;
Tags

Perang Dagang

( 120 )

Hadapi Tarif Trump denan Diplomasi

KT3 04 Apr 2025 Kompas (H)

Pemberlakuan tarif resiprokal oleh Pemerintah AS akan berdampak langsung pada penurunan ekspor Indonesia dan bisa memukul industri padat karya dan sektor keuangan. Negosiasi diplomatik, termasuk forum multilateral, menjadi sangat krusial dalam memitigasi dampak dari ”perang dagang” AS. Pada Kamis (3/4) dini hari WIB, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal yang disebutnya  ”Hari Pembebasan”. Indonesia dikenai tarif impor 32 % atau tiga kali lipat dari basis tarif 10 % untuk semua negara, yang mendekati tambahan tarif resiprokal China di 34 5. Sebelumnya, China telah dikenai tarif 20 %. Tarif resiprokal dasar, yakni 10 %, mulai berlaku pada 5 April 2025. Adapun tarif resiprokal spesifik, termasuk yang dikenakan ke Indonesia, berlaku mulai 9 April 2025.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan, penerapan tarif resiprokal akan berdampak langsung terhadap penurunan ekspor Indonesia ke AS. Rata-rata tahunan, pangsa pasar ekspor Indonesia ke AS sebesar 10,3 %, terbesar kedua setelah ke China. Surplus perdagangan Indonesia-AS sebesar 16,08 miliar USD dari total surplus perdagangan nonmigas 2024, yaitu 31,04 miliar USD. ”Produk Indonesia, seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, serta produk pertanian dan perkebunan, seperti minyak kelapa sawit, karet, dan perikanan, bakal terdampak,” ujar Eisha.

Terkait hal itu, Pemerintah RI perlu segera bernegosiasi dengan AS untuk meminimalkan dampak tarif resiprokal bagi produk-produk ekspor Indonesia yang masuk pasar AS. Kekuatan negosiasi diplomatik menjadi sangat krusial. Menurut Eisha, pemerintah perlu mengoptimalkan perjanjian dagang bilateral dan multilateral, kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA), serta menginisiasi perjanjian kerja sama dagang dengan negara-negara nontradisional. Dengan demikian, eksportir dapat mengalihkan pasar. ”Pemerintah RI juga perlu memberikan insentif fiskal, subsidi, dan keringanan pajak guna membantu pelaku industri mengatasi peningkatan biaya dan pengurangan permintaan akibat dampak tarif dan perang dagang AS,” katanya. (Yoga)

Antisipasi Dampak Tarif Trump terhadap Ekspor

HR1 26 Mar 2025 Bisnis Indonesia (H)

Kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan tren positif pada awal tahun 2025, tantangan besar sudah menanti, terutama dengan pengumuman yang akan dikeluarkan oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada 2 April 2025. AS akan melakukan penyelidikan terhadap negara-negara penyumbang defisit terbesar, termasuk Indonesia, dan dapat menetapkan tarif perdagangan timbal balik (reciprocal) terhadap negara yang memberlakukan hambatan perdagangan terhadap barang-barang AS.

Indonesia, yang mencatat surplus perdagangan terbesar dengan AS pada Januari-Februari 2025 (US$3,13 miliar), perlu menghadapi keputusan yang akan sangat memengaruhi hubungan dagangnya dengan AS. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia telah mengantisipasi langkah AS tersebut dengan membuka dialog strategis dan melakukan lobi untuk mencari solusi, seperti melalui pembaruan Indonesia-US Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) dan memperkuat kerja sama investasi di sektor strategis.

Selain itu, Indonesia juga mempercepat penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) untuk membuka akses pasar baru dan mengurangi ketergantungan pada pasar AS jika terjadi tarif yang lebih tinggi. Benny Soetrisno, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), menekankan pentingnya diplomasi dagang dengan AS sambil tetap menyelesaikan perundingan dengan Uni Eropa.

Namun, Deni Friawan, peneliti senior Departemen Ekonomi CSIS, mengingatkan adanya potensi risiko yang harus diwaspadai oleh Indonesia dalam menghadapi kebijakan perdagangan AS, yang dapat mempengaruhi sektor-sektor strategis seperti migas, tembaga, emas, dan nikel. Oleh karena itu, meskipun ada peluang baru melalui perjanjian internasional, Indonesia harus tetap waspada terhadap dinamika hubungan dagangnya dengan AS.


