;
Tags

Industri lainnya

( 1893 )

Industri Petrokimia Nasional Menantang

KT3 14 May 2024 Kompas

Industri petrokimia nasional yang belum terintegrasi optimal dan masih bergantung pada bahan baku impor menjadi bagian dari sederet tantangan di sektor itu. Perlu perencanaan matang dan jangka panjang melibatkan pemerintah serta para pemangku kepentingan dalam mengoptimalkan besarnya potensi Indonesia. Sejumlah tantangan dan tawaran solusi pada industri petrokimia diulas dalam National Petrochemical Conference yang diselenggarakan PT Tuban Petrochemical Industries di Jakarta, Senin (13/5). Menurut Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, kapasitas produksi produk petrokimia nasional saat ini ialah olefin dan turunannya sebanyak 9,73 ton, aromatik dan turunannya 4,61 juta ton, serta produk C1 (metanol) dan turunannya 980.000 ton.

Padahal, kebutuhan industri petrokimia nasional lebih dari itu. Oleh karena itu, industri petrokimia didorong berkembang. Tak hanya lewat hilirisasi, tetapi juga huluisasi. ”Hadirnya industri petrokimia hulu baru guna memperkuat pasokan dan meningkatkan daya saing menjadi fokus dan titik berat pemerintah. (Yakni) Memaksimalkan nilai tambah dari minyak dan gas bumi, batubara, serta biochemical,” ujarnya. Upaya mendorong hal tersebut ialah melalui investasi industri petrokimia. Sejumlah proyek yang saat ini tengah berjalan di antaranya Lotte Chemical Indonesia, Polypropylene (PP) Balongan, Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Tuban, Grass Root Refinery (GRR) Tuban, dan Chandra Asri Perkasa 2 (CAP2).

Apabila proyek-proyek tersebut terealisasi, Indonesia akan menjadi negara petrokimia nomor satu di Asia Tenggara, dengan penambahan total kapasitas olefin menjadi 7.523 kiloton per tahun (KTA) dan tambahan total kapasitas poliolefin menjadi 7.281 KTA. Agus mengakui, ada sederet tantangan dalam mengembangkan industri petrokimia Indonesia, salah satunya kebutuhan investasi yang besar. Hal itu karena dibutuhkan insentif yang lebih menarik dari pemerintah agar Indonesia bisa semakin cepat bersaing dengan negara-negara lain. Dirut Pertamina Nicke Widyawati.  mengatakan, industri petrokimia berpotensi besar untuk terus berkembang, termasuk di Indonesia. Pasar ekspor juga menarik untuk dikembangkan. Dari sisi suplai, chemical bisa berasal dari petroleum (minyak), gas, biochemical, dan batubara. (Yoga)


MENGAKSELERASI KAWASAN INDUSTRI

HR1 14 May 2024 Bisnis Indonesia (H)

Terobosan baru digulirkan oleh pemerintah untuk memoles daya tarik kawasan industri yang diharapkan menjadi pusat pertumbuhan manufaktur di Tanah Air. Teranyar, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 20/2024 tentang Wilayah Industri yang mendesain ulang klasterisasi industri dan skema insentif untuk kawasan industri. Dalam beleid yang diundangkan 7 Mei 2024 itu, pemerintah mengatur insentif fiskal dan nonfiskal yang difokuskan untuk wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan industri. Dari sisi fiskal, fasilitas yang disediakan pemangku kebijakan relatif sama dengan kebijakan sebelumnya yakni menyangkut pemangkasan pajak serta kemudahan di sektor pabean.  Adapun, insentif nonfiskal berbentuk penyediaan lahan atau lokasi, pelatihan, sertifikasi kompetensi, pelimpahan hak produksi atas suatu teknologi yang lisensi patennya dimiliki pemerintah, serta fasilitas lain yang bisa diberikan oleh menteri teknis. Aneka kemudahan itu ditujukan khusus untuk perusahaan kawasan industri yang berlokasi di dalam Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI). 

Dunia usaha pun merespons positif beleid baru ini dan optimistis mampu menopang kinerja industri yang siap melanjutkan ekspansi setelah berakhirnya musim wait and see akibat hiruk pikuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar, mengatakan ketentuan baru ini berbeda dibandingkan dengan regulasi sebelumnya yakni PP No. 142/2015 tentang Kawasan Industri karena dalam PP No. 20/2024 mengatur pemberian insentif bagi kawasan industri dan perusahaan industri dengan berdasar pada pengelompokan Wilayah Pengembangan Industri (WPI) dan/atau status pengembangan WPPI. Menurutnya, insentif pemda berupa pengurangan atau pembebasan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan (BPHTB) hingga pengurangan atau pembebasan pajak penerangan untuk jalan lingkungan cukup menarik. Namun di sisi lain, obral stimulus itu dirasa belum cukup memuaskan pelaku usaha. 

