;
Tags

Korporasi

( 1584 )

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Diproyeksikan Terus Menanjak di Tahun 2025

KT1 25 Feb 2025 Investor Daily (H)
Kinerja emiten Grup Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) diproyeksikan terus menanjak di tahun 2025, dengan pendapatan mencapai Rp 79 triliun. Didukung marjin yang diperkirakan meningkat dari penurunan harga bahan baku, membuat analis tak tahu untuk menyematkan rekomondasi buy dan target harga saham emiten produsen Indomie ini hingga Rp14.700. Analis Indo Premier Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini mengungkapkan, pendapatan ICBP pada 2025 diperkirakan bisa menyentuh Rp79,19 triliun atau naik 9,1% dibandingg estimasi 202 yang sebesar Rp72,58 triliun. Indo Premier mencatat bahwa segmen  mi instan ICPB telah terbukti memiliki posisi kuat dari sisi harga, yang diuntungkan dari penguasaan pasar yang lebih dari 70%. Saat ini, ICBP memproduksi mi instan dengan beberapa merek seperti Indomie, Supermi, Sarimi, Pop Mie, dan Sakura. Indo Premier juga menyoroti  adanya  potrtensi peningkatan marjiin dari turunnya harga CPO. Harga CPO bahkan diperkirakan turun 9,6% menjadi 4.249 ringgit Malaysia per ton pada kuartal IV-2025. Sekuritas tersebut memperkirakan, marjin laba kotor ICBP akan naik 150 basispoin secara kuartalan menjadi 36,4 pada kuartal 1-2025. (Yetede)

Danantara Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi

KT1 25 Feb 2025 Investor Daily (H)
Pemerintah secara resmi melincurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) pada Senin (24/2/2025). Danantara akan menjadi salah satu kekayaan negara atau Soverign Wealth Fund (SWF) terbesar di dunia, mengingat aset yang dikelola mencapai US$ 900 miliar atau Rp 14,665 triliun atau Rp14.665 triliun (kurs Rp16.300 per dolar AS). Karenanya keberadaan Danantara dipecaya bakal menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan dan memainkan peran sebagai agen Indonesia untuk menjalin kemitraan strategis di tongkat global. Peluncuran Danantara ditandai dengan penandatanganan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Badan usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2025 tentang organisasi dan Tata Kelola Badan Nusantara Dalam kesempatan yang sama, Pesiden Prabowo Subianto juga meneken Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 30 tahun 2025 tentang Pengangakatn Dewan Pengawas dan Badan Pelaksana Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia.  Pada tahap awal, Danantara akan mengelola aset jumbo, yaitu PTBank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat mendatangkan  Tbk (BBNI) PT Telkom Indonesia Tbk Mineral Industri Indonesia (persero) atau MIND ID. Nantinya, seluruh aset BUMN akan dikelola secara bertahap. (Yetede)

Profil 7 BUMN yang Dikabarkan Masuk Danantara

KT1 24 Feb 2025 Tempo
Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) di halaman tengah Istana Merdeka, Jakarta, hari ini, Senin, 24 Februari 2025. Prabowo mengatakan Danantara merupakan instrumen yang dapat mengoptimalkan badan usaha milik negara (BUMN). “Danantara Indonesia akan menjadi salah satu dana, kekayaan, atau sovereign wealth fund (SWF) negara terbesar di dunia. Danantara Indonesia adalah solusi strategis dan efisien dalam mengoptimalkan badan usaha milik negara,” kata Prabowo, seperti dipantau dari akun YouTube Sekretariat Presiden.  Sebelumnya, Kepala BPI Danantara Muliaman Darmansyah Hadad menyatakan akan memanggil tujuh BUMN yang disebut bakal masuk ke dalam SWF atau dana investasi pemerintah baru itu. Namun, lanjut dia, tak ada banyak agenda dalam pertemuan awal tersebut.  “Tentu saja dengan semuanya yang tujuh (BUMN), yang akan diserahkan ke Danantara lebih banyak perkenalan,” kata Muliaman saat dijumpai di kantornya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa, 19 November 2024. Adapun tujuh BUMN yang dimaksud, diperkirakan adalah PT Pertamina (Persero), Mining Industry Indonesia (MIND ID), PT PLN (Persero),  PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (Yetede)


