;
Tags

Korporasi

( 1557 )

Menunggu Kejutan dari Mitratel

KT1 03 May 2025 Investor Daily (H)
Kinerja PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) alias Mitratel pada tiga bulan  pertama tahun ini tergolong solid namun  moderat. Kejutan berpotensi muncul pada  kuartal-kuartal berikutnya menyusul efektifnya PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL/XLSmart) dan menggeliatnya bisnis fiber-to-the tower (FTTT) perseroan. Rencana XLSmart untuk menggandakan skala jaringan merupakan sinyal kuat bagi MTEL untuk bisa mempertebal pundi-pundi pendapatan. Pasalnya, konsolidasi operator/MNO) akan mendorong terjadinya peningkatan kolokasi terutama di luar Jawa, peningkatan kualitas jaringan, dan tren efisiensi sekaligus fiberisasi. Katalis-katalis tersebut akan menguntungkan MTEL sebagai pemain di sektor infrastruktur telekomunikasi khususnya menara. Ini cukup terefleksi dari rekam kinerja Mitratel selama tiga  bulan pertama tahun ini. Di mana, bisnis menara entitias anak Grup Telkom tersebut menunjukkan performa positif. Riset PT Indo Premier Sekuritas Indonesia yang disusun Aurelia Barus dan Belva Monica mencatat, jumlah dan penyewa menara pada akhir kuartal  1-2025 masing-masing bertumbuh sebesar 4% secara yoy dengan penambahan jumlah penyewa bersih sebanyak 391. Rasio keterhunian menara (tenancy ratio) juga di angka 1,52x, atau stabil dibandingkan akhir 20254. (Yetede)

BCA Menjadi Jawara dengan Mencetak Laba Terbesar di Indonesia

KT1 03 May 2025 Investor Daily (H)
Pada kuartal 1-2025 PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjadi jawara dengan mencetak laba terbesar di Indonesia. Hal ini setelah bank swasta tersebut menyalip bank-bank pelat merah pada tiga bulan pertama tahun ini. Berdasarkan data yang dihimpun Investor Daily, secara konsolidasian BCA mencetak laba bersih kepada pemilik (PATMI) mencapai Rp14,15% secara yoy pada kuartal 1-2025. Sementara, PT Bank rakyat Indonesia (Perssero) Tbk (BRI) di posisi runner up dengan PATMI Rp 13,67 triliun atau menyusut 13,92% (yoy) akibat pencadangan yang meningkat. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berada di peringkat ketiga dengan laba bersih konsolidasi Rp13,2 triliun, naik 3,94% (yoy) per akhir Maret 2025. Posisi keempat adalah PT bank negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) yang meraup laba bersih Rp 5,38 triliun, naik 0,94% (yoy). Peringkat kelima adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dengan laba bersih Rp1,88 triliun, tumbuh 9,94% (yoy) pada kuartal 1-2025. Apabila mundur tiga bulan ke belakang, atau di posisi Desember 2024, BRI masih menjadi pemimpin dengan laba terbesar, mencapai Rp60,15 triliun, meski tumbuh tipis 0,08% (yoy). Peringkat kedua yakni bank Mandiri dengan laba bersih Rp54,85 triliun, tumbuh dua digit. 12,77% (yoy). (Yetede)

PANI Fokus pada Segmen Konsumen Premium

HR1 03 May 2025 Bisnis Indonesia
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI), kongsi Agung Sedayu Group dan Salim Group, tetap optimistis terhadap prospek sektor properti nasional meskipun mengalami penurunan kinerja keuangan pada kuartal I/2025. Presiden Direktur PANI, Sugianto Kusuma (Aguan), menekankan bahwa fokus perusahaan pada segmen pasar kelas menengah ke atas memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang, terutama dengan meningkatnya permintaan akan kawasan terintegrasi yang berkualitas.

PANI juga berharap pembangunan infrastruktur seperti Tol Kamal—Teluk Naga—Rajeg (Kataraja) akan memperkuat daya tarik kawasan PIK2, yang diklaim akan menjadi ikon kota modern di Jabodetabek dengan akses langsung ke Bandara Soekarno-Hatta hanya dalam waktu 7 menit.