Pelaku industri masih membutuhkan jenis insentif lainnya untuk mendorong investasi, inovasi, dan pertumbuhan bisnis. Sementara itu dari lantai bursa, emiten yang bergerak di sektor kawasan industri juga menyambut baik PP No. 20/2024 dan diyakini membantu upaya perusahaan untuk merealisasikan target pada tahun ini. Presiden Direktur PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) Haryanto Adikoesoemo, mengatakan target penjualan lahan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) mencapai 130 hektare. Keyakinan serupa disampaikan PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) yang menaikkan target penjualan pemasaran lahan industri Suryacipta City of Industry Karawang dan Subang Smartpolitan pada 2024 dari 65 hektare menjadi 184 hektare. 

Erlin Budiman, VP Head of Investor Relations Surya Semesta Internusa, memaparkan revisi ke atas target marketing sales itu sejalan dengan besarnya minat terhadap lahan industri perseroan. Manajemen SSIA memaparkan target penjualan pemasaran lahan industri seluas 184 hektare tersebut setara dengan Rp2,2 triliun. Dalam kesempatan terpisah, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah memang tengah gencar untuk memperluas pembangunan dalam rangka pemerataan pusat industri di Tanah Air. Sementara itu, kalangan ekonom memandang strategi pemerintah dengan menerapkan zonasi spesialisasi industri cukup positif lantaran disesuaikan dengan karakteristik dan kapasitas masing-masing wilayah. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal, mengatakan klasterisasi kawasan industri harus diimbangi dengan klasterisasi dari sisi insentif baik dari sisi fiskal maupun nonfiskal.

PROYEKSI PENJUALAN MOBIL : Penjualan Mobil Tetap Menantang

HR1 11 May 2024 Bisnis Indonesia

Situasi perekonomian diperkirakan masih belum akan berpihak pada industri otomotif. Penjualan mobil terpantau masih lesu sampai dengan April 2024 dan masih akan berlanjut hingga sepanjang kuartal II/2024. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2024 sebesar 5,11% belum cukup untuk memberikan sentimen positif terhadap penjualan mobil. Pasalnya, perekonomian Tanah Air masih tetap menantang pada kuartal-kuartal berikutnya. Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto mengatakan untuk mengerek naik penjualan mobil setidaknya laju ekonomi Indonesia harus tumbuh di level 5%. Sementara, ekonomi kuartal II/2024 masih terjal sehingga berharap mengalami perbaikan. Berdasarkan Gaikindo yang diterima Bisnis, penjualan mobil domestik secara wholesales pada Januari—April 2024 sebanyak 263.706 unit atau turun 22,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 341.582 unit. 

Penjualan secara ritel pada Januari—April 2024 sebanyak 289.551 unit atau turun 14,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 339.954 unit. Bila melihat data terbaru dari Gaikindo, PT Astra International Tbk (ASII) masih memimpin pasar domestik secara wholesales. Hal ini terlihat dari total penjualan Toyota mencapai 80.856 unit pada Januari—April 2024 dengan pangsa pasar dari Toyota berada di level 30,7% dari total nasional. Kemudian entitas Astra lainnya yakni Daihatsu mencatatkan total penjualan yang menembus 55.484 unit pada Januari—April 2024 dengan pangsa pasar 21%.Honda memiliki catatan penjualan 32.677 unit pada Januari—April 2024 dengan pangsa pasar 12,4%. 

Data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan penjualan motor domestik mencapai 2.154.226 unit pada Januari—April 2024 atau turun 1,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 2.178.396 unit.Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, mengatakan kenaikan harga bahan pokok terutama dari sektor pangan menyebabkan masyarakat turut mengurangi pembelian barang yang bersifat sekunder.

