;
Tags

Perang Dagang

( 120 )

Ancaman Tarif Trump: Ekonomi Thailand & India Bisa Terdampak

HR1 12 Feb 2025 Bisnis Indonesia

Sejumlah ekonom dari bank global, termasuk Morgan Stanley dan Nomura Holdings Inc., mengidentifikasi India dan Thailand sebagai negara-negara yang paling rentan terhadap risiko tarif timbal balik yang dapat dikenakan oleh Presiden AS Donald Trump. Hal ini disebabkan karena tarif yang dikenakan oleh kedua negara tersebut terhadap barang-barang AS lebih tinggi dibandingkan dengan tarif AS terhadap mereka. Sonal Varma, analis dari Nomura, menjelaskan bahwa negara-negara berkembang di Asia, termasuk India dan Thailand, berisiko menghadapi tarif yang lebih tinggi.

Trump baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif timbal balik untuk memastikan AS diperlakukan setara dalam perdagangan internasional, termasuk kemungkinan tarif terhadap barang-barang seperti mobil, semikonduktor, dan produk farmasi. Ekonomi negara-negara Asia yang bergantung pada ekspor, seperti India dan Thailand, diperkirakan akan merasakan dampak besar jika kebijakan ini diterapkan, dengan tarif yang lebih tinggi kemungkinan dikenakan pada produk tertentu, seperti mobil dan produk pertanian.

Di sisi lain, Perdana Menteri India, Narendra Modi, telah memberikan sejumlah konsesi kepada AS sebagai respon terhadap ancaman tarif ini, termasuk mengurangi bea masuk atas impor barang tertentu. Sementara itu, Thailand juga berencana meningkatkan pembelian produk dari AS untuk mengurangi risiko pembalasan.

Secara keseluruhan, kebijakan tarif yang lebih agresif dari Trump dapat meningkatkan ketegangan perdagangan internasional, dan negara-negara Asia seperti India dan Thailand berusaha melakukan negosiasi untuk mengurangi dampak negatifnya.


China Balas Serangan Tarif AS Dengan Cara yang Sama

KT1 05 Feb 2025 Investor Daily (H)
Pemerintah China memberlakukan tarif retaliasi yang menyasar ke barang-barang impor Amerika Serikat (AS) pada Selasa (4/2/2025). Negeri Tirai bambu itu  juga memasukkan beberapa perusahaan  AS, termasuk Google, dalam status kemungkinan terkena sanksi sebagai bentuk respons terukur atas tarif impor yang dikenakan Presiden AS Donald Trump kepada China. Tindakan balasan terbatas China terhadap pengenaan tarif 10% oleh Trump makin memperkuat upaya para pembuat kebijakan China untuk mengajak Trump bernegosiasi, guna menghindari perang dagang  antara dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Berdasarkan proyeksi Capital Economics, tarif tambahan dari China akan berlaku untuk sekitar US$ 20 miliar impor tahunan. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan US$ 450 miliar barang-barang China yan terkena tarif oleh Trump, yang mulai berlaku pada Selasa pukul 00.01 dini hari waktu AS. "Langkah-langkah ini cukup sederhana, setidaknya relatif terhadap langkah AS, dan telah dikalibrasi untuk mengirim pesan ke AS," ujar Julian Evans Pritchard, kepada China Economics, yang dilansir Reuters. (Yetede)

Kebijakan Menyulut Perang Dagang

KT1 04 Feb 2025 Investor Daily (H)

Kebijakan tarif Amerika terhadap Kanada, Meksiko, dan China  akan mulai berlaku pada Selasa, pukul 00.01 dini hari waktu setempat. Kebijakan Presiden AS Donald Trumph yang memberlakukan tarif 25% atas Kanada dan Meksiko, serta tarif 10%  terhadap China tersebut diprediksi akan memperlambat pertumbuhan global, sekaligus mendongkrak harga-harga yang lebih tinggi bagi warga Amerika. Indonesia bisa mencari peluang dari kondisi tersebut untuk memperluas pasar ekspor untuk mencari peluang  dari kondisi tersebut untuk memperluas pasar ekpor dan menarik investasi serta mempekuat diplomasi dagang, meningkat daya saing industri, dan memanfaatkan insentif perdagangan seperti Generalized System of Preferences (GSP). Namun peluang,  itu tampaknya sempit.

