;
Tags

Korporasi

( 1557 )

Danantara Siap Ekspansi, Pasar Menanti Aksi Nyata

HR1 05 Feb 2025 Kontan (H)
Dengan pengesahan UU BUMN dalam Rapat Paripurna DPR, Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) kini resmi menjadi pengelola utama BUMN di Indonesia, mengambil alih sebagian besar peran Kementerian BUMN. Dengan total aset mencapai Rp 10.000 triliun, Danantara akan mengelola tujuh BUMN utama, termasuk Pertamina, PLN, Telkom Indonesia, serta tiga bank besar (BRI, Mandiri, dan BNI).

Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Ermarini, menyatakan bahwa pembentukan Danantara bertujuan untuk meningkatkan tata kelola dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri BUMN, Erick Thohir, menambahkan bahwa Danantara akan membantu pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% per tahun melalui pengelolaan dividen dan investasi yang lebih optimal.

Kepala BPI Danantara, Muliaman Darmansyah Hadad, menyampaikan terima kasih atas dukungan berbagai pihak dan menyebut pihaknya sedang menyusun langkah awal untuk operasional Danantara. Meski belum mengungkap strategi konkret, sumber internal menyebut Danantara akan fokus pada investasi dalam negeri sebelum berekspansi ke luar negeri.

Pengamat BUMN Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menekankan bahwa keberhasilan Danantara bergantung pada koordinasi yang baik dengan Kementerian BUMN. Ia menyarankan agar Danantara mengambil contoh dari China dalam mengelola BUMN dan memastikan sinergi antara perusahaan milik negara dan swasta. Toto juga menyoroti pentingnya pemetaan sektor prioritas investasi agar aset BUMN bisa dikelola secara optimal.

Sementara itu, Pengamat BUMN, Herry Gunawan, membandingkan Danantara dengan Temasek (Singapura) dan Khazanah Nasional (Malaysia). Ia menyoroti pentingnya kepastian apakah aset jumbo Danantara berbentuk kas atau aset lainnya, mengingat kas dan setara kas tujuh BUMN di bawah Rp 900 triliun. Herry menyarankan agar Danantara berperan sebagai katalis investasi daripada hanya berinvestasi sendiri.

Di sisi lain, Penasihat Khusus Presiden, Bambang Brodjonegoro, menegaskan bahwa Danantara tidak hanya berfungsi sebagai super holding BUMN, tetapi juga sebagai alat untuk menggunakan leverage guna menarik investasi lokal dan asing.

Danantara diharapkan bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan tata kelola yang lebih baik dan investasi yang lebih agresif, tetapi keberhasilannya akan sangat bergantung pada strategi implementasi dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Prospek Cerah di Tengah Pemulihan Permintaan

HR1 05 Feb 2025 Kontan
Meskipun industri semen masih menghadapi kelebihan pasokan dan lesunya daya beli masyarakat, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) masih memiliki peluang pertumbuhan, terutama dari ekspansi ke luar Jawa dan dorongan proyek infrastruktur pemerintah.

Analis Maybank Sekuritas, Kevin Halim, menilai INTP sebagai produsen semen dengan operasi yang efisien, terutama karena lokasi pabriknya yang strategis, termasuk pabrik terbesar di Citeureup dengan kapasitas 18,1 juta ton. Akuisisi Semen Grobogan semakin memperkuat posisi INTP di pasar Jawa, sekaligus membuka peluang ekspansi ke Sumatera. Kevin juga memperkirakan margin EBITDA INTP akan lebih tinggi dibandingkan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), dengan pangsa pasar yang tumbuh menjadi 29,6% pada 2024 dari 25,9% pada 2019.

Namun, Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menyoroti tantangan utama bagi INTP, yaitu oversupply semen dan ketatnya persaingan harga yang menekan profitabilitas. Meski demikian, Aditya melihat potensi pemulihan permintaan semen dari proyek pembangunan 3 juta rumah pada 2025, kelanjutan proyek IKN, serta Proyek Strategis Nasional (PSN) lainnya. Ia memproyeksikan konsumsi semen domestik tumbuh 1% - 2,5% pada 2025, yang diharapkan meningkatkan rasio utilisasi INTP menjadi 60%.

