;
Tags

Korporasi

( 1584 )

Komposisi Anggaran dan Rencana Belanja Kementerian PU

KT1 14 Feb 2025 Tempo
Anggaran Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU) batal dipangkas sebesar Rp 81,38 triliun. Usai pemerintah melakukan rekonstruksi, pagu awal yang semula Rp 110,95 akhirnya dipangkas Rp 60,49 triliun. Pagu indikatif Kementerian PU tahun ini menjadi Rp 50,48 triliun dan sudah disepakati dalam rapat Komisi V DPR bersama pemerintah pada Kamis, 13 Februari 2025. Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan Rp 50,48 triliun anggaran kementeriannya terdiri dari rupiah murni senilai Rp 34,389 triliun dan non-rupiah murni Rp 16,096 triliun. Anggaran Rp 34,389 triliun dari rupiah murni ini akan dimanfaatkan untuk belanja nonrutin sebesar Rp 29,721 triliun dan belanja rutin Rp 4,664 triliun.

Adapun belanja rutin tersebut, di antara untuk preservasi atau pemeliharaan jalan. Program ini masuk di Direktorat Jenderal Bina Marga yang diberi jatah anggaran Rp 7,210 triliun. “Insyaallah setelah penambahan anggaran (hasil rekonstruksi) kami bisa melakukan preservasi,” kata Dody Hanggodo dalam rapat kemarin. Namun, sementara ini ia baru merencanakan preservasi jalan selama 6 bulan. “Karena waktu pendek, tapi setelah politik anggaran, akan kami isi lagi supaya bisa 12 bulan,” kata Dody. Selain preservasi jalan, Dody Hanggodo merencanakan 8.000 titik Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) dengan anggaran Rp 1,8 triliun dan 1.025 titik untuk Cipta Karya senilai Rp 700 miliar. Anggaran Rp 14,843 triliun ini di antaranya dialokasikan untuk bencana alam, lumpur Sidoarjo, tunggakan dan eskalasi, pengadaan tanah, biaya operasional penyelenggaraan pengadaan (BOPP), irigasi, rawa, jaringan irigasi air tanah, P3-TGAI. 

Direktorat Bina Marga (Rp 7,210 triliun) Anggaran Rp 7,210 triliun antara lain dibelanjakan untuk bencana alam, tunggakann, tanah dan BOPP, kerja sama pemerintah dengan badan usaha availability payment atau KPBU-AP, preservasi jalan (6 bulan), rehabilitasi jembatan (1 tahun), penggantian jembatan, jembatan gantung, multi years contract (MYC) lanjutan, penanganan longsor, serta sebagian tunggakan IKN. Direktorat Jenderal Cipta Karya (Rp 2,940 triliun) Alokasi belanja Cipta Karya antara lain untuk bencana alam, proyek infrastruktur berbasis masyarakat (Pamsimas, Sanimas, TPS3R, PISEW, dan PKE), tunggakan, tanah dan BOPP, sebagian tunggakan IKN, multi years contract (MYC) lanjutan triwulan I, serta OPOR (operasi, pemeliharaan, optimalisasi dan rehabilitasi). Direktorat Jenderal Prasarana Strategis (Rp 1,991 triliun) Dengan anggaran hampir Rp 2 triliun, Kementerian PU akan membelanjakan untuk rehabilitasi madrasah dan MYC lanjutan di pasar, stadion, dan gedung-gedung universitas. (Yetede)

Investor Kembali Meramaikan IKN

HR1 14 Feb 2025 Kontan
Proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) terus berlanjut dengan rencana groundbreaking tahap kesembilan yang akan melibatkan investasi sebesar Rp 6,49 triliun dari swasta dan BUMN. Kepala Otorita IKN (OIKN) Basuki Hadimuljono menyatakan bahwa investasi ini akan mencakup berbagai sektor, seperti pendidikan, perhotelan, hunian, ritel, dan perkantoran.

Beberapa perusahaan yang akan berinvestasi antara lain Universitas Negeri Surabaya (Rp 150 miliar untuk kampus), PT Makmur Berkah Hotel (Rp 950 miliar untuk hotel berbintang), PT Citadel Group Indonesia dari Malaysia (Rp 3,97 triliun untuk townhouse dan mixed-use), PT Vitka Delifood (Rp 20 miliar untuk restoran), serta PT Puri Persada Lampung (Rp 1,4 triliun untuk gedung perkantoran).

