Ekonomi Internasional
( 635 )Tarif Donlad Trump Beban Rakyat US
Impor & Investasi Jadi Senjata Negosiasi RI
Pemerintah Indonesia akan memulai negosiasi dagang strategis dengan Amerika Serikat untuk merespons tarif resiprokal sebesar 32% yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap produk asal Indonesia. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, bersama jajaran menteri lainnya, termasuk Menteri Keuangan Sri Mulyani, Wamenkeu Thomas Djiwandono, Wamenlu Arrmanatha Nasir, dan Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu.
Dalam pertemuan dengan otoritas perdagangan dan keuangan AS, Indonesia akan mengupayakan penurunan non-tariff barrier, memperluas kerja sama investasi, serta membuka peluang impor produk AS senilai US$ 18–19 miliar, sejalan dengan permintaan AS untuk menyeimbangkan neraca dagang yang defisit sekitar US$ 18 miliar terhadap Indonesia.
Wamen Investasi Todotua Pasaribu menambahkan bahwa Indonesia juga akan mengincar peluang investasi di sektor strategis AS, terutama migas dan teknologi informasi (TI). Investasi ini dirancang menggunakan pendekatan BUMN, dan kemungkinan melibatkan BPI Danantara.
Sementara itu, ekonom senior Chatib Basri menyarankan agar pemerintah menyikapi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebagai alat insentif, bukan hambatan. Ia mengusulkan skema potongan pajak bagi investor yang memenuhi TKDN, agar regulasi tersebut bersifat menarik dan mendorong investasi, sekaligus mengurangi dampak tarif AS terhadap RI.
Perang Dagang Trump dan Xi Jinping
Penentu Pertumbuhan Ekonomi Diperkirakan Hanya 4,5%
Presiden China Xi Jinping Mengambil Langkah Konsolidasi di Tiga Negara Bagian
Tetap Tenang Meski IHSG Naik dan Turun
Penguatan Daya Saing Harus Semakin Menguat
Tarif Memukul, Investor Tinggalkan Dolar AS
Ketegangan China-AS Naik, Perang Tarif Berlanjut
Tertekan Volatilitas Global
Ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang mendorong volatilitas di pasar keuangan domestik dalam jangka pendek. Dengan ketidakpastian perekonomian dunia yang terjadi, nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp16.830 sampai 16.945 per dolar AS. Adapun nilai tular rupiah pada penutupan perdagangan kamis (10/4/2025) di Jakarta, menguat sebesar 50 poin atau 0,29% menjadi Rp16.823 per dolar AS dari sebelumnya Rp16873 per dolar AS. Berdasarkan data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar rate (Jisdor) BI, nilai tukar rupiah adalah Rp 16.779 per dolar AS pada kamis (10/4/2025).
Angka yang sudah lebih baik dari posisi rupiah pada rabu (9/4/2025) yang senilai Rp16.943. Namun masih lebih rendah dari nilai target rupiah dalam asumsi makro APBN 2025 yang senilai Rp16.000 per dolar AS. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, dinamika pasar keuangan global terjadi karena pengaruh dari kebijakan perang tarif yang dijalankan AS terhadap banyak negara. "Rencana AS untuk menerapkan tarif impor sebesar 104% terhadap China setelah negosiasi tarif yang gagal, meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global dan mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh federal Reserve yang lebih agresif pada tahun ini," jelas Andry. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Beban Bunga Utang
05 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022