Amerika Latin Diuntungkan dalam Perang Dagang

KT3 12 Mar 2025 Kompas

Tarif bea masuk impor untuk aneka komoditas AS ke China resmi berlaku. Perang dagang dengan AS membuat China mengalihkan sumber impor komoditas, terutama ke Brasil dan Argentina. Australia juga bisa meraup laba karena ekspor pertanian ke China. Media AS, CBS, Senin (10/3) malam waktu Washington DC atau Selasa pagi WIB, melaporkan, petani AS terpukul oleh kebijakan China. CBS menyebut, kebijakan itu pembalasan atas keputusan Presiden AS, Donald Trump yang lebih dulu mengenakan bea masuk impor terhadap aneka komoditas China ke AS. China menjatuhkan tarif impor 15 % untuk produk pertanian AS, seperti daging sapi, daging babi, daging ayam, dan kedelai.

Secara total, nilai impor daging dari AS oleh China 16,26 miliar USD. Selain itu, setengah produksi kedelai AS juga dijual ke China. Karena itu, China mengalihkan sumber impor ke beberapa negara. Brasil adalah negara yang diperkirakan paling diuntungkan. Brasil pengekspor kedelai, daging sapi, daging ayam, dan kapas terbesar di dunia. Bahkan, pada perang dagang di masa jabatan pertamaTrump (2017-2021), AS kehilangan pasar kedelai terbesar mereka gara-gara China beralih ke Brasil. Brasil pada 2024 mengalami surplus neraca perdagangan dengan China senilai 30 miliar USD. Bagi Brasil, ini tren positif. Meski begitu, ada harga yang harus dibayar karena pasokan kedelai untuk pasar domestik berkurang. Walhasil, harga pakan ternak akan meningkat. (Yoga)


Melindungi RI dengan Memitigasi Perang Dagang

KT3 07 Mar 2025 Kompas (H)

Di tengah tren penurunan harga komoditas ekspor andalan, sektor perdagangan Indonesia menghadapi sejumlah tantangan besar, mulai dari perang dagang yang dipicu kebijakan tarif AS, serbuan produk-produk impor, hingga kenaikan harga sejumlah bahan pangan, terutama Minyakita. Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, AS menaikkan tarif impor sejumlah produk asal China, Kanada, dan Meksiko. Meskipun belum menyasar Indonesia, pemerintah perlu memitigasi dampak tak langsung perang dagang itu. Salah satunya, potensi banjir impor, dari China yang merupakan mitra dagang utama Indonesia. Impor tekstil dan produk tekstil (TPT) dari negara tersebut menjadi salah satu penyebab banyak industri TPT nasional bertumbangan. Harga Minyakita melambung jauh di atas HET tak kunjung turun, sejak Juni 2024. Mendag Budi Santoso menjawab tantangan sektor perdagangan tersebut, di Jakarta, Kamis (6/3).

Sejumlah lembaga dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2025 stabil, 2,7-3,3 %. Namun, pertumbuhan itu masih melambat seiring berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter dan disrupsi akibat ketegangan geopolitik. Dari sisi perdagangan, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memprediksi terjadinya pemulihan pertumbuhan perdagangan barang dari 2,7 % pada 2024 menjadi 3 % pada 2025. Kinerja ekspor Indonesia memang melambat seiring penurunan harga komoditas global. Namun, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus selama 57 bulan beruntun sejak Mei 2020 hingga Januari 2025. Sepanjang 2024, surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar 31,04 miliar AS. Surplus dagang terbesar Indonesia adalah dengan India dan AS, masing-masing 14,67 miliar USD dan 14,34 miliar USD.

Kedua negara itu bakal menjadi tantangan terbesar kinerja perdagangan Indonesia. AS telah menaikkan tarif impor produk-produk asal China, Kanada, dan Meksiko. Kami akan memitigasinya. Adapun India telah beberapa kali memproteksi perdagangan dan menaikkan tarif impor sejumlah komoditas demi kepentingan dalam negeri. Pertama, diplomasi perdagangan dengan AS dan India perlu diperkuat, yakni dengan saling memberikan akses dagang. Agar akses pasar utama ekspor kita tetap terbuka, kita juga perlu memberikan akses pasar pada kedua negara tersebut. Kedua, kami berupaya memperkuat pasar-pasar ekspor nontradisional. Sejumlah negara di Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan kami sasar. Namun, secara khusus, kami ingin meningkatkan kerja sama dengan Uni Eropa melalui Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU CEPA). (Yoga)


