;
Tags

Korporasi

( 1584 )

BSI Bagikan Dividen

KT1 19 May 2025 Investor Daily (H)
PT Bank Syariah Indonesia Tbk )BSI) baru saja menggelar Rapat Umum Saham Tahunan (RUPST) yang menghasilkan beberapa keputusan penting. Salah satunya adalah penunjukkan Anggoro Eko Cahyo sebagai Direktur Utama Perseroan. Selain itu para pemegang saham juga menyetujui pembagian dividen tunai dengan total nilai mencapai Rp 1,05 triliun, yang setara dengan 15% dari keseluruhan laba bersih perusahaan. Jika dihitung per lembar saham, dividen yang akan diterima oleh para pemilik saham bank berkode BRIS ini adalah sekitar  Rp 22,78. Angka ini menunjukkan peningkatan  yang cukup signifikan, yaitu sebesar 22,86% dibandingkan dengan dividen tahun buku 2024 yang tercatat sebesar Rp 18.,54 per lembar saham. Kenaikan ini menjadikan indikasi kuat atas kinerja keuangan BSI yang solid sepanjang tahun 2024. Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta mengatakan pembagian dividen tersebut sebagai bentuk komitmen dan apresiasi perseroan terhadao para pemegang saham yang telah senantiasa mendukung pertumbuhan dan perkembangan BSI, di tengah berbagai dinamika kondisi ekonomi dan bisnis. (Yetede)

Pertumbuhan SPKLU Belum Seimbang dengan Pertumbuhan EV

KT1 19 May 2025 Investor Daily (H)
Pertumbuhan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum belum seimbang dengan pertumbuhan electric vehicle (EV). Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil Battery Electric Vehicle (BEV) di 2024 mencapai 43.188 unit untuk menguasai  5% pangsa pasar. Sedangkan, hingga April 2025, Indonesia baru mempunyai sekitar 3.772 SPKLU. Pengamat otomotif dari Institut Teknologi  Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, rasio SPKLU untuk 17-20 EV, sementara populasi mobil listrik terus meningkat pesat melebihi  kecepatan pertumbuhan SPKLU. "Distribusi SPKLU masih timpang, dengan 80% berlokasi di Pulau Jawa. Banyak SPKLU hanya mendukung pengisian lambat (AC) dan belum dilengkapi teknologi fast charging," ucap dia kepada Investor Daily. Yannes melihat setidaknya ada beberapa faktor yang membuat kondisi timpang tersebut. Hal itu seperti biaya pembangunan yanga tinggi, distribusi SPKLU yang terkonsentrasi di beberapa kota besar saja di Pulau Jawa (khususnya Jabodetabek), serta perizinan yang rumit membuat ekspansi terhambat. (Yetede)

Menkeu Mutasi Pejabat Strategis Demi Efisiensi

HR1 19 May 2025 Kontan (H)
Kementerian Keuangan di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dikabarkan akan melakukan rotasi besar-besaran, termasuk mengganti Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak. Suryo Utomo, yang menjabat sejak November 2019, disebut akan digantikan oleh Bimo Wijayanto, mantan Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden.

Pergantian ini terjadi di tengah menurunnya penerimaan pajak. Hingga April 2025, realisasi penerimaan pajak hanya mencapai Rp 451,1 triliun, atau turun hampir 28% secara tahunan, jauh dari target tahun ini sebesar Rp 2.819,31 triliun. Situasi ini menambah urgensi terhadap tantangan yang akan dihadapi Dirjen Pajak yang baru.

Meski akan digantikan, Suryo Utomo mendapat apresiasi dari sejumlah pengamat. Fajry Akbar dari CITA menilai Suryo berhasil mencapai target pajak selama tiga tahun berturut-turut, menjalankan reformasi melalui UU HPP, dan melahirkan sistem core tax. Menurutnya, akan sulit bagi penggantinya untuk menyamai capaian tersebut.