Namun, ekonom Wijayanto Samirin dari Universitas Paramadina menilai bahwa masuknya investor swasta ke IKN lebih dipengaruhi faktor politik dan kepentingan lain, bukan semata-mata alasan bisnis. Ia juga menyoroti bahwa anggaran negara untuk IKN terbatas, sehingga pemerintah kini lebih mengandalkan investasi swasta.

Dengan rencana investasi ini, pembangunan IKN akan terus berjalan, meskipun tantangan terkait pendanaan dan motif investasi masih menjadi perhatian.

Inovasi Teknologi Mitra Keluarga Dorong Gaya Hidup Sehat

HR1 14 Feb 2025 Kontan
Prospek PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) pada 2025 tetap positif, didukung oleh inovasi layanan medis, ekspansi rumah sakit, dan strategi efisiensi biaya. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo menilai bahwa inovasi seperti Somatom Force CT System, ear and hearing center, serta digestive system center dapat menarik lebih banyak pasien, terutama dengan bertambahnya rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas, Ismail Fakhri Suweleh, MIKA mencatat pertumbuhan jumlah pasien rawat inap dan rawat jalan sebesar 4,7% dan 5,2% pada 2024. Pendapatan tahun 2025 diproyeksikan mencapai Rp 5,4 triliun dengan peningkatan marjin EBITDA. Namun, Ismail juga mencatat tantangan dari turunnya volume pasien akibat basis efek tinggi dari wabah demam berdarah di 2024.

Analis Indopremier Sekuritas, Andrianto Saputra menambahkan bahwa perbaikan layanan cashless dengan asuransi swasta sejak September 2024 turut meningkatkan trafik pasien, sehingga EBITDA MIKA tumbuh 20% yoy pada kuartal IV-2024. Ia memperkirakan pendapatan MIKA pada 2025 akan mencapai Rp 5,73 triliun dengan EBITDA sebesar Rp 2,14 triliun.

Meskipun demikian, MIKA tetap menghadapi tantangan, seperti melemahnya daya beli masyarakat akibat efisiensi APBN dan tingginya inflasi medis di Indonesia. Praska menegaskan bahwa kondisi ekonomi yang tidak stabil dapat memengaruhi pertumbuhan perusahaan.

Para analis tetap optimis terhadap saham MIKA dengan rekomendasi buy, dengan target harga yang diberikan oleh Praska di Rp 3.100, Andrianto di Rp 3.450, dan BRI Danareksa di Rp 3.400. Namun, pertumbuhan volume pasien dan likuiditas saham masih menjadi tantangan utama bagi MIKA di tahun mendatang.

Konsistensi BRI Dalam Melayani dan Memberdayakan UMKM

KT1 13 Feb 2025 Investor Daily (H)
Konsistensi BRI dalam melayani dan memberdayakan UMKM tidak hanya berhasil memperkuat ekonomi kerakyatan, namun juga menghasilkan kinerja keuangan yang stabil. Di tengah tantangan tekanan ekonomi global yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi global yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik, serta tantangan likuiditas bagi industri perbankan, BRI mampu menunjukkan resilensi  kinerja dengan mencetak dana bersih secara  konsolidasi sebesar Rp60,64 triliun di sepanjang tahun 2024. Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama BRI  Sunarso,  dalam press conference Pemaparan Kinerja Keuangan BRI Tahun 2024 di Jakarta. "Hingga akhir tahun 2024, BRI berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp60,64 triliun. Pencapaian ini menunjukkan resilensi kinerja dan kemampuan BRI dalam meng-create value secara konsisten bagi pemegang saham, pemangku kepentingan, serta masyarakat luas ditengah keberpihakan BRI kepada UMKM," jelas Sunarso. Sementara itu, total aset BRI hingga akhir Desember mencapai Rp1.992,98 triliun atau tumbuh 1,42% secara year on year (yoy). Pertumbuhan ini didorong penyeluran kredit yang selektif dan berkualitas dengan tetap berfokus pada UMKM. (Yetede)

Astra International Duduki Peringkat 118 Perusahaan Terbaik se-Asia Pasifik Versi Majalah Time