Namun demikian, dari sisi kinerja keuangan, PANI mencatat penurunan laba bersih sebesar 59,49% YoY menjadi Rp49,57 miliar dan penurunan pendapatan sebesar 4,43% YoY menjadi Rp611,97 miliar. Meskipun demikian, manajemen tetap optimis bahwa investasi jangka panjang dan pembangunan berkelanjutan akan mendongkrak nilai kawasan dan memperkuat posisi PIK2 sebagai destinasi utama properti di Indonesia.

Teknologi Raksasa Dunia Tak Luput dari Dampak Tarif Trump

HR1 03 May 2025 Bisnis Indonesia
Dalam menghadapi gelombang kebijakan tarif dagang yang dipicu oleh pemerintahan Presiden Donald Trump, sejumlah raksasa teknologi dunia seperti Apple, Microsoft, dan Amazon mulai merasakan dampak langsung berupa peningkatan biaya, pelemahan pasar utama, serta ketidakpastian proyeksi bisnis ke depan.

Tim Cook, CEO Apple, mengungkapkan bahwa tarif dagang akan meningkatkan beban perusahaan hingga lebih dari US$900 juta. Apple juga mengalami penurunan penjualan di China akibat persaingan ketat dengan produsen lokal dan pembatasan penggunaan teknologi asing. Meski pendapatan masih tumbuh 5% YoY, Apple harus menyusun strategi jangka panjang demi menjaga stabilitas.

Sementara itu, Microsoft ikut menaikkan harga produk konsol game-nya seperti Xbox Series S dan X secara global, dipicu oleh inflasi dan biaya pengembangan. Meski demikian, laporan keuangannya menunjukkan pertumbuhan pendapatan 13% menjadi US$70,1 miliar, didorong oleh kekuatan di sektor AI melalui kolaborasi dengan OpenAI, menunjukkan ketahanan relatif terhadap dampak tarif.

Andy Jassy, CEO Amazon, menyampaikan bahwa meskipun pendapatan Amazon tumbuh 9% YoY menjadi US$155,7 miliar, proyeksi ke depan menunjukkan perlambatan, terutama karena kekhawatiran tarif, fluktuasi mata uang, dan risiko resesi. Saham Amazon pun melemah akibat tekanan pada sektor ritel dan periklanan yang sangat bergantung pada barang dari China.

Kebijakan proteksionisme telah mengubah lanskap global dan memaksa perusahaan teknologi besar untuk lebih berhati-hati dalam menyusun strategi bisnis, menunjukkan bahwa bahkan pemain terbesar pun tidak kebal terhadap tekanan geopolitik dan kebijakan perdagangan.

Dorong Inovasi Digital dan Bisnis Emas

KT1 02 May 2025 Investor Daily (H)
30 April 2025. Transformasi layanan digital mendorong peningkatan berbasis  fee (fee based income/FBI) PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Peningkatan FBI pada triwulan 1 2025 mendorong peningkatan laba bersih Perseroan menjadi Rp1,88 triliun, tumbuh 10% secara yoy. Plt Direktur Utsam BSI Bob T Ananta pada saat pemaparan publik kinerja BSI tumbuh 39,3% menjadi Rp1,7 triliun. "Secara komposisi fee based ratio juga naik signifikan per Maret 2025 dari 16,91% ke level 20,35%," kata dia. Lebih lanjut Bob mengatakan meningkatnya fee based adalah impact dari implementasi strategi perbaikan infrastruktur transaction banking sepanjang tahun 2024 seperti peluncuran BYOND by BSI, penambahan EDC, QRIS BSI, ditambah fokus pada bisnis emas  terutama setelah penetapan BSI sebagai bank emas oleh Presiden RI pada 26 Februari 2025. "Dalam kondisi ekonomi global yang chellanging, emas telah menjadi jalan keluar bagi investor  untuk menempatkan dananya dan ini menjadi big opportunity bagi BSI," ungkapnya. Bisnis BSI Emas melalui BYOND by BSI naik signifikan di mana hal tersebut didorong tren pembelian emas oleh nasabah dan kesiapan  produk emas BSI. (Yetede)