CGAS Bidik Peningkatan Penjualan Hingga 30%

HR1 11 May 2024 Kontan
Emiten pengembangan gas alam terkompresi (compressed natural gas/CNG), PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) menargetkan penjualan tahun ini bisa meningkat sebesar 20%-30% secara tahunan atau year on year (yoy). Sedangkan target peningkatan laba bersih berada di kisaran angka 4%-5%. Manajemen CGAS optimistis target tahun ini bisa tercapai setelah melihat kinerja di kuartal-1 tahun ini yang mengalami peningkatan. Peningkatan kinerja itu ditopang tumbuhnya permintaan pelanggan terhadap kebutuhan energi bersih. "Penjualan CGAS kuartal I-2024 mengalami kenaikan sebesar 34,95% dibandingkan dengan kuartal I-2023. Hal ini menunjukkan tingginya permintaan dari pelanggan terhadap kebutuhan energi yang lebih bersih," ujar Corporate Secretary CGAS, Ferina Tyas Hapsari, saat dihubungi KONTAN, Rabu (8/5). Kemudian, terkait dengan jaringan distribusi CGAS terbagi atas lima Stasiun CNG, yakni Stasiun CNG Cikarang dengan kapasitas 5 MMSCFD, Stasiun CNG Grobogan (2 MMSCFD) (on progress), Stasiun CNG Waru (1,5 MMSCFD), Stasiun CNG Palembang (1,2 MMSCFD), Stasiun CNG Manyar (2 MMSCFD).

Pameran Food and Beverage Indonesia

KT3 10 May 2024 Kompas

Para pengunjung tampak menyimak cara memasak dalam Pameran Food and Beverage Indonesia 2024 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, pada hari Kamis (9/5/2024). Pameran ini diikuti oleh lebih dari 100 perusahaan di bidang makanan dan minuman. Pameran kuliner yang bertujuan mendorong pertumbuhan dan penjualan produk industri makanan di Indonesia ini akan berlangsung hingga Sabtu (11/5). (Yoga)

VICI Memacu Penjualan Kosmetik

HR1 07 May 2024 Kontan

Emiten manufaktur skincare atau perawatan kulit, PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) menyiapkan berbagai strategi untuk memaksimalkan bisnis di tengah berbagai tantangan yang dihadapi tahun ini. Direktur Utama Victoria Care Indonesia Billy Hartono Salim mengungkapkan, bisnis perawatan kulit di Indonesia tumbuh sangat pesat. Tak cuma merek-merek lokal baru yang bermunculan dengan berbagai karakteristiknya masing-masing, tetapi kosmetik dan skincare dari luar negeri pun mengalir masuk ke Indonesia. 

Ini cerminan ketatnya persaingan kosmetik di pasar Indonesia. Untuk menghadapi tantangan bisnis ke depan, manajemen VICI menyiapkan beberapa langkah. Pertama, fokus pada perluasan jalur distribusi, terutama di pasar ritel modern dan platform digital. Kedua, menambah titik distribusi dan mengaktifkan titik-titik distribusi dengan membuka jalur distribusi baru. Ketiga, memaksimalkan distribusi terhadap produk unggulan di portofolio Perseroan, mulai dari Herborist, Miranda, CBD Professional, hingga Nuface. Pada saat yang sama, kinerja bisnis VICI di awal tahun ini juga diderai oleh beberapa tantangan. 

Salah satunya kondisi penguatan dolar Amerika serikat (AS) atas rupiah yang berpengaruh ke banyak hal, seperti meningkatnya harga bahan baku dan kemasan. Sebagai tambahan informasi, VICI mengincar pertumbuhan pendapatan sebesar dua digit di sepanjang tahun 2024 ini.  Adapun, hingga kuartal I-2024, VICI berhasil mencatatkan pertumbuhan dua digit dengan perolehan pendapatan sebesar Rp 338,5 miliar atau meningkat 14,6% year on year (yoy) dibandingkan raihan pada periode yang sama tahun sebelumnya Rp 295,4 miliar. Billy menerangkan, keberhasilan VICI dalam menjaga performa positif di sepanjang kuartal I-2024 ini tidak terlepas dari kejelian perusahan itu dalam menjalankan strategi pemasaran yang tepat dan berkelanjutan. Dus, cara ini diharapkan efektif hingga tutup tahun.

DAYA SAING INDUSTRI : Sinyal Perpanjangan Harga Gas Khusus

HR1 07 May 2024 Bisnis Indonesia

Pemerintah memastikan bakal terus berupaya menjaga daya saing industri dalam negeri dengan memberikan harga gas khusus, meski pasokan komoditas tersebut kerap tersendat akibat penurunan produksi alamiah di sejumlah lapangan minyak dan gas bumi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan bahwa pemerintah bakal melanjutkan program harga gas bumi tertentu atau HGBT pada tahun depan, sembari membangun dan memperkuat infrastruktur gas bumi di Tanah Air. Menurutnya, pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap daya saing industri nasional di tengah berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha. Hal itu menjadi alasan bagi pemerintah untuk kembali memberikan insentif harga gas khusus untuk beberapa sektor industri seperti tahun ini.