Prianto Budi Saptono, Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute, menekankan bahwa Dirjen baru akan menghadapi tantangan besar dalam memperbaiki coretax dan meningkatkan rasio pajak. Sementara itu, Bhima Yudhistira dari Celios menyoroti pentingnya sinkronisasi data wajib pajak serta upaya mengejar kebocoran pajak, termasuk di sektor digital dan sumber daya alam. Ia juga mendorong penerapan pajak kekayaan (wealth tax).

Dengan demikian, rotasi ini bukan hanya soal perubahan personalia, tapi juga menyangkut efektivitas reformasi perpajakan di tengah tekanan penerimaan negara yang besar dan kompleksitas ekonomi yang semakin tinggi.

Motor Pertumbuhan Vale

KT1 17 May 2025 Investor Daily (H)

Tiga proyek raksasa PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksikan bakal beroperasi lebih cepat dari jadwal dan menjadi motor bagi pertumbuhan kinerja perseroan  ke depan. Laba Vale bahkan ditaksir bisa menguat sampai tiga digit pada tahun ini. Ketiga proyek tambang sekaligus smelter tersebut memiliki total nilai fantastis berkisar US$ 9-10 miliar atau ekuivalen Rp 164 triliun (kurs Rp 16.450 per US$) yang hingga saat ini masih terus disebut Vale. Pertama adalah proyek tambang forenikel di Bahodopi yang dikerjakan perseroan melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), perusahaan patungan (joint venture/JV) antara Vale dan Tisco serta Xinhai. 

Kedia, proyel Hihg Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomala melalui PT Kolaka Nickel Indonesia  (KNI), JV antara Vale menggandeng Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford. Terakhir, proyek mixed hydroxide precipitate (MHP) di Sorowako yang dikerjakan perseroan melalui PT HPAL Nickel Indonesia (HNI), JV antara Vale, Huayou, dan pihak ketiga yang disebut-sebut akan disiapkan oleh Huayou dengan syarat memiliki standar ESG global. Salah satu dari tiga proyek tersebut tepatnya proyek tambang di Blok Bahodopi diperkirakan berpotensi lebih cepat, sehingga berpotensi menjadi katalis kinerja laba perusahaan pada tahun. Belum lagi, proyek KNI an HNI yang disebut  juga akan mendukung profitabilitas vale. Ini terlihat pada kuartal 1-2025, keuntungan derivatif INCO terdorong oleh proyek KNI dan HNI sebesar US$ 16,7 juta. (Yetede)

Perjuangan BSI Jadi Bank Syariah Raksasa

KT1 17 May 2025 Investor Daily (H)
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPST) Tahunan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) memutuskan  untuk mengocok ulang pengurus perseroan. Selain itu juga menetapkan pembagian dividen 15% kepada pemegang saham dan 65% sebagai saldo laba ditahan untuk memperkuat permodalan menuju bank syariah raksasa.  Pemegang saham menyepakati dividen tunai yang dibagikan sebesar Rp 1,05 triliun atas 15% dari laba bersih BSI tahun buku 2024 yang senilai Rp7,01 triliun. Dari total dividen tersebut maka besaran dividen per lembar saham dari bank dengan kode saham BRIS ini sekitar Rp 22,78. Jumlah dividen tersebut naik sebesar 22,86% dibandingkan dividen tahun buku 2023 senilai Rp 18,54 per lembar saham. Ini mengindikasikan kinerja yang cukup solid pada tahun buku 2024. Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta mengatakan, pembagian dividen  tersebut sebagai bentuk komitmen dan apresiasi perseroan terhadap  para pemegang saham yang telah senantiasa mendukung pertumbuhan dan perkembangan BSI, di tengah berbagai dinamika kondisi ekonomi dan bisnis. Sepanjang tahun 2024 BSI membukukan laba bersih sebesar Rp7,01 triliun dan total aset Rp409 triliun dengan kualitas terjaga. (Yetede)

Potensi Keuntungan dari Dividen BSI

HR1 17 May 2025 Kontan
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) atau BRIS memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp 1,05 triliun, atau 15% dari laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp 7 triliun, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) baru-baru ini. Dividen per saham meningkat tajam menjadi Rp 22,7 dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 9,24 per saham.

