Yang utama adalah beban operasional perbankan di Ind onesia yang tinggi. “Kita ini kan negara kepulauan dengan bentangan luas. Perbankan harus memiliki kantor cabang dan pegawai dalam jumlah banyak. Ini menjadi salah satu penyebab utama tingginya operational cost di perbankan,” kata Mirza dalam Focus Group Discussion yang digelar OJK di Balikpapan, pekan lalu. Diskusi juga menampilkan pembicara Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan Anung Herlianto, Kepala Departemen Perizinan Pasar Modal Luthfy Zain Fuady, Kepala OJK Regional 9 Kalimantan Darmansyah, serta Kepala Departemen Pengawasan Dana Pensiun dan Pengawasan Khusus IKNB Moch Muchlasin, dengan moderator Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi Aman Santosa.
Bank Menunggu Aturan Spin Off Unit Syariah dari OJK
Mulai berlakunya Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) memicu perbankan menghentikan agenda
spin off
atau pemisahan unit usaha syariah (UUS). Dalam beleid terbaru itu tidak ada lagi kewajiban bagi bank melakukan
spin off.
Berdasarkan catatan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) hingga kini ada 20 entitas UUS di industri bank syariah. "Setahu saya, hanya satu UUS yang akan tetap spin off.
Sisanya masih berharap agar model bisnis UUS masih bisa tetap dipertahankan," ujar Herwin Bustaman, Sekretaris Jenderal Asbisindo, kepada KONTAN, Jumat (3/3). Salah satu yang melakukan
spin off
unit usaha syariah adalah BPR Riau Kepri.
Direktur Utama Bank CIMB Niaga, Lani Darmawan menyebutkan, bahwa portofolio syariah akan lebih cepat bertumbuh tanpa
spin off
menjadi bank umum syariah (BUS), lantaran pilihan tidak menyapih UUS tetap bisa menjalankan misi.
Hingga kini OJK memang sedang melakukan penyusunan ketentuan spin-off UUS sesuai amanat UU P2SK. Mirza Adityaswara, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK menjelaskan regulasi itu akan mengedepankan upaya-upaya memajukan industri jasa keuangan syariah.
CIMB Niaga Targetkan AUM Wealth Management Tumbuh 20%
JAKARTA, ID – PT Bank CIMB Niaga Tbk memasang target pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) dari bisnis wealth management tahun ini sebesar 20% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan nasabah tajir yang terus berkembang di Indonesia dan menjadi potensi besar untuk diambil perseroan. “Total AUM untuk nasabah af fluent tumbuh lebih dari 20%, total nilainya (AUM saat ini) lebih dari Rp 100 triliun,” kata Direktur Consumer Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi dalam acara Wealth Xpo, di Jakarta, Kamis (02/03/2023). Salah satu yang dilakukan perseroan untuk menumbuhkan bisnis ini adalah menyelenggarakan Wealth Xpo sebagai salah satu signature event untuk mengapresiasi nasabah istimewa yaitu CIMB Preferred dan CIMB Private Banking, serta masyarakat di era pascapandemi. Mengusung tema Embracing The Spirit of Opportunity, CIMB Niaga ingin membangkitkan semangat optimisme masyarakat di tengah dinamika ekonomi politik global dan nasional yang masih menantang. (Yetede)
Bankir Menargetkan Dana Kelolaan Nasabah Tajir Meningkat
Perbankan optimistis, pertumbuhan bisnis
wealth management
atau pengelolaan dana nasabah kaya tahun ini masih akan tumbuh positif. Penopangnya, iklim investasi masyarakat Indonesia yang terus menunjukkan peningkatan.
Untuk mendorong pertumbuhan dana kelolaan dan juga jumlah nasabah
wealth management, perbankan akan menyiapkan inovasi produk dan layanan. Apalagi, bisnis ini salah satu jalan bagi bank menggerakkan bisnis konsumer.
Bank CIMB Niaga misalnya, memanargetkan dana kelolaan dana nasabah di segmen
wealth management
bisa tumbuh 20% tahun ini dibanding tahun sebelumnya. Direktur Consumer Banking CIMB Niaga, Noviady Wahyudi menyakini target itu bisa dicapai seiring kondisi investasi yang masih positif.
Selain itu, CIMB Niaga menyiapkan strategi internal. "Kontribusi
wealth management
ini besar sekali terhadap total consumer banking, bisa hampir sebesar 70%. Sementara jumlah nasabah kami harapkan bisa lebih dari 100.000 tahun ini," kata Noviady, Kamis (2/3).
Untuk mencapai target pertumbuhan nasabah, CIMB Niaga membidik nasabah eksisting yang berpotensi naik kelas menjadi nasabah premium. Para nasabah yang telah merasakan layanan prima CIMB Niaga, berpeluang membawa nasabah baru seiring dengan pengalaman positif yang mereka rasakan.
Bank Central Asia (BCA) juga menyakini, bisnis
wealth management akan terus tumbuh sejalan dengan lonjakan minat masyarakat dalam berinvestasi. Total dana kelolaan wealth management bank ini sudah lebih dari Rp 130 triliun atau tumbuh 58% secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara terhitung sejak 2020 hingga tahun 2022, terjadi kenaikan sebesar 242%.
