Financial Technology
( 558 )Amartha Bantu Pemulihan Ekonomi Perdesaan
PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) telah menyalurkan pendanaan senilai Rp 2,41 triliun kepada 506 ribu mitra pelaku usaha mikro hingga Mei 2020. Tingkat keberhasilan pengembalian pinjaman (TKB) 90 hari tercatat mencapai 99,14 persen.
Pendiri dan CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra menyampaikan, Amartha berkomitmen mendampingi mitra dan masyarakat desa untuk memulihkan ekonomi di perdesaan. Berbagai program bantuan diinisiasi, seperti pemberian masker, penyemprotan disinfektan, pembagian sembako, serta program edukasi Kesehatan. Ia yakin sektor ultramikro di perdesaan sangat tangguh dan bahkan bisa menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Dengan rekam jejak pembayaran yang baik, Amartha meyakini pemulihan bisnis dapat berjalan dengan lebih mudah dan cepat. Dalam mengurangi risiko gagal bayar, Amartha juga telah memperbarui algoritma sistem skor kredit dengan memasukkan parameter yang sensitif terhadap dampak Covid-19 bagi calon mitra.
Sebelumnya, Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) mengakui, penyaluran pembiayaan melalui tekfin peer-to-peer (P2P) lending mengalami penurunan selama pandemi Covid-19. Ketua Harian AFPI, Kuseryansyah, menyampaikan, masih ada beberapa sektor yang mengalami peningkatan penyaluran pembiayaan, seperti distribusi di sektor health care, begitu juga sektor terkait distribusi pangan, produk agrikultur, dan makanan kemasan. Sektor telekomunikasi dan ekosistem daring juga semakin banyak digunakan untuk mendukung kehidupan sehari-hari dan berpotensi untuk berkembang terus seiring pergeseran perilaku konsumsi masyarakat. Menurut hasil survei AFPI pada pertengahan Mei lalu, sebanyak 90 platform menyatakan memiliki TKB stabil, 34 platform mengalami penurunan TKB, dan enam platform mengaku mengalami kenaikan TKB.
Tekfin dan Pemulihan Pandemi di Swiss
Dari kantornya di Bern, Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein Muliaman D. Hadad turut menjadi saksi keberhasilan Pemerintah Swiss menangani pandemi virus corona dan menanggulangi dampaknya.
Bahkan dalam laporan analisis Deep Knowledge Group, Swiss ditempatkan di posisi nomor satu sebagai tempat paling aman di dunia dari virus corona. Bukan saja ditopang oleh ekonomi yang kuat, melainkan disertai pula dengan kebijakan yang berdasar ilmu pengetahuan dan kehati-hatian dalam melonggarkan lockdown sehingga tidak mengorbankan keselamatan masyarakat.
Dalam bincang-bincang secara langsung di Instagram Bisnis. com, Senin (8/6), Muliaman mengatakan, seperti di negara lain, hampir seluruh industri terpukul pandemi terutama pariwisata dan transportasi. Namun, ada dua sektor yang relatif stabil diterpa pandemi di Swiss, yakni keuangan dan farmasi.
Di sektor keuangan, Pemerintah Swiss menggadang-gadang negaranya menjadi pemain penting industri teknologi finansial (tekfin) di tingkat global. Adapun di tengah pandemi, tekfin diharapkan dapat menopang pemulihan ekonomi.
Dari stimulus ekonomi yang dikucurkan oleh pemerintah Swiss sebesar 65 miliar franc, 40 juta franc di antaranya diberikan untuk perusahaan tekfin agar bisa bertahan di tengah pandemi dan memperkuat diri saat pemulihan.
Administrasi Pajak Federal (FTA) Swiss menyatakan membuka diri untuk aktivitas penukaran data keuangan atau automatic exchange of information (AEoI) dengan negara tertentu untuk menghindari penyalahgunaan akses finansial seperti penggelapan pajak. Adapun implementasi AEoI Indonesia dan Swiss dimulai 2017.
Adapun di sektor farmasi, Muliaman mengatakan pemerintah dan sektor swasta di Swiss tengah bahu-membahu mengembangan vaksin virus corona. Hingga kini ada 7 hingga 8 bakal calon vaksin produksi perusahaan-perusahaan Swiss yang potensial untuk dikembangkan dan diproduksi massal.