Berbagai kendala dan tantangan di dalam negeri masih membayangi iklim investasi dan perdagangan Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyarankan  agar pemerintah proaktif melakukan pendekatan-pendekatan bilateral yang dibutuhkan agar Indonesia tidak mengalami penyempitan akses pasar eskpor AS. "Justru kalau bisa Indonesia melobi agar menjadi rekan dagang preferensial bagi AS,"ucap dia.  Dia menyebutkan, perang dagang bukan hal baru, karena sudah terjadi sejak 2018 hingga saat ini. Jadi kebijakan Trump baru-baru ini hanya mengakselerasi tren fragmentasi perdagangan global yang sudah terjadi sejak 2018. (Yetede)

Kebijakan Menyulut Perang Dagang

KT1 04 Feb 2025 Investor Daily (H)

Kebijakan tarif Amerika terhadap Kanada, Meksiko, dan China  akan mulai berlaku pada Selasa, pukul 00.01 dini hari waktu setempat. Kebijakan Presiden AS Donald Trumph yang memberlakukan tarif 25% atas Kanada dan Meksiko, serta tarif 10%  terhadap China tersebut diprediksi akan memperlambat pertumbuhan global, sekaligus mendongkrak harga-harga yang lebih tinggi bagi warga Amerika. Indonesia bisa mencari peluang dari kondisi tersebut untuk memperluas pasar ekspor untuk mencari peluang  dari kondisi tersebut untuk memperluas pasar ekpor dan menarik investasi serta mempekuat diplomasi dagang, meningkat daya saing industri, dan memanfaatkan insentif perdagangan seperti Generalized System of Preferences (GSP). Namun peluang,  itu tampaknya sempit.

Berbagai kendala dan tantangan di dalam negeri masih membayangi iklim investasi dan perdagangan Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyarankan  agar pemerintah proaktif melakukan pendekatan-pendekatan bilateral yang dibutuhkan agar Indonesia tidak mengalami penyempitan akses pasar eskpor AS. "Justru kalau bisa Indonesia melobi agar menjadi rekan dagang preferensial bagi AS,"ucap dia.  Dia menyebutkan, perang dagang bukan hal baru, karena sudah terjadi sejak 2018 hingga saat ini. Jadi kebijakan Trump baru-baru ini hanya mengakselerasi tren fragmentasi perdagangan global yang sudah terjadi sejak 2018. (Yetede)

Perang Dagang Momentum Tepat Bagi Para Investor untuk Serok Saham

KT1 04 Feb 2025 Investor Daily (H)
Tren bearish kembali memukul indeks harga saham gabungan (IHSG) dengan finish di level 7.030 (-1,11%) pada perdagangan Senin (3/2/2025). Analis melihat, koreksi tersebut sudah memfaktorkan (priced in) perang dagang, sehingga menjadi momentum tepat bagi para investor untuk serok saham. Founder & CEO Investor Consulting Fendy Susyanto menyampaikan bahwa tekanan pada pasar saham saat ini sudah merespons potensi kebijakan Trump terutama terkait tarif impor, bahkan jauh sebelum Trump dilantik. "Jadi kami melihat para pelaku pasar sudah mengantisipasi kebijakan tarif impor Trump yang nantinya akan memberi banyak dampak kepada Indonesia," ucap Fendy. Pada pembuka Februari 2025, Trump telah menelurkan kebijakan tarif impor baru sebesar 25% untuk produk Kanada dan Meksiko serta 10% untuk China yang akan mulai berlaku pada 4 Februari 2025. Trump juga mengenakan pajak sebesar 10% untuk impor minyak dari Kanada dan mengancam memberlakukan tarif  tambahan untuk minyak san gas Kanada pada pertengahan Februari 2025. Tak tinggal dian, Kanada dan Meksiko pun  bereaksi keras. Meksiko lantas membalas dengan menerapkan tarif mulai dari 5% hingga 20%  dan Kanada mengumumkan tarif balasan sebesar 25% pada impor AS senilai US$ 155 miliar. (Yetede)

