;
Tags

Korporasi

( 1584 )

Kompetisi Panas Pasca Merger di Sektor Bisnis

HR1 22 Nov 2024 Kontan
PT XL Axiata Tbk (EXCL) berpotensi memperkuat posisinya di industri telekomunikasi melalui merger dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dan akuisisi pelanggan Link Net (LINK). Merger ini diharapkan menciptakan perusahaan dengan basis pelanggan hingga 100 juta dan spektrum 152 MHz, mendekati Telkomsel, menurut Gani, analis Ciptadana Sekuritas. Langkah tersebut akan meningkatkan daya saing EXCL terhadap Telkom Indonesia (TLKM) dan Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT).

Akuisisi 750.000 pelanggan Link Net pada September 2024 memperkuat penetrasi layanan fixed broadband (FBB) XL, mendukung pertumbuhan internet fiber. Selain itu, EXCL menaikkan tarif data pada Agustus–September sebesar 5%, yang mulai mencerminkan peningkatan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) di Oktober. Meski ARPU kuartal ketiga menurun ke Rp 41.000 per bulan, ARPU gabungan sepanjang tahun meningkat ke Rp 43.000, menunjukkan prospek yang positif.

Menurut Nicolas Santoso, analis Verdhana Sekuritas, layanan seluler tetap menjadi kontributor utama pendapatan EXCL, mencapai Rp 24,1 triliun selama Januari–September 2024. Namun, daya beli yang lemah, persaingan ketat, dan isu ISP ilegal seperti RT/RW Net menekan kinerja EXCL di kuartal ketiga. Etta Rusdiana dari Maybank Sekuritas optimistis laba bersih EXCL akan membaik pada kuartal IV-2024, terutama dari pelanggan FBB.

Etta memproyeksikan pendapatan EXCL sebesar Rp 34,3 triliun dan laba bersih Rp 2,28 triliun pada 2024, dengan target harga saham Rp 3.200. Nicolas menargetkan Rp 2.600, sementara Gani menurunkan target menjadi Rp 3.000. Dengan langkah strategis seperti merger dan akuisisi, EXCL diharapkan mampu meningkatkan profitabilitas dan daya saing di pasar telekomunikasi.

Buyback Saham Jadi Jurus Baru Menarik Investor

HR1 22 Nov 2024 Kontan
Menjelang akhir 2024, sejumlah emiten, termasuk PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM), gencar melakukan aksi pembelian kembali (buyback) saham. TOBA telah mendapatkan persetujuan RUPSLB untuk buyback hingga 10% dari modalnya, dengan anggaran Rp 425,49 miliar. Sementara itu, HRUM menyiapkan anggaran Rp 1 triliun untuk buyback hingga September 2025.

Menurut Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, buyback saham biasanya meningkatkan kepercayaan investor, terutama jika harga saham emiten telah turun signifikan. Aksi ini dapat mendorong nilai pasar saham dalam jangka pendek. Maximilianus Nico Demus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, menambahkan bahwa buyback juga berdampak positif pada rasio keuangan emiten, seperti meningkatkan earning per share (EPS) karena jumlah saham yang beredar berkurang, menjadikan saham lebih menarik bagi investor.

Martha Christina, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menilai bahwa sumber anggaran buyback umumnya berasal dari kas internal yang sedang tidak digunakan untuk ekspansi. Saham hasil buyback akan menjadi saham treasuri yang dapat dilepas kembali ketika harga saham naik, menciptakan fleksibilitas bagi emiten.

Namun, keberhasilan buyback sangat bergantung pada besarnya anggaran. Jika dana buyback kecil, emiten memiliki keterbatasan untuk memengaruhi harga pasar secara signifikan. Oleh karena itu, besaran anggaran menjadi kunci efektivitas aksi ini.