Bob Tyasika Ananta, Wakil Direktur Utama BSI, menyatakan bahwa pembagian dividen ini merupakan bentuk apresiasi kepada para pemegang saham atas dukungan mereka terhadap pertumbuhan BSI. Ia juga menekankan bahwa ke depan BSI akan terus mengembangkan bisnis dan layanan agar sesuai ekspektasi seluruh pemangku kepentingan.

Namun, analis pasar seperti Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menilai yield dividen BRIS masih tergolong rendah, sehingga respons pasar terhadap keputusan ini cukup moderat. Menurutnya, harga saham BRIS cenderung bergerak sideways di kisaran Rp 2.800–3.000.

Sementara itu, Ekky Topan dari Infovesta Kapital Advisori mengakui bahwa meski yield dividen kurang maksimal, secara fundamental BSI masih menunjukkan kinerja yang solid dan berpotensi menguat hingga Rp 3.350 per saham.

Selain membagikan dividen, RUPS juga memutuskan melakukan perubahan jajaran direksi dan komisaris, dengan Anggoro Eko Cahyo ditunjuk sebagai direktur utama menggantikan Hery Gunardi.

Kebijakan dividen BSI mencerminkan kehati-hatian dalam menjaga keseimbangan antara memberikan imbal hasil kepada pemegang saham dan mempertahankan cadangan untuk pertumbuhan jangka panjang.

Dinar dan Dirham Menguat di Tengah Ketidakpastian

HR1 17 May 2025 Kontan (H)
Koin dinar (berbahan emas) dan dirham (berbahan perak) kini semakin dilirik sebagai alternatif investasi, terutama di tengah gejolak inflasi global. Meskipun belum sepopuler emas batangan di Indonesia, keduanya menawarkan stabilitas nilai karena berbasis logam mulia. Seiring naik-turunnya harga emas dan perak dunia, harga koin dinar dan dirham pun ikut berfluktuasi.

Alwy Assegaf, dari PT Trijaya Pratama Futures, menjelaskan bahwa dinar dan dirham cocok sebagai store of value atau koleksi berbasis syariah, karena mengikuti tren harga emas dan perak global. Sementara itu, Melvin Mumpuni, CEO Solusi Finansialku Indonesia, menegaskan bahwa produk ini tidak hanya tahan inflasi, tetapi juga multifungsi—bisa dijadikan alat zakat, mahar, dan sedekah, serta menyimpan nilai secara simbolis dalam konteks ekonomi Islam.

Meski potongan biaya cetak dan distribusi bisa memengaruhi margin, koin ini tetap menarik, terutama bagi komunitas yang menjunjung prinsip syariah. Namun, likuiditas dinar dan dirham masih terbatas dibanding produk logam mulia konvensional.

Herru Wijayadie, Direktur PT Berkah Restu Sejahtera yang menggandeng Peruri melalui brand Rana Precious Metal, berupaya memperluas pasar dengan meluncurkan produk Noor Dinar agar tidak eksklusif bagi umat Muslim. Demikian pula Navees Gold, yang aktif menjual koin dinar berbagai tema sejak 2020, memperlihatkan tren pasar yang mulai meluas.

Dinar dan dirham semakin mendapatkan tempat sebagai investasi bernilai simbolis, religius, dan finansial, yang relevan di era ketidakpastian ekonomi saat ini.

Bisnis Kartu Kredit Masih Menjanjikan

KT1 16 May 2025 Investor Daily (H)

Industri perbankan masih mencatatkan kinerja bisnis kartu kredit yan tumbuh positif pada tiga bulan pertama tahun ini,  ditengah daya beli  masyarakat yang melemah. Meski demikian, perbankan tetao mewaspadai kondisi perekonomian ke depannya. Seperti PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang hingga Maret 2025, kartu kredit  masih menjadi salah satu alat pembayaran andalan bagi nasabah BCA. Jumlah kartu kredit yang beredar mencapai 4,91 juta. Nilai transaksi kartu kredit tumbuh 9% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 32 triliun, didukung ativitas masyarakat di berbagai sektor. Totak outstanding pinjaman konsumer lainnya (mayoritas berasak dari kartu kredit) meningkat 13,9% (yoy) menjadi Rpp 23,3 triliun.

