;
Tags

Saham

( 1717 )

PAPAN ANYAR PENGEREK PASAR

HR1 28 Nov 2022 Bisnis Indonesia (H)

Bursa Efek Indonesia (BEI) punya segudang rencana untuk mendorong laju transaksi di pasar saham. Salah satunya yakni dengan membentuk papan perdagangan baru yang diharapkan bakal menjadi acuan bagi investor. Jika tak ada aral melintang, BEI akan merilis papan baru bernama New Economy pada 5 Desember. Papan ini salah satunya bakal menaungi saham-saham emiten startup maupun per­usahaan teknologi yang memiliki model bisnis baru. Menyusul Papan New Economy, otoritas bursa juga mempersiapkan Papan Pemantauan Khusus yang bakal menjadi tempat bagi saham-saham yang diperdagangkan di bawah harga Rp51 per lembar alias ‘gocapan’. Rencananya papan tersebut akan dirilis tahun depan. Kehadiran papan baru tersebut dinilai sejalan dengan momentum pertumbuhan signifikan jumlah investor ritel dalam beberapa tahun terakhir. Per 3 November 2022, jumlah investor pasar modal yang mengacu pada Single Investor Identification (SID), telah mencapai 10 juta, meningkat 33,53% dari akhir 2021. Bahkan pada 2019, jumlah investor pasar modal baru 2,48 juta. Jika ditengok, sejauh ini BEI telah memiliki tiga papan perdagangan yakni Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Akselerasi. Papan-papan tersebut mengelompokkan emiten sesuai dengan kinerjanya. Dus, kehadiran papan tersebut dapat menjadi acuan bagi investor. Direktur BEI Iman Rachman mengatakan, pembentukan Papan New Economy sudah mengantongi restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurutnya, papan itu menyasar calon perusahaan tercatat yang memenuhi karakteristik seperti memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, menggunakan teknologi untuk menciptakan inovasi produk, serta memiliki kemanfaatan sosial. Perihal papan baru tersebut, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan kedua papan tersebut patut dicermati karena barang baru di pasar modal. Dia pun belum bisa menakar apakah kedua papan ini bakal menarik di mata investor. Pastinya, diperlukan waktu bagi pelaku pasar untuk mencerna papan anyar buatan Bursa itu.

IPO pada Masa Pandemi, 11 Saham Layak Dikoleksi

KT1 28 Nov 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID — Sedikitnya 11 saham atau 10% dari 105 yang melakukan IPO dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama masa pandemi, 2020-2021, layak dikoleksi. Selain memiliki kinerja fundamental bagus dan prospek usaha yang cerah, banyak saham-saham ini sudah tergolong undervalued. Dari total 105 emiten yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) saham pada awal pandemi tahun 2020 hingga akhir 2021, sebanyak 54 emiten atau 52% mencatatkan potential gain hingga 8.584%. Sedangkan 51 saham mengalami potential loss. Ada banyak saham kelompok ini yang dinilai undervalued, di antaranya PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Avia Avian Tbk, dan PT Bukalapak.com Tbk. Para investor dengan orientasi jangka menengah dan panjang layak mengoleksi saham-saham tersebut menjelang window dressing Desember mendatang. “Kami memper tahankan MTEL dengan peringkat buy. Target price (TP) mencapai Rp 900, berpotensi menguat sekitar 25% dari posisi Rp 720 per 25 November lalu (lihat  tabel),” kata Steven kepada Investor Daily, Sabtu (26/11) malam. (Yetede)

Waspadai Lonjakan Harga Saham Emiten Kecil di Musim Window Dressing

HR1 28 Nov 2022 Kontan (H)

Harga sejumlah saham emiten berkapitalisasi kecil mendadak melejit menjelang musim window dressing. Investor harus hati-hati agar tak terjebak saham gorengan dengan likuiditas mini. Biasanya, menjelang window dressing pada Desember, para spekulan menggoreng saham blue chip dengan nilai market cap atau kapitalisasi raksasa. Situasi ini juga dimanfaatkan "bandar" untuk mengangkat harga saham emiten berkapitalisasi kecil (small cap). Salah satu indikasinya, sepekan terakhir, harga saham-saham emiten dengan market cap di bawah Rp 1 triliun terbang tinggi.