Program HGBT belakangan memanas karena PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) harus mengatur pasokan gas untuk industri, karena penurunan produksi di sejumlah lapangan minyak dan gas bumi atau migas. Perusahaan kemudian meminta tambahan alokasi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) untuk menambal kekurangan pasokan tersebut. Hanya saja, gas yang berasal dari LNG memiliki nilai jual yang lebih mahal, karena harganya mengikuti harga di pasar global dan membutuhkan proses regasifikasi untuk bisa dialirkan melalui pipa.

Persoalan mengenai pasokan gas bumi tersebut kemudian mendapatkan keluhan dari sejumlah pelaku industri, termasuk Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) yang mengaku produksi anggotanya mulai terancam akibat gangguan tersebut. Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengkhawatirkan gangguan pasokan gas bumi bakal berdampak kepada gangguan iklim investasi di Indonesia. Musababnya, Asaki telah menerima keluhan dari salah satu produsen sanitary ware terbesar di dunia yang telah membangun fasilitas produksinya di Indonesia.

Sekretaris Perusahaan PGAS Rachmat Hutama menerangkan, keputusan itu diambil untuk menjaga reliabilitas dan keselamatan jaringan gas yang berisiko tinggi. Di sisi lain, SKK Migas telah menyepakati penambahan dua kargo LNG untuk PGAS untuk tahun ini. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Hudi D. Suryodipuro mengatakan, tambahan dua kargo LNG tersebut rencananya berasal dari Tangguh Train 3.

MASUKNYA VINFAST DAN BYD : Bisnis Kawasan Industri Makin Bersinar

HR1 07 May 2024 Bisnis Indonesia

Sektor kawasan industri nasional berpotensi terus berkembang menyusul masuknya raksasa otomotif asal China yakni BYD dan produsen mobil listrik asal Vietnam VinFast mendirikan pabrik di Indonesia. Head of Industrial & Logistics Services Colliers Indonesia Rivan Munansa menuturkan bahwa kesempatan itu diproyeksi dapat berdampak positif pada sektor kawasan industri nasional ke depan. Data Bisnis mencatat BYD bakal membangun pabriknya di Kawasan Industri Subang Smartpolitan Jawa Barat dengan nilai investasi mencapai lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp16 triliun. Lebih besar lagi, VinFast juga sempat menyampaikan komitmennya untuk menyuntik investasi senilai US$1,2 miliar atau setara Rp19,20 triliun. 

Oleh karena itu, Rivan menekankan pemerintah tidak menyianyiakan kesempatan tersebut, salah satu caranya yakni lewat pemberian kemudahan pengurusan proses investasi. Pada kesempatan berbeda, Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Sanny Iskandar juga menekankan bahwa komitmen BYD hingga VinFast masuk ke Indonesia bakal menyuburkan bisnis kawasan industri lokal ke depan. Secara umum, industri assembling atau perakitan kendaraan bermotor banyak memiliki rantai pasok yang luas. 

Dia memprediksi terdapat banyak industri pendukung lain yang bakal masuk ke Indonesia seiring dengan rencana pembangunan pabrik BYD dan VinFast di Indonesia. “Kalau BYD dan VinFast masuk, pasti vendor rantai pasoknya yang tier 1 dan tier 2 juga akan berdatangan, khususnya yang ada afi liasi langsung perusahaan China dan Vietnamnya itu.” Untuk menentukan letak atau lokasi dari industri di sebuah negara, dia menekankan perlunya insentif dan fasilitas yang mendukung termasuk kepastian hukum itu sangat dibutuhkan.

INDUSTRI PENERBANGAN : AVIASI MELANDAI PADA AWAL TAHUN

HR1 04 May 2024 Bisnis Indonesia

Kinerja industri penerbangan diproyeksi bakal melaju pada tahun ini meski laporan terbaru mendapati adanya perlambatan jumlah pelaku perjalanan untuk rute domestik dan internasional sepanjang kuartal I/2024. Mengacu pada laporan Badan Pusat Statistik, jumlah penumpang angkutan udara untuk rute domestik turun 3,51% secara bulanan dari 4,70 juta pada Februari menjadi 4,54 juta pada Maret 2024. Sementara itu, sepanjang Januari-Maret, volume penumpang domestik menyentuh 14,07 juta kunjungan, turun tipis 0,95% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu sebesar 14,21 juta penumpang. Dari lima bandara utama di Tanah Air, Kualanamu di Sumatra Utara mengalami penurunan cukup tajam hingga 12,61% YoY pada kuartal I/2024. Disusul oleh Bandara Hasanuddin, Makassar merosot hingga 6% dan Soekarno Hatta turun 1,94% dalam tiga bulan pertama tahun ini. 

