;
Tags

Korporasi

( 1584 )

Saham Telekomunikasi Masih Belum Bangkit

HR1 07 May 2025 Bisnis Indonesia

Melansir laporan keuangan kuartal I/2025, sejumlah emiten telekomunikasi mencatatkan kinerja yang beragam di tengah tantangan ekonomi dan kompetisi industri yang ketat. Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Rajeev Sethi, menyampaikan bahwa EXCL berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,93% menjadi Rp8,6 triliun, namun laba bersih justru turun drastis 28,93% menjadi Rp384,5 miliar, dipengaruhi oleh persaingan ketat dan proses merger dengan Smartfren.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia (TLKM) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 4,01% menjadi Rp5,81 triliun dan penurunan pendapatan sebesar 2,11%. Meski begitu, manajemen TLKM menyebut perusahaan tetap menunjukkan ketahanan melalui pertumbuhan pada segmen digital, enterprise, dan data center.

Di sisi lain, PT Indosat Tbk. (ISAT) mencatat penurunan pendapatan menjadi Rp13,57 triliun, namun berhasil meningkatkan laba bersih sebesar 1,31% menjadi Rp1,31 triliun. CEO Indosat, Vikram Sinha, menekankan pentingnya fokus pada pelanggan kelas menengah ke bawah dalam kondisi daya beli yang melemah, sambil mengoptimalkan pengalaman pelanggan.

Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis, dan Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai prospek sektor telekomunikasi tetap moderat hingga positif dengan peluang perbaikan di kuartal selanjutnya seiring kompetisi yang tidak terlalu agresif dan efisiensi operasional pasca-merger, khususnya pada ISAT. Tantangan utama yang masih dihadapi meliputi stagnasi ARPU, tekanan harga, dan kebutuhan investasi berkelanjutan dalam transformasi digital.

Serapan belanja modal (capex) juga menunjukkan komitmen terhadap penguatan jaringan dan digitalisasi: EXCL sebesar Rp1,24 triliun, ISAT Rp2,62 triliun (naik 22,8%), dan TLKM Rp5 triliun, dengan fokus pada jaringan dan layanan digital. Strategi capex ini mempertegas arah industri menuju penguatan infrastruktur dan layanan berbasis teknologi guna menjaga daya saing di tengah tekanan ekonomi dan dinamika pasar.


Daya Ungkit e-Commerce 2025

KT1 06 May 2025 Investor Daily
Sektor e-commerce Indonesia memiliki potensi besar pada tahun ini, dengan berbagai tren dan peluang yang menarik. Namun, tantangan seperti persaingan yang ketat dan regulasi persaingan usaha perlu diantisipasi. Pelaku usaha perlu beradaptasi dengan perubahan pasar dan memanfaatkan teknologi untuk memaksimalkan potensi pertumbuhan e-commerce. Dalam laporan e-Conomy SEA 2024 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, Gross Merchandise  Value (GMV) ekonomi digital Indonesia diproyeksi  tumbuh sebesar 13% dibandingkan tahun 2023. Angka ini diperkirakan mancapai US$ 90 miliar atau setara dengan Rp1,430 triliun pada  tahun 2024, yang mengukuhkan Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara (ASEAN). Laporan tersebut mengungkapkan sektor e-commerce tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi digital  dengan diperkiraan peningkatan GMV sebesar 11% hingga mencapai US$ 65 miliar. Sementara, Sirclo penyedia solusi omnichannel commerce enabler di Indonesia, dalam laporan terbarunya menyebut, terjadi peningkatan rata-rata jumlah transaksi online sebesar 4,95% dan jumlah konsumen sebesar 6,8% sepanjang tahun 2024. (Yetede)

