Ekonomi Internasional
( 642 )Transisi Energi Indonesia Tetap Melaju
Tanpa dukungan AS, Indonesia bersama
sejumlah negara tetap melanjutkan komitmen transisi energi demi mewujudkan net
zero emission atau nol emisi karbon. Indonesia menargetkan pengurangan emisi 31,89
% secara mandiri pada 2030. Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto
menegaskan bahwa mundurnya AS dari Perjanjian Paris (Paris Agreement) tidak
menghalangi komitmen Indonesia dan negara-negara yang tergabung dalam
International Partners Group (IPG) untuk mencapai nol emisi karbon. Penegasan
komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Just Energy Transition
Partnership (JETP). Jerman dan Jepang menjadi co-lead atau negara pemimpin dalam
inisiatif JETP yang diluncurkan pada KTT G20 di Bali tahun 2022.
JETP merupakan kemitraan Indonesia,
IPG, dan GFANZ (koalisi keuangan global yang dibentuk pada COP26) untuk mendukung
transisi energi Indonesia jadi salah satu penerima awal pendanaan bersama Afsel,
Senegal dan Vietnam. ”Keluarnya AS dari Paris Agreement tidak mengurangi
komitmen sembilan negara untuk mendukung pencapaian net zero emission di
Indonesia,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (24/3) seusai
rakor bersama perwakilan Dubes Jepang, Jerman, Inggris, Perancis, Denmark,
Norwegia, Italia, Kanada, dan Uni Eropa, serta sejumlah lembaga internasional.
Hingga 2030, Indonesia menetapkan target pengurangan emisi sebesar 31,89 % secara
mandiri dan hingga 43 % apabila mendapat
dukungan pendanaan internasional. (Yoga)
Tekanan Inflasi Diwaspadai BOJ
Hasil pertemuan Bank of Japan (BOJ) minggu lalu menunjukkan masih perlunya mewaspadai tekanan inflasi yang disebabkan oleh makanan. Ini berarti waku bunga dapat dinaikkan lebih cepat dari perkiraan. Mengikuti jejak bank-bank sentral lain, seiring meluasnya kebijakan tarif pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap para mitra dagangnya, telah membuat ketldak pastian arah kebijakan moneter Jepang meningkat. Para pembuat kebijakan di Jepang pun hurus melangkah dengan hati-hati ketika mencoba menilal implikasi ekonomi dari bea masuk AS yang sangut cepat. Sementara, tanda-tanda meningkatnya inflasi makanan yang menambah prospek kenaikan upah berkelanjutan, kemungkinan bakal membuat BOJ tetap berada di jalur untuk menaikkan suku bunga dengan kecepatan stabil. Langkah ini berbeda dengan penurunan suku bunga yang disinyalkan oleh rekan-rekanya di AS dan Eropa.
Gubernur BOJ, Kazuo Ueda mengeluarkan peringatan tentang bagaimana tarif AS yang lebih tinggi memengaruhi ekonomi global. Ini disampaikan bersamaan dengan keputusan bank mempertahankan suku bunga pada Rahu (19/03/2025). Tetapi BOJ dapat memasukkan sampai batas tertentu dampak potensial dari tarif Trump dalam laporan prospek kuartalan di pertemuan berikutnya pada 30 April-1 Mei, ungkap Ueda, yang dilansir Reuters pada Senin (24/03/2025). Ia juga mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga pada pertemuan tersebut tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan, meskipun konsensus saat ini adalah untak pengetatan yang akan terjadi di kuartal Ill-2025. Ueda mengimbangi kekhawatiran atas ketidakpastian global dengan sinyal hawkish pada prospek harga domestik. Ini menunjukkan, tekad B0J tidak tergoyahkan untuk terua menaikkan suku bunga jangka pendek dari level 0.5%. (Yetede)
Pemerintah Perlu Melihat Kondisi Riil Dengan Jeli
Kendati data ekonomi makro masih menunjukkan
tren positif, sejumlah ekonom meminta pemerintah lebih jeli dalam melihat
realitas di lapangan, utamanya soal ketahanan ekonomi kelompok masyarakat menengah
ke bawah. Survei kinerja UMKM dan rasio gini menjaditolok ukur yang perlu
diwaspadai untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Guru Besar Fakultas
Ekonomi Bisnis UI, Telisa Aulia Falianty menyoroti adanya ketidaksinkronan antara
data ekonomi makro dan data mikro yang memotret perilaku konsumen untuk
memastikan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia. Secara agregat, data makro
sebagian besar masih baik karena kelompok ekonomi kelas atas sedang mendominasi
kinerja yang baik.