KT1 13 Feb 2025 Tempo
PT Astra International Tbk. menyabet peringkat 118 dalam nominasi World Best Companies Asia Pacific 2025 versi Majalah Time. Perusahaan multinasional ini masuk menjadi salah satu dari 500 perusahaan di Asia Pasifik yang dirangking oleh mingguan asal Amerika Serikat itu. Penilaian didasarkan pada tiga aspek, yakni survei kepuasan karyawan, kinerja keuangan, dan transparansi keberlanjutan atau data mengenai lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan. Dari kriteria itu, perusahan yang didirikan sejak 1957 ini memperoleh nilai 88.26. Head of Corporate Communications Astra International Boy Kelana Soebroto menyambut baik pengakuan oleh Majalah Time yang bekerja sama dengan Statista, lembaga riset penyedia data dan pemeringkat pasar serta konsumen itu. Pengakuan ini, ujar dia, bertepatan dengan momentum hari ulang tahun ke-68 Astra pada Februari 2025.

“Semoga dapat menjadi motivasi untuk Insan Astra yang senantiasa menjadi kekuatan dan mengantarkan Astra dapat bergerak bersama hari ini dan masa depan Indonesia,” ujar Boy dalam keterangan resminya, Kamis, 13 Februari 2025. Dalam daftar ini, separuh dari 10 perusahaan teratas merupakan perusahaan perbankan atau perusahaan yang bergerak di jasa keuangan. DBS, bank asal Singapura, menempati peringkat pertama. Ia disusul Maybank dari Malaysia yang menduduki peringkat kedua. Dari 10 perusahaan teratas, tiga di antaranya adalah perusahaan otomotif yang memimpin transisi ke kendaraan listrik (EV). Kia, produsen otomotif asal Korea Selatan, menempati posisi ketiga dalam datar tersebut. Nissan Motor Corporation dari Jepang dan Hyundai dari Korea Selatan menyusul di peringkat 9 dan 10. World's Best Companies oleh Majalah Time adalah daftar tahunan yang merangkum perusahaan-perusahaan terbaik dari berbagai penjuru dunia. Daftar ini disusun berdasarkan hasil survei oleh Majalah Time bekerja sama dengan lembaga riset Statista. Tahun lalu, Astra juga masuk dalam jajaran perusahaan terbaik dunia atau “World’s Best Companies of 2024” versi Majalah Time. Saat itu, Astra menempati posisi ke-435 dari 1.000 perusahaan global. (Yetede)

PT Freeport Indonesia Kirim Perdana 125 Kg Emas Batangan ke Antam

KT1 13 Feb 2025 Tempo
PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk pertama kalinya mengirimkan emas batangan dari fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) Smelter PTFI ke PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. atau Antam di Pulogadung, Jakarta. Pengiriman perdana emas batangan ini mencapai 125 kilogram dengan nilai sebesar Rp 207 miliar dan kadar kemurnian 99,99 persen. Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menyebut langkah ini sebagai tonggak penting dalam upaya hilirisasi emas di Indonesia. “Pengiriman emas batangan perdana PTFI ke Antam merupakan langkah penting dalam upaya hilirisasi emas di Indonesia. Ini sejalan dengan visi pemerintah untuk memaksimalkan nilai tambah sumber daya alam dan mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujar Tony dalam keterangan resmi, Kamis, 13 Februari 2025.

Tony mengatakan meskipun sempat terjadi insiden di salah satu fasilitas kompleks Smelter PTFI, hal itu tidak menghalangi komitmen perusahaan dalam menjalankan hilirisasi. Ia menjelaskan dari total 12,56 ton lumpur anoda yang diproses oleh PT Smelting, dihasilkan 189 kilogram emas batangan. Dari jumlah tersebut, 125 kilogram telah memenuhi standar fine gold purity 99,99 persen, sementara 64 kilogram lainnya akan melewati proses casting ulang. Direktur Utama Antam Nico Kanter menyampaikan kerja sama antara PTFI dan BUMN tersebut merupakan bentuk komitmen untuk memperkuat industri pengolahan mineral dalam negeri serta meningkatkan daya saing di pasar global.

 “Sinergi antara PTFI engan Antam merupakan langkah penting dalam mewujudkan kemandirian Indonesia di sektor pertambangan. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor dan mendorong penggunaan produk dalam negeri,” kata Nico. Lebih lanjut, Nico menjelaskan kerja sama itu juga sejalan dengan strategi Antam dalam memperkuat bisnis emas logam mulia. Dengan pasokan bahan baku emas dari PTFI, Antam dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat terhadap investasi emas. Kerja sama antara kedua perusahaan telah ditegaskan melalui perjanjian jual beli emas pada November 2024. Dalam perjanjian yang disaksikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir dan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung tersebut, Antam akan membeli 30 ton emas batangan per tahun dari PTFI dengan kemurnian 99,99 persen. (Yetede)

Ketatnya Likuiditas Membatasi Pertumbuhan Laba

HR1 13 Feb 2025 Kontan
Kinerja perbankan tahun ini menghadapi tantangan besar akibat pengetatan likuiditas dan lonjakan biaya kredit (provisi), yang menyebabkan pertumbuhan laba bersih melambat.