Trend Pendanaan Startup - Gemerincing Seed Funding Kembali Nyaring
Pendanaan ke perusahaan rintisan tahap awal mulai kembali diminati oleh para pemodal ventura di tengah pandemi Covid-19, kendati model investasi tersebut sebelumnya tercatat lebih sering menyebabkan kerugian bagi investor.
Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia Edward Ismawan Chamdani menilai minat investasi ke startup tahap awal (seed funding) di Indonesia masih tinggi, meski masih ada beberapa hal yang patut menjadi catatan.
Tingginya minat investor untuk seed funding, lanjut Edward, juga tidak lepas dari potensi pangsa pasar RI yang dinilai mendukung perusahaan rintisan tahap awal untuk terus bertumbuh. Di samping itu, portofolio investor yang makin baik turut memengaruhi kelancaran siklus investasi di beberapa tahapan startup.
Namun, lanjutnya, hal itu tidak mudah lantaran kompetisi antarperusahaan rintisan pascapandemi Covid-19 bakal makin ketat. Ketatnya kompetisi tersebut dikatakan menjadi salah satu risiko investasi startup saat ini.
Sekadar catatan, belum lama ini salah satu perusahaan multinasional asal Jepang, SBI Holdings, membentuk dana usaha patungan dengan perusahaan modal ventura Indonesia, Kejora Capital Management Pte. Ltd., untuk dikucurkan kepada startup-startup tahap awal di Tanah Air.
Mulai diminatinya lagi pendanaan ke startup tahap awal merupakan sebuah anomali. Pasalnya, pendanaan startup tahap awal Indonesia, yang pada 2019 tercatat paling tinggi di Asia Tenggara, justru memiliki riwayat ‘gagal’ yang tidak kalah tinggi.
Berdasarkan laporan Cento Ventures berjudul Southeast Asia Tech Investment in 2019, dari total investasi startup di Indonesia sepanjang 2014—2019 yang mencapai US$9,42 miliar, return of investment (RoI)-nya hanya US$1,29 miliar sehingga rasio likuiditas terhadap investasi baru 0,1 kali lipat.
Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia Handito Joewono berpendapat mulai maraknya investasi seed funding tidak terlepas dari kinerja industri startup RI yang diprediksi kembali normal dalam waktu relatif cepat.
Partner East Ventures (EV) Melisa Irene menjelaskan seed investors tidak lagi cenderung menghindari risiko dan memilih menanamkan modal untuk jangka menengah dan jangka panjang di startup yang sudah sangat kompetitif dengan harga premium seperti pada masa sebelum pandemi Covid-19.
Sementara itu, Investment Associate Ideosource Venture Eldo Wana Kusuma mengatakan tingginya minat pemodal ventura terhadap startup tahap awal tidak terlepas dari potensi bisnis yang terus dinilai mampu berkembang secara eksponensial dalam waktu singkat.
Pinjaman Fintech Masih Mengalir Deras
Bisnis pinjam meminjam melalui platform financial technology (fintech) masih deras di tengah pandemi korona. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2020 mencatatkan akumulasi penyaluran pinjaman mencapai Rp 106,06 triliun atau tumbuh 186,54% year on year (yoy) dari April 2019 dengan jumlah outstanding pinjaman hingga April 2020 mencapai Rp 13,75 triliun yang disalurkan lewat 161 fintech.
Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah menambahkan selama masa wabah Covid-19 ini secara umum penurunan terjadi pada sebagian besar platform penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending. Tapi ada beberapa sektor yang terjadi peningkatan penyaluran pembiayaan diantaranya distribusi healthcare, terutama pada UMKM farmasi, obat-obatan dan alat pendukung kesehatan. Begitu juga sektor terkait distribusi pangan, produk agrikultur, makanan kemasan. Di masa wabah Covid-19 ini, ada kabar gembira dari beberapa platform yang tetap mencatatkan pertumbuhan pencairan. Dengan kekuatan inovasi produk dan adaptasi dari artificial intelligent (credit scoring) dalam pengelolaan risiko, mereka masih mencatatkan pertumbuhan spektakuler hingga lebih dari 100%.
Di tengah derasnya pinjaman, fintech juga banyak menerima permintaan restrukturisasi dari para peminjam. Jumlah restrukturisasi yang disetujui Rp 236,99 miliar. Jumlah pinjaman yang sudah direstrukturisasi tersebut berasal dari 674.068 transaksi pinjaman. Berbeda dengan industri keuangan lain, seperti bank dan multifinance, persetujuan restrukturisasi datang dari pemberi pinjaman.
