;
Tags

Korporasi

( 1557 )

Melirik Kembali Emiten Grup Bakrie

HR1 17 Oct 2024 Kontan
Grup Bakrie diperkirakan akan mendapatkan keuntungan dari kebijakan pemerintahan presiden terpilih, Prabowo Subianto, yang berfokus pada keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi yang ambisius. Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, menilai bahwa hubungan akrab antara Prabowo dan keluarga Bakrie dapat menjadi katalis untuk mendorong perkembangan di sektor energi, tambang, dan manufaktur, di mana Grup Bakrie memiliki pengaruh signifikan melalui anak perusahaannya seperti BUMI, ENRG, BRMS, dan BNBR. Dileep Srivastava dari Bumi Resources mengharapkan kebijakan yang lebih kondusif, meskipun ia enggan berspekulasi mengenai regulasi yang akan datang. Raden Bagus Bima, praktisi pasar modal, menyarankan investor untuk selektif dalam memilih saham Grup Bakrie, terutama mengingat adanya sentimen beragam dan beberapa emiten yang terjerat masalah, seperti VIVA. William Hartanto juga memperingatkan agar investor waspada terhadap spekulasi politik yang sifatnya sementara. Hendra merekomendasikan saham BUMI, BRMS, dan ENRG sebagai pilihan investasi dengan target harga tertentu.

Vale Indonesia Buka Opsi Jual B2B

KT1 15 Oct 2024 Investor Daily (H)

PT Vale Indonesia Tbk (INCO)  membuka opsi untuk menjual nikel hijau (green nickel) secara business-to-businesss (B2B), alih-alih memperdagangkannya di pasar terbuka (open market). Mekanisme B2B dinilai lebih memberikan nilai tambah (added value) untuk saat ini. Chief of Sustainability & Corp Vale Indonesia Bernardus Irmanto memproyeksikan, arah bisnis nikel kemungkinan akan bergerak menuju green nickel. Kendati, transaksi volume perdagangan nikel ramah lingkungan tersebut di platform Metals-hub sekarang masih belum liquid. "Tapi arahnya akan kesana." kata pria yang akrab disapa Anto ini menjawab pertanyaan Investor Daily. metals-hub merupakan solusi hasil kerja sama antara Metals-hub dan London Metal Exchange (LME), platform perdagangan industri logam dunia, serta para pelaku pasar lain untuk memfasilitasi transisi menuju ekonomi hijau. Head of Market Development LME Robin Marten dalam pengumuman resminya, menyampaikan bahwa pasar nikel hijau belum cukup liquid untuk mendukung perdagangan aktif dalam kontrak berjangka. Alasannya, masih terdapat perdebatan mengenai definisi 'hijau' itu sendiri. Saat ini, standar 'hijau' yang berlaku pada industri nikel meliputi dekarbonisasi minimal 20 metrik ton Co2, kemudian pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, penghormatan terhadap hak-hak pekerja, manajemen air, serta integrasi bisnis yang lebih luas dan transparan. (Yetede)

Pyridam Akan Mengakusisi 7 Perusahaan Farmasi Asing

KT1 14 Oct 2024 Investor Daily (H)

Langkah agresif PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) dalam mencapai perusahaan farmasi  asing, tampaknya belum berhenti. Setelah sukses mengakuisisi 100% saham asal Australia, Probiotec Limited senilai AUS$ 252 juta atau setara Rp2,75 triliun pada pertengahan Juni 2024, emiten berkode PYFA ini menyatakan rencana  akuisisi lanjutan dengan tujuh target potensial. Aksi tersebut mendapat respon positif pelaku pasar, terlihat dari pergerakan harga saham PYFA yang melonjak 84% dalam satu bulan ini, dan melesat 140% selama tiga bulan terakhir. Manajemen Pyridam Farma mengungkapkan, pertumbuhan inorganik melalui merjer dan akuisisi menjadi salah satu strategi bisnis perseroan untuk mencatatkan kenaikan pendapatan ke depannya.