459 Pekerja PT Sanken Indonesia Masih Nego Pesangon PHK

KT1 24 Feb 2025 Tempo
Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT Sanken Indonesia Dedy Supriyanto mengatakan belum ada kesepakatan dengan perusahaan soal besaran pesangon dan ganti untuk ratusan karyawan yang diberhentikan. Pada Jumat, 21 Februari 2025 Dedy bertemu dengan perwakilan PT Sanken Indonesia untuk menegosiasikan pesangon dan ganti rugi kepada pekerja.  "Nilai yang ditawarkan oleh manajemen Sanken belum sesuai harapan, tapi kami apresiasi ada iktikad baiknya," ucap Dedy saat dihubungi pada Ahad, 23 Februari 2025. PT Sanken Indonesia diketahui menawarkan pesangon sebanyak 2,6 kali 9 bulan upah kerja, dengan setiap bulan rata-rata karyawan yang telah bekerja lebih dari 15 tahun digaji Rp 7 juta per bulan.

Dengan demikian, Sanken diestimasikan menawarkan pesangon sekitar 163,8 juta untuk tiap karyawan yang akan terpaksa kehilangan pekerjaannya. Namun, jumlah itu lebih rendah dari yang diajukan oleh Serikat Pekerja PT Sanken Indonesia yang meminta 3 kali 9 bulan upah kerja.  Selain pesangon, para pekerja juga meminta kompensasi kepada PT Sanken Indonesia. "Saat ini kami masih mengajukan untuk ganti rugi 60 kali upah," kata Dedy. Ia menyebut ganti rugi itu patut diberikan oleh perusahaan yang menutup operasional pabrik bukan karena pailit, tetapi karena akan diboyong induk perusahaan kembali ke Jepang. 

Namun, menurut Dedy, PT Sanken Indonesia belum mengambil sikap atas usulan serikat pekerja. Oleh karena itu, 459 pekerja yang akan di-PHK oleh Sanken akan kembali merundingkan langkah selanjutnya merespon negosiasi yang masih alot. Dedy menyebut ia dan pekerja akan kembali bernegosiasi dengan PT Sanken pada Rabu dan Jumat pekan depan. Sebelumnya Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin Ronggolawe Sahuri Kementerian Perindustrian membantah adanya PHK masal terhadap karyawan PT Sanken Indonesia yang pabriknya akan tutup permanen pada Juni 2025. "Bukan PHK, mereka diberikan kompensasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan," kata Ronggolawe saat ditemui di sela-sela kegiatannya di Menara Bank Mega, Jakarta, pada Jumat, 21 Februari 2025. (Yetede)

Daya Beli Melemah, Tantangan Berat bagi Emiten

HR1 24 Feb 2025 Kontan
Meskipun pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong konsumsi, seperti kenaikan upah minimum 6,5%, subsidi tarif listrik, dan PPn selektif, sektor barang konsumsi masih mengalami tekanan. Indeks sektor barang konsumen primer dan non-primer masing-masing turun 5,54% dan 2% sejak awal tahun 2025.

David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, menjelaskan bahwa penurunan jumlah kelas menengah dari 21,5% pada 2019 menjadi 17,1% pada 2024 berdampak pada daya beli masyarakat. Selain itu, perubahan preferensi konsumen ke produk lokal yang lebih terjangkau juga membuat perusahaan besar seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) kehilangan pangsa pasar.

Faktor lain yang memperburuk kondisi adalah pelemahan rupiah terhadap dolar AS, yang meningkatkan biaya impor bahan baku dan menekan margin keuntungan emiten. Willy Goutama, Analis Maybank Sekuritas, menambahkan bahwa efisiensi anggaran pemerintah, seperti pengurangan rapat offline dan pengaturan kerja dari rumah, dapat menekan tingkat konsumsi, terutama pada kuartal I-2025.

Selain tekanan jangka pendek, sektor ini juga menghadapi risiko jangka panjang dari regulasi pemerintah, termasuk rencana pembatasan kemasan plastik pada 2029 untuk produk minuman di bawah 1 liter dan makanan di bawah 50 gram. Hal ini berpotensi menurunkan pendapatan beberapa emiten besar.

