APBN
( 472 )Pemerintah Siap Genjot Belanja dan Daya Beli
Pemerintah siap menggenjot belanja dan daya beli masyarakat mulai kuartal 11-2026 untuk mencegah berlanjutnya tren perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dengan begini, pertumbuhan ekonomi 2025 bisa dijaga di atas 5%. Konkretnya, pemerintah akan merilis kebijakan yang berfokus pada peningkatan daya beli, stimulus ekonomi, mendorong investasi, dan mengakselerasi belanja. Poin terakhir menjadi fokus utama pemerintahan dengan target penyerapan bisa lebih tinggi dari siklus kuartalnya untuk mendorong multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi yang tahun ini ditargetkan 5,2%. Hingga 25 April 2025, pemerintah telah membuka blokir anggaran kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp86,6 triliun dari anggaran yang sebelumnya diblokir sebesar Rp 256,1 triliun.
Dengan pembukaan blokir tersebut, K/L bisa kembali melakukan efisiensi anggaran. Hal ini diatur Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025. Sementara itu, ekonom menilai, pemerintah juga perlu mengevaluasi rencana pemangkasan anggaran masif, lantaran bisa menambah tekanan ke ekonomi. Bahkan, pemerintah perlu membatalkan rencana tersebut, jika dirasa merugikan ekonomi. Alasannnya, di tengah tren pelemahan daya beli msayarakat, ekonom membutuhkan dukungan fiskal yang ekspansif. Apalagi, sektor swasta tengah lesu, terimbas kontraksi daya beli. (Yetede)
Anggaran Pendidikan agar Tepat Sasaran
Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional, Presiden Prabowo meminta agar anggaran pendidikan tidak melenceng dari sasaran, apalagi dikorupsi. ”Mari kita waspada, mari kita jujur kepada diri kita sendiri, apakah anggaran pendidikan yang begitu besar, sudah bertahun-tahun, apakah sampai kepada alamat yang ditujukan,” ujar Presiden dalam sambutannya pada peringatan Hardiknas 2025 di SD Negeri Cimahpar 5, Kecamatan Bogor Utara, Jabar, Jumat (2/5). Presiden menjelaskan, Pemerintah Indonesia selalu menempatkan pendidikan sebagai hal utama. Dibanding negara lain, alokasi pendidikan selalu yang teratas pada APBN Indonesia. Tahun ini pun, pendidikan mendapatkan 22 % dari belanja negara. Namun, masih ada banyak sekolah yang hanya memiliki satu toilet dan rusak bangunannya.
Oleh karena itu, Program Hasil Terbaik Cepat pertama yang diluncurkan adalah revitalisasi sekolah. ”Saya ingatkan tanggung jawab dari pemda, wali kota, bupati, gubernur bersama-sama. Saya memang menetapkan anggaran, cukup besar untuk perbaikan sekolah-sekolah, Rp 16 triliun, hampir Rp 17 triliun, tapi cukup mungkin hanya 11.000 sekolah. Ini tidak cukup (untuk) sekolah seluruh Indonesia,” tutur Presiden. Saat ini, di Indonesia terdapat 330.000 sekolah. Sekitar 200.000 adalah sekolah negeri. Dengan perbaikan sebelas ribuan sekolah per tahun, lanjut Prabowo, diperlukan 30 tahun untuk menyelesaikan semua sekolah di Indonesia. Oleh karena itu, perlu dipikirkan cara untuk mendapatkan anggaran serta memastikan tidak bocor. (Yoga)
Mengungkit Pertumbuhan Ekonomi Domestik
Pemerintah Optimistis Target 2025 Tercapai walau Penerimaan Negara Triwulan I-2025 Turun
Pemerintah optimistis realisasi pendapatan negara sepanjang 2025 bisa mencapai target Rp 3.005 triliun sesuai mandat APBN. Sementara realisasi pendapatan negara pada triwulan I-2025 adalah Rp 516 triliun atau turun 12,18 % ketimbang periode sama pada 2024. Menkeu, Sri Mulyani pada konferensi pers tentang realisasi APBN 2025 sampai dengan Maret di Jakarta, Rabu (30/4) menyatakan, tren kenaikan penerimaan pajak menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengalami tekanan pada Januari dan Februari 2025. ”Kenaikan positif ini menggambarkan bahwa tren yang selama ini menimbulkan perhatian dari media, pengamat, dan investor mulai menunjukkan pemulihan yang cukup meyakinkan,” ujarnya.
Berdasarkan data Kemenkeu, realisasi pendapatan negara sejak awal Januari hingga 28 Februari 2025 hanya mencapai Rp 316,9 triliun. Sepanjang Maret 2025, pendapatan negara bertambah Rp 199,2 triliun. Ini berasal dari penerimaan perpajakan senilai Rp 159,7 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) senilai Rp 39,5 triliun. Sri Mulyani mengingatkan bahwa penerimaan pajak sempat tertekan pada semester I-2024, yaitu hanya mencapai Rp 1.028 triliun atau 44,5 % dari target APBN 2024. Kala itu, tekanan dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk penurunan setoran pajak dari sektor tambang dan industri pengolahan. Namun, pada akhir 2024, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp 1.932,4 triliun atau 100,5 % dari target APBN. Jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya, realisasi penerimaan pajak sepanjang 2024 tumbuh 3,5 %. (Yoga)
DPR Panggil Dirjen Pajak Terkait Kinerja Fiskal
DPR Panggil Dirjen Pajak Terkait Kinerja Fiskal
Penerimaan Pajak Diburu di Tengah Ekonomi Stagnan
Indikasi Shortfall Penerimaan Pajak Cukup Berat
Penerimaan Pajak Sebesar Rp322,6 triliun
Penerimaan Pajak Sebesar Rp322,6 triliun
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023