"Pertumbuhan inorganik dengan mengakuisi perusahaan farmasi lainnya untuk mendapatkan akses ke produk dan pasar baru, dengan 7 potensial  target perusahaan," tulis manajemen PFYA dalam materi paparan publik yang dirilis Minggu (13/10/2024). Manajemen PFYA menyebut, tujuh perusahaan yang menjadi target merjer dan akuisisi perseroan yakni satu perusahaan asal Myanmar, dan satu lagi dari Malaysia. Strategi pertumbuhan inorganik tersebut, diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan pendapatan 2025 hingga lebih dari 50% dibanding hanya mengandalkan secara organik. (Yetede)

Bird Pacu Pertumbuhan Kinerja di Tengah Persaingan Ketat

HR1 14 Oct 2024 Kontan
PT Blue Bird Tbk (BIRD) optimistis mencapai target bisnis 2024 dengan pertumbuhan dua digit hingga akhir tahun. Direktur Utama Blue Bird, Adrianto Djokosoetono, atau Andre, mengungkapkan bahwa pendapatan perusahaan pada paruh pertama 2024 telah tumbuh 11% dibandingkan tahun lalu, dengan laba sebesar Rp 263 miliar. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh layanan non-taksi dengan margin keuntungan mencapai 40%.

Pada tahun 2024, Blue Bird mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 2,5 triliun untuk menambah 7.000 armada baru, termasuk kendaraan non-taksi dan kendaraan listrik (EV). Selain itu, perusahaan terus mengembangkan aplikasi MyBluebird untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Hingga akhir 2024, Blue Bird menargetkan pertumbuhan double-digit, dengan kontribusi utama tetap berasal dari segmen taksi, sementara non-taksi menyumbang sekitar 10%-15%.

Blue Bird juga memperluas jangkauannya di Balikpapan, menyediakan berbagai layanan, seperti Bluebird taksi reguler, Goldenbird (sewa kendaraan), dan Cititrans (shuttle antarkota). Infrastruktur untuk pengisian daya mobil listrik Blue Bird di kota tersebut juga diharapkan selesai pada akhir tahun.

SILO Berupaya Memperkuat Bisnis Kesehatan

HR1 11 Oct 2024 Kontan
PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) sedang mempercepat kinerja dengan menyerap 60% dari anggaran belanja modal 2024 sebesar Rp 1,4 triliun hingga Rp 2 triliun. Menurut Head of Public Affairs Siloam, Jimmy Rambing, dana ini dialokasikan untuk akuisisi lahan dan konstruksi rumah sakit baru. SILO menargetkan pertumbuhan pendapatan dua digit dengan margin EBITDA sekitar 29%-30% pada akhir tahun.

Rencana ekspansi mencakup pengembangan fasilitas yang sudah ada, seperti pembukaan Siloam Hospitals Makassar pada akhir tahun ini dan Siloam Lippo Village Oncology Centre pada kuartal pertama 2025. SILO juga menargetkan pembukaan beberapa rumah sakit baru, termasuk Siloam Hospital di Surabaya (2025) dan Siloam Hospital Samarinda (2026).

Kinerja bisnis SILO tetap optimis, dengan pendapatan semester I-2024 yang tumbuh 14% menjadi Rp 6,01 triliun dibanding tahun sebelumnya. Meski pendapatan meningkat, laba bersih SILO mengalami penurunan hingga 3756% yoy menjadi Rp 314,28 miliar. SILO juga mencatat peningkatan jumlah pasien rawat inap dan rawat jalan, yang terus mendukung pertumbuhan bisnis rumah sakit di tengah ekspansi fasilitas mereka.

Akuisisi Sebagai Langkah Strategis untuk Mengendalikan Bisnis

HR1 11 Oct 2024 Kontan
Minat korporasi lokal dan global untuk menjadi perusahaan publik di Indonesia melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin besar. Alih-alih menggunakan skema IPO, banyak yang memilih metode backdoor listing, yaitu mengakuisisi perusahaan yang sudah tercatat di BEI untuk menjadi perusahaan terbuka. Sepanjang tahun ini, tercatat lima emiten yang melakukan perubahan pengendali dan nama perusahaan.