Bursa Global Rontok akibat Perang Dagang

KT3 05 Mar 2025 Kompas

Bursa saham AS dan sejumlah negara bereaksi negatif pada kepastian perang dagang. Dalam pernyataan, Senin (3/3) malam waktu Washington DC atau Selasa (4/3) dini hari WIB, Presiden AS Donald Trump memastikan tarif impor mulai berlaku Selasa. AS memberlakukan tarif impor 25 % untuk Kanada dan Meksiko. China juga terkena tambahan bea masuk dari 10 % menjadi total 20 %. Kanada dan Meksiko merupakan mitra dagang utama yang terikat perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara dengan AS, NAFTA. AS terutama menjadi pasar, Kanada-Meksiko menjadi pemasok. Dengan pemberlakuan tarif impor, praktis kesepakatan itu mati sehingga rantai pasok bisa terganggu.

Saling mengenakan tarif impor dikenal sebagai perang dagang. Perang dagang membuat harga berbagai barang naik sehingga konsumsi dikhawatirkan menurun. Penurunan konsumsi bisa membuat penjualan para produsen dan distributor terpangkas. Di bursa, koreksi pendapatan itulah yang membuat harapan pada nilai dividen berkurang. Akibatnya, harga saham terkoreksi. Sejak pengumuman Trump, negara-negara sasaran segera membalas. Kanada segera memberlakukan tarif 25 % untuk komoditas senilai 20,6 miliar USD. Jika Washington tak kunjung menunjukkan itikad baik, tarif setara akan dikenakan pada komoditas senilai 86,6 miliar USD.

China bakal menerapkan tarif 15 % untuk aneka impor produk pertanian dan peternakan AS. Mulai Senin pekan depan, tarif diberlakukan untuk kacang kedelai serta daging, mencakup babi, sapi, dan ayam. Pada 2024, China mengimpor total 24,7 miliar USD produk pertanian dan peternakan dari AS. Beijing juga melarang kerja sama dengan 10 perusahaan AS. Ada juga pembatasan ekspor ke 15 perusahaan AS, karena dinilai membahayakan kepentingan nasional China. Selepas pengumuman Trump, tiga indeks utama bursa New York langsung memerah. Nasdaq paling terpukul, anjlok 2,64 % karena indeksnya terpangkas 497 poin. S&P 500 serta Dow 30 lebih rendah koreksinya, masing-masing 1,76 % untuk S&P 500 dan 1,48 % untuk Dow 30.

Reaksi negatif bursa terlihat pula di Asia Pasifik. Indeks Nikkei, Jepang terkoreksi 1,37 % karena kehilangan 509,88 poin di pembukaan perdagangan, Selasa. Sementara S&P Australia terkoreksi 67,9 poin. Penurunan juga terpantau di bursa Mumbai, India. Indeks S&P Sensex Mumbai terkoreksi tipis 0,15 % karena kehilangan 115 poin. Di bursa Shanghai, China, Selasa, Indeks SSE Composite terkoreksi tipis 0,12 %. Pelaku pasar khawatir dengan prospek ke depan selepas pengumuman Trump. ”Apa yang seharusnya mereka lakukan adalah membangun pabrik mobil dan hal-hal lain di AS. Dengan begitu, mereka tidak akan dikenai tarif,” kata Trump di Gedung Putih. (Yoga)


Strategi KEK Bertahan dari Ancaman Perang Dagang

HR1 28 Feb 2025 Bisnis Indonesia

Kawasan Industri Kendal, yang merupakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), menargetkan pertumbuhan investasi hingga 20% pada tahun 2025 dengan memanfaatkan momentum perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Sejak didirikan pada 2016, Kawasan Industri Kendal telah menarik investasi sebesar Rp141,7 triliun, dengan realisasi investasi sebesar Rp42,7 triliun pada tahun 2024. Juliani Kusumaningrum, Direktur Eksekutif Kawasan Industri Kendal, menyatakan bahwa stimulus dari pemerintah dan situasi perang dagang antara AS dan China menjadi faktor pendorong utama untuk meningkatkan investasi di kawasan ini.

Mayoritas investor yang masuk berasal dari China, diikuti oleh Indonesia, Hong Kong, Taiwan, dan negara-negara lainnya. Peningkatan investasi ini juga didorong oleh relokasi dan ekspansi industri, terutama setelah pandemi Covid-19. Tjertja Karja Adil, Kepala Administrator Kawasan Ekonomi Khusus Kendal, menyatakan bahwa ada rencana penambahan kawasan industri yang menjadi KEK pada tahun 2025, yang diperkirakan akan semakin menarik investor, terutama terkait dengan potensi relokasi pabrik akibat dampak perang dagang.