”Jadi, kita juga harus cukup kritis
melihat keterkaitan antara data makro dan mikro. Data mikro menggambarkan
realitas di lapangan. Perlu dilengkapi dengan data komprehensif dari berbagai
survei dan pengecekan langsung lapangan untuk kesimpulan yang lebih solid,”
ujar Telisa, Rabu (19/3). Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, di
Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/3) malam, menerangkan, pertumbuhan ekonomi
Indonesia secara spasial relatif baik. Hal itu sejalan pertumbuhan ekonomi 5,03
% pada 2024. Data ini mendukung catatan tingkat inflasi inti pada Februari 2025
positif di angka 2,48 %. Inflasi inti di level positif menjadi indikator masih baiknya
daya beli masyarakat, terutama untuk barang-barang sekunder atau tersier.
Kendati demikian, menurut Telisa,
untuk membuktikan struktur fundamental ekonomi RI saat ini tetap kuat, perlu dipastikan
adanya keseimbangan ketahanan ekonomi, yaitu antara kelompok ekonomi kelas
atas, menengah, dan bawah. Alasannya, dalam sejarah krisis keuangan, stabilitas
data ekonomi makro tidak cukup karena sifat dari efek domino atau contagion dan
self-fulfilling panics atau krisis akibat ekspektasi pesimis investor bisa
datang dengan cepat dan mengikis fundamental makro sedikit demi sedikit. ”Terlebih
lagi, kita perlu memastikan bahwa fundamental itu seimbang dari sisi kekuatan
dan daya tahan antara kelompok atas, menengah, dan bawah tersebut,” ujarnya. (Yoga)
Di Tengah Dinamika Global, BI Tahan Suku Bunga Acuan
BI memutuskan mempertahankan suku
bunga acuan pada level 5,75 %, dengan mempertimbangkan ketidakpastian global
yang masih berlanjut sekaligus menjaga stabilitas perekonomian domestik. BI
juga tetap mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 5 % dan suku
bunga lending facility 6,5 %. Hal itu disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo
dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI di Jakarta, Rabu
(19/3). Keputusan itu konsisten dalam upaya menjaga perkiraan inflasi pada 2025
dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 1,5-25 persen. Hal tersebut sejalan
pula dengan upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental
di tengah ketidakpastian yang tetap tinggi seraya tetap mendorong pertumbuhan ekonomi
secara berkelanjutan.
BI akan mencermati prospek inflasi dan
pertumbuhan ekonomi dalam memanfaatkan ruang pemangkasan suku bunga acuan
dengan mempertimbangkan pergerak an nilai tukar rupiah. Adapun kebijakan
makroprudensial dan sistem pembayaran terus dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan. Menurut
Perry, ketidakpatian global masih tetap tinggi akibat kebijakan tarif AS yang
semakin luas. Hal itu berdampak terhadap dinamika perekonomian global yang pada
2025 diperkirakan tumbuh 3,2 %. ”Tetap tingginya ketidakpastian global itu
memerlukan respons kebijakan yang tepat dan terkoordinasi dengan baik untuk
memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi
domestik,” ujarnya. (Yoga)
Di Tengah Dinamika Global, BI Tahan Suku Bunga Acuan
BI memutuskan mempertahankan suku
bunga acuan pada level 5,75 %, dengan mempertimbangkan ketidakpastian global
yang masih berlanjut sekaligus menjaga stabilitas perekonomian domestik. BI
juga tetap mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 5 % dan suku
bunga lending facility 6,5 %. Hal itu disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo
dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI di Jakarta, Rabu
(19/3). Keputusan itu konsisten dalam upaya menjaga perkiraan inflasi pada 2025
dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 1,5-25 persen. Hal tersebut sejalan
pula dengan upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental
di tengah ketidakpastian yang tetap tinggi seraya tetap mendorong pertumbuhan ekonomi
secara berkelanjutan.