Salah satu contohnya adalah akuisisi 55% saham PT Kurniamitra Duta Sentosa Tbk (KMDS) oleh PT Dima Investindo, yang diungkapkan oleh Direktur Utama KMDS, Hengky Wijaya. Hengky menyatakan bahwa meskipun terjadi perubahan pengendali, kegiatan operasional perusahaan tidak terganggu. Selain itu, PT Lini Imaji Kreasi Ekosistem Tbk (FUTR) juga sedang dalam proses pergantian pengendali dengan minat akuisisi dari PT Hexa Prima Nusantara.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mencatat bahwa perusahaan asing tertarik untuk melakukan backdoor listing di BEI karena transparansi laporan keuangan perusahaan yang sudah terdaftar. Iman juga menekankan bahwa BEI berupaya menjaga likuiditas saham agar investor asing bisa dengan mudah masuk dan keluar pasar modal Indonesia.

CLEO Memanfaatkan Peluang di Bisnis Air Minum

HR1 10 Oct 2024 Kontan
PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO), produsen air minum dalam kemasan (AMDK), memperkuat posisinya dengan diversifikasi produk dan strategi berkelanjutan jangka panjang. Melisa Patricia, CEO CLEO, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dan populasi menjadi pendorong peningkatan permintaan AMDK. CLEO menawarkan produk untuk berbagai segmen, seperti Horeka, rumah tangga, dan galon berteknologi non-spill cap. Selain itu, CLEO memproduksi sparkling water untuk memperluas pilihan konsumen.

Dari sisi keuangan, CLEO mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 75% yoy pada semester I-2024, menjadi Rp 225,04 miliar. Penjualan juga meningkat 33% yoy menjadi Rp 1,29 triliun, didorong oleh ekspansi distribusi dan efisiensi produksi. Untuk kualitas, CLEO mengedepankan teknologi nano filter dalam proses air murni dan menggunakan kemasan bebas BPA. CLEO juga menerapkan ekonomi sirkular dengan daur ulang plastik r-PET.

Selain itu, CLEO berhasil meraih sertifikasi industri hijau untuk pabrik di Pandaan, dan berencana membuka tiga pabrik baru di Palu, Pontianak, dan Pekanbaru untuk memperkuat jangkauan pasar dan mengurangi biaya logistik.

TPIA Fokus pada Inovasi dan Ekspansi Bisnis

HR1 09 Oct 2024 Kontan
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terus menguatkan posisinya di industri energi dan kimia melalui akuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura. Direktur SDM dan Urusan Korporat Chandra Asri, Suryandi, menyatakan bahwa akuisisi ini memungkinkan sinergi antara kilang SECP dengan pabrik di Cilegon, yang akan mendukung distribusi produk petroleum untuk kebutuhan domestik. Selain itu, langkah ini memperluas jangkauan Chandra Asri ke pasar Asia Tenggara dan memperkuat rantai pasokan perusahaan. Dengan dukungan teknologi SECP dan kolaborasi dengan Glencore, Chandra Asri optimis dapat bersaing di pasar global serta terus berinovasi dan mengembangkan pasar di luar Asia Tenggara.

Saham PGAS Siap Menggebrak Pasar

HR1 08 Oct 2024 Kontan

Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) masih cukup solid di semester pertama 2024. Kabar baiknya, ke depan penjualan Liqufied Natural Gas (LNG) akan mendukung kinerja PGAS di tengah penurunan pasokan gas bumi yang dialirkan melalui pipa. Analis Ciptadana Sekuritas, Arief Budiman mengatakan laba bersih PGAS masih bertumbuh 28% year on year (yoy) menjadi US$ 187 juta pada semester I-2024. Capaian ini berkat pendapatan yang naik 3,1% yoy menjadi US$ 1.839 juta karena margin distribusi gas yang melebar. Meski begitu penjualan dan laba bersih cukup tertekan selama kuartal kedua 2024. Laba bersih turun 46% secara kuartalan menjadi sebesar US$ 65 juta. Hasil tersebut sejalan dengan pendapatan yang turun 6,3% secara kuartalan menjadi US$ 890 juta. 