Tekfin - Pemberi Pinjaman Mesti Setuju
Industri teknologi finansial di bidang pinjam-meminjam uang antarpihak juga merestrukturisasi pinjaman bagi peminjam yang terkena dampak Covid-19. Penyelenggara tekfin juga berkomitmen melindungi pemberi pinjaman dari risiko pengembalian pinjaman yang macet di tengah pandemi.
Hasil survei Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) menunjukkan, 88 platform pinjam-meminjam uang antar pihak berbasis teknologi atau peer to peer lending menerima permohonan restrukturisasi dari peminjam. Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI Tumbur Pardede mengatakan Pinjaman yang difasilitasi dan disetujui pemberi pinjaman senilai Rp 237 miliar dari 674.068 transaksi dari keseluruhan 1,9 juta transaksi restrukturisasi dengan nilai Rp 1,08 triliun atau hanya sekitar 34%.
Dalam restrukturisasi pinjaman, lanjut Tumbur, penyelenggara tekfin tetap perlu mempertimbangkan dan melindungi risiko pemberi pinjaman. Oleh karena itu, penyelenggara tekfin tidak berwenang merestrukturisasi pinjaman tanpa persetujuan pemberi pinjaman namun tetap memfasilitasi pengajuan.
Ketua Harian AFPI Kuseryansyah mengakui belum ada aturan baku mengenai pinjaman yang direstrukturisasi. Namun, setelah mendapatkan keringanan, pinjaman akan dijadikan kategori lancar. Peminjam yang terkena dampak pandemi Covid-19 kebanyakan dari sektor pariwisata, perhotelan, dan ritel fisik. Adapun restrukturisasi kredit dapat berupa perpanjangan tenor, mengubah jumlah pokok pinjaman, dan mengubah nilai bunga pinjaman.
Kuseryansyah mengakui penyaluran pembiayaan melalui tekfin turun selama pandemi Covid-19. Namun, AFPI melihat masih ada beberapa sektor yang penyaluran pembiayaannya meningkat, di antaranya alat kesehatan, obat-obatan, alat pendukung kesehatan, distribusi pangan, produk agrikultur, dan makanan kemasan.
Facebook dan Paypal Investasi di Gojek
Gojek mengumumkan bahwa Facebook dan PayPal menjadi investor baru dalam penggalangan dana terkini tanpa menyebutkan besaran investasinya. Sementara itu, pada saat yang sama, Google dan Tencent menambah investasi setelah menanamkan uangnya pada penggalangan dana putaran sebelumnya. Gojek merupakan perusahaan Indonesia pertama yang menerima investasi dari Facebook, seiring dengan keinginan Facebook menciptakan peluang bagi dunia bisnis di Indonesia, termasuk melalui layanan instant messaging yang sudah digunakan secara luas, yakni Whatsapp.
Co-CEO Gojek Andre Soelistyo mengatakan, bergabungnya Facebook, PayPal, Google, dan Tencent merupakan pengakuan bahwa perusahaan teknologi paling inovatif di dunia melihat dampak positif Gojek terhadap Indonesia dan Asia Tenggara. Sumber daya perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di dunia itu akan disinergikan dengan teknologi, pendekatan, dan fokus lokal yang dimiliki Gojek. Tujuannya guna mendorong adopsi sistem pembayaran digital secara cepat, sehingga mendatangkan manfaat bagi jutaan usaha dan orang di Indonesia dan Asia Tenggara.
Layanan pembayaran digital dari Gojek, yaitu Gopay, sejak lama fokus untuk meningkatkan akses ekonomi digital bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bergabungnya perusahaan-perusahaan teknologi global itu bersama Gojek diharapkan akan membantu percepatan misi tersebut, di tengah mayoritas UMKM di Asia Tenggara masih mengandalkan uang tunai dalam bertransaksi. Karena, sebagian besar masyarakat di wilayah ini belum terjangkau layanan perbankan. Hal ini juga turut di tuturkan Chief Operating Officer Whatsapp Matt Idema, ia berpendapat kerja sama ini bisa membantu jutaan UMKM dan pelanggannya untuk bergabung di komunitas ekonomi digital terbesar Asia Tenggara.
