Perbankan
( 2293 )Bank Jago Akan Perkuat Konsolidasi
PT Bank Jago Tbk (ARTO) gencar melakukan ekspansi tahun lalu. Kredit bank dan pembiayaan bank syariah ini melonjak 76% secara tahunan menjadi Rp 9,43 triliun pada akhir 2022.
Pertumbuhan kredit mendorong pendapatan bunga bersih mencapai Rp 1,35 triliun, tumbuh hingga 129% secara year on year (yoy).
Tingginya kenaikan pendapatan bunga bersih ini tak lepas dari beban biaya bunga yang terjaga rendah, yakni hanya sebesar Rp 147 miliar tahun lalu.
"Penyaluran kredit dan pembiayaan dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, seperti ekosistem dan platform digital, perusahaan pembiayaan, dan lembaga keuangan lain," ungkap Direktur Utama Bank Jago, Kharim Siregar, Jumat (17/3).
Biaya dana Bank Jago terjaga rendah lantaran penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) didominasi dana murah dengan rasio 69% per akhir 2022. DPK bank ini tercatat tumbuh 125% yoy menjadi Rp 8,27 triliun. Dana murah melonjak 238% yoy.
Kharim menuturkan, untuk menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat, pihaknya menyalurkan kredit dan pembiayaan syariah secara hati-hati dan terukur dengan tetap memperhatikan peluang ekspansi yang ada. Ini terlihat dari rasio kredit bermasalah atau
non-performing loan
(NPL) di level 1,8% tahun lalu.
Bank Mandiri, BNI, dan BRI Memungut Iuran Batubara
Skema pungutan batubara semakin mengerucut. Pemerintah memastikan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) akan memungut iuran dan menyalurkannya (pungut-salur) kepada perusahaan batubara. Status badan pemungut iuran juga berubah dari semula Badan Layanan Umum (BLU) menjadi Mitra Instansi Pengelola (MIP).
Kelak, lembaga pungut-salur iuran batubara akan mengani perputaran dana yang tak sedikit di sektor batubara, yakni mencapai ratusan triliun rupiah
Iuran batubara nantinya digunakan untuk menutup selisih antara harga batubara
domestic market obligation
(DMO) dan harga internasional. Tujuannya ialah meningkatkan kepatuhan perusahaan batubara dalam memenuhi kewajiban pasokan dalam negeri.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria menyatakan, ada tiga bank Himbara yang menjadi Mitra Instansi Pengelola dalam melaksanakan pungut salur dana kompensasi batubara. "Mandiri, BNI dan BRI sudah berpengalaman sebagai pengelola keuangan dan memiliki sistem. Jadi tiga bank ini akan menjadi pihak pungut salur," ungkap dia, kemarin.
Sebelumnya Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batubara, Irwandy Arif menjelaskan, lembaga pungut salur komoditas batubara dari sebelumnya BLU sudah diubah menjadi MIP yang diharapkan terlaksana pada Maret 2023. "Kalau koordinasi antar kementerian kadang-kadang agak lama, perlu paraf segala macam. Baru sampai segitu perkembangannya, jadi semuanya masih berkeinginan itu terwujud," jelas dia, belum lama ini. Pelaksanaan pungutan batubara akan di bawah payung hukum peraturan presiden (perpres).
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
Credit Suisse berupaya menopang likuiditas dan memulihkan kepercayaan investor dengan pinjaman 54 miliar USD dari Bank Sentral Swiss atau SNB, Kamis (16/3). Bank terbesar kedua di Swiss ini terkena imbas buruk dari kebangkrutan tiga bank di AS, Silicon Valley Bank (SVB), Signature Bank, dan Silvergate. Sejauh ini, perekonomian dan sistem perbankan Indonesia tak terdampak. Pada dasarnya tidak ada kaitan antara Credit Suisse dan ketiga bank di AS. ”Namun, semua pihak sedang terpengaruh efek psikologi massa yang sangat mengkhawatirkan bank-bank yang dianggap tak sehat. Kali ini persepsi itu menyebar ke Eropa,” kata Antoine Bouvet, analis di ING.