Meski demikian, beberapa emiten tetap memiliki prospek yang kuat. Willy Goutama merekomendasikan PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) karena strategi mereka dalam meningkatkan laba dan menghadapi persaingan.

Sementara itu, Natalia Sutanto, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menilai bahwa Grup Indofood tetap menarik karena volume penjualan mi instan yang stabil serta kenaikan harga jual rata-rata, yang menjadi indikator positif bagi pendapatan perusahaan di kuartal II-2025.

Valuasi PT Chandra Asri Pacific Daya Investasi Berpotensi Jumbo

KT1 22 Feb 2025 Investor Daily (H)
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tengah menjajaki rencana untuk membawa anak usahanya, PT Chandra Daya Investasi (CDI), melangsungkan penawaran umum pendanaan (initial public offering/IPO) saham alias go public. Kapitalisasi pasar CDI berpotensi memiliki valuasi jumbo. Potensi tersebut tercermin dari sejumlah lini usaha yang dibawahi oleh CDI di antara meliputi  bisnis energi, air, logistik dan kepelabuhan yang diyakini bakal menghasilkan keuntungan jangka panjang, stabil, dan berkelanjutan. General Manager of Legal & Corporate Secretary Erri Dewi Riani membenarkan bahwa CDI sedang menjajaki untuk  kemungkinan rencana aksi korporasi yaitu Ippo. "Namun, terhadap hal yang masih dalam tahap pembahasan internal dan hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan IPO atas CDI akan terlaksanakan," jelas Erri. Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Sumber Daya Manusia dan Hubungan Korporat Chandra Asri Group Suryandi juga menyampaikan bahwa rencana  perseroan atau membawa CDI go public bergerak dari pertumbuhan yang berada di Chandra Asri Group itu sendiri. Di mana, perseroan membangun infrastruktur yang berpotensi memiliki pertumbuhan luar biasa. Pasalnya, menurut Suryandi, sektor infrastruktur yang akan dikembangkan CDI merupakan sektor-sektor yang memiliki pertumbuhan yang luar biasa. (Yetede)

Upaya Pemerintah Gerakkan Ekonomi Daerah Melalui Diskon Tarif Tol

KT1 22 Feb 2025 Investor Daily (H)
Upaya pemerintah memberi diskon tarif tol dan membukukan  sejumlah ruas tol secara fungsional pada momen mudik Lebaran 2025 diharap mampu mendorong daya beli masyarakat dan juga  memacu pergerakan ekonomi di sejumlah daerah. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memastikan ada pemberian diskon tarif tol pada momen mudik libur Lebaran tahun ini. "Kalau hari-hari besar keagamaan nasional seperti itu, kita kasih diskon," ujar Dody. Kendati demkian, lanjutnya, saat ini Kementerian PU sedang membahas dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) terkait berapa besaran diskon tarif tol yang akan diberikan pada mudik Lebaran tahun ini. "Kita lagi godok sama-sama dengan pengusaha jalan tol untuk bisa memberikan diskon tarif tol yang mudah-mudahan paling tidak besarannya  sama diskon tarif tol saat libur Nataru," harapnya. Selain pemberian diskon tarif tol, menurut Dody, pemerintah juga akan membuka ruas tol fungsional pada arus balik dan arus mudik Lebaran 2025. Ruas jalan tol yang dibuka secara gratis tersebut, kata dia, sebagai upaya mendukung kelancaran arus lalu lintas dan meningkatkan kenyamanan masyarakat selama mudik Lebaran 2025. (Yetede)

Peluang Cuan dari Bisnis Tepung Roti

HR1 22 Feb 2025 Kontan
PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC) optimistis menghadapi persaingan di industri tepung roti pada tahun 2025, terutama dengan peluang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah. Perusahaan yang berdiri sejak 2015 ini mencatatkan pertumbuhan positif dan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Januari 2025 melalui IPO dengan harga Rp 210 per saham, mengantongi dana Rp 61,21 miliar untuk modal kerja.

Direktur Utama BRRC, Ari Sudarsono, menjelaskan bahwa keunggulan utama perusahaan terletak pada kemampuannya mencocokkan produk dengan kebutuhan pelanggan. BRRC pun berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 15% di 2022 dan melonjak 135% di 2023.