Analis OCBC Sekuritas, Budi Rustanto, juga optimistis terhadap pertumbuhan INTP, didukung oleh penurunan suku bunga yang berpotensi mendorong penjualan properti. Ia mencatat bahwa permintaan semen curah meningkat di Jakarta dan Jawa Barat, terutama karena proyek infrastruktur seperti MRT, LRT, dan jalan tol.

Secara keseluruhan, meskipun INTP menghadapi tantangan di industri semen, strategi ekspansi dan dukungan proyek nasional dapat membantu perusahaan mempertahankan pangsa pasar dan meningkatkan profitabilitasnya dalam jangka panjang.

Prospek Cerah di Tengah Pemulihan Permintaan

HR1 05 Feb 2025 Kontan
Meskipun industri semen masih menghadapi kelebihan pasokan dan lesunya daya beli masyarakat, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) masih memiliki peluang pertumbuhan, terutama dari ekspansi ke luar Jawa dan dorongan proyek infrastruktur pemerintah.

Analis Maybank Sekuritas, Kevin Halim, menilai INTP sebagai produsen semen dengan operasi yang efisien, terutama karena lokasi pabriknya yang strategis, termasuk pabrik terbesar di Citeureup dengan kapasitas 18,1 juta ton. Akuisisi Semen Grobogan semakin memperkuat posisi INTP di pasar Jawa, sekaligus membuka peluang ekspansi ke Sumatera. Kevin juga memperkirakan margin EBITDA INTP akan lebih tinggi dibandingkan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), dengan pangsa pasar yang tumbuh menjadi 29,6% pada 2024 dari 25,9% pada 2019.

Namun, Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menyoroti tantangan utama bagi INTP, yaitu oversupply semen dan ketatnya persaingan harga yang menekan profitabilitas. Meski demikian, Aditya melihat potensi pemulihan permintaan semen dari proyek pembangunan 3 juta rumah pada 2025, kelanjutan proyek IKN, serta Proyek Strategis Nasional (PSN) lainnya. Ia memproyeksikan konsumsi semen domestik tumbuh 1% - 2,5% pada 2025, yang diharapkan meningkatkan rasio utilisasi INTP menjadi 60%.

Analis OCBC Sekuritas, Budi Rustanto, juga optimistis terhadap pertumbuhan INTP, didukung oleh penurunan suku bunga yang berpotensi mendorong penjualan properti. Ia mencatat bahwa permintaan semen curah meningkat di Jakarta dan Jawa Barat, terutama karena proyek infrastruktur seperti MRT, LRT, dan jalan tol.

Secara keseluruhan, meskipun INTP menghadapi tantangan di industri semen, strategi ekspansi dan dukungan proyek nasional dapat membantu perusahaan mempertahankan pangsa pasar dan meningkatkan profitabilitasnya dalam jangka panjang.

Bongkar Pagar Laut dan Perusahaan Aguan, Demo PSN PIK 2, hingga Kisruh LPG 3 Kg

KT1 05 Feb 2025 Tempo
Pembongkaran pagar laut di perairan Tangerang dan Bekasi, demo ribuan warga Banten melakukan aksi menolak pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) PIK 2, hingga kisruh langkanya liquefied petroleum gas (LPG) atau elpiji subsidi 3 kilogram (kg) buntut haram dijual eceran, mewarnai kabar ekonomi sepekan lalu. Dikerjakan mulai 18 Januari 2025 lalu, pembongkaran pagar laut di Tangerang yang berpolemik setidaknya telah tercabut 18,7 kilometer dari 30,16 kilometer hingga 28 Januari. Namun, operasi tersebut berhenti selama 7 hari berturut-turut hingga Senin kemarin, 3 Februari 2024. Di sisi lain, kendati sudah disegel oleh dua kementerian, pagar laut di perairan Bekasi juga tak kunjung dibongkar. Pagar bambu sepanjang dua kilometer dan lebar 70 meter yang membentang di perairan di Desa Segarajaya itu tidak memiliki izin Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL).