SNB akhirnya mengucurkan dana bantuan untuk Credit Suisse, bank pemodalan usaha terbesar kedelapan di dunia. Dalam keterangan resmi Credit Suisse, dana pinjaman akan dipakai untuk membiayai operasionalisasi inti bank dan likuiditas jangka pendek. ”Kami akan menyederhanakan operasionalisasi dan menjadikan Credit Suisse fokus pada kebutuhan nasabah,” demikian kutipan pernyataan bank tersebut. Saham bank Credit Suisse melesat 40 % pada Kamis sore setelah satu hari sebelumnya anjlok 24 % karena kekhawatiran atas krisis perbankan global. Walhasil, saham-saham bank di Eropa ikut terkerek. (Yoga)
Belajar dari Kebangkrutan Perbankan AS
Tak ada yang mengira Silicon Valley Bank (SVB) yang sebelumnya berdiri kokoh, megah, dan angkuh dengan aset kelolaan ratusan miliar dolar AS tiba-tiba kolaps demikian cepat hanya dalam 3 hari. Bak serangan jantung fatal yang membuat limbung penderitanya, keruntuhan SVB dikhawatirkan turut membawa dampak sistemis bagi industri keuangan dunia. Hal itu terjadi karena para nasabah marah dan tidak percaya atas kebijakan otoritas moneter AS. Peristiwa ini lantas tercatat sebagai kasus kegagalan bank terbesar kedua sejak Washington Mutual Bank pada 2008 yang menghanguskan US$307 miliar. Di belakang SVB ternyata ada Signature Bank dan Silvergate Bank yang ikut ambruk. Apa kaitannya sehingga bank ini ikut sempoyongan? Signature Bank yang berkantor pusat di New York ini memiliki aset kelolaan sekitar US$118 miliar. Tahu tidak? Ternyata hampir seperempat simpanan Signature Bank berasal dari mata uang kripto. Adapun, Silvergate Bank yang dikenal sebagai bank ramah kripto juga mengalami hal serupa. Semua paham bahwa permainan kripto sangat lahap akan perangkat teknologi beserta sistem transaksi perdagangan kekinian yang tak semua orang paham. Ambruknya bursa kripto milik Sam Bankman-Fried, FTX, yang menguras simpanan miliaran dolar, menjadi alasan mereka memangkas simpanan kripto hingga US$8 miliar atau sekitar Rp123,3 triliun. Meski begitu, langkah tersebut gagal menenangkan investor. Keadaan itu diperparah setelah SVB yang fokus pada teknologi juga limbung. Rontoknya bank-bank besar itu ditengarai sebagai imbas dari kebijakan penaikan suku bunga The Fed secara agresif. Kenaikan bunga The Fed sejak tahun lalu yang tujuan awalnya untuk menjinakkan inflasi menyebabkan bunga kredit meroket. Inilah yang kemudian memicu munculnya distrust massal.
SVB Kolaps, BI dan LPS Stress Test Bank Domestik
Kejatuhan Silicon Valley Bank (SVB), Signature Bank dan Silvergate Bank di Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian regulator di Tanah Air. Bank Indonesia (BI) akan menjaga kolaps dua bank itu tidak menimbulkan efek domino pada perbankan di Indonesia.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan, ketahanan sistem keuangan, khususnya perbankan, tetap terjaga, baik dari sisi permodalan, risiko kredit maupun likuiditas. "Ini menyebabkan perbankan Indonesia tak terdampak langsung dari penutupan tiga bank di AS itu," ujar Perry, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (16/3).
Rasio kecukupan modal atau
capital adequacy ratio
(CAR) sebesar 25,88% pada Januari 2023. Risiko kredit juga terkendali, tecermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan /NPL) bruto di level 2,59% pada Januari 2023.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa juga mencermati perkembangan kolapsnya bank di AS. "Kami segera investigasi terkait pengaruhnya kepada perbankan di Indonesia. Hasilnya dampak secara langsung relatif tidak ada," ujar Purbaya, Kamis (16/3).