Gojek dan PayPal menyepakati bahwa layanan pembayaran PayPal akan diintegrasikan ke Gojek. Kedua perusahaan ini akan berkolaborasi dan membuka akses bagi para pengguna Gopay ke jaringan PayPal yang terdiri atas 25 juta merchant di seluruh dunia. Head of Corporate Development and Ventures for APAC PayPal, Farhad Maleki menyampaikan semangat dari pihaknya mengenai hubungan strategis dengan Gojek untuk memperluas akses dan memberikan pengalaman baru bagi para pengguna.
Sejak diluncurkan tahun 2015, Gojek telah berhasil membantu ratusan ribu merchant untuk mendigitalisasi dan memberikan akses kepada lebih dari 170 juta pengguna Gojek di seluruh Asia Tenggara. Sebagian besar dari pencapaian itu dikontribusi dari Gofood dan perluasan cakupan layanan Gopay pada sektor lain di dalam maupun di luar ekosistem Gojek.
Pengawasan Investasi - Entitas Ilegal Semakin Marak
Satuan Tugas Waspada Investasi (Satgas Waspada Investasi) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tercatat telah mengamankan 61 entitas investasi ilegal hingga April 2020.
Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) Tongam L. Tobing menjelaskan bahwa jumlah entitas ilegal itu terus meningkat dari waktu ke waktu. Pihaknya menyatakan sampai saat ini telah menemukan adanya 2.500 perusahaan teknologi finansial ilegal yang memberikan pinjaman dana kepada masyarakat.
Selain temuan fintech ilegal, Satgas juga menemukan 50 aplikasi Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang melakukan penawaran pinjaman online ilegal yang kegiatannya tidak sesuai dengan prinsip perkoperasian. Padahal sesuai ketentuan yang berlaku, KSP dilarang memberikan pinjaman di luar anggotanya.
Dia menjelaskan bahwa setidaknya terdapat dua faktor utama yang membuat entitas investasi ilegal terus menjamur. Pertama, terbukanya akses komunikasi melalui teknologi informasi sehingga bisa menjangkau khalayak luas. Kedua, literasi masyarakat terhadap produk jasa keuangan dinilai masih rendah.
Tongam menegaskan bahwa investasi ilegal bisa merugikan masyarakat, karena berdasarkan temuan SWI, hampir tidak ada uang masyarakat yang kembali 100% dari investasi ilegal. Dia menyarankan agar masyarakat yang terlanjur tergabung menjadi nasabah entitas investasi ilegal agar segera menarik kembali uangnya dan dapat melaporkan entitas ilegal ke pihak kepolisian atau ke Satgas Waspada Investasi.
Adapun terkait dengan fintech ilegal, pihaknya telah berupaya mengamankan entitas-entitas ilegal itu dengan cara bekerja sama dengan Kemenkominfo untuk memblokir situs web dan aplikasi agar masyarakat tidak dapat mengakses layanan pinjaman online tersebut.
Kegiatan pinjaman online ilegal ini sangat merugikan masyarakat karena mengenakan bunga dan fee yang sangat tinggi, jangka waktu pinjaman singkat, dan diduga melakukan penyebaran data pribadi serta intimidasi pada saat peminjam tidak dapat mengembalikan pinjaman tepat waktu.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyebutkan telah menerima banyak pengaduan tentang praktik usaha fintech ilegal. Selain itu, YLKI juga merekomendasikan kepada OJK untuk melakukan penindakan hukum terhadap praktik dari fintech ilegal yang dinilai telah merugikan konsumen.