BI akan mencermati prospek inflasi dan
pertumbuhan ekonomi dalam memanfaatkan ruang pemangkasan suku bunga acuan
dengan mempertimbangkan pergerak an nilai tukar rupiah. Adapun kebijakan
makroprudensial dan sistem pembayaran terus dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan. Menurut
Perry, ketidakpatian global masih tetap tinggi akibat kebijakan tarif AS yang
semakin luas. Hal itu berdampak terhadap dinamika perekonomian global yang pada
2025 diperkirakan tumbuh 3,2 %. ”Tetap tingginya ketidakpastian global itu
memerlukan respons kebijakan yang tepat dan terkoordinasi dengan baik untuk
memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi
domestik,” ujarnya. (Yoga)
Ekonomi Terancam Stagnasi akibat Merosotnya Kepercayaan Pasar
Pasar menilai arah kebijakan ekonomi pemerintah
masih belum jelas, sedang koordinasi antar sektor dinilai kurang sinkron selama
triwulan I-2025. Akibatnya, kepercayaan pasar terus melemah seiring meningkatnya
ketidakpastian kebijakan. Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang bahkan
sempat menyebabkan penundaan perdagangan pada sesi pembukaan pertama, Selasa
(18/3) jadi salah satu refleksi kondisi tersebut. Di sisi lain, berbagai indikator
menunjukkan sinyal pelemahan ekonomi yang berisiko membuat pertumbuhan stagnan
di kisaran 5 %, atau mengalami stagnasi. Pada penutupan pasar, IHSG berada di
level 6.223,39 atau melemah 3,84 % dibanding penutupan hari sebelumnya, sekaligus
mencatatkan kinerja terburuk sejak 2021.
Bahkan, IHSG sempat jatuh hingga ke level
6.011,84 pada penutupan sesi pertama perdagangan atau anjlok 6 %. Untuk meredam
pelemahan lebih dalam, BEI bahkan sempat menghentikan perdagangan saham selama
30 menit pada pukul 11.19 WIB. Penurunan IHSG ini tidak sejalan dengan kinerja
beberapa pasar saham harian di bursa luar negeri yang justru positif. Kondisi
ini menandakan faktor utama kejatuhan bursa saham berasal dari domestik. Ekonom
senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan, kondisi ekonomi
domestik yang sedang bermasalah dapat mengakibatkan perekonomian Indonesia tumbuh
rendah. Bahkan, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025
hanya 4,9 %. (Yoga)
Ekonomi Terancam Stagnasi akibat Merosotnya Kepercayaan Pasar
Pasar menilai arah kebijakan ekonomi pemerintah
masih belum jelas, sedang koordinasi antar sektor dinilai kurang sinkron selama
triwulan I-2025. Akibatnya, kepercayaan pasar terus melemah seiring meningkatnya
ketidakpastian kebijakan. Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang bahkan
sempat menyebabkan penundaan perdagangan pada sesi pembukaan pertama, Selasa
(18/3) jadi salah satu refleksi kondisi tersebut. Di sisi lain, berbagai indikator
menunjukkan sinyal pelemahan ekonomi yang berisiko membuat pertumbuhan stagnan
di kisaran 5 %, atau mengalami stagnasi. Pada penutupan pasar, IHSG berada di
level 6.223,39 atau melemah 3,84 % dibanding penutupan hari sebelumnya, sekaligus
mencatatkan kinerja terburuk sejak 2021.
Bahkan, IHSG sempat jatuh hingga ke level
6.011,84 pada penutupan sesi pertama perdagangan atau anjlok 6 %. Untuk meredam
pelemahan lebih dalam, BEI bahkan sempat menghentikan perdagangan saham selama
30 menit pada pukul 11.19 WIB. Penurunan IHSG ini tidak sejalan dengan kinerja
beberapa pasar saham harian di bursa luar negeri yang justru positif. Kondisi
ini menandakan faktor utama kejatuhan bursa saham berasal dari domestik. Ekonom
senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan, kondisi ekonomi
domestik yang sedang bermasalah dapat mengakibatkan perekonomian Indonesia tumbuh
rendah. Bahkan, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025
hanya 4,9 %. (Yoga)
Prospek Industri Alas Kaki Cerah
Dalam setahun terakhir, Indonesia menjadi pilihan utama bagi merek-merek ternama dunia seperti Nike dan Adidas untuk memperluas produksi mereka. Hal ini menunjukkan industri alas kaki memiliki prospek yang cerah. Direktur Eksekutif Asostasi Persepatuan Indonesia (Aprixindo) Yoseph Billie Dosiwoda menerangkan, industri alas kaki sudah 30 tahun ada di Indonesia, yang membuat Skills dan knowledgenya sudah terbangun. Begitu pula ekosistem bahan baku dan industri jasa pendukung nya. "Akan lebih baik lagi jika pemerintah membenahi sektor perburuhan, memperbaiki logistik dan transportasi (jalur domestikdan pelayaran internasional), serta segera menyelesaikan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa," ucapnya di Jakarta, Selasa (18/3/2025).