Dari berbagai emiten yang melakukan buyback, Nico merekomendasikan HRUM dengan target harga Rp 1.650 per saham. Sedangkan Miftahul merekomendasikan trading buy untuk TOBA dan HRUM dengan target masing-masing Rp 530 dan Rp 1.220 per saham. Aksi buyback ini memberikan sentimen positif bagi prospek emiten sekaligus meningkatkan daya tarik saham di mata investor.

Saham Grup Bakrie Tetap Menarik Perhatian Investor

HR1 21 Nov 2024 Kontan
Saham emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie mencatatkan kinerja yang sangat positif sepanjang tahun ini, dengan BRMS dan DEWA menjadi motor penggerak utama. Saham BRMS terbang 155,29%, sementara DEWA melonjak 103,33%. Selain itu, BUMI juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 72,94%. Emiten terbaru grup Bakrie, ALII, juga menunjukkan performa yang baik sejak IPO pada Februari 2024.

Kenaikan harga saham ini dipengaruhi oleh ekspektasi fundamental yang kuat, prospek proyek masa depan, dan konsolidasi grup, termasuk masuknya Grup Salim sebagai pemegang saham utama. Angga Septianus, Community Lead di Indo Premier Sekuritas (IPOT), mencatat bahwa proyeksi prospek emiten grup Bakrie, seperti BRMS, BUMI, dan DEWA, menarik perhatian pasar.

Selain itu, faktor eksternal seperti kenaikan harga komoditas, terutama batubara dan energi, juga berperan besar dalam mendorong kenaikan saham emiten Bakrie. Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, menilai lonjakan saham ini juga didorong oleh optimisme pasar terkait proyek-proyek baru yang dikembangkan, meskipun ada elemen spekulatif yang mempengaruhi pergerakan saham.

Namun, meski sentimen positif mendukung kenaikan saham, Hendra menegaskan bahwa emiten grup Bakrie perlu langkah konkret untuk memperkuat kinerja keuangan mereka. Dengan strategi yang tepat, seperti perbaikan struktur utang dan pengembangan proyek smelter, prospek jangka panjang masih terbuka lebar.

Harga Amonia Cerahkan Prospek Bisnis ESSA

HR1 21 Nov 2024 Kontan
PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA) menunjukkan kinerja yang solid, didorong oleh harga amonia yang tinggi. Kenny Shan, analis Sinarmas Sekuritas, mencatat kinerja ESSA pada kuartal ketiga 2024 yang melampaui ekspektasi dengan margin kotor naik menjadi 37,2%. Laba bersih ESSA tercatat mencapai US$ 34 juta pada Januari-September 2024, melebihi estimasi dan mencapai 81% dari target tahunan. Produksi amonia ESSA juga meningkat 10,38% YoY, dengan tingkat utilisasi mencapai 106,9%.

Kenaikan harga amonia, yang diperkirakan akan tetap tinggi karena tingginya biaya gas alam, menjadi pendorong utama kinerja ESSA. Proyeksi produksi untuk 2024 telah direvisi naik menjadi 750.000 metrik ton, lebih tinggi dari perkiraan awal. Reza Priyambada, Direktur Reliance Sekuritas, menyatakan bahwa kinerja ESSA tetap solid meskipun ada sedikit penurunan pendapatan, dan menganggap lonjakan harga amonia akan terus mendukung pertumbuhan perusahaan di masa mendatang.

Prospek jangka panjang ESSA juga sangat menarik. Reggie Parengkuan, analis Indo Premier Sekuritas, optimis dengan prospek perusahaan, terutama dengan proyek amonia rendah karbon yang diharapkan dapat beroperasi pada akhir 2027. ESSA berkomitmen untuk mengurangi jejak karbon melalui teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), menjadikannya pionir dalam produksi amonia rendah karbon di Asia Tenggara. Dengan pengurangan utang yang dijadwalkan, ESSA diprediksi akan berada dalam posisi kas bersih yang kuat pada akhir 2024, memberikan ruang untuk pertumbuhan di masa depan.