Ambisi Bandara Soekarno-Hatta Gaet 94 Juta Penumpang

KT1 06 May 2025 Investor Daily
Bandara Internasional Seokarno-Hatta, Cengkareng Banten, terus berbenah. Setelah Terminak 2F bertransformasi menjadi terminal khusus haji dan umrah, pada tahun depan Terminal 1F akn digunakan khusus maskapai bertarif rendah atau low cost carrier (LCC). Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan PT Angkasa pura Indonesia atau InJourney Airports tengah melakukan revitalisasi di Terminal 1 Bandara Soetta. Setelah rampung, Terminal 1F aklan melayani maskapai penerbangan LCC untuk rute tujuan internasional. "Jadi nanti yang low cost 1F itu Insya Allah, kita akan resmikan di kuartal 1-2026," kata Erick. Menurut Erick, penyegaran terminal yang dilakukan di Bandara Soetta bertujuan untuk mendorong peningkatan kapasitas pengunjung yang  ditargetkan mencapai 94 juta penumpang per tahunnya. "Setelah Terminal 2F, nanti Terminal 1 kita akan upgrade lagi untuk low cost," imbuhnya. Saat ini, Bandara Internasional Soetta memiliki total kapasitas  sebanyak 55 juta penumpang per tahunnya. Dengan optimalisasi pada setiap terminal, diharapkan dapat meningkatkan jumlah menjadi 90 juta penumpang. (Yetede)

Industri Perbankan Mencatatkan Fasilitas Kredit yang Belum Diserap Debitur

KT1 06 May 2025 Investor Daily (H)
Industri perbankan mencatatkan fasilitas kredit yang belum diserap debitur per Februari 2025 mencapai Rp 2.332,95 triliun, nilai tersebut meningkat 11,52$% dibandingkan  dengan periode sama tahun sebelumnya (yoy). Meski demikian, angka tersebut menurun Rp 15,95 triliun  dibandingkan posisi underbursed loan (UL) Januari 2025 yang sebesar Rp2.348,9 triliun atau, naik 11,75% (yoy). Adapun, pertumbuhan kredit menganggur berasal dari kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMII) (yoy) menjadi Rp417,74 triliun per Februari 2025. Sementara itu, KBMI 4 mencatatkan underbursed loan senilai Rp 879,94 triliun, meningkat 14,73% (yoy) per Februari 2025. Di samping itu, OJK juga mencatatkan underbursed loan KBMI 1 sebesar Rp122,46 triliun, naik 10,67% (yoy) menjadi Rp912,81 triliun pada dua bulan tahun ini. Berikutnya, jika dilihat dari kepemilikannnya, Bank Pembangunan daerah (PDB) mencatatkan kontraksi pada pertumbuhan UL yakni minus 21,59% (yoy) per Februari 2025 menjadi Rp24,55 triliun dari periode tahun sebelumnya Rp  31,31 triliun. Lalu untuk  fasilitas kredit yang belum ditarik terbesar dicatatkan oleh bank umum swasta nasional (BUSN) mencapai Rp 1.534,09 triliun, naik 9,75%. (Yetede)

Energi Terbarukan Jadi Pilar Cegah Krisis Listrik

HR1 06 May 2025 Bisnis Indonesia
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) yang dipimpin Eniya Listiani Dewi mendorong kelanjutan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Bedugul sebagai solusi jangka panjang untuk mencegah terulangnya insiden pemadaman listrik total (blackout) di Bali. Insiden blackout sebelumnya terjadi akibat gangguan pada kabel laut tegangan tinggi (SKLT) yang menghubungkan sistem kelistrikan Jawa-Bali, sehingga membuat pasokan daya ke Bali terputus total.

PLTP Bedugul dinilai strategis karena mampu memperkuat kemandirian energi Bali dengan sumber energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada pasokan listrik dari Jawa. Hal ini menjadi semakin penting mengingat kondisi geografis Bali yang rentan terhadap gangguan jaringan lintas pulau.

