OJK: NIM Tinggi Bukan Cermin Inefisiensi Perekonomian
BALIKPAPAN, ID -- Tingginya margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan di Indonesia bukan mencerminkan adanya inefisiensi perekonomian. Meski demikian, NIM memang perlu ditekan, di antaranya lewat efisiensi beban operasional dan menekan tingkat kredit bermasalah (non-performing loan/NPL). Menurut Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) , Mirz a Adityaswara, ada sejumlah faktor penyebab tingginya margin bunga bersih bank di Indonesia. Banyak komponen yang membuat NIM perbankan di Tanah Air lebih tinggi dibanding sejumlah negara di tingkat regional. Yang utama adalah beban operasional perbankan di Ind onesia yang tinggi. “Kita ini kan negara kepulauan dengan bentangan luas. Perbankan harus memiliki kantor cabang dan pegawai dalam jumlah banyak. Ini menjadi salah satu penyebab utama tingginya operational cost di perbankan,” kata Mirza dalam Focus Group Discussion yang digelar OJK di Balikpapan, pekan lalu. Diskusi juga menampilkan pembicara Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan Anung Herlianto, Kepala Departemen Perizinan Pasar Modal Luthfy Zain Fuady, Kepala OJK Regional 9 Kalimantan Darmansyah, serta Kepala Departemen Pengawasan Dana Pensiun dan Pengawasan Khusus IKNB Moch Muchlasin, dengan moderator Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi Aman Santosa.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023