Rancang Ulang Portofolio akibat Tarif Trump
Pasar saham dalam negeri dipastikan akan kembali mengalami volatilitas harga karena kondisi investasi yang terguncang pascakebijakan tarif baru Presiden AS, Donald Trump. Investor dapat mengatur ulang portofolio saham mereka untuk mencegah kerugian lebih dalam hingga jangka menengah. Pasar saham RI dijadwalkan kembali buka pada Selasa (8/4) setelah libur panjang sejak 28 Maret 2025. Di tengah masa libur Lebaran itu, pasar saham di seluruh dunia diguncang pengumuman Trump mengenai penerapan tarif tinggi impor barang terhadap negara-negara mitra dagang AS, termasuk Indonesia. Dua hari pasca pengumuman kebijakan itu pada 2 April 2025, bursa saham AS, seperti Nasdaq, anjlok 11,4 %, Indeks Small Cap 2000 turun 10,7 %, S&P 500 melemah 10,5 % dan Dow Jones terkoreksi 9,3 %.
Tren ini merambat ke bursa saham negara maju lainnya dan negara berkembang. Bursa saham global longsor sepanjang Senin (7/4). Indeks Nikkei-225 di Bursa Tokyo, Jepang, ditutup turun 7,83 %. ”Saham anjlok karena kebijakan tarif tak masuk akal Pemerintah AS di bawah Donald Trump. Keriuhan di pasar tak akan reda sampai kebijakan direvisi,” kata ekonom kepala Sony Financial Group, Hiroshi Watanabe, dikutip Kyodonews. Indeks yang terjun bebas memaksa manajemen bursa Tokyo menghentikan perdagangan sementara pada Senin. Manajemen bursa berusaha mengendalikan kepanikan para investor yang berlomba melepas saham di tengah kekhawatiran pada prospek suram kinerja perekonomian.
Analis pasar modal dari PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mengatakan, ”Pasar bersiap untuk tarif berlaku. Volatilitas akan tinggi karena sebagian investor memilih melepas terlebih dahulu saham mereka dan masuk ke (saham) yang dipandang lebih aman,” ujarnya, Senin. ”IHSG kemungkinan besar akan dibuka dengan koreksi meski berharap tidak sampai trading halt,” kata Wawan. Kendati demikian, proyeksi koreksi ini dapat dimanfaatkan oleh investor jangka panjang untuk mengakumulasi pembelian saat harga terkoreksi. ”Untuk investor jangka pendek, lebih aman untuk sementara beralih ke instrumen yang risikonya rendah, seperti reksa dana pasar uang,” kata Wawan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023