Dunia Meredam Dampak Negatif SVB
JAKARTA, ID - Otoritas perbankan dan moneter di seluruh dunia berupaya menenangkan pasar dan meyakinkan para investor bahwa bank-bank dalam yurisdiksi mereka memiliki permodalan yang memadai. Langkah itu ditempuh agar kasus kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank di Amerika Serikat (AS), serta kasus kekeringan likuiditas yang dialami Credit Suisse tidak meluas dan menjelma menjadi krisis finansial global. Kasus kebangkrutan bank di AS dan Swiss bakal memaksa Bank Sentral AS, The Fed, berbalik arah. The Fed kemungkinan tidak akan terburu-buru menaikkan Fed funds rate (FFR) pada Federal Open Market Committee (FOMC) meeting, 21-22 Maret mendatang. Meski demikian, tekanan yang dialami pasar saham global akibat kasus kebangkrutan bank di AS mulai reda. Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menegaskan, ketahanan stabilitas sistem keuangan nasional sangat kuat sehingga tidak akan terdampak oleh penutupan tiga bank di AS, yakni Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank. (Yetede)
BI Perkirakan Pertumbuhan ekonomi Global 2023 Capai 2,6%
JAKARTA, ID – Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 mencapai 2,6%. Proyeksi tersebut sejalan dengan dampak positif pembukaan ekonomi Tiongkok dan penurunan disrupsi suplai global. BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa lebih baik dari proyeksi sebelumnya, hal ini diikuti oleh risiko resesi yang menurun. “BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 akan mencapai 2,6%. Perbaikan prospek ekonomi global diperkirakan menaikkan harga komoditas non-energi, di tengah harga minyak yang menurun akibat berkurangnya disrupsi suplai,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Maret 2023 pada Kamis (16/3/2023). Perry menuturkan, perkembangan ekonomi global serta ekspektasi kenaikan upah karena keketatan pasar tenaga kerja di AS dan Eropa mengakibatkan proses penurunan inflasi global berjalan lebih lambat. Hal tersebut mendorong kebijakan moneter ketat negara maju berlangsung lebih lama sepanjang 2023. Pengetatan kebijakan moneter dimaksud, ditambah munculnya kasus penutupan tiga bank di AS, meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global yang menahan aliranmodal ke negara berkembang dan meningkatkan tekanan nilai tukar di berbagai negara. (Yetede)
Jadi Dirut BTN, Nixon LP Napitulu Fokus Tekan NPL
JAKARTA, ID – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyetujui pengangkatan Nixon LP Napitupulu menjadi direktur utama BTN menggantikan Haru Koesmahargyo. Di bawah kepemimpinannya, BTN akan dibawa menjadi bank yang lebih modern dan juga fokus menekan rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) di bawah 2% agar bank lebih sehat. Sebelumnya Nixon menjabat sebagai Wakil Direktur Utama BTN. Kini posisinya digantikan oleh Oni Febriarto Rahardjo sebagai wadirut BTN. Selain itu, RUPST menyetujui penambahan posisi baru di jajaran direksi, yaitu Direktur Institutional Banking BTN yang diisi oleh Hakim Putra Tama. Nixon mengapresiasi dan berterima kasih atas dedikasi dan jasa dari Haru Koesmahargyo sebagai dirut. Sebagai nakhoda baru BTN, Nixon memiliki sejumlah strategi ke depannya. Seperti memodernisasi BTN hingga menjaga kualitas aset di level yang baik. Adapun, NPL gross BTN pada 2022 di level 3,38% membaik dari 3,7% pada 2021. “Kami juga berupaya menurunkan NPL ratio dalam 2-3 tahun ke depan di bawah 2%. Sehingga jadi bank yang lebih sehat, caranya dengan asset sales, kami dorong perizinan dari otoritas dan penyelesaiannya supaya bisa lebih cepat,” jelas Nixon dalam konferensi pers RUPST BTN, Kamis (16/3/2023). (Yetede)
Bagi Dividen Rp7,3 Triliun, BNI Optimistis Kinerja 2023 Semakin Positif
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI telah mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Buku 2022 dan telah menyetujui pembagian dividen sebesar 40% atau senilai Rp7,32 triliun. Nilai ini naik 2,69 kali lipat dari total dividen tahun buku 2021 yang mencapai Rp2,72 triliun. Dengan demikian, nilai dividen per lembar saham kali ini ditetapkan Rp392,78, dibandingkan tahun lalu sebesar Rp146. Dengan memperhitungkan komposisi saham milik Pemerintah yang sebesar 60%, maka perseroan akan menyetorkan dividen senilai Rp4,39 triliun ke rekening Kas Umum Negara. Sementara atas kepemilikan 40% saham publik, dividen senilai Rp2,92 triliun akan diberikan kepada pemegang saham sesuai dengan porsi kepemilikannya masing-masing.