Sementara itu, ribuan warga Banten dilaporkan melakukan demonstrasi pada akhir pekan, Sabtu, 1 Februari. Mereka menuntut agar Presiden Prabowo Subianto menolak dan membubarkan pembangunan PSN PIK 2. Teranyar, masyarakat mengeluhkan langkanya gas melon, sebutan lain LPG 3 kg. Pemerintah membantah kelangkaan disebabkan kurangnya pasokan. Belakangan ternyata pemangku kebijakan melarang gas melon dijual lewat pengecer alias kudu langsung beli di pangkalan. Pagar laut Tangerang membuat terungkap perusahaan-perusahaan yang memiliki hak guna bangunan (HGB) atasnya. Pemilik saham PT Cahaya Inti Sentosa adalah PT Pantai Indah Kapuk Dua (PANI), PT Agung Sedayu, dan PT Tunas Mekar. Agung Sedayu Group milik Sugianto Kusuma atau Aguan dan Salim Group milik Anthoni Salim menjadi pemegang saham di PANI. PT PANI ini memiliki 88.500 lembar saham atau senilai Rp 88 miliar.

Menurut data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), terdapat dua perusahaan pemilik sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) pagar laut sepanjang 30,16 kilometer di perairan Tangerang itu. Lantas, perusahaan mana yang menjadi dalang dari pagar laut tersebut? Dikutip dari Antara, pagar laut di Tangerang dikuasai perusahaan PT Intan Agung Makmur yang memiliki sertifikat HGB sebanyak 234 bidang dan PT Cahaya Inti Sentosa sebanyak 20 bidang. Tak hanya dimiliki dua perusahaan, sertifikat itu juga dimiliki perorangan, yakni sebanyak sembilan bidang dan Surat Hak Milik (SHM) sebanyak 17 bidang. Secara total, jumlah pagar laut di Tangerang memiliki sertifikat HGB hingga 263 bidang. (Yetede)


Pemerintah Menetapkan Pengecer LPG 3 Kilogram menjadi Subpenyalur Resmi Pertamina

KT1 05 Feb 2025 Investor Daily (H)
Pemerintah menetapkan pengecer LPG 3 kilogram menjadi subpenyalur resmi Pertamina. Hal ini sebagai langkah penataan distribusi "gas melon". Pengecer merupakan garda terdepan dalam penyaluan LPG subsidi lantaran keberadaannya mudah terjangkau masyarakat.  Peningkatan status pengecer menjadi subpenyalur sebenarnya sudah berlangsung sejak September 2024. Terdapat sekitar 735 ribu pengecer yang tersebar di 29 provinsi di Indonesia. Namun hingga akhir 2024 hanya 299 pengecer yang tercatat menjadi subpenyalur, kemudian sebanyak 1.260 pengecer dalam proses pengangkatan. Sedangkan 310 ribu pengecer tidak bersedia menjadi subpenyalur. Kelangkaan "gas melon" di masyarakat beberapa hari terakhir lantaran 310 ribu pengecer tidak bisa mnegakses LPG 3 kg dari pangkalan resmi Pertamina. Kini pengecer kembali mendapatkan akses tersebut setelah berstatus penyalur. Dengan berstatus subpenyalur maka tidak bisa lagi menjual lebih dari 20 ribu per tabung. Margin subpenyalut ditetapkan sekitar Rp3000-4000 per tabung LPG 3 kg. Adapun harga LPG dari tingkat agen  yang dijual ke pangkalan sebesar Rp 12 ribu per tabung. Dari pangkalan ke pengecer dijual Rp 16 ribu per tabung. (Yetede)