Beberapa investor industri alas kaki dan bahan bakunya sudah banyak yang melirik Indonesia untuk ekspansi, tapi tertunda karena formulasi pengupahan dicabut dan menyebabkan upah buruh naik secara drastis. "Saat ini dimana kondisi ekonomi global sedang tidak terlalu baik, sayangnya kondisi internal Indonesia juga kurang kompetitif," ucap dia. Untuk jenama besar yang orientasinya ekspor, kondisi industrinya ditentukan oleh kondisi permintaan di pasar global dan apakah Indonesia merupakan negara yang kompetitif. Biaya operasional dan logistik masih tinggi, akses pasar ke negara-negara konsumen sepatu seperti Uni Eropa tidak terlalu bagus disbanding Vietnam dan Kamboja,"ucap Billie. (Yetede)
Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI di Bawah 5%
Memilih Investasi dan Mengatur Keuangan
Situasi perekonomian digelayuti
ketidakpastian. Arah kebijakan rezim baru pemerintahan AS memicu gejolak
geopolitik global. Kondisi ekonomi domestik juga menunjukkan kerentanannya. Di
sektor keuangan, misalnya, nilai tukar rupiah dan pasar saham dalam satu momentum
kompak terjerembap akibat hengkangnya investor asing dari pasar keuangan domestik.
Selain karena dampak situasi global, mereka juga mengalihkan aset investasinya
lantaran ragu dengan arah kebijakan pemerintah, termasuk pengelolaan fiskal ke
depan. Pada 28 Februari 2025, rupiah menyentuh titik pelemahan terdalamnya
sejak 2020, yakni ke level Rp 16.575 per USD atau terdepresiasi 2,58 % secara
tahun kalender berjalan. Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) amblas
ke level 6.300 atau terendah sejak 2021.
Di tengah gejolak tersebut, masyarakat
turut menghadapi kenaikan harga barang-barang dari tahun ke tahun. Meski laju
inflasi beberapa tahun terakhir terjaga di kisaran 1,5-3,5 %, kenaikan biaya
hidup kian menggerus dompet masyarakat hingga muncul istilah makan tabungan.
Kelas menengah bawah menjadi kelompok paling riskan terdampak berbagai gejolak
ekonomi yang tengah terjadi. Dengan kemampuan finansial yang memadai di atas
kelompok miskin, mereka tidak menerima bantuan sosial pemerintah. Namun, itu
sekadar pas-pasan sehingga rentan tergelincir turun kelas. Agar masyarakat
kelas menengah tidak terperosok ke dalam jurang kemiskinan, ada beberapa hal
yang bisa dilakukan, mulai dari mengatur keuangan hingga memilih instrumen
investasi, sebagai antisipasi terhadap berbagai risiko ke depan.
Di tengah biaya hidup yang terus
meningkat, sementara penghasilan cenderung jalan di tempat, penting bagi warga
kelas menengah untuk mengelola pengeluarannya. Mulai dari mengidentifikasi pengeluaran
rutin sehari-hari, untuk kebutuhan, keinginan, dan untuk ditabung. Dimana 10-20 % dari total penghasilan dapat
dialokasikan untuk ditabung, untuk dana darurat, serta untuk berinvestasi. Head
of Deposit and Wealth Management UOB Indonesia, Vera Margaret berpendapat, dibutuhkan
juga kesadaran menahan keinginan untuk sesuatu yang lebih penting. Tidak
mengherankan jika belakangan muncul gerakan untuk mengurangi konsumsi
berlebihan dan mendorong gaya hidup minimalis (no buy challange) yang mulai
populer, pada 2025. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022