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyampaikan kenaikan rasio pembayaran dividen menjadi 40% pada tahun ini dilakukan seiring dengan kinerja keuangan perseroan yang terus membaik dengan capaian laba Rp18,3 triliun pada 2022.
Royke menuturkan perseroan optimistis dalam meningkatkan kinerja secara berkelanjutan. Secara umum, 2023 diprediksi sebagai tahun yang penuh tantangan dengan masih berlanjutnya isu geopolitik, perlambatan ekonomi dan tekanan inflasi secara global. Inflasi pun diperkirakan melandai ke 3,8% setelah meredanya dampak kenaikan harga BBM ke inflasi konsumen. Stabilnya ekonomi domestik ini tentunya akan menjadi katalis pertumbuhan bisnis yang sehat bagi perbankan. “Dengan mempertimbangkan prospek dan potensi bisnis serta kondisi makro ekonomi, perseroan tetap optimistis pertumbuhan kinerja akan positif seiring dengan agenda transformasi yang masih berjalan di 2023,” jelasnya.
Perseroan juga mengembangkan infrastruktur teknologi serta inovasi digital dalam rangka peningkatan kemampuan transaksional, terutama pada aplikasi BNI Mobile Banking dan BNIDirect dengan tujuan untuk menjadi top-of-mind transactional bank bagi nasabah. Perseroan juga gencar melakukan perluasan kemitraan melalui platform open API dan pengembangan teknologi terkini seperti AI, blockchain, hingga metaverse dalam rangka memperluas ekosistem bisnis dan meningkatkan customer experience.
Bank Kecil dan Digital Waspadai Efek SVB
Otoritas Jasa Keuanga (OJK) menilai, kegagalan Silicon Valley Bank (SVB) di Amerika Serikat (AS) tidak akan berdampak langsung ke perbankan Indonesia. Optimisme semacam itu sejalan dengan penilaian OJK tentang stabilitas sektor perbankan yang masih terjaga.
Namun efek domino kejatuhan bank di Amerika Serikat (AS) tetap harus diwaspadai perbankan, terutama bank digital dan bank berskala kecil menengah.
"Bank pada dua kategori ini rentan terkena dampak karena kurangnya kepercayaan masyarakat jika dibanding dengan bank besar," kata Senior Vice President
Lembaga Pengembangan Perbakan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, Rabu (15/3).
Dia mengakui kesehatan bank digital dan bank berskala kecil saat ini terjaga, sejalan dengan aturan terkait permodalan yang ketat. Namun tetap saja, bank di kelompok ini harus mengantisipasi agar tidak terjerembab seperti SVB.
Satu caranya adalah memperkuat permodalan.
Pengamat dan Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy menilai, kesehatan bank digital semakin baik seiring langkah efisiensi.Kendati beberapa bank masih merugi.
Selain karena stabilitas perbankan kuat, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebut kasus SVB tak berdampak langsung karena bank-bank di Tanah Air tak punya hubungan bisnis,
facility line, maupun investasi pada produk sekuritisasi SVB. Bank domestik juga tidak menyalurkan kredit dan melakukan investasi ke perusahaan berbasis teknologi dan kripto.