Sementara itu, Helmy Rosadi, Manajer Teknis PLTU Celukan Bawang, menegaskan bahwa pembangkitnya tidak terlibat dalam penyebab blackout, yang murni berasal dari gangguan transmisi eksternal. Ia menyebut gangguan pada Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV di Jawa Timur sebagai pemicu utama yang menyebabkan ketidakseimbangan daya dan anjloknya frekuensi listrik di Bali.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah juga menugaskan PT PLN untuk melakukan audit menyeluruh terhadap sistem operasional dan prosedur penanganan gangguan guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Keseluruhan upaya ini menunjukkan pentingnya diversifikasi dan penguatan infrastruktur energi lokal, terutama berbasis sumber daya terbarukan.

Laba Emiten MIND ID Melesat

KT1 05 May 2025 Investor Daily (H)
Emiten-emiten anggota BUMN Holding Industri Pertambangan atau Mining Industry Indonesia (MIND ID) mencatatkan kinerja keuangan yang solid, dengan laba bersih naik 158,68% menjadi Rp2,9 triliun pada tiga bulan  pertama 2025 dibandingkan periode  sama tahun lalu (yoy) sebesar Rp 1,2 triliun. Pertumbuhan bottom line tersebut ditopang oleh kenaikan sebagian harga komoditas pertambangan terutama segmen emas  dan timah, dibarengi dengan pengendalian biaya secara optimal oleh PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), sehingga mampu mengangkat kinerja pendapatan MIND ID sebesar 74,17% dari sebelumnya Rp 23,8 triliun, menjadi Rp41,6 triliun pada kuartal 1-2025. Pendapatan ATNM misalnya, melambung signifikan mencapai 203,6% dari Rp 8,6 triliun menjadi Rp 26,1 triliun dari Rp 8,6 triliun menjadi Rp26,1 triliun pada kuartal 1-2025 yang mayoritas berasal dari penjualan di dalam negeri berkat strategis Antam memperkuat basis pelanggan dari produk emas, bijih nikel, dan produksi bijih bauksit di pasar domestik. Terutama segmen emas, logam mulia Antam tersebut berhasil mencetak pertumbuhan sebesar 1-2025 dibanding penjualan emas pada periode sama tahun lalu Rp7,6 triliun. (Yetede)

Pelayanan Rumah Sakit dan Bandara Tetap Berjalan meski Listrik Padam

KT1 05 May 2025 Investor Daily (H)
Pelayanan rumah sakit dan Bandara Ngurah Rai tetap berjalan normal meski Bali mengalami padam listrik serentak (blackout) pada Jumat (2/5/2025) sekitar pukul 16.00 WITA. Pasokan listrik kembali normal secara bertahap dan mencapai 100% sekitar pukul 03.30 WITA pada Sabtu (3/5/2025). Adapun penyebab blackout yakni gangguan saluran kabel bawah laut yang menghubungkan Jawa dan Bali. Akibatnya, tegangan di sistem Bali turun menjadi nol volt yang menyebabkan sejumlah pembangkit listrik di Bali seperti PLTDG Pesanggrahan, PLTGU Pemaron, PLTU Celukan Bawang, dan PLTG Gilimanuk keluar dari sistem kelistrikan Bali. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo memimpin langsung proses pemulihan. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada 1,8 juta pelanggan termasuk stakeholder atas ketidaknyamanan yang terjadi akibat gangguan kelistrikan. "Kami mengucapkan mohon maaf sebesar-besarnya kepada pelanggan kami karena adanya gangguan dan ketidaknyamanan," kata Darmawan. Darmawan menjelaskan bahwa gangguan kelistrikan di bali bermula pada Jumat (2/5/2025) pukul 16.00 WITA ketika saluran kabel bawah laut yang menghubungkan Jawa dan bali mengalami gangguan. Ratusan personel PLN diterjunkan untuk melakukan pemulihan sistem dan dalam waktu sekitar 30 menit, suplai listrik kembali masuk ke sistem secara bertahap. (Yetede)