Obligasi Korporasi: Peluang Baru untuk Keuntungan

HR1 21 Nov 2024 Kontan
Di tengah pasar yang lesu, obligasi korporasi muncul sebagai alternatif menarik bagi investor. Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income di Anugerah Sekuritas, menilai obligasi korporasi menawarkan yield yang lebih tinggi dibandingkan Surat Utang Negara (SUN) acuan 10 tahun yang saat ini berada di kisaran 6,8%-6,9%. Ini membuat obligasi korporasi menjadi pilihan yang lebih menarik, terutama di pasar yang masih menunjukkan tren naik.

Suhindaro, Kepala Divisi Riset di Pefindo, juga mengungkapkan bahwa obligasi korporasi memiliki risiko yang terukur dan memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan surat utang pemerintah. Misalnya, selisih imbal hasil antara obligasi korporasi dengan rating AAA dan obligasi pemerintah dengan tenor satu tahun mencapai 28 bps. Dia menilai, meski pasar masih volatile, investasi di surat utang korporasi tetap menjadi pilihan yang menarik.

Selain itu, Alvaro Ihsan, Analis Fixed Income di Sucorinvest Asset Management, menambahkan bahwa meskipun Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 6%, penerbitan obligasi korporasi diperkirakan tetap semarak hingga akhir tahun. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan modal kerja dan refinancing perusahaan, serta potensi penurunan biaya dana yang mendorong emiten untuk menerbitkan surat utang.

Penerbitan obligasi korporasi juga tercatat meningkat, dengan total emisi mencapai Rp 112,3 triliun hingga 11 November 2024, menunjukkan pasar obligasi korporasi yang masih bergairah meskipun kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.

Larangan iPhone 16 Picu Hambatan Pasar Elektronik

HR1 20 Nov 2024 Kontan
Kinerja PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menghadapi tantangan signifikan setelah pelarangan penjualan iPhone 16 di Indonesia, yang diperkirakan dapat menekan penjualan pada kuartal terakhir 2024. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai bahwa meskipun segmen ponsel ERAA kemungkinan terdampak, diversifikasi produk yang meliputi aksesoris, komputer, dan produk operator dapat membantu menjaga kinerja perusahaan. ERAA juga dapat mengandalkan segmen flagship Android yang lebih kompetitif dan program cicilan 0% untuk menjaga permintaan.

Selain itu, meskipun penjualan ponsel dan tablet mengalami penurunan, segmen aksesoris dan komputer menunjukkan pertumbuhan positif, memberikan dorongan bagi perusahaan. Namun, risiko suku bunga tinggi dan depresiasi rupiah tetap perlu diperhatikan, karena bisa mempengaruhi daya beli konsumen.

Alif Ihsanario, analis dari Ciptadana Sekuritas, memproyeksikan ERAA akan mencatatkan penjualan Rp 67,85 triliun dan laba bersih Rp 951 miliar pada 2024, meskipun dampak pelarangan iPhone 16 mungkin memperlambat penjualan di kuartal keempat. Jonathan Guyadi, analis Samuel Sekuritas, optimis bahwa daya beli masyarakat kelas menengah atas akan mendukung kinerja ERAA, dan valuasi saham yang murah memberikan peluang untuk membeli.

Meskipun tantangan terkait pelarangan iPhone 16 ada, ERAA masih memiliki peluang untuk mempertahankan kinerja yang solid berkat diversifikasi produk dan dukungan dari sektor lain.