Victoria Investama Patok Harga Right Issue Rp180

KT1 26 Nov 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID - PT Victoria Investama Tbk (VICO) siap menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue sebanyak-banyaknya 49,75% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue. Harga pelaksanaan ditetapkan Rp 180 per saham, sehingga jumlah dana yang akan diterima VICO dalam aksi ini adalah Rp 1,79 triliun. Dalam keterbukaan informasinya, Jumat (25/11/2022) disebutkan, setiap pemegang 100 saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham (DPS) perseroan pada penutupan perdagangan saham perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tanggal 5 Desember 2022 berhak atas 99 HMETD. “Setiap 1 HMETD memberikan hakm kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan pemesanan pelaksanaan HMETD,” ujar manajemen VICO dalam keterangan resmi. Berdasarkan surat pernyataan PT Gratamulia Pratama (GMP) selaku pengendali perseroan, dengan ini GMP menegaskan akan melaksanakan sebagian HMETD yang akan dimilikinya yaitu sebesar 2.076.895.361 HMETD. (Yetede)

Pandemi Mereda, Emiten Ritel Mencetak Pertumbuhan Laba

HR1 24 Nov 2022 Kontan

Kinerja emiten ritel diproyeksi masih akan tumbuh hingga akhir tahun ini. Ini bercermin dari menterengnya sejumlah kinerja emiten ritel di kuartal III-2022. Di antaranya PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Dari beberapa emiten ritel yang telah merilis laporan keuangan kuartal III-2022, MAPI mencatatkan pertumbuhan pendapatan tertinggi, yakni sebesar 55,8% secara tahunan. Pendapatan bersih MAPI naik jadi Rp 18,8 triliun dari Rp 12,1 triliun di kuartal III-2021. Pertumbuhan pendapatan terendah dibukukan ACES, dengan kenaikan 4,3% secara tahunan. Di kuartal III-2022, ACES mencetak penjualan bersih menjadi Rp 4,9 triliun.


11 Saham yang IPO 2022 Memberikan Gain di Atas 100%

KT1 24 Nov 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Sebelas dari 54 emiten yang menggelar initial public offering (IPO) atau penawaran umum perdana saham tahun 2022 memberikan potential gain (potensi keuntungan) di atas 100%. Saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) bahkan mendulang gain hingga 1.700%. Selain ADMR, saham emiten yang memberikan potential gain di atas 100%, terhitung sejak tanggal listing hingga Rabu (23/11/2022) adalah PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk (KRYA), PT Estee Gold Feet Tbk (EURO), PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM), PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA), PT Dewi Shri Farmindo Tbk (DEWI), PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), PT Segar Kumala Indonesia Tbk (BUAH), PT Black Diamond Resources Tbk (COAL), PT Champ Resto Indonesia Tbk (ENAK), dan PT Wulandari Bangun Laksana Tbk (BSBK). KRYA menorehkan potential gain 236%, EURO 222,9%, HATM 156,3%, ZATA 134%, DEWI 124%, ARKO 118,3%, BUAH 111,3%, COAL 106%, ENAK 104,1%, dan BSBK mencatatkan gain 104%. Adapun saham PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NANO) merupakan saham yang melemah paling dalam, minus 72%. Ke-54 emiten tersebut berhasil menggalang total dana Rp 32,3 triliun. (Yetede)

Rekomendasi Beli ke Saham Batu Bara Paling Dominan

KT1 23 Nov 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Rekomentasi beli (buy) terhadap saham-saham emiten batu bara mendominasi saran para analias kepada investor untuk beberapa waktu ke depan. Kenaikan harga saham emiten emas hitam ini diperkirakan masih akan berlanjut bahkan hingga tahun depan. Di antara saham emiten batu bara yang disebut bakal tetap mencetak gain adalah ITMG, ADRO, HRUM, PTBA, dan BUMI. Langkah transisi menuju energi bersih masyarakat dunia dengan mengurangi konsumsi batu baru hingga nol pada 2040 untuk beberapa negara belum berdampak signifikan terhadap harga komoditas ini. Ketegangan geopoplitik akibat perang Rusia-Ukraina yang mengganggu rantai pasok, membuat harga komoditas-komoditas energi dunia, termasuk batu bara, tetap tinggi. Terlebih, musim dingin segera tiba. Dari 15 rekomendarsi yang diberikan oleh enam sekuritas atas lima saham emiten baru bara, rekomentasi buy on weakness tercatat sebanyak delapan, speculative buy (1), buy (4), hold (2), dan tak ada rekomentasi sell. Keenam sekuritas itu adalah MNC Sekuritas, Ciptadana Sekuritas Asia, Sucor Sekuritas, CGS CIMB Sekuritas Indonesia, Mirae Asset Sekuritas Indonesia, dan Ekuator Swarna Investama. (Yetede)