BTPN Salurkan Kredit Rp 1 Triliun Lewat Jenius
PT Bank BTPN Tbk mampu mengoptimalkan inovasi digital dalam memacu bisnis. Melalui layanan digital banking Jenius, BTPN berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 1 triliun sepanjang tahun 2022.
Produk digital
lending
Jenius bernama Flexi Cash ini mampu tumbuh tiga kali lipat dari posisi setahun sebelumnya. Irwan Tisnabudi,
Digital Banking Head
Bank BTPN menyatakan, performa ini tak terlepas dari jumlah pengguna jenius yang mencapai 4,4 juta di akhir 2022. "Jumlah
registered user
Jenius tumbuh hampir 20% dari 3,7 juta satu tahun sebelumnya," katanya pada Selasa (28/2).
Adapun Dana Pihak Ketiga lewat Jenius juga tumbuh sebesar 52% menjadi Rp 23,7 triliun. Ia berharap pengguna dan penyaluran kredit via Jenius bisa bertumbuh lebih tinggi lagi tahun ini.
Kolaborasi Konser dan Charity, BSI Pertegas Langkah Perjalanan Mahakarya untuk Indonesia
JAKARTA, ID - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sukses menggelar BSI Charity Concert 2023 bertema ‘Perjalanan sebuah Mahakarya’ yang mengkolaborasikan kegiatan konser dengan charity, di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Selasa malam (28/2/2023). Selain sebagai apresiasi bagi seluruh masyarakat di Ta nah Air, BSI Charity Concert 2023 menjadi momentum bagi BSI untuk mempertegas langkah dan kontribusinya dalam mendukung perekonomian nasional, khususnya ekonomi dan keuangan syariah serta kebangkitan ekonomi kreatif di Tanah Air. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan melalui acara yang memadukan konser dan charity, BSI ingin mengajak seluruh masyarakat Indonesia menyaksikan journey perseroan dalam mencapai pertumbuhan yang impresif dan berkelanjutan. Hery mengatakan berbagai pencapaian yang telah dicapai BSI selama 2 tahun ini adalah langkah awal bagi terbentuknya Islamic Ecosystem dan kebangkitan ekonomi syariah dalam negeri serta bersaing di tingkat global. Dengan visi dan misi BSI yang akan mendunia, menunjukkan bahwa bank syariah terbesar di Indonesia ini sejak awal dirancang untuk sebuah “Mahakarya” yang akan terus tumbuh seimbang dan berkelanjutan. (Yetede)
Pesta Laba Bank Besar Berlanjut di 2023
JAKARTA, ID – Pesta laba bersih bank-bank besar berpotensi berlanjut tahun 2023. Indikasi ini terlihat pada torehan laba bersih dua bank besar, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBNI), pada Januari 2023. Berdasarkan catatan harian Mandiri Sekuritas (Mansek), d i k u t i p S e l a s a (28/2/2023), Bank Mandiri meraup laba bersih Rp 3,8 triliun Januari 2023, naik 24,9% secara tahunan (year on year/yoy) dan 30,6% secara bulanan (month on month/mom). Jumlah ini selaras dengan proyeksi konsensus analis. Lonjakan laba bersih Bank Mandiri disebabkan penurunan provisi sebesar 20% secara tahunan dan 32% secara bulanan menjadi Rp 753 miliar. Adapun pendapatan bunga bersih tumbuh solid, sebesar 13,7% menjadi Rp 5,9 triliun secara tahunan. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi Bank Mandiri naik 6,6% menjadi Rp 1,1 triliun, dibandingkan bulan sama tahun lalu, namun turun 26% dibandingkan bulan sebelumnya. Pada saat yang sama, kredit bertumbuh 11,5%, dana pihak ketiga (DPK) naik 19,3%, loan to deposit ratio (LDR) 76,8%, dan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) mencapai 5,2%. Adapun rasio dana murah mencapai 77,4%. (Yetede)
Menteri BUMN Minta BI Beri Dana Murah ke Himbara
JAKARTA, ID – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjelaskan terkait usulan suku bunga kredit mikro 0%, nantinya Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) akan diberi dana murah dari Bank Indonesia (BI). Namun, terkait mekanismenya masih didiskusikan supaya tidak ada yang dirugikan, baik perbankan, debitur, maupun BI. Menteri BUMN Erick Thohir (ET) menjelaskan, Kementerian BUMN telah membentuk tim dengan BI untuk mewujudkan program suku bunga kredit mikro 0% tersebut. Hal tersebut bermula ketika dirinya ditanyakan oleh Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk memberikan kredit UMKM lebih murah. “Nah, tentu apa yang sudah kami bicarakan dengan BI, bagaimana BI bisa memberikan dana murah ke Himbara dengan bunga 0%. Itu statement saya. Artinya apa? Kalau BI bisa memberikan bunga 0% ke Himbara, berarti bunga kredit UMKM bisa turun beberapa persen, itu yang kami dorong,” jelas Erick ditemui di Jakarta, Selasa (28/2/2023). (Yetede)