Akuisisi dan Kerja Sama Chandra Asri dengan Berbagai Perusahaan Asing

KT3 19 Nov 2024 Kompas

Pelaku industri petrokimia terbesar di Indonesia, PT Chandra Asri Pacific Tbk, mengubah visi mereka menjadi perusahaan terintegrasi terkemuka di Asia Tenggara. Mereka gencar melakukan akuisisi dan kerja sama dengan berbagai perusahaan asing. Direktur Hukum, Hubungan Eksternal, dan Ekonomi Sirkular Chandra Asri, Edi Rivai, menyampaikan, pada tahun 2024, perseroan bertransformasi dengan menambah fokus bidang energi ke dalam strategi usaha mereka. Kemudian, mengupayakan Chandra Asri menjadi perusahaan terkemuka di Asia Tenggara. ”Kami sudah melangkah dari lokal, ke global, walaupun globalnya masih regional Asia Tenggara. Kemudian, dari solusi kimia dan infrastruktur, sekarang diperluas lagi menjadi solusi energi, karena ada minyak yang kita akan produksi dan juga baterai,” tuturnya dalam presentasi kepada media di Kota Cilegon, Banten, Senin (18/11).

Chandra Asri mengolah produk kilang minyak, nafta, yang sebagian besar menjadi produk polimer, seperti polietilena, polipropilen, butadiena, dan monomer stirena. Usaha di bawah bendera Barito Pacific Group tersebut masih pemimpin pasar sektor petrokimia dalam negeri hingga 50 %. Seiring cepatnya kenaikan permintaan, persentase pangsa pasar beberapa produk mereka cenderung turun dan diisi oleh produk industri asing. Mengutip data konsultan global bidang energi dan kimia, Nexant, total pertumbuhan permintaan empat produk polimer di Indonesia sepanjang 2023-2035 sebesar 4,4-5,8 %. Sementara sisa permintaan di seluruh dunia hanya 2,0-2,6 %.  Permintaan domestik yang besar membuat peluang masuknya produk industri asing sangat besar.

Chandra Asri, yang memiliki kapasitas produksi 4,2 juta metrik ton per tahun, melihat ini tidak hanya sebagai tantangan persaingan, tetapi juga peluang untuk berekspansi, dengan mengakuisisi kilang minyak dan manufaktur petrokimia Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura. SECP memiliki asset dengan kapasitas 1,1 juta metrik ton per tahun di Pulau Bukom dan aset kimia hulu di Pulau Jurong, Singapura. Produksi mereka dipasok ke wilayah Asia Tenggara. ”Tujuannya adalah ke depan SECP di Singapura bisa terintegrasi dengan plant petrokimia di Cilegon. Jadi, kita akan mengurangi ketergantungan impor, polietilen, polipropilen, mungkin juga naftah, kita ambil dari sana untuk dapat digunakan oleh Chandra Asri,” kata Edi. (Yoga)


Wamildan Tsani Menjadi Dirut Garuda Indonesia yang Baru

KT3 16 Nov 2024 Kompas

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk resmi mengubah susunan direksi dalam rapat umum pemegang saham luar biasa atau RUPSLB. Rapat tersebut dihadiri 74,97 % dari total keseluruhan pemegang saham Garuda Indonesia sehingga dapat menyepakati agenda perubahan susunan pengurus perseroan. Dalam   RUPSLB tahun 2024 tersebut, Wamildan Tsani Panjaitan, yang sebelumnya menjabat Plt CEO Lion Air, didapuk sebagai Dirut Garuda Indonesia menggantikan Irfan Setiaputra yang menjabat sejak Januari 2020. ”Saya akan menjalankan amanah ini dengan melakukan financial and operational review secara menyeluruh, mengakselerasi kinerja perusahaan, melakukan ekspansi jaringan, dan peningkatan kualitas layanan,” kata Wamildan di Tangerang, Banten, Jumat (15/11).

Seluruh upaya tersebut diharapkan memperkuat reputasi Garuda Indonesia sebagai maskapai nasional yang makin sehat dan menjadi kebanggaan Indonesia. Langkah awal Wamildan sebagai dirut adalah meninjau kembali kondisi keuangan dan operasional Garuda Indonesia secara menyeluruh. Dengan cara itu, pihaknya dapat menentukan langkah-lang-kah taktis selanjutnya. ”Terkait dengan kondisi keuangan, kami akan tunggu proses pelaksanaan review atau evaluasi sampai selesai,” ujarnya. Kondisi Garuda Indonesia yang saat ini mengalami penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) tentu melonggarkan biaya operasional. Namun, langkah konkret dan cara menyelesaikannya butuh waktu hingga tinjauan terhadap kondisi keuangan dan operasional tuntas. Wamildan meyakinkan, Garuda Indonesia tetap harus untung. Pengalamannya dari maskapai penerbangan bertarif rendah (low cost carrier/LCC) akan menjadi modalnya membenahi Garuda Indonesia. (Yoga)