Dus, Arief melihat kinerja PGAS di semester pertama sejalan dengan perkiraan. Periode semester satu biasanya memang relatif lebih kuat daripada semester kedua, karena PGAS membebankan beberapa biaya ataupun pengeluaran di kuartal keempat. "Kami melihat peningkatan offtake LNG sebagai hal yang positif bagi PGAS, karena akan membantu meningkatkan margin," ujar Arief dalam riset 27 Agustus 2024. Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta mengatakan, PGAS saat ini tengah melanjutkan berbagai pembangunan infrastruktur LNG dan gas di Semarang dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang menghubungkan jaringan pipa Cisem-1. Saat ini proyek Cisem-1 hanya berkontribusi sekitar 1,65 mmscfd terhadap volume transmisi gas secara keseluruhan atau sekitar 1% per Agustus 2024. Meski begitu, infrastruktur yang dibangun PGAS ini akan bermanfaat bagi prospek jangka panjang. 

Ke depannya, Cisem-2 akan menghubungkan Semarang dengan Cirebon dan direncanakan akan selesai pada kuartal IV-2025. Namun, manajemen PGAS menegaskan bisnis perdagangan LNG saat ini akan ditangguhkan sementara hingga kasus Gunvor diselesaikan. PGAS memutuskan untuk tidak memasok kargo LNG yang dapat diperoleh PGAS dari Petronas (Malaysia) ke Tiongkok. Analis Bahana Sekuritas Dimas Wahyu Putra menyarankan buy on weakness PGAS dengan target harga Rp 1.700. "Investor dapat stop loss , jika PGAS turun di bawah Rp 1.400 per saham," jelas Dimas, Senin (7/10).

TOTL Tetap Optimis Capai Target

HR1 08 Oct 2024 Kontan

Emiten jasa konstruksi PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) berkomitmen mengejar target pendapatan yang telah ditetapkan pada sisa tahun 2024. Pada paruh pertama tahun ini, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 112,65 miliar, meningkat 66,6% secara tahunan atau year on year (yoy) jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 67,61 miliar. Kenaikan ini juga tercermin dalam laba per saham yang naik jadi Rp 33,04 dari sebelumnya Rp 19,83. Adapun untuk pendapatan usaha mencapai Rp 1,43 triliun, atau naik 18,32% yoy. TOTL menunjukkan kinerja yang solid. Hingga Agustus 2024, perusahaan berhasil meraih nilai kontrak baru sebesar Rp 4,1 triliun. Sekretaris Perusahaan TOTL, Anggie S. Sidharta bilang, meskipun perusahaan telah membukukan kontrak sebesar Rp 3,3 triliun pada semester pertama, target kontrak baru tetap mengacu pada revisi sebelumnya. TOTL berfokus pada beberapa sektor yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian kontrak baru. Saat ini, sektor yang paling berkembang meliputi pembangunan gedung hotel, industri, dan pendidikan. Namun, tantangan tetap ada di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. TOTL berkomitmen untuk menjaga arus kas agar tetap positif, terutama di tengah gejolak politik domestik dan isu geopolitik yang masih menjadi perhatian. 

"Kami akan tetap waspada dan prudent dalam strategi kami," kata Anggie. Terkait belanja modal atau capital expenditure (capex), sampai kuartal kedua 2024, TOTL telah menyerap sekitar 30,4% dari total anggaran Rp 10 miliar, yaitu sebesar Rp 3,04 miliar. Anggie menjelaskan, sisa anggaran akan difokuskan untuk pengadaan peralatan proyek, serta produk informasi teknologi (IT) dan software IT. Namun, Anggie berharap adanya regulasi dan insentif yang mendukung pengembang dapat memperlancar proses penyelesaian proyek. "Namun tentunya Perusahaan akan tetap menjalankan bisnis dengan kehati-hatian dan terus mengupayakan cash flow tetap positif," ujarnya. Sebelumnya, di semester I 2024, TOTL telah melakukan revisi atas nilai target kontrak baru pada tahun ini, yakni dari Rp 3,5 triliun menjadi Rp 4,5 triliun. Alhasil, efek dari pemangkasan suku bunga The Fed akan menjadi salah satu faktor dalam penentuan target kinerja TOTL untuk tahun 2025.