;
Tags

Ekonomi Internasional

( 642 )

Presiden China Xi Jinping Mengambil Langkah Konsolidasi di Tiga Negara Bagian

KT1 12 Apr 2025 Investor Daily (H)
Presiden China Xi Jinping mengambil langkah konsolidasi dengan beberapa negara tetangga terdekatnya di Asean, seiring meningkatnya perang dagang dengan AS. Menurut laporan, Xi akan melawat ke Vietnam, Malaysia, dan Kamboja pada minggu depan. Kantor berita Xinhua menyebutkan bahwa Xi dijadwalkan mengunjungi Vietnam pada 14 hingga 15 April 2025. Kemudian mengunjungi Kamboja dan Malaysia mulai 15 hingga 18 April. Langkah ini diambil setelah dia berjanji bakal memperdalam kerja sama menyeluruh dengan negara-negara tetangga China itu. Perjalanan yang jarang terjadi ini merupakan upaya diplomatik pribadi yang terkenal oleh Xi, yang terakhir kali mengunjungi Kamboja dan Malaysia masing-masing sembilan dan 12 tahun yang lalu. Sedangkan kunjungan terakhir ke Vietnam belum terlalu lama, yakni pada bulan Desember 2023.  Dua pejabat Vietnam mengatakan, China dan Vietnam diperkirakan menandatangani sekitar 40 perjanjian pada Senin (14/4/2025), termasuk beberapa  di antaranya mengenai jalur kereta api. Demikian dikutip Reuters pada Jumat (11/04/2025). Vietnam telah melakukan pendekatan kepada China guna mendapatkan dana dan teknologi untuk mengembangkan jaringan kereta api. Intensitas jumlah kunjungan tingkat tinggi oleh para pejabat dari kedua negara yang sering terjadi, mencakup pembahasan kesepakatan seputar kerja sama bidang perkeretapian. (Yetede)

Tetap Tenang Meski IHSG Naik dan Turun

KT1 12 Apr 2025 Investor Daily (H)
Perdagangan di Bursa Efek Jakarta (BEI) telah terbuka kembali setelah libur panjang Idul Fitri 28 Maret hingga 7 April 2025. Selama hari Raya, pasar global mengalami gejolak signifikan akibat kebijakan tarif impor yang diberlakukan AD dan respons balasan dari Tiongkok. Seperti diperkirakan para pelaku pasar modal, situasi yang sama terjadi pada saat perdagangan di BEI dibuka kembali pada Selasa 8 April 2025. IHSG sempat turun 9,19% dan menyentuh level 5.912,06. Sebelum libur Idul Fitri 2025, pada Kamis, 27 Maret 2025 , IHSG ditutup menguat 0,59% ke level 6.510,62. Penurunan yang terjadi pada hari pertama pasca libur Idul Fitri membuat BEI mengambil langkah untuk trading halt atau penghentian sementara perdagangan. Gejolak ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal seperti kebijakan tarif resiprokal AS terhadap sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia, serta depresiasi nilai tular Rupiah yang menembus sempat menyentuh angka psikologis Rp 17.000 per dolar AS di pasar luar negeri. DI tengah kondisi pasar yang bergejolak ini, kunci utama bagi investor adalah tetap tenang dan tidak mengambil keputusan emosional. Perlu diingat, tujuan investor di pasar modal adalah jangka panjang. Pasar saham memang naik-turun dan itu normal. Gejolak harian bukan alasan untuk mengubah tujuan investasinya adalah untuk dana pensiun 10-20 tahun lagi, maka penurunan saat ini tidak akan berdampak signifikan dalam jangka panjang. (Yetede)