Untuk terus berkembang, BRRC menjalankan strategi ekspansi, termasuk, Diversifikasi produk seperti bubble crumb, pelapis nugget dengan tekstur lebih renyah. Meningkatkan kapasitas produksi dengan membuka dua pabrik baru, dari 12.000 ton menjadi 18.600 ton per tahun. Ekspansi ke pasar Sumatra dengan pabrik di Medan yang mulai beroperasi Januari 2025. Target ekspor ke Australia dengan mitra yang sudah tersedia.

BRRC menargetkan pendapatan Rp 150 miliar di 2025 dengan laba 5% di atas pendapatan. Ari juga menilai bahwa program MBG dapat meningkatkan kinerja perusahaan hingga empat kali lipat, mengingat tepung roti digunakan dalam makanan olahan.

Namun, meski prospek bisnis positif, saham BRRC mengalami penurunan. Dalam sebulan terakhir, sahamnya turun 23,26%, dengan harga parkir di Rp 66 per saham pada 21 Februari 2025.

Perbankan Siapkan Jurus Atasi Kredit Macet

HR1 21 Feb 2025 Kontan
Sejumlah bank masih menghadapi tantangan dalam menangani kredit macet masa lalu, terutama di sektor konstruksi. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dan PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) menjadi contoh bank yang aktif melakukan pembersihan aset bermasalah.

Direktur Assets Management BTN, Elisabeth Novie Riswanti, mengungkapkan bahwa BTN masih memiliki NPL sekitar Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun, meskipun terjadi penurunan rasio NPL sektor konstruksi dari 23,8% di 2023 menjadi 16% pada Desember 2024. BTN telah melakukan bulk sales senilai lebih dari Rp 1,3 triliun pada kuartal IV-2024, meningkat 50% dari 2023. Selain itu, metode lelang juga digunakan untuk mengurangi kredit macet.

Sementara itu, Direktur Keuangan Bank Raya, Rustati Suri Pertiwi, menjelaskan bahwa rasio NPL gross Bank Raya telah menurun dari 4,75% di 2023 menjadi 3,64% pada September 2024. Bank Raya berhasil mencatatkan pendapatan recovery sebesar Rp 349 miliar, naik 91% secara tahunan. Strategi yang diterapkan mencakup negosiasi dengan nasabah, lelang melalui KPKNL, dan kerja sama dengan pihak ketiga.

Baik BTN maupun Bank Raya berkomitmen untuk terus melakukan pembersihan aset bermasalah, meskipun diakui bahwa proses ini membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Bisnis Tertekan Akibat Persaingan dan Kelesuan Ekonomi

HR1 21 Feb 2025 Kontan
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menghadapi tantangan berat akibat pemangkasan anggaran infrastruktur dan persaingan ketat di industri semen. Pemotongan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan proyek IKN Nusantara turut menekan permintaan semen curah, yang berimbas pada prospek bisnis SMGR.

Menurut Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, akuisisi Semen Baturaja oleh SMGR belum berdampak signifikan dalam meningkatkan pangsa pasar, berbeda dengan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) yang memperkuat posisi dengan akuisisi Semen Singa Merah dan Grobogan. Ia menyarankan wait and see terhadap saham SMGR dengan target harga Rp 2.870 per saham.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Richard Jerry, memperkirakan pertumbuhan volume penjualan semen nasional sebesar 2,3% yoy pada 2025, dengan semen curah naik 8%, sementara semen kantong turun tipis -0,3%. Namun, daya beli yang masih lemah dan program pemerintah yang belum berjalan maksimal membuat tren penjualan semen dalam negeri masih stagnan.

Sementara itu, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, menyoroti penurunan pangsa pasar SMGR meskipun telah mengakuisisi Semen Baturaja (SMBR) pada 2023. Akuisisi hanya menambah 2%-2,5% pangsa pasar, yang tetap lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi. Menurutnya, jaringan pabrik yang luas malah menjadi beban saat permintaan lesu, karena biaya pemeliharaan meningkat.

Ketiga analis ini memiliki pandangan hati-hati terhadap prospek SMGR, dengan rekomendasi hold dan wait and see atas sahamnya.