Sementara itu pada angkutan udara internasional, jumlah penumpang meningkat cukup drastis hingga 27,75% pada Januari - Maret 2024 dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia Faik Fahmi menuturkan bahwa salah satu faktor penurunan jumlah penumpang adalah momentum Ramadan. Umumnya, masyarakat mengurangi perjalanan udara sebelum memasuki musim mudik Lebaran. Dari data Angkasa Pura Indonesia, 37 bandara kelolaan baik domestik maupun internasional mampu melayani 11,4 juta penumpang selama periode Maret 2024. Jumlah ini turun 1,9% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yakni 11,6 juta penumpang. Pada sisa tahun, InJourney Airports turut mengatur sejumlah strategi untuk meningkatkan trafi k di bandara yang dikelola. Di antaranya melalui kolaborasi dengan perusahaan yang tergabung dengan ekosistem pariwisata InJourney Group, membuka rute baru dan event berskala nasional maupun internasional. 

Setali tiga uang, pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan bahwa awal tahun selalu menjadi salah satu periode low season dalam industri aviasi. Kinerja sektor penerbangan lebih banyak tertolong oleh euforia masyarakat melakukan perjalanan usai Covid-19 dan momen Tahun Baru Imlek. Penurunan kinerja sektor ini berbanding terbalik dengan realisasi volume kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. BPS mencatat jumlah kunjungan wisman selama Januari–Maret 2024 menembus 3,03 juta atau naik 25,43% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Alvin yang juga Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (Apjapi) ini memproyeksikan kinerja industri penerbangan akan lepas landas pada tahun ini usai mencatatkan kinerja kurang memuaskan usai pagebluk. 

Asosiasi memproyeksikan sedikitnya 75 juta tiket penerbangan rute domestik akan terjual sepanjang tahun ini seiring dengan usainya perhelatan Pilpres sehingga kembali memicu geliat bisnis. Perkiraan tersebut naik tajam dari realisasi penjualan tiket 2023 yang menyentuh 66 juta tiket. Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Pemerintah Arab Saudi resmi menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) terkait pengaturan angkutan udara. Melalui kesepakatan ini, rute penerbangan dari seluruh bandara internasional di Arab Saudi dapat mendarat di bandara di Indonesia antara lain Jakarta, Surabaya, Makassar dan Denpasar.

INDUSTRI TEKSTIL & ALAS KAKI : Momentum Jaga Pertumbuhan

HR1 03 May 2024 Bisnis Indonesia

Pengecualian barang contoh untuk industri tekstil dan alas kaki dari larangan dan pembatasan impor oleh Kementerian Perdagangan diharapkan mampu memantik kinerja manufaktur di dalam negeri. Kementerian Perdagangan resmi mengeluarkan barang contoh untuk industri tekstil dan alas kaki dari larangan dan pembatasan impor melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 7/2024 sebagai perubahan kedua atas Permendag No. 36/2023. Direktur Impor Kemendag Arif Sulistyo mengatakan, hasil evaluasi yang dilakukan antarinstansi pemerintah telah sepakat memberikan kemudahan impor barang contoh untuk pengembangan dan penelitian di sejumlah sektor industri, termasuk tekstil dan alas kaki.

Arif menjelaskan, relaksasi impor barang contoh diperlukan agar industri dapat dengan mudah melakukan pengembangan produksi di dalam negeri. Sejumlah komoditas yang termasuk dalam pengecualian lartas impor tersebut antara lain tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, tas, pakaian jadi dan aksesoris pakaian jadi, elektronik, bahan baku pelumas, mainan, serta barang tekstil sudah jadi lainnya. Industri alas kaki memang sedang berjuang untuk bertahan dari sejumlah tantangan yang muncul di dalam dan luar negeri. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) memproyeksikan kinerja ekspor alas kaki sepanjang tahun ini bakal terseok-seok, meski mengalami pertumbuhan secara tahunan pada Januari—Februari 2024. Direktur Eksekutif Aprisindo Firman Bakrie mengatakan produksi alas kaki terganjal lantaran impor barang sampel atau barang contoh untuk diproduksi dan diperbanyak di Indonesia makin sulit dilakukan. Selain itu, impor barang modal juga terhambat, sehingga mengganggu proses produksi untuk ekspor.