Di antara bank KBMI 4, Bank Central Asia (BCA) mencatat pertumbuhan laba bersih tertinggi, naik 12,7% menjadi Rp 54,8 triliun, sekaligus menjadi satu-satunya yang mencatat kenaikan Net Interest Margin (NIM). Bank Mandiri, BNI, dan BRI hanya mencatat pertumbuhan laba tipis, masing-masing 1,3% (Rp 55,8 triliun), 2,7% (Rp 21,5 triliun), dan 0,1% (Rp 60,15 triliun). Meski begitu, ekspansi kredit masih cukup kuat, terutama di Bank Mandiri, yang mencatat pertumbuhan kredit 19,5%. Keempat bank KBMI 4 juga mencatat perbaikan Non-Performing Loan (NPL). Namun, likuiditas mengetat, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) BNI dan Bank Mandiri mencapai 95,1% dan 96,1%, melewati batas aman BI (78%-92%).

Menurut Sunarso, Direktur Utama BRI, tantangan likuiditas semakin berat akibat ketidakpastian ekonomi global. Oleh karena itu, BRI memilih target konservatif, dengan proyeksi pertumbuhan kredit hanya 7%-9%, di bawah proyeksi OJK 9%-11%. Sebaliknya, Sigit Prastowo, Direktur Keuangan Bank Mandiri, tetap menargetkan pertumbuhan kredit 10%-12%, dengan strategi memacu dana murah dan transaksi untuk menjaga likuiditas.

Di jajaran bank KBMI 3, BTN mengalami penurunan laba 14,1% akibat merosotnya pendapatan bunga bersih. Namun, Bank Syariah Indonesia (BSI) dan OCBC NISP mencatat pertumbuhan laba masing-masing 22,8% dan 18,9%. Menurut M. Aditya Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset, bank-bank harus siap menaikkan biaya dana untuk mengimbangi permintaan kredit, meski secara fundamental perbankan besar masih solid.

Ketatnya Likuiditas Membatasi Pertumbuhan Laba

HR1 13 Feb 2025 Kontan
Kinerja perbankan tahun ini menghadapi tantangan besar akibat pengetatan likuiditas dan lonjakan biaya kredit (provisi), yang menyebabkan pertumbuhan laba bersih melambat.

Di antara bank KBMI 4, Bank Central Asia (BCA) mencatat pertumbuhan laba bersih tertinggi, naik 12,7% menjadi Rp 54,8 triliun, sekaligus menjadi satu-satunya yang mencatat kenaikan Net Interest Margin (NIM). Bank Mandiri, BNI, dan BRI hanya mencatat pertumbuhan laba tipis, masing-masing 1,3% (Rp 55,8 triliun), 2,7% (Rp 21,5 triliun), dan 0,1% (Rp 60,15 triliun). Meski begitu, ekspansi kredit masih cukup kuat, terutama di Bank Mandiri, yang mencatat pertumbuhan kredit 19,5%. Keempat bank KBMI 4 juga mencatat perbaikan Non-Performing Loan (NPL). Namun, likuiditas mengetat, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) BNI dan Bank Mandiri mencapai 95,1% dan 96,1%, melewati batas aman BI (78%-92%).

Menurut Sunarso, Direktur Utama BRI, tantangan likuiditas semakin berat akibat ketidakpastian ekonomi global. Oleh karena itu, BRI memilih target konservatif, dengan proyeksi pertumbuhan kredit hanya 7%-9%, di bawah proyeksi OJK 9%-11%. Sebaliknya, Sigit Prastowo, Direktur Keuangan Bank Mandiri, tetap menargetkan pertumbuhan kredit 10%-12%, dengan strategi memacu dana murah dan transaksi untuk menjaga likuiditas.

