;
Tags

Perang Dagang

( 120 )

Huawei Tidak Gentar

ayu.dewi 22 May 2019 Kompas

Pendiri dan Chief executive Officer Huawei Ren Zhengfei mengatakan pelarangan ataupun pembatasan bisnis perseroan oleh otoritas AS hanya berefek kecil bagi Huawei. Aneka persiapan termasuk penyiapan sejumlah skenario telah dilakukan dan dipastikan pihak Huawei.

Pemerintah AS sendiri kemarin memperingan pelarangan terhadap Huawei. Pelarangan bisnis Huawei dengan Google dan pemasok lain yang berasal dari perusahaan AS diperlonggar sementara. Hal itu semata-mata agar pengguna produk Huawei tidak terganggu. Senin lalu, Departemen perdagangan menerbitkan lisensi yang menyatakan, Huawei dapat membeli barang-barang dari AS hingga 19 Asgustus 2019. Hal itu semata-mata guna mempertahankan jaringan Huawei yang sudah ada, sekaligus menyediakan pembaruan perangkat lunak pada ponsel pintar Huawei yang sudah ada.

Namun Huawei tetap dilarang membeli perangkat keras buatan AS. Hal yang sama diberlakukan terhadap perangkat lunak yang dapat ddigunakan untuk membuat atau mengembangkan produk-produk baru. Lisensi atas hal itu diperkirakan susah diperoleh. Menteri perdagangan AS Wilbur Ross dalam pernyataan resminya mengatakan pelonggaran sementara ats Huawei itu sebetulnya ditujukan bagi perusahaan-perusahaan operator rekanan Huawei yang bergantung pada ponsel Huawei. 

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengatakan pesawat nirawak buatan China dikhawatirkan dapat menjadi sarana mata-mata Beijing. Pesawat nirawak buatan China tersebut diduga dapat memberikan akses tidak terbatas bagi Beijing. Intelijen AS percaya Huawei didukung militer China. 

Babak Baru Perang Dagang

ayu.dewi 21 May 2019 Kompas

Diperkirakan ratusan juta pengguna telepon seluler pintar akan terpengaruh oleh keputusan Google memutuskan hubungan sistem operasi Androidnya dengan produsen ponsel China, Huawei. Selain tidak akan mendapatkan pembaruan dari sistem android yang dikembangkan oleh Google, pada saat yang sama pengguna Huawei juga tak akan dapat mengakses layanan yang dikembangkan oleh Google seperti : navigasi, gmail, youtube dan playstore.

Perkembangan baru perang terhadap Huawei oleh AS kali ini bisa berakibat fatal khususnya bagi Huawei. Produsen suku cadang telepon seluler dari AS, Lumentum Holdings Inc senin kemarin, mengumumkan bahwa mereka mulai menghentikan pengiriman suku cadang ke Huawei. Laman berita bloonberg melaporkan perusahaan pembuat cip, termasuk Intel corp, Qualcomm Inc, Xilink Inc dan Broadcom Inc juga memberitahu karyawan mereka perseroan tidak akan memasok perangkat lunak dan kompenen penting ke Huawei sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Manajemen Huawei menyatakan pihaknya akan terus memberikan pembaruan keamanan dan layanan untuk ponsel pintar dan tabletnya setelah pasokan sistem Android dihentikan Google. Namun, Huawei tidak mengatakan apa yang akan terjadi dengan gawai produk mereka di masa depan tanpa akses ke layanan populer Google termasuk Gmail, Youtube dan Chrome kecuali mendapatkan lisensi khusus. 

Korporasi AS Blokade Huawei

budi6271 21 May 2019 Kontan

Lima perusahaan AS mengambil sikap atas kian memanasnya perang dagang AS-China. Kelima perusahaan itu terpaksa menangguhkan bisnis mereka dengan Huawei setelah Presiden Trump memasukkan perusahaan China itu ke dalam daftar hitam urusan perdagangan. Perusahaan yang menghentikan kerja sama dengan Huawei Technologies Co Ltd antara lain Alphabet, induk usaha Google, Intel Corp, Qualcomm Inc, Xilinx Inc dan Broadcom Inc.