Perang Tarif Baru Dimulai

KT1 03 Feb 2025 Investor Daily (H)
Perkembangan yang paling ditunggu di awal tahun 2025  ini terjadi sudah. Pada tanggal 1 Februari Presiden Donald Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif untuk menarikkkan bea  masuk pada produk Meksiko, Kanada akan dikenakan tarif 25% sementara produk RRT akan dikenakan kenaikan 10% dari tarif tinggi yang sudah berlaku sebelumnya. Khusus untuk produk minyak Kanada, kenaikannya tidak mancapai 25% tetapi hanya 10%. Sebagaimana diantisipasi, PM Kanada Justin Trudeau segera menanggapi kebijakan Trump dengan mengumumkan rencananya menerapkan tarif 25% pada impor Kanada dari AS senilai $155 miliar. Lebih spesifik, Trudeau menyatakan tarif bea masuk  baru untuk minuman beralkhohol dan buah-buahan dari AS senilai $30 miliar akan berlaku mulai hari Selasa, 4 Febrauari 2025, bersamaan dengan diterapkannya kenaikan tarif oleh AS. Sementara itu, beberapa jam setelah Trump menerbitkan instruksi di atas, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan ia telah meminta Menteri Ekonominya untuk menyiapkan tarif tinggi atas produk impor dari AS. Belum ada keterangan lebih lanjut apakah kenaikan tarif impor Meksiko terhadap produk dari AS akan berlaku across the board, atau hanya menyasar produk-produk yang dampaknya akan paling signifikan dirasakan oleh produsen AS. (Yetede)

Perang Tarif Baru Dimulai

KT1 03 Feb 2025 Investor Daily (H)
Perkembangan yang paling ditunggu di awal tahun 2025  ini terjadi sudah. Pada tanggal 1 Februari Presiden Donald Trump menandatangani sebuah perintah eksekutif untuk menarikkkan bea  masuk pada produk Meksiko, Kanada akan dikenakan tarif 25% sementara produk RRT akan dikenakan kenaikan 10% dari tarif tinggi yang sudah berlaku sebelumnya. Khusus untuk produk minyak Kanada, kenaikannya tidak mancapai 25% tetapi hanya 10%. Sebagaimana diantisipasi, PM Kanada Justin Trudeau segera menanggapi kebijakan Trump dengan mengumumkan rencananya menerapkan tarif 25% pada impor Kanada dari AS senilai $155 miliar. Lebih spesifik, Trudeau menyatakan tarif bea masuk  baru untuk minuman beralkhohol dan buah-buahan dari AS senilai $30 miliar akan berlaku mulai hari Selasa, 4 Febrauari 2025, bersamaan dengan diterapkannya kenaikan tarif oleh AS. Sementara itu, beberapa jam setelah Trump menerbitkan instruksi di atas, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan ia telah meminta Menteri Ekonominya untuk menyiapkan tarif tinggi atas produk impor dari AS. Belum ada keterangan lebih lanjut apakah kenaikan tarif impor Meksiko terhadap produk dari AS akan berlaku across the board, atau hanya menyasar produk-produk yang dampaknya akan paling signifikan dirasakan oleh produsen AS. (Yetede)