Penguatan Daya Saing Harus Semakin Menguat

KT1 12 Apr 2025 Investor Daily (H)
Keputusan penundaan penerapan tarif resiprokal oleh Presiden AS Donald Trump dinilai memberi waktu bernafas Indonesia dan puluhan negara lain di dunia.  Dengan adanya penundaan ini, pemerintah bisa mempersiapkan langkah taktis negosiasi secara lebih matang, sehingga memperkuat posisi tawar menawar Indonesia di hadapan AS. Namun, sejumlah pihak mengingatkan agar penundaan ini tidak menyurutkan tekad dan langkan pemerintah untuk mempekuat daya saing Indonesia melalui kebijakan stratregis dan reformasi struktrural. Pasalnya, hanya dengan daya saing yang kuat, Indonesia akan bisa mendapatkan peluang pasar, termasuk dalam mendiversifikasi pasar ekspor, meski tekanan global meningkat. Demikian benang merah pandangan yang dihimpun Investor Daily dari sejumlah narasumber secara terpisah, Jumat (11/4/2025). Mereka adalah peneliti Departemen Economi Centre for Startegic and International Studies (CSIS) Riandy Laksono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB-UI) Telisa Aulia Falianty, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, dan Ketua Dewan Komisoner OJK Mahendra Siregar. Seperti dilansir sejumlah kantor berita asing, termasuk CNBC, melalui unggahan di media sosial pada Rabu (09/04/2025), Trump menurunkan tarif impor resiprokal terhadap sebagian besar negara mitra dagang AS menjadi 10% selama 90 harii, dari sebelumnya dalam rentang 11-5-%. (Yetede)

Tarif Memukul, Investor Tinggalkan Dolar AS

HR1 12 Apr 2025 Kontan (H)
Kebijakan tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memicu guncangan besar di pasar keuangan global. Ketidakpastian akibat perang dagang membuat investor global melakukan reposisi besar-besaran terhadap portofolio investasinya, yang ditandai dengan eksodus dari aset-aset berbasis dolar AS, saham, dan obligasi negara tersebut.

Kyle Rodda, analis pasar dari Capital.com, menyebutkan bahwa penurunan dolar AS dan pelemahan obligasi mencerminkan eksodus dari aset AS, yang menurutnya bukan sinyal baik bagi pasar. Sementara itu, Christopher Wong dari OCBC menegaskan bahwa kepercayaan terhadap dolar sedang terancam karena keunggulan ekonomi AS memudar dan beban utangnya membengkak.

Sebagai akibatnya, investor beralih ke aset safe haven, terutama emas, yang mencetak rekor tertinggi baru dengan harga emas spot mencapai US$ 3.234,10 per ons troi. Nitesh Shah dari WisdomTree menegaskan bahwa emas kembali jadi pilihan utama di tengah keraguan terhadap posisi AS sebagai mitra dagang global. Tai Wong, analis pasar logam, menambahkan bahwa prospek pemangkasan suku bunga oleh The Fed dan inflasi yang tinggi memberi tekanan tambahan pada dolar serta mendukung reli harga emas.

Selain emas, investor juga memburu mata uang safe haven seperti franc Swiss, yen Jepang, dan euro. Franc Swiss bahkan mencapai nilai tukar tertinggi dalam satu dekade, dan yen menguat ke level terbaik dalam enam bulan terakhir. Michael Pfister dari Commerzbank memprediksi intervensi bank sentral terhadap penguatan mata uang, meskipun skalanya mungkin tidak besar.

Menurut Francesco Pesole dari ING, situasi saat ini sudah melampaui penurunan biasa terhadap dolar, dan bisa disebut sebagai “krisis dolebijakan tarif Trump telah menciptakan gejolak signifikan di pasar global, menyebabkan penurunan tajam dalam kepercayaan terhadap dolar AS, dan mendorong lonjakan minat terhadap aset-aset safe haven seperti emas dan mata uang kuat lainnya.**Kesimpulan Artikel:**
 
Kebijakan tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat **Donald Trump** telah memicu guncangan besar di pasar keuangan global. Ketidakpastian akibat perang dagang membuat investor global melakukan reposisi besar-besaran terhadap portofolio investasinya, yang ditandai dengan eksodus dari aset-aset berbasis dolar AS, saham, dan obligasi negara tersebut.
 