Di jajaran bank KBMI 3, BTN mengalami penurunan laba 14,1% akibat merosotnya pendapatan bunga bersih. Namun, Bank Syariah Indonesia (BSI) dan OCBC NISP mencatat pertumbuhan laba masing-masing 22,8% dan 18,9%. Menurut M. Aditya Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset, bank-bank harus siap menaikkan biaya dana untuk mengimbangi permintaan kredit, meski secara fundamental perbankan besar masih solid.

Harga Emas Jadi Penopang Performa MDKA

HR1 13 Feb 2025 Kontan
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) diperkirakan mampu membalikkan kondisi rugi bersih menjadi laba pada tahun 2025, didukung oleh harga komoditas logam yang tinggi serta proyek-proyek baru yang mulai beroperasi.

Menurut Miftahul Khaer, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, harga emas, perak, tembaga, dan nikel yang bergerak positif berpotensi meningkatkan rata-rata harga jual (ASP) MDKA. Namun, pembalikan laba juga bergantung pada kontribusi proyek baru dan efisiensi operasional.

Data operasional menunjukkan pendapatan emas MDKA tumbuh 17% secara kuartalan pada kuartal IV 2024 menjadi US$ 84 juta, sehingga pendapatan tahunan mencapai US$ 272 juta (tumbuh 3% YoY). Menurut Timothy Wijaya, Analis BRI Danareksa Sekuritas, kenaikan ASP emas yang mencapai US$ 2.672 per ons troi (naik 11% QoQ) membantu meningkatkan margin kas meskipun volume penjualan turun dan biaya tunai naik.

Tahun 2025 dianggap sebagai tahun penting bagi MDKA karena mulai menerima pendapatan dari proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) dan Acid Iron Metal (AIM), serta kemungkinan produksi dari tambang emas Pani. Benny Kurniawan, Equity Research Analyst JP Morgan, menilai MDKA berada dalam posisi kuat untuk memanfaatkan kenaikan harga emas, sekaligus mendanai proyek-proyek pertumbuhan di masa depan meski beban liabilitas tinggi (US$ 2,25 miliar per kuartal III-2024).

Meskipun prospek positif, terdapat risiko dari volatilitas harga dan biaya operasional. Timothy mencatat bahwa produksi emas MDKA pada 2025 diproyeksikan turun 5%-13% YoY, sementara produksi tembaga juga lebih rendah. Namun, BRI Danareksa tetap optimis, memproyeksikan MDKA mencetak laba bersih US$ 80 juta di 2025.

Berburu Dividen Besar dari Emiten BUMN

HR1 13 Feb 2025 Kontan (H)
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) diproyeksikan akan memiliki modal besar di awal operasinya, dengan potensi dividen dari beberapa BUMN, terutama tiga bank pelat merah.

BRI diperkirakan menjadi penyumbang dividen terbesar, dengan rasio dividend payout 80%-85% dari laba bersih Rp 60,15 triliun. Direktur Utama BRI, Sunarso, menyebut rasio tersebut tidak akan lebih rendah dari tahun sebelumnya. Artinya, BRI berpotensi membagi dividen Rp 48,1 triliun-Rp 51,1 triliun. Dari jumlah tersebut, Danantara akan menerima sekitar Rp 25,6 triliun-Rp 27,2 triliun.

Bank Mandiri juga akan membagi dividen dengan rasio sekitar 60%. Direktur Keuangan Bank Mandiri, Sigit Prastowo, menyatakan bahwa rasio tersebut akan dijaga seperti lima tahun terakhir. Dengan laba bersih Rp 55,78 triliun, dividen yang berpotensi diterima Danantara dari Mandiri sekitar Rp 17,4 triliun.

Sementara itu, Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, menargetkan rasio dividen 55%-60% dari laba bersih Rp 21,46 triliun. Danantara berpotensi menerima sekitar Rp 6,96 triliun-Rp 7,63 triliun dari BNI.

Total dana yang akan dikelola Danantara dari ketiga bank ini mencapai Rp 49,95 triliun-Rp 52,2 triliun, dengan asumsi seluruh dividen disetorkan ke Danantara.

Selain bank, emiten lain seperti Telkom, Aneka Tambang (ANTM), Bukit Asam (PTBA), dan Timah (TINS) juga berpotensi menyumbang dividen besar. Konsensus analis memprediksi dividen Telkom sekitar Rp 9,02 triliun berdasarkan laba bersih Rp 24,04 triliun.

Dengan potensi dividen dari BUMN-BUMN besar ini, Danantara diperkirakan memiliki dana awal yang signifikan untuk mendukung operasinya dan meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan negara.