Tak Mudah Ambil Manfaat dari Perang Dagang

KT1 03 Feb 2025 Investor Daily (H)
Indonesia diprediksi tidak akan serta merta bisa mengambil manfaat dari pecahnya perang dagang global yang telah dimulai dengan penerapan tarif atas barang-barang impor Amerika Serikat dari Kanada,  Meksiko dan China. Alih-alih bisa mengambil manfaat dari peralihan investasi dan rantai pasok dari negara berikutnya yang bakal dikenai tarif oleh Negeri Paman Sam itu. Secara teori, Indonesia memang berpotensi untuk meningkatkan ekspor dan investasi langsung asing (foreign direct investament/FDI) yang dipicu oleh perang dagang. Namun dalam kenyataannya, dari pengalaman perang dagang sebelumnya yang mulai terjadi pada tahun 2018, keuntungan riil yang diperoleh Indonesia dari tren tersebut sangat terbatas. Itu dikarenakan, Indonesia umumnya tidak memproduksi barang yang bisa menyubstitusi produk yang dikenai sanksi atau diprotekski oleh AS dari rekan-rekan dagangnya seperti China, Meksiko dan Kanada. Indonesia tidak memiliki banyak industri semi-processed goods, apalagi advance, yang kuat atau berdaya saing ekspor seperti semikonduktor, panel surya, crane, produk elektronik, baterai, electric vehicle, medical goods, dan komponen pesawat terbang. (Yetede)

Tak Mudah Ambil Manfaat dari Perang Dagang

KT1 03 Feb 2025 Investor Daily (H)
Indonesia diprediksi tidak akan serta merta bisa mengambil manfaat dari pecahnya perang dagang global yang telah dimulai dengan penerapan tarif atas barang-barang impor Amerika Serikat dari Kanada,  Meksiko dan China. Alih-alih bisa mengambil manfaat dari peralihan investasi dan rantai pasok dari negara berikutnya yang bakal dikenai tarif oleh Negeri Paman Sam itu. Secara teori, Indonesia memang berpotensi untuk meningkatkan ekspor dan investasi langsung asing (foreign direct investament/FDI) yang dipicu oleh perang dagang. Namun dalam kenyataannya, dari pengalaman perang dagang sebelumnya yang mulai terjadi pada tahun 2018, keuntungan riil yang diperoleh Indonesia dari tren tersebut sangat terbatas. Itu dikarenakan, Indonesia umumnya tidak memproduksi barang yang bisa menyubstitusi produk yang dikenai sanksi atau diprotekski oleh AS dari rekan-rekan dagangnya seperti China, Meksiko dan Kanada. Indonesia tidak memiliki banyak industri semi-processed goods, apalagi advance, yang kuat atau berdaya saing ekspor seperti semikonduktor, panel surya, crane, produk elektronik, baterai, electric vehicle, medical goods, dan komponen pesawat terbang. (Yetede)

Tak Mudah Ambil Manfaat dari Perang Dagang

KT1 03 Feb 2025 Investor Daily (H)
Indonesia diprediksi tidak akan serta merta bisa mengambil manfaat dari pecahnya perang dagang global yang telah dimulai dengan penerapan tarif atas barang-barang impor Amerika Serikat dari Kanada,  Meksiko dan China. Alih-alih bisa mengambil manfaat dari peralihan investasi dan rantai pasok dari negara berikutnya yang bakal dikenai tarif oleh Negeri Paman Sam itu. Secara teori, Indonesia memang berpotensi untuk meningkatkan ekspor dan investasi langsung asing (foreign direct investament/FDI) yang dipicu oleh perang dagang. Namun dalam kenyataannya, dari pengalaman perang dagang sebelumnya yang mulai terjadi pada tahun 2018, keuntungan riil yang diperoleh Indonesia dari tren tersebut sangat terbatas. Itu dikarenakan, Indonesia umumnya tidak memproduksi barang yang bisa menyubstitusi produk yang dikenai sanksi atau diprotekski oleh AS dari rekan-rekan dagangnya seperti China, Meksiko dan Kanada. Indonesia tidak memiliki banyak industri semi-processed goods, apalagi advance, yang kuat atau berdaya saing ekspor seperti semikonduktor, panel surya, crane, produk elektronik, baterai, electric vehicle, medical goods, dan komponen pesawat terbang. (Yetede)