**Kyle Rodda**, analis pasar dari Capital.com, menyebutkan bahwa penurunan dolar AS dan pelemahan obligasi mencerminkan eksodus dari aset AS, yang menurutnya bukan sinyal baik bagi pasar. Sementara itu, **Christopher Wong** dari OCBC menegaskan bahwa kepercayaan terhadap dolar sedang terancam karena keunggulan ekonomi AS memudar dan beban utangnya membengkak.
 
Sebagai akibatnya, investor beralih ke aset safe haven, terutama **emas**, yang mencetak rekor tertinggi baru dengan harga emas spot mencapai **US$ 3.234,10 per ons troi**. **Nitesh Shah** dari WisdomTree menegaskan bahwa emas kembali jadi pilihan utama di tengah keraguan terhadap posisi AS sebagai mitra dagang global. **Tai Wong**, analis pasar logam, menambahkan bahwa prospek pemangkasan suku bunga oleh The Fed dan inflasi yang tinggi memberi tekanan tambahan pada dolar serta mendukung reli harga emas.
 
Selain emas, investor juga memburu mata uang safe haven seperti **franc Swiss**, **yen Jepang**, dan **euro**. Franc Swiss bahkan mencapai nilai tukar tertinggi dalam satu dekade, dan yen menguat ke level terbaik dalam enam bulan terakhir. **Michael Pfister** dari Commerzbank memprediksi intervensi bank sentral terhadap penguatan mata uang, meskipun skalanya mungkin tidak besar.
 
Menurut **Francesco Pesole** dari ING, situasi saat ini sudah melampaui penurunan biasa terhadap dolar, dan bisa disebut sebagai “krisis dolar”.
 
Kebijakan tarif Trump telah menciptakan gejolak signifikan di pasar global, menyebabkan penurunan tajam dalam kepercayaan terhadap dolar AS, dan mendorong lonjakan minat terhadap aset-aset safe haven seperti emas dan mata uang kuat lainnya.

Ketegangan China-AS Naik, Perang Tarif Berlanjut

HR1 12 Apr 2025 Kontan
Ketegangan dagang antara China dan Amerika Serikat kembali memuncak, setelah Kementerian Keuangan China resmi menetapkan tarif impor sebesar 125% untuk seluruh produk asal AS, sebagai respons atas kebijakan tarif tinggi dari Washington. China menilai langkah AS sebagai bentuk perundungan dan pemerasan ekonomi, namun mengindikasikan tidak akan membalas lebih jauh, menyebut eskalasi tarif lanjutan sudah tidak relevan secara ekonomi.

Menurut analis dari UBS, keputusan China untuk tidak melanjutkan pembalasan menunjukkan bahwa hubungan perdagangan antara kedua negara besar ini kemungkinan besar tidak akan pulih dalam waktu dekat.

Untuk mengurangi dampak negatif dari perang tarif ini, China mulai menjalin kembali hubungan ekonomi yang lebih erat dengan Uni Eropa. Dalam pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, Xi menekankan pentingnya kerja sama China-Uni Eropa dalam mempertahankan globalisasi dan melawan kebijakan sepihak.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga menunjukkan pendekatan yang lebih lunak terhadap China, dengan tidak lagi mengecam kedekatannya dengan Rusia dalam percakapan terbaru mereka, melainkan mendorong peran China dalam proses perdamaian.

Selain itu, bank sentral China juga telah berdiskusi dengan bank sentral Jepang dan Korea Selatan, membahas dampak tarif AS dalam forum regional di Malaysia, menunjukkan upaya lebih luas China untuk membangun koalisi ekonomi alternatif di tengah tekanan dari AS.

Dengan langkah strategis ini, China berupaya mengalihkan fokus ekonomi dan memperkuat kerja sama dagang di luar AS, khususnya ke kawasan Eropa dan Asia Timur.