"Di di sisi kualitas portfolio, NPL (non performing loan) kartu kredit BCA pada kuartalk pertama 2025 tetap terjaga, sejalan dengan penerapan prinsip kehati-hatian dan menejmen resiko yang disiplin. Kami berharap kualitas portfolio kartu kredit BCA tetap terjaga di level yang mana di level yang manageable hingga akhir tahun," tutur Vice President Corporate Communication and Social Responsbility BCA Hera F Haryn kepada Investor Daily. Dari sisi transaksi, penggunaan kartu kredit BCA di merchant semakin mudah dengan hadirnya fitur contactless, sehingga nasabah cukup unutk menyelesaikan transaksi. BCA juga secara konsisten berupaya memperkuat  kerja sama dengan berbagai mitra bisnis serta menghadirkan beragam promo menarik di berbagai segmen, untuk mendukung nasabah yang semakin beragam. (Yetede)

Tembus 7.000 IHSG Kembali Masuki Tren Bullish

KT1 16 May 2025 Investor Daily (H)
Indeks Bursa Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memasuki trend bullish  setelah berhasil menembus level 7.000 pada penutupan perdagangan Kamis (15/5/2025). Penguatan IHSG pun diyakini  bakal terus berlanjut menuju 7.195, dengan posisi asing yang mulai mencatatkan aksi beli bersih (ney buy)) di pasar saham Indonesia. Meski, dalam perjalananya, IHSG akan diwarnai aksi ambil untung (profit taking) di akhir pekan ini. Pada perdagangan Kamis (15/5/2025), IHSG tutup menguat 0,86% ke level 7.040,16. Sebanyak 345 saham terpantau naik 257 saham turun, dan 208 saham stagnan. Adapun total nilai transaksi di bursa mencapai Rp16,94 triliun, volume perdagangan sebanyak 36,5 miliar saham, jumlah saham berpindah tangan 1,5 juta kali, dan net buy asing sebesar Rp 1,68 triliun. "Secara teknikal, posisi IHSG sedang berada di fase uptrend-nya, dan masih didominasi oleh volume pembelian," kata Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicksana  kepada Investor Daily. Didit menjelaskan, IHSG sudah mampu break dari MA200 pada timeframe weekly. "Kami perkirakan, IHSG masih berpeluang untuk melanjutkan penguatannya, paling tidak untuk menguji 7.107-7.195. Meski, perlu dicermati akan potensi pullback dalam jangka pendek di rentang 7.013-7.037," tutur dia. (Yetede)

Investor Asing ke IKN Terus Bergulir

KT1 16 May 2025 Investor Daily

Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memastikan minat investor asing untuk menanamkan modalnya di IKN di kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, masih terus bergulir. Kepala OIKN, Basuki Hadimuljono mengatakan perusahaan asal Uni Emirat Arab, Ayedh untuk berinvestasi di IKN  setelah melalui penandatanganan Perjanjian Kerahasiaan (Non-Disclosure Agreement/NDA) dengan Otorita IKN. “Kami menyambut baik niat investasi dari Dejem Group yang sejalan dengan visi pembangunan IKN seagai kota berkelanjutam dan saya perlu sampaikan bahwa ini adalah saat yang tepat untuk berinvestasi di IKN,” kata Basuki. Penandatanganan NDA ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Kepala Otorita IKNm Basuki Hadimuljono, dan delegasi Ayedh Dejem Group yang dipimpin oleh Chairman Ayedh Dejem Group. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Deputi Bidang Pendanaan  dan Investasi  Otorita IKN, Agung WIcaksono, dan CEO Dejem , Zed  Ayesh serta turut disaksikan oleh Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono. Manurut Basuki, Dejem Group menyatakan minat untuk berinvestasi di atas lahan seluas 10 hektare  di wilayah IKN. “Lahan tersebut dirancanakan untuk dikembangkan menjadi pusat perbelanjaan dan kawasan campuran (mixed-use) yang terletak secara strategis di area tanpa pusat perbelanjaandan kawasan campuran (mixed-use) yang tercetak secara strategis di area tanpa pusat 5 km," papar Basuki. (Yetede)