Namun, Huawei kabarnya sudah mengantisipasi hal ini dengan menimbun cukup banyak cip dan komponen vital lain sejak pertengahan tahun lalu. Persediaannya diperkirakan cukup untuk bisnisnya selama tiga bulan. Selain itu, Huawei dikabarkan telah merancang chip sendiri.

Dampak Perang Dagang Memukul Banyak Sektor

budi6271 17 May 2019 Kontan

Sektor moneter dan kemampuan fiskal negara semakin terbatas akibat perang dagang. Ekspor Januari - April 2019 turun 9,39% dibanding periode sama tahun lalu. Defisit neraca dagang pun membengkak menjadi US$ 2,56 miliar. BI juga memangkas pertumbuhan ekonomi di bawah 5% - 5,4%. Menkeu mewaspadai eskalasi perang dagang AS - Tiongkok. Menkeu melihat situasi ini mirip 2014-2015. Dampak langsungnya pendapatan negara dari ekspor impor tahun ini turun. Terlebih harga komoditas murah. Alhasil penerimaan negara dari perpajakan juga seret.

BI merespon dengan menahan suku bunga acuan. Investasi langsung (foreign direct investment) juga terganggu. Upaya mendorong FDI juga tidak mudah. Pemerintah pusat tidak bisa mengontrol pemerintah daerah, karena itu banyak aturan penghambat investasi. Karena itu perlu skema insentif melalui dana alokasi khusus (DAK).

Ekspor Lesu Darah, Defisit Kian Parah

budi6271 16 May 2019 Kontan

Pelemahan ekspor membuat neraca dagang per April  2019 mengalami defisit US$ 2,5 miliar, terbesar dalam sejarah Indonesia. Berbagai kebijakan yang digagas pemerintah untuk memacu ekspor belum membuahkan hasil. Justru impor semakin besar, terutama komoditas migas. Direkur Eksekutif Departemen Komunikasi BI menyebut pelemahan ekspor sebagai akibat memanasnya perang dagang antara AS dan China.

Antisipasi Perang Dagang Memanas

ayu.dewi 15 May 2019 Kompas

Tekanan perang dagang Amerika Serikat-China yang kian memanas berdampak terhadap kondisi global. Bursa saham merosot akibat aksi saling balas dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu. Nilai tukar sejumlah negara tertekan. Investor dan pelaku pasar khawatir perseteruan AS-China berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Nilai tukar rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank spot dollar rate kemarin Rp 14.444 per dollar AS. Nilai tukar ini terlemah sejak 4 Januari 2019. Pada 3 Januari 2019, nilai tukar Rp 14.474 per dollar AS.

AS menerapkan tambahan tarif dari 10% menjadi 25% atas barang-barang ekspor China ke AS senilai 200 miliar dolar AS. Langkah itu dibalas China yang mengumumkan akan meaikan tarif barang-barang AS senilai 60 miliar dolar AS pada 1 Juni. Menghadapi kondisi ini pemerintah perlu mempertahankan nilai investasi dan daya tarik investasi dalam negeri. Bauran kebijakan fiskal dan moneter perlu diramu agar tetap menarik bagi investor.

The Fed Khawatir Efek Perang Dagang

budi6271 15 May 2019 Kontan

Bank sentral AS, The Fed, mewaspadai kondisi ekonomi global yang terjadi beberapa pekan terakhir. Gejala yang patut diwaspadai adalah kian panasnya hubungan dagang AS-China dan penurunan prospek inflasi konsumen. Kondisi ini akan menciptakan volatilitas pasar baru dan serangkaian risiko baru. Jika tensi perang dagang meningkat terus, sangat mungkin The Fed memangkas bunga beberapa bulan lagi.

Efek Perang Dagang, Pertumbuhan Ekonomi Berpotensi Meleset

tuankacan 13 May 2019 Bisnis Indonesia

Ambisi pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,3% pada tahun ini dinilai sulit seiring dengan berlarutnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Indef memproyeksikan bahwa makin meningkatnya tensi perang dagang AS dan CHina pascarencana Presiden Trump yang menaikkan tarif impor China menjadi 25%, bakal berimbas pada menurunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. Indikasi lemahnya pertumbuhan ekonomi tahun ini terlihat dari kinerja ekspor pada kuartal pertama tahun ini secara year-on-year sudah negatif. Posisi Indonesia dalam rantai pasok global tidak diuntungkan dengan adanya eskalasi perang dagang antara AS versus China. 