Tertekan Volatilitas Global

KT1 11 Apr 2025 Investor Daily (H)

Ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang mendorong volatilitas di pasar keuangan domestik dalam jangka pendek. Dengan ketidakpastian perekonomian dunia yang terjadi, nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp16.830 sampai 16.945 per dolar AS. Adapun nilai tular rupiah pada penutupan perdagangan kamis (10/4/2025) di Jakarta, menguat sebesar 50 poin atau 0,29% menjadi Rp16.823 per dolar AS dari sebelumnya Rp16873 per dolar AS. Berdasarkan data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar rate (Jisdor) BI, nilai tukar rupiah adalah Rp 16.779 per dolar AS pada kamis (10/4/2025).

Angka yang sudah lebih baik dari posisi rupiah pada rabu (9/4/2025) yang senilai Rp16.943. Namun masih lebih rendah dari nilai target rupiah dalam asumsi makro APBN 2025 yang senilai Rp16.000 per dolar AS.  Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, dinamika pasar keuangan global terjadi karena pengaruh dari kebijakan perang tarif yang dijalankan AS terhadap banyak negara. "Rencana AS untuk menerapkan tarif impor sebesar 104% terhadap China setelah negosiasi tarif yang gagal, meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global dan mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh federal Reserve yang lebih agresif pada tahun ini," jelas Andry. (Yetede)

Perang Tarif Dicabut Selama 90 Hari

KT1 11 Apr 2025 Investor Daily (H)

Tidak hanya untuk menunda, pintu negosiasi tetap terbuka, bahkan bisa sampai   mencabut perang tarif yang  dilancarkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Syaratnya, para pihak mampu mencapai kesepakatan yang saling memenangkan diantara mereka. Lewat unggahan media sosialnya pada rabu (09/04/2025), Trump menurunkan tarif impor resiprokal terhadap sebagian besar negara mitra dagang AS menjadi 10% selama 90 hari agar dapat terselenggara negosiasi perdagangan dengan negara-negara dimaksud, termasuk Indonesia. Pengumuman Trump yang mengguncang pasar finansial secara positif itu terjadi hanya beberapa jam setelah barang-barang dari hampir 90 negara menjadi sasaran tarif timbal balik. Pada 2 April 2025, Trump mengatakan akan mengenakan tarif timbal balik yang mulai berlaku pada Rabu.

Besaran tarif dasar 10% atas impor lebih dari impor 90 negara akan dikenakan tarif timbal balik yang mulai berlaku pada Rabu. Besaran tarif resiprokal ini dari yang terendah 11% hingga tertinggi 50%. Trump mengatakan ada lebih dari 75 Negara menghubungi para pejabat AS untuk bernegosiasi setelah ia mengumumkan tarif barunya pada pekan ini. "Sebaliknya, dan berdasarkan fakta bahwa lebih dari 75 negara telah menghubungi perwakilan AS, termasuk Departemen Perdagangan, Departemen Keuangan, dan USTR, untuk merundingkan solusi atas subjek-subjek yang sedang dibahas terkait perdagangan, hambatan perdagangan, tarif, manipusai mata uang, dan tarif  nonmoneter, dan bahwa menurut saya negara-negara ini tidak melancarkan balasan  dengan cara, bentuk, atau jalan apapun terhadap AS. Saya telah menetapkan penangguhan selama 90 hari," tutur Trump. (Yetede)