Saham GoTo Memanas

KT1 05 Feb 2025 Investor Daily (H)
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menarik perhatian pelaku pasar modal, seiring santernya kabar penggabungan usaha (merger) dengan raksasa transportasi berbasis online sekaligus kompetitor terkuat yakni Grab. Wacana merger dengan total kapitalisasi pasar (market cap) mencapai lebih dari Rp400 triliun tersebut, mendapat respon positif dari investor. Bahkan, saham GOTO diyakini bisa melaju hinga Rp 150 per saham. Pada perdagangan Selasa (4/2/2025), saham GOTO ditutup menguat 7,41% ke level Rp 87. Sejak awal tahun saham emiten teknologi tersebut telah melesat 22,54%, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 103,63 triliun. Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, kabar merger antara Gojek dan Grab memicu spekulasi besar terhadap prospek saham GOTO. "Jika kesepakatan ini benar-benar terjadi, dampaknya bisa sangat signifikan, baik dari sisi bisnis maupun pergerakan saham," ujar dia kepada Investor Daily. Dari perspektif industri, menurut Hendra penggabungan dua raksasa transportasi digital ini akan memperkuat dominasi di Asia Tenggara, mengurangi persaingan langsung. Da meningkatkan efisiensi operasional. (Yetede)

Tak terbantahkan Lagi Tata Kelola Pekerja Migran jadi Prioritas

KT1 05 Feb 2025 Investor Daily (H)

Tidak terbantahkan lagi bahwa keberadaan pekerja migran Indonesia (PMI) memiliki kontribusi signifikan ke perekonomian nasional, terutama pada penghimpunan devisa dari remitansi yang telah berlangsung sejak tahun 1980-an. Kontribusi lainnya adalah turut memangkas tingkat kemiskinan dan pengangguran sehingga kesejahteraan masyarakat sejumlah daerah di Tanah Air terangkat. Ini di antaranya tergambar pada perbaikan rumah dan  kerbelanjutan sekolah anak-anak. Data Bank Indonesia (BI) menyebutkan, nilai remitansi PMI pada tahun 2023 tercatat sebesar US$ 14,22 atau setara dengan Rp232,71 triliun (kurs Rp 16.365/dolar AS). Nilai ini hampir dua kali lipat atau melonjak hingga 91,64% dari posisi sepuluh  tahun silam yang baru US$ 7,42 miliar atau sekitar RP 121,43 triliun.

Sementara selama 2024 hingga kuartal II, nilai remintansi PMI mencapai US$ 11,63 miliar, naik 10,34% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 10,54 miliar. Bahkan, data yang sama mengungkapkan, nilai remintansi PM selama 2023 tersebut separuh lebih atau 65,77% dari investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) ke Indonesia pada periode yang sama yang mencapai US$ 21,62 miliar atau Rp353,81 triliun.  Sedangkan selama 2024, nilai investasi langsung asing yang masuk ke Indonesia mencapai US$ 18,99 miliar, meningkat 15,23% dibandingkan nilai FDI periode sama tahun sebelumnya yang tercatat US$ 16,48 miliar.  (Yetede)

Saham Buyback, Sinyal Positif Bagi Investor

HR1 04 Feb 2025 Kontan
Sejumlah bank besar pelat merah berencana melakukan buyback saham, termasuk Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang telah menyiapkan dana Rp 3 triliun. Periode buyback dijadwalkan berlangsung antara 12 Maret 2025 hingga 11 Maret 2026, dengan keputusan akhir menunggu hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 11 Maret 2025.

Bank Negara Indonesia (BBNI) juga berencana melakukan buyback, seperti diungkapkan oleh Direktur Utama BBNI, Royke Tumilaar, meskipun nilai dana yang disiapkan belum diumumkan. Sementara itu, Bank Mandiri (BMRI) masih mempertimbangkan opsi buyback, sebagaimana disampaikan oleh Sigit Prastowo, Director of Finance & Strategy BMRI.

Menurut CEO Edvisor.id, Praska Putrantyo, aksi buyback ini menunjukkan optimisme manajemen terhadap valuasi saham yang saat ini masih tergolong murah. Hal ini bisa berdampak positif terhadap harga saham, mengingat saham BBRI telah terkoreksi 26,41%, BBNI turun 16,87%, dan BMRI turun 13,11% secara tahunan.

Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, memproyeksikan kenaikan harga saham BBRI ke Rp 4.600, BBNI ke Rp 5.000, dan BRIS ke Rp 3.350. Ia juga mencatat bahwa BBRI memiliki yield dividen yang menarik.

Aksi buyback ini diperkirakan dapat meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong kenaikan harga saham bank-bank pelat merah tersebut.

Harga Pulp Jadi Faktor Kunci di Industri Kertas

HR1 04 Feb 2025 Kontan
Kinerja PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) pada tahun 2025 diproyeksikan lebih stabil, didorong oleh fokus pada pengembangan produk hilir dan ekspansi pabrik baru. Analis RHB Sekuritas, Wendy Chandra, meyakini bahwa strategi ini akan memberikan harga jual yang lebih stabil serta meningkatkan volume produksi dan kinerja perusahaan.

INKP menargetkan dua pabrik kertas baru mulai beroperasi pada April dan Juni 2025, dengan 80% produksinya akan diekspor ke China, Filipina, dan Eropa. Produk hilir seperti cangkir kertas dan kemasan makanan juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi perusahaan.

Harga pulp, bahan baku utama kertas, diprediksi akan meningkat pada kuartal I-2025, mencapai US$ 560 per ton, sebelum mencerminkan dampaknya pada pendapatan di kuartal II-2025. Selain itu, fluktuasi harga bahan baku dan ketidakpastian permintaan global menjadi tantangan utama yang harus diantisipasi.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai INKP memiliki peluang keuntungan dari selisih nilai tukar, mengingat ekspor berkontribusi 54,62% terhadap pendapatan kuartal ketiga 2024. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp 12.200 per saham, sementara Wendy Chandra menetapkan target Rp 13.625 per saham.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyarankan strategi buy on weakness, dengan harga saham yang saat ini berada di level support Rp 6.375 dan resistance Rp 6.900 per saham, sebelum menguji target Rp 7.325 per saham.

Dengan ekspansi pabrik, stabilisasi harga, serta peningkatan ekspor, INKP diperkirakan akan mencetak kinerja lebih positif di tahun mendatang, meskipun tetap menghadapi tantangan fluktuasi harga bahan baku dan kondisi ekonomi global.

Harga Pulp Jadi Faktor Kunci di Industri Kertas

HR1 04 Feb 2025 Kontan
Kinerja PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) pada tahun 2025 diproyeksikan lebih stabil, didorong oleh fokus pada pengembangan produk hilir dan ekspansi pabrik baru. Analis RHB Sekuritas, Wendy Chandra, meyakini bahwa strategi ini akan memberikan harga jual yang lebih stabil serta meningkatkan volume produksi dan kinerja perusahaan.

INKP menargetkan dua pabrik kertas baru mulai beroperasi pada April dan Juni 2025, dengan 80% produksinya akan diekspor ke China, Filipina, dan Eropa. Produk hilir seperti cangkir kertas dan kemasan makanan juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi perusahaan.

Harga pulp, bahan baku utama kertas, diprediksi akan meningkat pada kuartal I-2025, mencapai US$ 560 per ton, sebelum mencerminkan dampaknya pada pendapatan di kuartal II-2025. Selain itu, fluktuasi harga bahan baku dan ketidakpastian permintaan global menjadi tantangan utama yang harus diantisipasi.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai INKP memiliki peluang keuntungan dari selisih nilai tukar, mengingat ekspor berkontribusi 54,62% terhadap pendapatan kuartal ketiga 2024. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp 12.200 per saham, sementara Wendy Chandra menetapkan target Rp 13.625 per saham.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyarankan strategi buy on weakness, dengan harga saham yang saat ini berada di level support Rp 6.375 dan resistance Rp 6.900 per saham, sebelum menguji target Rp 7.325 per saham.

Dengan ekspansi pabrik, stabilisasi harga, serta peningkatan ekspor, INKP diperkirakan akan mencetak kinerja lebih positif di tahun mendatang, meskipun tetap menghadapi tantangan fluktuasi harga bahan baku dan kondisi ekonomi global.