Danantara Bisa Jadikan BRI Lebih Adaptif dan Agile

KT1 02 May 2025 Investor Daily
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Hery Gunardi menilai, keberadaan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, yang kini resmi menaungi perusahaan-perusahaan BUMN, memungkinkan BRI menjadi lebih adaptif dan agile serta memiliki fleksibilitas pengelolaan bisnis. "Dengan demikian BRI diharapkan dapat meningkatkan daya saing global dan lebih kompetitif dalam menghadapi berbagai tantangan pasar," kata Hery. Walaupun saat ini secara formal BRI sdah berada di bawah Danantara, Hery memastikan, layanan operasional maupun bisnis perbankan berjalan normal. Nasabah tetap dapat  menikmati layanan terbaik dari BRI. "Jadi, sebenarnya tidak ada sesuatu yang dikhawatirkan," BPI Daya Anagata  Nusantara (Danantara) telah mengumumkan struktur kepengurusan yang lengkap. Hery mengatakan, badan sovereign wealth fun (SWF) ini memiliki struktur organisasi yang berlapis serta memiliki tim yang profesional dan kompeten sesuai bidangnya. "Oleh karena itu, kami percaya, Danantara akan dikelola dengan profesional dan akan membawa manfaat yang lebih baik untuk BRI, untuk BUMN dan untuk masyarakat," kata Hery. (Yetede)

Tarik Ulur Kenaikan Tarif Transjakarta

KT1 02 May 2025 Investor Daily

Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menaikkan tarif angkutan umum TransJakarta  sudah seharusnya ditinjau ulang. Pengamat transportasi dari masyarakat Indonesia Djoko Setijawarno mengatakan, sudah seharusnnya tarif ditinjau ulang untuk dipertimbangkan. Djoko beralasan, perhitungan tarif harus disesuaikan dengan komponen yang berlaku saat ini. "Misalnyya pendapatan masyarakat yang dihitung berdasarkan Upah Minimum Provinsi, biaya operasional bensin dan perawatan," ungkapnya kepada Investor Daily. Di sisi lain bahwa tarif Transjakarta  masih disubsidi dengan menitikberatkan alokasi subisidi berdasarkan sumber-sumber pendapatan daerah.

"Saya kira bisa dipertimbangkan bahwa pemasukan subsidi masih ada peluang misalnya memanfaatkan subsidi transportasi umum  TransJakarta  dari penerbitan parkir tepi jalan,"ucapnya. Ia menilai maraknya, parkir liar masih marak di Jakarta perlu dievaluasi melalui manajemen parkir di badan jalan. Hal ini termasuk keberadaan jukir (juru parkir) liarnya," "Sejumlah trotoar diokupansi oleh sepeda motor sebagai lahan parkir. Ada hal pengguna jalan lain yang dilangggar dalam parkir liar, seperti keamanan dan kenyamanan. parkir liar di badan jalan umumnya retribusi masuk ke kantong pribadi, bukan pendapatan asli daerah. Sejumlah titik parkir dikuasai ormas, bisa jadi masa tertentu ada perjanjian tidak tertulis dengan kepala daerah sebagai pendukung kemenangan hingga terpilih," ungkapnya. (Yetede)