Langkah IHSG Masih Berat Jangan Senang Dulu

KT1 11 Apr 2025 Investor Daily (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 4,79% atau 286,03 poin ke level 6.254 ,02 pada perdagangan Kamis (10/4/2025), didorong oleh sentimen positif dari pasar global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda pelaksanaan tarif impor tambahan terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia, selama 90 hari Meski mampu bangkit setelah koreksi parah sejak pembukaan perdagangan perdana usai libur panjang Lebaran 2025, langkah IHSG masih menghadapi tantangan ke depan. Pendiri Stocknow.id Hendra Wardana menjelaskan, keputusan Trump menunda pemberlakuan tarif resiprokal memberikan ruang nafas bagi pasar. "Kecuali untuk China, seluruh negara mitra dagang utama AS diberi penangguhan, dan ini memicu rally serentak di bursa global," ujar dia kepada Investor Daily. Namun, Hendra mengingatkan bahwa tekanan belum sepenuhnya mereda. Meskipun IHSG menguat signifikan, investor asing mencatat net sell sebesar Rp632 miliar, mencerminkan kehati-hatian terhadap ketidakpastian global. Ketegangan dagang AS-China masih tinggi, setelah Trump menaikkkan tarif impor produk China menjadi 125%, yang langsung dibalas oleh Beijing dengan tarif 84%. (Yetede)

Sinyal Tren Positif dari Manufaktur Indonesia

KT1 10 Apr 2025 Investor Daily

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan  (Kemenkeu)  menyatakan aktivitas manufaktur Indonesia terus berada pada tren positif. Pada Maret 2025, PMI Manufaktur Indonesia berada pada level 52,4, melanjutkan tren ekspansif sejak Desember 2024. Kepala BKF Febrio Kacaribu menerangkan aktivitas menufaktur yang terus ekspansif didorong pertumbuhan produksi yang berlanjut dalam beberapa bulan terakhir, baik akibat peningkatan permintaan domestik selama bulan Ramadan dan Idul Fitri maupun permintaan ekspor. Selain itu, optimisme terhadao prospek ekonomi ke depan juga menjadi pendorong," ujar dia. Febrio mengatakan beberapa mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok (51,2), India (58,1), dan Amerika Serikat (50,2) juga mencatatkan ekspansi menufaktur.

Kondisi ini memperkuat posisi Indonesia yang tetap stabil dan kompeititif di kawasan, di samping memperkuat permintaan ekspor dari negara-negara mitra utama tersebut. "Kinerja ini memberikan sinyak positif bagi prospek sektor manufaktur nasional ke depan dalam menghadapi dinamika perdagangan global yang diwarnai perang tarif," kata dia. dari sisi konsumen, ketahanan ekonomi tercermin dari indikator konsumsi yang masih berada pada level optimis. Indeks Kepuasan Konsumen pada Februari 2025 tercatat sekitar 126,4, menunjukkan peningkatan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi baik saat ini maupun prospeknya ke depan. (Yetede)

Tarif Trump Seberapa Kuat Dampaknya

KT1 10 Apr 2025 Investor Daily (H)
Kebijakan terbaru Presiden Donald Trumph untuk memberlakukan tarif tinggi pada berbagai negara telah menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan ekonomi, pemimpim bisnis, dan mitra internasional. Tarif ini mencakup pajak mininmum 10% untuk semua import dan tarif yang lebih tinggi untuk negara-negara tertentu, yang diterapkan dengan tujuan untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan dan melindungi industri domestik. Ekonom telah memperingatkan bahwa tarif ini dapat menyebabkan peningkatan harga konsumen, karena pengusaha mungkin akan membebankan biaya lebih tinggi dari barang impor kepada konsumen. Skenario ini dapat berkontribusi pada inflasi yang meningkat dan perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi. Carl Weinberg dari High Frequency Economics,  meramalkan kontraksi tajam pada ekonomi AS sebesar 4,5% pada kuartal kedua tahun 2025, dengan kontraksi yang terus berlanjut pada paruh kedua tahun tersebut. Michael Feroli dan JP Morgan memprediksi resesi dimulai pada Juni, sementara Alec Philips dari Goldman Sacsh meningkatkan probabilitas resesi 12 bulan menjadi 45%, sekaligus memotong perkiraan pertumbuhan PDB 2025 menjadi 0,5%. (Yetede)