Saham Bank Papan Atas Tetap Jadi Favorit

KT1 22 Nov 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Sejumlah saham perbankan diprediksi bakal menorehkan kenaikan harga yang atraktif hingga akhir tahun sejalan dengan performa perusahaan. Para analis memfavoritkan beberapa saham papan atas yang berpotensi mendulang gain, seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk, (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana secara teknikal merekomendasikan saham BBCA dengan kisaran buy pada level Rp 8.675- 8.775 dengan target harga pada Rp 9.000-9.175. Dia juga menyarankan BBRI dengan kisaran buy di Rp 4.370-4.500 dengan target harga Rp 4.700-4.850. Selain itu, Herditya memilih saham BBTN dengan kisaran buy Rp 1.475-1.510 dan target harga Rp 1.600-1.650. “Untuk BBNI, kami rekomendasikan range buy di Rp 8.800-9.050 dan target harga Rp 9.700-10.000,” ujarnya kepada Investor Daily, Senin (21/11/2022). 

Prospek Saham Emiten Teknologi Terbenam Kerugian

HR1 22 Nov 2022 Kontan (H)

Kerugian besar masih menghantui sejumlah emiten saham teknologi. Nilai kerugian yang cenderung terus membengkak telah membenamkan prospek saham emiten teknologi, terutama yang bergerak di sektor e-commerce. Terbaru, kerugian harus didekap PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Di sepanjang sembilan bulan 2022, GOTO meraup pendapatan Rp 7,96 triliun. Angka ini memang naik 134,03% secara tahunan dari Rp 3,40 triliun pada akhir September 2021. Alhasil, rugi bersih GOTO melejit 75,49% secara tahunan menjadi Rp 20,32 triliun. Ini adalah salah satu rekor kerugian terbesar emiten saham di Indonesia sepanjang sejarah. PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) juga masih dibayangi kerugian. Betul, per 30 September 2022, BUKA mencetak laba bersih Rp 3,62 triliun. Tapi laba itu didapat dari laba investasi yang belum dan sudah terealisasi Rp 5,13 triliun dari investasi di saham PT Allo Bank Tbk (BBHI). Setali tiga uang, kerugian juga masih dicetak PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli). Emiten teknologi yang baru melantai di bursa pada 8 November 2022 ini masih membukukan rugi Rp 2,5 triliun hingga semester I-2022. Kerugian emiten dengan kode saham BELI itu melonjak 125,22% secara tahunan dan tiga tahun terakhir, BELI masih rugi. Pada 2019, BELI merugi Rp 2,99 triliun, Rp 2,41 triliun di tahun 2020, dan minus Rp 3,35 triliun pada 2021.



MERABA NASIB SAHAM TEKNOLOGI

HR1 22 Nov 2022 Bisnis Indonesia (H)

Tekanan pada saham-saham emiten teknologi tak kunjung reda. Misi sejumlah emiten teknologi menempuh jalan yang lebih menguntungkan rupanya tak cukup menjadi bahan bakar pendorong pergerakan harga sahamnya. Kendati demikian, kalangan analis menilai masih ada peluang bagi saham-saham emiten teknologi untuk bangkit pada awal tahun depan, seiring penurunan inflasi di Amerika Serikat dan suku bunga The Fed yang selama ini amat berpengaruh. Jika ditengok, emiten teknologi yang memiliki bisnis marketplace alias lokapasar telah mengumumkan rencananya untuk mempercepat pergerakan bisnis di jalur menguntungkan. Salah satunya terungkap dalam laporan Google, Temasek dan Bain & Company bertajuk E-conomy SEA 2022 di mana PT Goto Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dan PT Bukalapak.com (BUKA) bakal menggenjot laju bisnis dalam kurun waktu tiga kuartal hingga setahun. Sayangnya, misi perusahaan belum tergambar dalam pergerakan saham mereka. Kemarin, Senin (21/11), saham GOTO tercatat terkoreksi 5,41% secara harian ke Rp210 per saham. Tak mengejutkan, lantaran kinerja keuangan kuartal III/2022 yang kemarin dirilis tak mengilap. Menanggapi situasi tersebut, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan inflasi, potensi resesi, krisis pangan dan energi, serta kenaikan suku bunga memang membawa awan mendung bagi bisnis teknologi. Namun, dia meramal nasib sejumlah emiten diperkirakan mulai berbalik pada 2023. Saham teknologi dinilai akan melaju seiring dengan turunnya inflasi di Amerika Serikat. Dengan demikian, momen koreksi harga bisa dijadikan momentum beli atau akumulasi.

Pilihan Editor