Namun, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution masih optimistis target pertumuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,3% tetap bisa diraih dengan baik, meski ditengah tensi perang dagang AS dan China yang makin memanas. Saat ini pemerintah berkomitmen untuk terus berupaya mendorong ekspor dari sejumlah kelompok industri prioritas, terutama seperti yang telah diputuskan oleh Kemenperin dalam Industri 4.0, yaitu Industri Makanan dan Minuman, Industri Tekstil dan Pakaian, Industri Elektronik, Industri Otomotif, dan Industri Kimia. Selain itu, pemerintah juga terus mendorong pengolahan sumber daya alam seperti pembangunan smelter dan pengolahan kelapa sawit, serta tidak lagi menambah proyeksi infrastruktur strategis terbaru, tetapi hanya penyelesaian sehingga tambahan investasinya tidak terlalu banyak. 

Kendati demikian, pihaknya saat ini mewaspadai perkembangan yang lebih jauh atas keputusan Presiden Trump yang menaikkan tarif impor China sebesar 25%. Apabila berlangsung makin memburuk maka pada ujungnya bisa menimbulkan multiplier efek bagi negara lainnya selaku mitra dagang kedua negara yang sedang bertikai tersebut.

Perdamaian Dagang AS-China Berada di Ambang Kegagalan

budi6271 10 May 2019 Kontan

Kemesraan AS-China tampaknya segera berakhir. Setelah berunding selama tiga bulan, negosiasi tarif kedua negara jauh dari sepakat. Sumber Reuters menyebutkan dari tujuh bab rancangan perjanjian dagang, China telah menghapus komitmennya mengubah Undang-Undang untuk menyelesaikan keluhan inti AS, yakni terkait pencurian kekayaan intelektual dan rahasia dagang, transfer teknologi paksa, kebijakan persaingan, akses layanan keuangan, dan manipulasi mata uang. Tak heran, Presiden Trump langsung merespon dengan ancaman untuk menaikkan tarif barang-barang impor China menjadi 25% dari sebelumnya 10%.

Perang Dagang, Arah Negosiasi AS-China Kian Tak Pasti

tuankacan 07 May 2019 Bisnis Indonesia

Pada saat pasar optimistis dengan gagasan bahwa perundingan dagang antara Amerika Serikat dan China sudah mendekati kesepakatan, muncul ancaman baru yang mengembalikan keadaan ke titik nol. Presiden AS Donald Trump secara dramatis meningkatkan tekanan kepada Beijing untuk segera mencapai kesepakatan dagang dengan mengancam akan menaikkan tarif atas barang asal China senilai US$200 miliar pada pekan ini dan akan menargetkan tarif pada produk tamabahan senilai miliaran dolar dalam waktu dekat. 

Cuitan Trump di Twitter "Kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok berlanjut, tetapi terlalu lambat, karena mereka berusaha untuk melakukan negosiasai ulang kembali. Tidak!". Langkah ini menandai peningkatan besar dalam ketegangan antara ekonomi terbesar di dunia dan pergeseran sikap Trump, padahal belum lama ini dia menyampaikan proses perundingan dagang telah mengalami kemajuan. Alhasil, pasar saham merosot dan harga minyak jatuh karena negosiasi makin diliputi keraguan. 

Pasar keuangan global, yang sebagian besar telah memperkirakan ekspektasi kesepakatan perdagangan, mengalami kejatuhan. Trump mengatakan, tarif barang US$200 miliar akan meningkat menjadi 25% dari 10%, membalikkan keputusan yang dibuat pada Februari untuk mempertahankan tarif pada level 10% setelah melihat kemajuan antara kedua belah pihak. Trump juga mengatakan akan menargetkan tambahan produk China senilai US$325 miliar dengan tarif 25% dalam waktu dekat. Kebijakan ini pada dasarnya menargetkan semua produk yang diimpor ke Amerika Serikat dari China.