TIK mencatat pertumbuhan sebesar 7,57%

KT1 02 May 2025 Investor Daily
Sektor informasi dan komunikasi (Infokom) atau teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mencatat pertumbuhan sebesar 7,57% sepanjang 2024. Pertumbuhan ini dipicu peningkatan aktivitas telekomunikasi, terutama, peningkatan  trafik data (komunikasi data), serta peningkatan transaksi elektronik. BPS melaporkan, meski terjadi pertumbuhan pada 2024, namun pertumbuhannya stagnan bahkan turun tipis sebesar 0,26% dibandingkan dengan tahun 2023 yang mencatat pertumbuhan sebesar 7,59%. Walau melemah tipis dibandingkan tahun 2023, pertumbuhan sektor TIK sepanjang 2024 masih lebih baik dibandingkan dengan ekonomi nasional yang sebesar 5,05%, turun 0.26% dibandingan tahun sebelumnnya  5,31%. Sementara itu, dibandingkan dengan sektor-sektor strategis lainnya, pertumbuhan TIK menempati peringkat kedua setelah tarnsportasi dan pergudangan yang menempati peringkat pertama, tumbuh 8,69%. Dengan pertumbuhannya tersebut, sektor TIK pun menjadi salah satu penopang penting pertumbuhan nasional pada peringkat keempat dengan kontribusi sumber pertumbuhan 0,50% dari lima kontributor utama. (Yetede)

Gudang Ditambah, Stok Serapan Gabah Melonjak

KT1 02 May 2025 Investor Daily
Serapan gabah kering panen (GKP) petani dengan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 6.500 per kg dipastikan terus berlanjut, meski stok beras di gudang Perum Bulog nyaris  4 juta ton. Pemerintahh siap menambah lagi kapasitas gudang penyimpanan untuk mengantisipasi lonjakan serapan gabah. Per 30 April 2025, pemerintah melalui Bulog telah menyewa gudang beras dari berbagai pihak dengan total kapasitas 1,15 juta ton. Menurut Menteri Pertanian (Mentan)  Andi Amran Sulaiman, produksi padi/gabah yang tinggi membawa konsekuensi berupa penuhnya gudang-gudang milik Bulog. Namun, hal tersebut hendaknya tidak dianggap sebagai masalah karena Bulog sebagai kepanjangan tangan pemerintah masih bisa menyewa guna menambah kapasitas gudang penyimpanan. "Soal gudang, sebenarnya ini bukan masalah, ini justru berita gembira karena gudang Bulog tidak cukuo sehingga sudah menyewa sampai hari ini (30 April 2025) sampai kapasitas 1,1 juta ton. Jadi (gudang) bukan masalah, ini malah keberuntungan, jadi pertanyaannya dibalik saja, katanya ada keberuntungan karena gudangnya penuh berarti produksi tinggi," kata Mentan Andi. 

BRI Bukukan Laba Fantastis di Kuartal Awal

HR1 02 May 2025 Bisnis Indonesia (H)

Di tengah tantangan ekonomi global akibat tensi geopolitik dan perang tarif, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) berhasil mencatat kinerja positif pada Triwulan I 2025 dengan meraih laba bersih sebesar Rp13,80 triliun dan pertumbuhan aset sebesar 5,49% YoY menjadi Rp2.098,23 triliun. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa pencapaian ini diperoleh berkat strategi fokus pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta penguatan konsumsi domestik. Penyaluran kredit BRI mencapai Rp1.373,66 triliun, dengan 81,97% dialokasikan ke UMKM, seperti dijelaskan oleh Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya.

BRI juga memperkuat inklusi keuangan melalui AgenBRILink yang tersebar di 67 ribu desa dan mencatatkan pertumbuhan signifikan. Mucharom, Direktur Manajemen Risiko, menyoroti perbaikan kualitas kredit dengan NPL turun menjadi 2,97% dan NPL coverage mencapai 200,60%, menunjukkan manajemen risiko yang efektif. Dari sisi pendanaan, Direktur Network & Retail Funding Aquarius Rudianto menyampaikan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.421,60 triliun, didukung dominasi dana murah (CASA) dan pertumbuhan layanan digital BRImo.

Sementara itu, Viviana Dyah Ayu selaku Direktur Finance & Strategy menekankan bahwa kondisi likuiditas dan permodalan BRI tetap kuat, dengan CAR mencapai 24,03%. Menutup konferensi, Hery Gunardi menyampaikan bahwa BRI siap melanjutkan transformasi menjadi bank universal yang melayani seluruh lapisan masyarakat dan sektor, dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan inovasi di tengah tantangan global.