Pemerintah, melalui kebijakan yang mempermudah perizinan dan memperkuat daya tarik Indonesia, berupaya menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan terus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kawasan industri ini. Presiden Prabowo Subianto diharapkan memberikan persetujuan terkait ekspansi kawasan industri yang akan menambah peluang investasi.


Perang Dagang AS-Cina Bawa Berkah

KT1 27 Feb 2025 Tempo
Jakarta - Kepala Administrator Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal Tjertja Karja Adil menyebut perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina membawa keberkahan bagi industri dalam negeri. Hal ini, kata Tjertja, lantaran banyak perusahaan Cina merelokasi pabriknya ke Kendal. “Kami dapat blessing, ya. Begitu Trump naik, enggak 1, 2, 3 tenant investor asing datang ke kantor saya ngomong, ‘Pak, kami prepare untuk relokasi pabrik-pabrik kami yang di Cina untuk masuk ke Kendal’,” ujar Tjertja dalam media briefing di Menara Batavia,Jakarta Pusat, Kamis, 27 Februari 2025. Relokasi pabrik itu, lanjut dia, memungkinkan produk Cina untuk masuk ke pasar Amerika Serikat melalui label ‘Made in Indonesia’. “Kalau dari Cina sana pabriknya sudah pasti kena tarif tinggi, mesti enggak bisa jualan bangsa mereka,” tutur Tjertja.

Selain faktor perang dagang, insentif fiskal yang ditawarkan pemerintah Indonesia turut mendorong relokasi pabrik Cina ke Kendal. Salah satu insentif fiskal yang diberikan itu, kata Tjertja, ialah tax holiday atau pembebasan pajak hingga 20 tahun, tergantung nilai investasi. Insentif tax holiday selama 10 sampai 20 tahun diberikan bagi investor yang melakukan penanaman modal pada kegiatan utama di KEK. "Dengan minimal investasi Rp 100 miliar saja mereka dapat 10 tahun tax holiday," ungkapnya. Sementara itu, investasi Rp 500 miliar mendapat insentif tax holiday selama 15 tahun, dan Rp 1 triliun mendapat 20 tahun. Jokowi Teken Peraturan Pemerintah KEK BSD dan Pariwisata Kesehatan Internasional Batam di Akhir Jabatannya

Selain itu, pemerintah juga memberikan insentif tax allowance atau keringanan pajak untuk kegiatan di luar kegiatan utama. Adapun sebagai unit kerja yang bertugas menyelenggarakan perizinan usaha di kawasan, administrator KEK Kendal juga memberikan janji kemudahan perizinan bagi perusahaan guna memperlancar pengembangan industri. Hingga saat ini, terdapat 124 entitas perusahaan yang masuk ke kawasan, dengan tiga sektor industri terbesar meliputi fesyen sebesar 29 persen, otomotif dan energi terbarukan sebesar 19 persen, dan elektronik 17 persen.  Ihwal negara asal perusahaan, sebanyak 39 persen di antaranya berasal dari Cina. Kemudian 26 persen dari dalam negeri, dan selebihnya dari negara-negara seperti Hong Kong, Korea Selatan, hingga Jerman. Sementara itu, KEK Kendal mencatat Kawasan Industri Kendal (KIK) telah menarik investasi senilai Rp 141,7 triliun dalam kurun waktu 8 tahun, terhitung dari 2016 hingga 2024. Direktur Eksekutif KIK Juliani Kusumaningrum mengungkap nilai investasi yang telah terealisasi sebesar Rp 86,5 triliun, dengan nilai realisasi pada 2024 sejumlah Rp 42,7 triliun. (Yetede)