Manajemen Sritex harapkan putusan keberlanjutan usaha

KT3 16 Nov 2024 Kompas

Manajemen PT Sri Rejeki Isman Tbk atau PT Sritex berharap kurator dan hakim pengawas menyetujui usulan going concern atau asas keberlanjutan usaha. Perusahaan perlu beroperasi demi menjamin hajat hidup ribuan pekerja yang dibayangi PHK. Kasasi ke MA jadi tumpuan pencabutan putusan pailit. Harapan itu mengemuka di sela-sela kegiatan doa bersama ribuan pegawai PT Sritex di Lapangan Sandang Sejahtera PT Sritex, Kabupaten Sukoharjo, Jateng, Jumat (15/11). Usulan going concern diajukan para kreditor dan buruh Sritex dalam rapat kreditor di PN Semarang, Kota Semarang, Jateng, Kamis (14/11).

”Kalau dari hakim pengawas tidak mengizinkan keberlanjutan usaha, atau going concern itu, dalam tiga minggu ke depan kami kehabisan bahan baku. Dari 2.500 karyawan yang sudah kami rumahkan, jumlahnya akan bertambah seiring berjalannya waktu,” kata Dirut PT Sritex Iwan Kurniawan Lukminto seusai acara tersebut. Putusan pailit mengakibatkan PT Sritex kehilangan hak untuk mengelola dan menguasai hartanya. Kedua hak itu berpindah ke tangan kurator dan hakim pengawas yang ditunjuk pengadilan.

Dampaknya, perusahaan itu tidak lagi bisa membeli bahan baku atau menjual barang-barang yang sudah produksi. Sejauh ini, pekerja yang dirumahkan atau diliburkan se mentara berasal dari sektorspinning dan weaving. Hanya finishing dan garmen yang masih beroperasi. Iwan mengatakan, pihaknya tetap memenuhi hak pekerja selama libur sementara. Pihaknya menjamin pegawainya dipekerjakan lagi ketika kondisi perusahaan kembali normal. (Yoga)


Grup Sinar Mas Jual Sebagian Kepemilikannya di Saham Smartfren

KT1 16 Nov 2024 Investor Daily (H)
Emiten Grup Sinar Mas, PT Dian Swatatika Sentosa Tbk (DSSA), menjual sebagian kepemilikan sahamnya di PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) kepada PT Bali Media Telekomunikasi (BMT). Penjualan 22,48 miliar sham FREN (4,72%) senilai Rp 562,16 miliar tersebut, merupakan upaya restrukturisasi internal dan penataan kembali portfolio investasi perseroan. "Melalui penjualan saham, perseroan berharap dapat berfokus pada pengembangan usaha dan pengelolaan portfolio investasi yang lebih sistematis," kata  manajemen Dian Swastika. Manajemen DSSA mengungkapkan,  sejak beberapa tahun terakhir perseroan telah menyusun dan melaksanakan rencana strategis untuk beralih menuju bisnis energi baru dan terbarukan serta pengembangan eksositem digital yang mendukung visi jangka panjang perseroan. Untuk menciptakan landasan bagi tercapainya rencana strategis, memberdayakan aset, dan melakukan penataan kembali porftolio investasi. "Sebagai kelanjutan, pada tanggal 15 November 2024, perseroan melaksanakan transaksi penjualan saham yang dimiliki oleh perseroan dalam FREN dengan nilai transaksi penjualan saham sebesar Rp562,15 miliar," tulis manajemen FREN. (Yetede)