Bank Mandiri Pimpin Deretan Bank Beraset Jumbo

KT1 05 May 2025 Investor Daily (H)
Di tengah berbagai dinamika ekonomi global dan domestik, industri perbankan nasional tetap menunjukkan kinerja positif.  Sampai dengan posisi Maret 2025, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) masih kokoh berada di puncak  sebagai bank beraset jumbo. Total aset dari 10 bank terbesar di Indonesia mencapai Rp. 9.290,8 triliun pada kuartal 102025, tumbuh 8,79% secara tahunan (yoy). Dimana, total aset Bank Mandiri memiliki pangsa pasar lebih dari seperempatnya atau tepatnya 26,52% dari total aset 10 bank besar tersebut atau senilai Rp 2.463,66 triliun konsolidasi, tumbuh 13,86% (yoy). Posisi kedua adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dengan total aset secara konsolidasi sebesar Rp2.098,23 triliun, tumbuh 5,49% (yoy) pada kuartal 1-2025. Aset BRI ini memiliki porsi 22,58% dari total aset 10 bank besar. Meski demikian, jika dilihat berdasarkan data bank only atau tanpa memperhitungkan perusahaan anak total aset BRI mencapai Rp1.932,39 triliun, melesat 37,55% (yoy), sehingga BRI mencapai  Rp1.932,39 triliun, melesat 37,55% (yoy), sehingga BRI menjadi bank dengan aset terbesar di Indonesia, atau bertukar tempat dengan Bank Mandiri dengan total aset bank only Rp1.919,66 triliun di peringkat runner up. (Yetede)

Pejabat Kemendag Diperiksa dalam Kasus Minyak

HR1 05 May 2025 Bisnis Indonesia
Kejaksaan Agung memeriksa seorang pejabat Biro Hukum Kementerian Perdagangan, berinisial FA, terkait dugaan suap dalam penanganan perkara di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat. Pemeriksaan FA dilakukan sebagai saksi dalam kasus vonis bebas terhadap tiga grup korporasi yang terlibat dalam kasus minyak sawit mentah (CPO). Harli Siregar, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, menyatakan bahwa pemeriksaan ini bertujuan untuk melengkapi berkas perkara atas tersangka Muhammad Arif Nuryanta (MAN) dan lainnya. Kasus ini bermula dari vonis bebas yang diberikan oleh majelis hakim yang dipimpin Djuyamto, yang kemudian menjadi tersangka atas dugaan penerimaan suap bersama dua hakim lainnya sebesar Rp22,5 miliar.

Grup Prajogo Terus Perluas Jejak Bisnis

HR1 05 May 2025 Bisnis Indonesia
Grup konglomerat Prajogo Pangestu terus menunjukkan perkembangan signifikan, terutama melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang melakukan beragam aksi korporasi pada kuartal I/2025. TPIA berinvestasi besar dalam pembangunan pabrik bahan kimia Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (Pabrik CA-EDC) dengan nilai investasi mencapai Rp15 triliun, yang diharapkan dapat mengurangi impor soda kaustik dan menambah devisa negara melalui ekspor produk EDC. Selain itu, meski TPIA mencatatkan kerugian bersih sebesar US$23,6 juta, pendapatannya meningkat 31,8% YoY.

Sementara itu, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), salah satu emiten afiliasi Prajogo, melaporkan laba bersih sebesar US$34,2 juta, dengan pertumbuhan yang didorong oleh kinerja solid pada segmen energi terbarukan, khususnya panas bumi dan angin. Hendra Soetjipto Tan, CEO BREN, menekankan pentingnya pengelolaan biaya yang disiplin untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Grup Prajogo juga berencana melaksanakan penawaran umum perdana (IPO) untuk anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi (CDI), yang akan menargetkan dana hingga Rp2,37 triliun. Dengan langkah-langkah ini, Prajogo Pangestu terus berupaya memperkuat portofolio bisnis dan meningkatkan kontribusi sektor infrastruktur, memperlihatkan prospek cerah ke depan.