China Fokus ke Ekonomi dan Perang Dagang

KT1 22 Feb 2025 Investor Daily
China menunjukkan prioritas negaranya, yaitu fokus pada perbaikan ekonomi dan mencoba mencapai kesepakatan dengan Presiden Donald Trump untuk menghindari perang dagang. Banyak yang menyoroti absennya Presiden Xi Jinpin di meja perundingan Rusia dan AS di Arab Saudi pada Minggu ini, alih-alih bertemu para pengusaha teknologi China di Beijing. Selama tiga tahun terakhir, Pemerintah Cjina telah berkali-kali mengisyaratkan kesediannya untuk bertindak sebagai pembawa damai dalam perang Ukraina. Bahkan ada putaran diplomasi utusan China yang melawat ke berbagai negara, mulai dari Afrika Selatan hingga Indonesia. Selain itu ada juga rencana perdamaian dengan Brasil, dengan sekelompok negara berkembang, hingga proposal untuk mengirim pasukan  menjaga perdamaian ke Eropa. Kendati ingin dilihat sebagai pembawa perdamaian global, Pemerintah China berusaha melakukan tanpa harus "mengeluarkan biaya" atau mengambil risiko. Khususnya, jika hal itu dapat merusak hubungan bilateral dengan Rusia yang menjadi tempat bergantungnya untuk mendapatkan energi murah. (Yetede)

Menghadapi Perang Dagang dengan Strategi Baru

HR1 18 Feb 2025 Bisnis Indonesia (H)

Indonesia berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan pada Januari 2025, dengan surplus terbesar tercatat dalam perdagangan dengan Amerika Serikat (AS), tantangan besar tetap ada dalam mempertahankan kinerja perdagangan nasional ke depan. Surplus ini didorong oleh ekspor non-migas Indonesia ke AS yang meningkat, namun impor barang, terutama bahan baku, penolong, dan barang modal, mengalami penurunan signifikan. Hal ini menunjukkan adanya potensi penurunan produktivitas di sektor manufaktur.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dan Kepala BKPerdag, Rusmin Amin, menekankan pentingnya mengantisipasi dampak ketegangan perang dagang antara AS dan China yang dapat mengguncang stabilitas perdagangan global, serta perlunya cermat dalam memanfaatkan peluang pasar. Meski demikian, Presiden Prabowo Subianto optimistis bahwa pencapaian ekspor dapat didorong dengan mempercepat perjanjian perdagangan seperti Indonesia-Canada CEPA dan Indonesia-EU CEPA.

Beberapa tokoh, seperti Ketua Umum GPEI Benny Soetrisno, berpendapat bahwa perang dagang AS-China belum akan mengganggu neraca dagang Indonesia secara langsung, namun perlu ada strategi jangka pendek untuk mengalihkan pasar. Di sisi lain, Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, mengingatkan bahwa Indonesia harus memperkuat industrialisasi berbasis ekspor untuk menghindari dampak negatif dari ketergantungan terhadap pasar luar negeri, terutama dari produk manufaktur China.

Ekonom seperti Arief Budiman dari Ciptadana Sekuritas Asia dan Mohammad Faisal dari Center for Reform on Economics menyoroti risiko ketidakpastian ekonomi global, yang dapat berdampak pada ekspor Indonesia, terutama terkait dengan penurunan impor bahan baku dan barang modal yang menunjukkan adanya penurunan permintaan domestik untuk produk manufaktur.


Negara-Negara Asia Jadi Sasaran Tarif Baru AS

HR1 12 Feb 2025 Kontan
Ekonom global memperkirakan India dan Thailand akan menjadi target tarif berikutnya dari Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump, seiring ambisinya untuk mengurangi perbedaan tarif perdagangan. Analis Nomura, Sonal Varma, menilai negara-negara Asia yang mengenakan tarif tinggi pada ekspor AS berisiko menghadapi tarif balasan yang lebih besar, sehingga negosiasi dengan Trump menjadi penting untuk melindungi perekonomian kawasan.

Menurut ekonom Bloomberg Maeva Cousin dan ekonom Deutsche Bank George Saravelos, India memiliki potensi risiko tinggi karena tarif rata-ratanya terhadap barang AS 10% lebih tinggi dibandingkan tarif AS pada barang India. Sementara itu, Chetan Ahya dari Morgan Stanley menghitung bahwa India dan Thailand bisa menghadapi kenaikan tarif 4%-6%, meskipun langkah-langkah seperti peningkatan pembelian produk AS, termasuk energi dan pertahanan, bisa menjadi alat negosiasi yang efektif.

Ahya juga memperingatkan bahwa kebijakan tarif Trump kali ini tampak lebih agresif dibandingkan perang dagang AS-China pada 2018-2019, sehingga ketegangan perdagangan global bisa semakin meluas. Namun, rincian kebijakan tarif ini masih bergantung pada keputusan Trump selanjutnya.

Dengan demikian, negara-negara Asia harus bersiap menghadapi potensi lonjakan tarif AS, sembari memperkuat strategi diplomasi ekonomi untuk memitigasi dampak negatif terhadap perdagangan dan pertumbuhan ekonomi mereka.