Platform Pembiayaan UKM Validus Raih Pendanaan US
Validus, platform pembiayaan usaha kecil dan menengah (UKM) terbesar di Singapura, juga hadir di Indonesia (Batumbu) dan Vietnam (Validus Vietnam), berhasil meraih pendanaan Seri B senilai lebih dari US$ 14 juta dengan komitmen permodalan US$ 20 juta. Babak pendanaan ini dipimpin Vertex Growth Fund (Vertex Growth) dan Orion Fund milik Kuok Group yang dikelola K3 Venture Partners. Kedua pihak bergabung dengan sejumlah penyedia dana Validus, termasuk FMO (bank pembangunan publik-privat asal Belanda), Vertex Ventures Asia Tenggara dan India, Openspace Ventures, AddVentures (Siam Cement Group) asal Thailand, serta Vina Capital Ventures asal Vietnam yang kembali memodali dan mendukung Validus dalam babak pendanaan terbaru ini
Salah satu pendiri Validus Nikhilesh Goel mengatakan, dengan dana segar ini, Validus akan terus mengembangkan dana secara besar-besaran dalam teknologi dan inovasi, serta memperkuat posisinya di tiga negara Asean yang menjadi wilayah operasionalnya. Validus juga akan mendanai usaha barunya di Thailand pada kuartal IV-2020. Managing Director Vertex Growth James Lee menambahkan, saat ini industri tengah berubah sebab permintaan terhadap pembiayaan usaha dan manajemen arus kas UKM berkembang pesat. Pihaknya pun yakin, Validus berada di posisi yang tepat untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan UKM dengan terus menjalankan pendekatan dengan prinsip kehatihatian di tengah kondisi saat ini
Sementara, MX Kuok dari K3 Ventures mengatakan, pihaknya juga sangat terkesan dengan kepemimpinan dan luasnya pengalaman Validus dalam pengelolaan kredit. “Tim mereka telah menunjukkan keahlian unik untuk menghimpun poin-poin data penting. Mereka juga memanfaatkan berbagai fitur machine learning ketika mencari sejumlah UKM potensial namun belum memperoleh layanan perbankan biasa,” kata Kuok
P2P Lending Andalkan Segmen Produktif
Pinjaman produktif menjadi salah satu saluran bisnis yang diandalkan oleh penyelenggara jasa keuangan berbasis digital atau teknologi finansial (tekfin) untuk menjaga kinerja pada masa pandemi Covid-19.
Kuseryansyah, Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 memberikan dampak lintas sektoral, tak terkecuali terhadap industri jasa keuangan seperti tekfin di segmen pinjaman langsung tunai atau peer to peer (P2P) lending.
Menurut Kuseryansyah, pihaknya menemukan kecenderungan penyaluran pembiayaan untuk sektor produktif meningkat selama masa pandemi yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan usaha dalam kondisi saat ini. Sebagian besar peningkatan pembiayaan kepada sektor produktif.
Industri fintech P2P lending tercatat turut terdampak oleh pandemi Covid-19. Pada Maret 2020, saat kasus pertama Covid-19 diumumkan di Indonesia, outstanding pinjaman fintech tercatat senilai Rp14,79 triliun.
Namun, jika dilihat dari penyaluran pinjaman setiap bulan, terdapat penurunan volume pembiayaan pada masa pandemi.
BRI Syariah Jajaki Penyaluran KUR Lewat Perusahaan Tekfin
BRI Syariah tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan teknologi finansial (tekfin) dalam penyaluran pembiayaan baik kredit usaha rakyat (KUR) maupun dana bergulir, seiring dengan upaya mitigasi penyebaran wabah dan pemberlakuan pembatasan sosial. Sekretaris Perusahaan BRI Syariah Mulyatno Rachmanto, mengatakan bahwa BRI Syariah telah menyalurkan Rp 1,28 miliar pembiayaan KUR selama Januari-Maret 2020. Mayoritas KUR disalurkan pada sektor produksi industri pengolahan, jasa-jasa, serta perikanan dan pertanian. Penyaluran KUR BRI Syariah terus meningkat setiap tahunnya.
CEO perusahaan tekfin peer to peer lending, PT Ammana Fintek Syariah, Lutfi Adhiansyah menyampaikan, sudah ada pembicaraan antara pemerintah dengan asosiasi tekfin terkait hal penyaluran dana namun masih harus ada pembahasan terkait sisi regulasi. Pemerintah bisa menyalurkan dana untuk tekfin melalui perbankan yang sudah memiliki credit scoring sesuai standar pemerintah.
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir menyampaikan, sudah banyak bank yang bekerja sama channeling dengan perusahaan tekfin untuk menyalurkan kredit atau pembiayaan. Menurut Iskandar, kerja sama yang lebih luas di antara bank dengan tekfin sangat terbuka, termasuk dalam penyaluran KUR syariah.
Pilihan Editor
-
Agenda Kebijakan Biden Akan Tersusun di 2022
29 Dec 2021 -
Tujuh Kantor Pajak Besar Penuhi Target Setoran
14 Dec 2021 -
Rencana Riset dan Inovasi 2022 Disiapkan
14 Dec 2021 -
Yuk, Menggali Utang di Negeri Sendiri
14 Dec 2021









